CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Merasa Bersalah


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, Seno pun berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk mengantar Bee pulang.


"Sayang, jangan lupa nanti main ke rumah ya kata Seno kamu pandai memasak, Tante ingin merasakan masakan kamu."


"Ah iya Tante, lain kali Bee akan mampir ke rumah."


"Janji ya jangan bohong, Tante tunggu."


"Iya Tante."


Mami dan Papi Seno pun pulang, sedangkan Seno mengantar Bee pulang dengan di sopiri oleh Reza.


"Kamu hebat Bee, akting kamu benar-benar bagus," puji Seno.


"Terima kasih Tuan, tapi Tuan kenapa Tuan menolak perjodohan itu? padahal wanita tadi cantik banget loh Tuan, mana Dokter pula."


"Dia itu wanita menyebalkan Bee, beberapa kali bertemu selalu saja membuat kesal. Lagipula syukurlah dia sudah punya kekasih jadi aku tidak khawatir lagi."


"Tuan, tapi sepertinya Nona tadi juga menyewa orang deh untuk pura-pura."


"Hah...kok kamu bisa tahu?"


"Mereka terlihat kaku sekali Tuan, dan sudah di pastikan kalau Nona tadi juga menyewa jasa pacar sewaan."


"Astaga, ternyata wanita itu tidak laku ya sampai-sampai menyewa jasa pacar sewaan," cibir Seno dengan santainya.


"Ya ampun, terus apa bedanya sama dirimu Tuan. Bukannya dirimu juga menyewa jasaku dan itu artinya anda juga tidak laku," batin Bee dengan tatapan malasnya.


"Oh iya Bee, bukannya kamu bilang kalau lewat pukul 21.00 malam Alta tidak akan membukakan pintu rumah, ini sudah pukul 22.00 lebih memangnya kamu mau tidur dimana kalau di kunci? lebih baik kamu tidur di salah satu kamar hotelku."


"Tidak Tuan, aku bisa masuk lewat belakang karena aku bawa kuncinya."


Tidak ada obrolan lagi, keduanya hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara itu di rumah Alta, Alta tampak mondar-mandir di depan pintu sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Sudah pukul 22.00 malam, anak itu benar-benar ya. Apa jangan-jangan yang dikatakan dia benar ya, kalau dia akan tidur di salah satu kamar hotel milik Seno," gumam Alta.


Tidak lama kemudian terdengar suara deru mobil dan Alta tampak membelalakkan matanya karena itu adalah mobil Seno, Alta cepat-cepat membalikkan tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah tapi Alta tidak sadar kalau pintunya tertutup.


Bruuugggghhh...


Alta terjungkal ke belakang karena menabrak pintu, niat hati ingin cepat-cepat masuk karena tidak mau sampai Bee tahu kalau Alta sedang menunggu Bee. Bisa-bisa Bee kepedean kalau sampai tahu Alta sedang menunggunya.


Bee pun keluar dari dalam mobilnya dan Seno pun segera meninggalkan rumah Alta. Bee mengerutkan keningnya saat melihat Alta yang terbaring di atas lantai.


"Astaga, Pak Alta ngapain tidur di lantai."


"Siapa yang tidur!" bentak Alta dengan memegang keningnya.


Bee sekilas melihat kening Alta yang terlihat benjol.


"Apa Bapak sedang menungguku," goda Bee dengan membungkukkan tubuhnya ke arah Alta.


Alta mendorong kening Bee dengan jari telunjuknya.


"Jangan kepedean jadi orang."


Alta langsung masuk ke dalam rumah dengan kesalnya, sedangkan Bee tampak senyum-senyum dan menyusul Alta masuk.


Alta duduk di sofa dengan mengusap keningnya, sedangkan Bee pergi ke dapur mengambil air untuk minum. Bee melirik ke arah Alta, lalu Bee mengambil air es ke dalam baskom dan membawanya menghampiri Alta.


"Sini Pak, menghadap ke arah saya," seru Bee.


Alta dengan reflek menutup mulutnya dengan tangannya membuat Bee mengerutkan keningnya.


"Bapak kenapa?"


"Kamu tidak mabuk kan? jangan sampai kamu mau cari-cari kesempatan untuk menciumku lagi."


"Astaga, itu tidak sengaja Pak jangan di bahas lagi!" bentak Bee.


"Terus kamu mau ngapain?"


Bee dengan kesalnya membalikkan wajah Alta supaya menghadap ke arahnya, setelah itu Bee mulai mengompres kening Alta yang sedikit benjol.

__ADS_1


"Jangan berpikiran yang macam-macam, aku hanya ingin membantu Bapak mengompres kening Bapak."


Wajah keduanya tampak dekat, Alta bisa melihat wajah cantik Bee dari jarak yang sangat dekat bahkan hembusan napas Bee sudah Alta rasakan menyapu wajahnya.


"Ternyata gadis ini cantik juga," batin Alta dengan sedikit senyum.


"Bapak kenapa senyum? jangan sampai akibat benturan barusan Bapak geger otak dan hilang ingatan."


Pletaakkk...


Alta menjitak kening Bee membuat Bee meringis.


"Aw..sakit Pak, tahu ah kompres saja sendiri aku capek mau istirahat."


Bee bangkit dari duduknya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Hei, kamu belum selesai mengompres keningku!" teriak Alta.


"Kompres saja sendiri!" teriak Bee.


"Dasar gadis itu," gumam Alta.


Tapi sedetik kemudian Alta tampak tersenyum-senyum sendiri.


***


Keesokkan harinya...


Bee sudah menyiapkan sarapan untuk Alta sedangkan dirinya sudah sarapan terlebih dahulu.


"Pak, kunci motor aku mana?"


"Memangnya kamu mau pakai apa ke kampus? motor kamu masih ada disana."


"Apa? kemarin Bapak tidak bawakan motor saya."


"Mau bawa motor kamu bagaimana, aku kan bawa mobil."


"Ih Bapak nyebelin, kalau sampai motor aku hilang bagaimana?" sentak Bee membuat Alta melotot ke arahnya.


"Berani kamu berkata dengan nada tinggi kepadaku? lagipula siapa juga yang mau ngambil motor bututmu," seru Alta kelepasan.


Mata Bee sudah mulai memerah menahan tangisannya membuat Alta sedikit tersentak.


"Motor aku memang butut, tapi apa Bapak tahu bagaimana pengorbananku untuk mendapatkan motor itu!" sentak Bee dengan deraian airmata.


"Dasar manusia sombong," gerutu Bee.


Sementara itu, Alta tampak bengong dia tidak tahu kalau barusan dia sudah berkata yang menyakiti hati Bee.


Bee sampai di kampus dan langsung menuju parkiran untuk melihat motornya. Ternyata benar saja, motornya masih terparkir cantik disana.


"Dasar manusia kejam tidak punya hati."


Tiba-tiba seseorang menarik tangan Bee dan menyeretnya dan membawa Bee duduk di kursi taman. Bee menatap Erika dengan tatapan bingung, sedangkan Erika menatap Bee dengan tatapan tajam.


"Ada apa Er? kok lihatin aku kaya gitu?" seru Bee.


"Bee jujur sama aku, kamu ada masalah ya sama Pak Alta?"


"Hah....maksudnya?"


"Tadi malam saat aku kencan, aku melihat kamu sedang makan malam dengan seorang cowok dan aku tahu cowok itu sahabatnya Pak Alta. Apa kamu selingkuh dari Pak Alta? wah parah kamu Bee, mana selingkuhnya sama sahabatnya sendiri, aku ga bisa bayangin bagaimana perasaan Pak Alta kalau tahu kamu selingkuh dengan sahabatnya sendiri pasti sakit tuh," seru Erika.


Bee menghembuskan napasnya kasar, Bee bingung apa dia harus jujur apa tidak soalnya Bee baru saja kenal dengan Erika.


"Nantilah, kalau sudah waktunya aku kasih tahu kamu."


"Ih kamu mah Bee, bikin aku penasaran saja."


"Sudah ayo kita masuk," ajak Bee dengan menarik tangan Erika.


Sesampainya di kelas, ternyata Alsya sudah sampai.


"Kalian darimana kok baru datang?" tanya Alsya.


"Tadi aku ngobrol dulu sama Bee di taman kampus."


"Ngobrol apaan?" tanya Alsya kepo.


Erika pun menceritakan semuanya kepada Alsya, Alsya melirik ke arah Bee dan Bee dengan pelan menggelengkan kepalanya.


"Oh begitu," sahut Alsya.

__ADS_1


"Kok kamu biasa saja sih, Sya?" tanya Erika bingung.


"Ya terus aku harus bagaimana? harus salto-salto atau harus jungkir balik gitu."


"Sepertinya ada yang disembunyikan nih, soalnya kalian terlihat aneh," seru Erika dengan menyipitkan matanya.


"Apaan sih, ga ada yang kami sembunyukan," sahut Bee.


Tiba-tiba Alta pun masuk ke dalam kelas, Alta melirik ke arah Bee tapi Bee dengan cepat memalingkan wajahnya. Bee masih kesal dengan ucapan Alta tadi pagi, hingga jam mata kuliah Alta pun Bee tidak pernah sedikit pun melihat ke arah Alta membuat Alta menghembuskan napasnya pelan.


Bee, Alsya, dan Erika sudah berjalan meninggalkan ruangan kelas.


"Alsya...."


"Iya Kak, ada apa?"


"Apa Kakak?" seru Erika terkejut.


"Pak Alta ini Kakak aku," sahut Alsya dengan sengirannya.


Erika melipat tangannya dan semakin curiga kepada Bee dan Alsya.


"Kalian banyak rahasianya."


"Ada apa Kak?" tanya Alsya kembali.


"Bisa tolongin Kakak?"


"Tolongin apa?"


"Tolong berikan berkas ini kepada Gibran, Kakak ada keperluan."


"Asyik...sini Alsya berikan kepada jodoh masa depan Alsya. Bee, Erika, aku duluan ya...bye," seru Alsya dengan semangatnya.


Erika menatap wajah Bee dan Alta secara bergantian.


"Ehmmm...maaf Bee, aku duluan ya soalnya aku sudah ada janji sama seseorang," seru Erika yang langsung ngacir tanpa menunggu jawaban dari Bee.


"Ckckck...kok semuanya pada ninggalin aku sih," gumam Bee.


Bee hendak melangkahkan kakinya tapi Alta menahan lengan Bee.


"Tunggu...."


"Ada apa lagi?" ketus Bee.


Alta merogoh saku celananya dan menyerahkan kunci motor Bee.


"Bagaimana mau pakai motor kalau ga ada kuncinya."


Bee masih terlihat kesal, dengan cepat Bee mengambil kunci motornya dari tangan Alta. Bee langsung melajukan motornya, hari ini Bee benar-benar tidak bersemangat melakukan apa pun.


Sesampainya di rumah Alta, Bee langsung menyimpan tasnya dan berjalan menuju halaman belakang yang terdapat kolam berenang. Bee duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya disana.


"Rega, kamu dimana? apa kamu baik-baik saja? kembalilah Kakak tidak akan memarahimu, di dunia ini hanya kamu yang Kakak punya. Kakak sudah berjanji kepada almarhum Mama dan Papa kalau Kakak akan menjaga kamu," gumam Bee.


Bee kembali meneteskan airmatanya, meskipun adiknya begitu sangat menyebalkan tapi bagaimana pun Rega adalah adiknya. Bee menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, pundaknya bergetar hebat merasakan sesak di dalam dadanya.


Sementara itu Alta yang baru saja pulang, awalnya hendak naik ke atas menuju kamarnya tapi Alta melihat pintu kaca menuju kolam berenang terbuka karena penasaran Alta pun melihatnya sebab pintu kaca kolam berang itu tidak pernah terbuka.



Ada perasaan bersalah di dalam hati Alta melihat Bee seperti itu. Alta hanya bisa melihat Bee dari jauh tanpa bisa berbuat apa-apa.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2