
π
π
π
π
π
Satu minggu sudah Erika meninggalkan Rayyan, dan selama itu juga kehidupan Rayyan sangat kacau. Rayyan selalu saja dihantui perasaan bersalah dan menyesal, bahkan setiap malam Rayyan tidak bisa tidur selalu terbayang kejadian malam itu saat dia merenggut paksa kesucian istrinya sendiri.
"Besok aku harus menyusul Erika dan meminta maaf kepadanya, pokoknya aku tidak akan kembali sebelum Erika mau memaafkanku," batin Rayyan.
***
Keesokkan harinya....
Rayyan sudah bangun pagi-pagi sekali dan memasukan beberapa baju ke dalam tas ranselnya. Hari ini Rayyan berniat akan menyusul Erika ke Purwarkarta.
Rayyan sudah berniat akan melakukan apa saja demi mendapatkan maaf dari sang istri. Setelah selesai memasukan bajunya, Rayyan pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukannya menuju Purwakarta.
Sementara itu, di Purwakarta...
Erika tampak termenung di ruangan kerjanya, entah kenapa disaat Erika sekuat tenaga ingin melupakan Rayyan justru bayang-bayang Rayyan semakin tidak bisa dia hilangkan dari pikirannya.
Rasa benci yang seharusnya Erika berikan kepada Rayyan justru menghilang.
"Erika ada apa denganmu ini? bukannya kamu datang kesini tujuannya untuk melupakan si brengsek itu, kenapa sekarang justru kamu malah memikirkan dia?" Erika bermonolog kepada dirinya sendiri.
"Lagipula kalau memang dia merasa bersalah, seharusnya dia sudah menyusul aku kesini tapi kenyataannya sampai sekarang dia ga ada niat buat menyusulku kesini, itu tandanya dia memang tidak ada niat buat minta maaf," gumam Erika.
"Bodoh...bodoh, kenapa aku justru malah mengharapkan Bang Rayyan datang kesini dan meminta maaf kepadaku, sudah jelas-jelas itu tidak mungkin."
Lagi-lagi Erika berbicara sendiri, Erika pun kembali bekerja dia tidak mau mengingat Rayyan lagi.
Hingga waktu pun berjalan dengan cepat, Erika merentangkan kedua tangannya dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 17.00 sore dan lagi-lagi Erika melewatkan makan siangnya.
Sudah satu minggu ini, pola makan Erika hancur. Erika kadang-kadang tidak makan seharian, entah kenapa Erika jarang sekali merasa lapar ditambah Erika memang akhir-akhir ini sedang tidak mood makan.
Erika mulai membereskan meja kerjanya, di Purwakarta Erika jarang sekali lembur malahan dia selalu pulang lebih awal. Berbeda dengan di Jakarta, Erika harus memaksakan lembur karena Erika sangat malas bertemu dengan Rayyan.
Erika mulai meninggalkan ruangannya, semua karyawan tampak membungkukkan tubuhnya saat berpapasan dengan Erika. Sesampainya di bawah, Erika langsung masuk ke dalam taksi yang sebelumnya sudah Erika pesan.
"Aku sangat merindukanmu, Erika," gumam Rayyan dengan senyumannya.
Rayyan sudah sampai di Purwakarta sebelum waktu makan siang, sesampainya di Purwakarta Rayyan langsung menuju perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Erika.
Rayyan bertanya kepada satpam disana, kapan Erika pulang? dan setelah tahu jawabannya, Rayyan pun segera berdiam diri di stand makanan yang tepat berada di seberang kantor Erika.
Benar saja, tepat pukul 17.00 sore Erika keluar dari kantor. Erika tampak berdiri di depan kantot, dia sedang menunggu taksi yang sudah dia pesan sebelumnya. Tidak menunggu waktu lagi, Rayyan segera melajukan mobilnya dan berhenti tepat didepan Erika.
Erika sampai terkejut melihat kehadiran Rayyan, Erika hendak pergi tapi Rayyan dengan cepat keluar dari dalam mobil dan menahan Erika.
"Please jangan menghindar lagi," seru Rayyan.
"Lepaskan Bang."
__ADS_1
"Tolong maafkan aku, kesalahanku memang sudah terlalu banyak dan sudah menganggap kamu sebagai wanita yang tidak benar tapi aku sangat menyesal, aku mohon maafkan aku."
Erika menghempaskan tangan Rayyan...
"Sudah terlambat Bang, aku sudah tidak mau melihatmu lagi jadi sekarang lebih baik kamu pergi karena setelah pekerjaan aku selesai disini, aku ingin kita bercerai," seru Erika dengan mata yang memerah menahan airmatanya.
Jedaaaaarrrr...
Bagai disambar petir disiang bolong, hati Rayyan begitu hancur. Rayyan menggelengkan kepala tanda dia tidak mau bercerai dengan Erika.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu Erika, please aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semuanya."
Tidak lama kemudian, taksi yang Erika pesan pun datang. Erika langsung berlari dan masuk ke dalam taksi itu meninggalkan Rayyan dengan semua penyesalannya.
Rayyan segera masuk ke dalam mobilnya dan menyusul taksi yang ditumpangi Erika. Sedangkan didalam taksi, airmata Erika kembali menetes dia tidak tahu apa keputusannya itu benar atau salah tapi selama ini Rayyan memang sudah keterlaluan kepadanya.
Tidak lama kemudian, Erika sampai diapartemen tempat dia tinggal selama di Purwakarta. Erika segera turun dan masuk ke dalam gedung bertingkat itu, tidak mau ketinggalan Rayyan pun turun dan mengejar Erika.
Erika segera masuk ke dalam apartemennya tapi disaat Erika hendak menutup pintu, sebuah tangan menahannya.
"Ngapain kamu kesini Bang?"
"Please dengarkan aku dulu, aku ingin bicara sama kamu sebentar saja."
"Tidak, aku tidak mau bicara lagi sama kamu Bang lebih baik sekarang kamu kembali ke Jakarta."
"Tidak, aku tidak akan kembali sampai kamu mau memaafkanku."
"Terserah."
Erika mendorong tubuh Rayyan lalu dengan cepat Erika menutup pintu apartemennya dan menguncinya. Sedangkan Rayyan tampak frustasi, tapi Rayyan tidak mau menyerah dia akan terus memperjuangkan Erika sampai Erika mau memaafkannya.
Erika menghempaskan tubuhnya diatas sofa, sungguh Erika bingung dengan perasaannya saat ini. Seharusnya saat ini dia sangat mbenci Rayyan tapi entah kenapa hati dan mulutnya sangat bertolak belakang.
Erika memijat keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut, dengan langkah tertatih-tatih Erika pun menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian ternyata tubuh Erika semakin lemah bahkan sekarang Erika merasakan demam juga.
Dengan cepat, Erika pun memesan obat via aplikasi karena memang di apartemennya tidak ada obat sama sekali. Tidak lama kemudian seorang kurir mengetuk pintu kamar apartemen Erika membuat Rayyan yang dari tadi diam disana mengerutkan keningnya.
"Maaf Mas, Mas antar obat-obatan kan?" tanya Rayyan.
"Iya, yang punya apartemen ini tadi memesan obat."
"Obat apa?"
"Obat pusing dan demam."
"Apa jangan-jangan Erika sakit," batin Rayyan.
Ceklek...
Erika membuka pintu apartemen dengan wajahnya yang sudah memucat.
"Ini Mbak obatnya."
"Terima kasih Mas."
Kurir itu pun segera pergi, disaat Erika ingin menutup pintunya lagi-lagi Rayyan menahannya kali ini Rayyan langsung masuk ke dalam apartemen Erika. Erika tidak bisa menahannya karena memang saat ini tidak ada tenaga.
__ADS_1
"Kamu sakit?"
"Bukan urusanmu."
Erika melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Rayyan, tapi baru saja beberapa langkah.
Brruuugghh...
Erika terjatuh tak sadarkan diri untung Rayyan dengan cepat menahan tubuh Erika.
"Astaga Erika."
Rayyan dengan cepat mengangkat tubuh Erika dan merebahkan tubuh Erika diatas tempat tidurnya.
"Ya ampun, badannya panas sekali."
Rayyan segera menuju dapur mengambil air hangat untuk mengompres Erika, dengan telaten Rayyan mengompres Erika. Wajah cantik Erika terlihat sangat pucat membuat Rayyan semakin dilanda rasa bersalah dan menyesal.
"Maafkan aku Erika, aku janji aku tidak akan menyakiti kamu lagi," gumam Rayyan.
π
π
π
π
π
Guys, mampir yuk di karya terbaruku yang ikutan lomba dan minta dukungannya klik rate bintang 5, like, gift, vote, dan klik tanda β€...
Yuk, guys kasih giftnya yang banyak karena ada hadiah pulsa menunggu kalianππ
Juara 1 : 100k
Juara 2 : 75k
Juara 3 : 50k
Juara 4-10 : 20k
Ayo, semangat waktunya dimulai sekarang sampai tanggal 1 Maretπͺπͺππ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU