
π
π
π
π
π
Saat ini adalah weekend, waktunya empat serangkai berkumpul. Sudah menjadi kebiasaan mereka, setiap weekend mereka akan berkumpul melepas rasa penat dengan berbagai pekerjaan masing-masing.
Bedanya, dulu mereka hanya berempat tapi kali ini mereka bersama pasangan masing-masing.
"Kak Zia, bagaimana rasanya hamil? apa sangat melelahkan?" tanya Bee.
"Tidak juga, hamil itu tidak membuat kita susah justru dengan hamil perasaan kita menjadi bahagia. Kamu belum berencana untuk lepas KB Bee?"
"Belum Kak, bentar lagi aku ingin merasakan kerja dulu habis itu aku bakalan lepas KB dan full menjadi ibu rumah tangga, iya kan Oppa?" seru Bee dengan bergelayut manja di lengan kekar milik suaminya itu.
"It's oke baby, kita habiskan dulu waktu berdua setelah itu baru kita merencanakan punya baby," sahut Alta.
"Pasti Kak Seno posesif banget ya Kak?" seru Alsya.
"Banget Sya, aku ga boleh ngelakuin apa pun bahkan ke kamar mandi pun aku harus di gendong segala, lebay banget kan? padahal kan aku cuma hamil, bukannya lumpuh," kesal Zia.
"Bukannya gitu sayang, aku takut kamu kelelahan, takut jatuh, pokoknya aku takut kamu kenapa-napa, makanya aku sebentar lagi mau merenovasi rumah, tangganya mau dirubah jadi lift," sahut Seno dengan santainya.
"Tuh kan, muncul lagi lebaynya. Aku itu cuma hamil Mas Seno, justru banyak bergerak itu sangat bagus buat janin kamu lupa ya kalau aku ini dokter kandungan," kesal Zia.
"Iya deh iya, aku percaya tapi tetap saja keputusanku tidak akan bisa diganggu gugat, aku akan merenovasi rumahku."
"Terserah kamu sajalah Mas."
"Lah, ngomong-ngomong bagaimana nih dengan pengantin baru? dari tadi kok diem-diem bae," goda Gibran.
"Lagi sariwan Bu," sambung Alsya.
"Kita mah biasa-biasa saja, sama halnya dengan pengantin baru lainnya tidak ada yang beda," sahut Rayyan.
"Oh iya, Bang Gib sama Alsya kapan nyusul?" seru Erika.
"Sebentar lagi kita nyusul kok, nunggu beberapa bulan lagi sampai kondisi Alsya benar-benar pulih, iya kan sayang," seru Gibran dengan mengelus kepala Alsya.
Alsya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Guys, bagaimana kalau kita liburan bersama honeymoon bersama gitu," seru Zia.
"Jangan macam-macam sayang, usia kandungan kamu baru saja delapan minggu jangan kemana-mana dulu aku ga setuju sama ide kamu," tolak Seno.
"Ih kamu mah, banyak pantrangannya sebel aku," kesal Zia.
__ADS_1
Zia pun bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan semuanya.
"Sayang tunggu, kamu mau kemana? sorry ya bro, aku duluan bumil memang seperti itu sensitif gampang marah," seru Seno.
"Buruan susul Kak Zia Bang, takut kenapa-napa," seru Bee.
"Oke...aku duluan."
Seno pun segera berlari menyusul istrinya itu, Seno suka panik kalau istrinya sudah merajuk seperti itu.
"Lihat deh Oppa, dulu Bang Seno itu gengsinya gede banget sama Kak Zia tapi sekarang, ya ampun bucin akut tuh si Abang," seru Bee.
"Hooh Bee, kayanya sebentar lagi bucin akutnya bakalan nular sama seseorang," ledek Alsya dengan melirik ke arah Rayyan.
"Sudah pasti, Sya," sahut Bee.
Erika tidak memperdulikan ocehan kedua sahabatnya, dia hanya sibuk dengan ponselnya membuat Rayyan sedikit jengkel. Apalagi sudah beberapa hari ini Erika mengacuhkannya, jangannya mengajak ngobrol, melihat wajahnya saja sepertinya Erika sudah tidak mau.
Setelah mengobrol bersama, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing karena sudah sore juga. Selama dalam perjalanan, seperti biasa Erika lebih memilih mengotak-ngatik ponselnya.
Sesampainya di rumah Dinas, Erika langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Erika duduk di sofa kemudian kembali fokus dengan ponselnya, Rayyan semakin kesal dengan emosinya Rayyan mengambil paksa ponsel Erika membuat Erika lagi-lagi menatap tajam ke arah Rayyan.
"Sebenarnya ada apa denganmu? kenapa akhir-akhir ini kamu mengacuhkanku? memangnya menatap layar ponsel lebih menyenangkan daripada menatap wajahku?" bentak Rayyan.
Erika terlihat tersenyum meremehkan, dan tanpa berniat membalas ucapan Rayyan, Erika pun hendak melangkahkan kakinya menuju kamar tapi Rayyan menahan lengan Erika.
"Apa ini kelakuan kamu terhadap suamimu sendiri? tinggal satu atap tapi bagaikan tidak kenal sama sekali."
"Ah sial...."
Rayyan tampak sangat frustasi, Rayyan memang benci kepada Erika tapi Rayyan juga tidak suka diacuhkan olehnya seperti ini.
Erika pun keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sudah lebih segar, Erika melirik sedikit ke arah Rayyan yang saat ini sedang memakai seragamnya.
"Malam ini aku Dinas malam, ingat jangan sampai selama aku tugas kamu memasukkan pria lain kesini," seru Rayyan.
Erika dengan kasar mengambil selimutnya dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, lalu Erika menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Rayyan pun sudah selesai berpakaian, dan melihat kalau Erika sudah tertidur di sofa.
Tanpa banyak bicara, Rayyan pun pergi meninggalkan Erika tidak lupa Rayyan mengunci pintu rumahnya dari luar. Setelah mendengar Rayyan pergi, Perlahan Erika membuka selimutnya.
"Kamu selalu menuduhku sebagai wanita murahan, dulu aku memang seorang playgirl tapi aku tidak pernah menyerahkan kesucianku kepada siapapun. Oke..kalau kamu selalu menganggapku buruk, aku akan buktikan sekalian kepadamu seperti apa wanita murahan itu," gumam Erika.
***
Keesokan harinya...
Erika meminum tehnya dengan santai, dia masih belum bisa keluar karena Rayyan belum pulang dan pintunya di kunci dari luar. Hari ini adalah hari minggu, dan Erika pun tidak berniat untuk pergi kemana-mana dia hanya ingin bersantai saja.
Ceklek...
Rayyan pun akhirnya pulang, terlihat sekali wajah lelah dan kurang tidur. Sebenarnya Erika ingin sekali membuatkan teh atau kopi buat Rayyan tapi mengingat perlakuannya dan kata-katanya yang sering menyakiti hatinya membuat Erika sangat membenci Rayyan.
__ADS_1
Setelah selesai menyesap tehnya, Erika pun keluar dari rumah Dinas dan duduk di teras rumahnya sembari mengotak-ngatik ponselnya.
"Selamat pagi Nyonya Rayyan!" sapa salah satu Polisi muda.
"Pagi."
Rayyan yang mendengar ada yang menyapa istrinya langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Erika yang sedang duduk santai itu.
"Ngapain kamu duduk disini? apa kamu sengaja tebar pesona supaya para Polisi muda itu menyapamu!" sentak Rayyan.
Erika memasangkan headset di telinganya dan segera menyalakan musik, Erika tahu apa yang selanjutnya akan terjadi dan Erika sangat malah mendengar hinaan dan caci maki yang diberikan oleh Rayyan.
"Erika masuk!"
Erika masih tak bergeming, dia malah asyik mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Rayyan semakin kesal karena Erika sama sekali tidak mau mendengarkannya, akhirnya dengan emosi yang meluap-luap Rayyan pun masuk ke dalam rumah.
Erika mengangkat ujung bibirnya. "Lihat saja aku akan perlihatkan padamu Pak Polisi, bagaimana wanita murahan yang sebenarnya," batin Erika.
π
π
π
π
π
Yuk, guys kasih giftnya yang banyak karena ada hadiah pulsa menunggu kalianππ
Juara 1 : 100k
Juara 2 : 75k
Juara 3 : 50k
Juara 4-10 : 20k
Ayo, semangat waktunya dimulai sekarang sampai tanggal 1 Maretπͺπͺππ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU