
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Alta menatap wajah Bee dengan penuh rasa prihatin, bagaimana wanita ini bisa hidup mandiri dan kuat tanpa orangtua disampingnya.
Bahkan Bee harus membesarkan adiknya yang sudah berkali-kali menipunya. Malam sudah semakin larut, semua orang memilih untuk tidur begitu pun dengan Alta walaupun dia khawatir kepada Bee tapi masih ada Alsya yang akan menjaganya.
***
Keesokan harinya...
Bee bangun dengan tubuh yang sudah mulai sedikit membaik, perlahan Bee pun keluar dari tenda dilihatnya ternyata semua orang sudah bersiap-siap membereskan barang-barang.
"Loh Bee, kamu sudah bangun?" seru Mommy Tasya.
"Iya Tante."
"Bagaimana keadaanmu? apa yang sakit?"
"Tidak ada, Bee sudah baik-baik saja kok Tante. Oh iya, kenapa semuanya sudah beres-beres?"
"Kami semua memutuskan untuk mengakhiri campingnya, lebih baik kita kembali pulang kita tidak mau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi," sahut Mama Karren.
Setelah semuanya berbenah, akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing dan mulai melajukan mobilnya menuju Jakarta.
Selama dalam perjalanan, Bee tampak melamun bahkan pandangan Bee hanya tertuju luar jendela. Alta pun memutuskan untuk tidak mengajak Bee mengobrol.
Setelah menjalani perjalanan kurang lebih tiga jam, akhirnya mereka pun sampai di Jakarta. Saat ini Alta sedang melajukan mobilnya menuju rumahnya.
"Apa kamu mau mampir dulu ke restoran untuk makan?" tanya Alta.
"Tidak, kita langsung pulang saja aku ingin cepat-cepat istirahat," sahut Bee yang masih melihat ke arah luar jendela.
"Baiklah."
Hingga tidak lama kemudian, mobil Alta pun berhenti karena lampu merah. Bee melihat ke seberang jalan, disana terlihat seorang pemuda dengan memakai hoodie warna hitam ditambah topi yang dipakainya tidak lupa dia pun memkai masker sedang mengamen di jalanan.
Bee menajamkan penglihatannya, hingga tidak lama kemudian Bee tampak membelalakan matanya.
"Rega...."
Tanpa berpikir panjang, Bee langsung turun dari mobil Alta membuat Alta terkejut.
"Bee, kamu mau kemana?" teriak Alta.
Bee terus berlari, hingga lampu hijau pun menyala Alta segera menepikan mobilnya dan segera mengejar Bee.
"Rega!" teriak Bee.
__ADS_1
Rega yang mendengar namanya dipanggil tampak celingukkan, dari kejauhan Rega melihat Bee sedang berdiri tanpa berpikir panjang, Rega pun segera berlari.
"Rega tunggu jangan lari!" teriak Bee.
Bee dengan cepat mengejar Rega walaupun saat ini kondisinya memang sedang tidak baik-baik saja, Alta pun ikut mengejar Bee.
Bee dan Rega saling kejar-kejaran, hingga akhirnya mereka sampai di jalanan yang cukup sepi dan Bee sudah tidak kuat lagi untuk mengejar Rega.
"Rega, Kakak mohon berhentilah jangan lari lagi!" teriak Bee dengan nafas yang memburu.
Alta pun segera menghampiri Bee, Alta sangat khawatir karena saat ini wajah Bee pun sudah terlihat sangat pucat.
Rega menghentikan langkahnya dengan jarak yang lumayan jauh.
"Maafkan Rega Kak, Rega tidak pantas menjadi adik Kakak lagi," seru Rega dengan tidak membalikkan tubuhnya.
"Rega, kamu tetap adik Kakak jadi Kakak mohon berhentilah jangan kabur lagi. Kakak sudah memaafkan semua kesalahan yang sudah kamu perbuat, jadi tolong kembalilah Kakak sangat merindukanmu," seru Bee dengan deraian airmata.
"Maaf Kak, Rega malu bertemu dengan Kakak jadi lebih baik mulai sekarang Kakak jangan mikirin Rega lagi, hiduplah dengan bahagia," sahut Rega.
Rega hendak melangkahkan kakinya..
"Rega tung------"
Brugghhh...
Bee jatuh tak sadarkan diri, untung ada Alta yang sigap menahan tubuh Bee. Rega membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat Kakaknya jatuh pingsan.
Rega pun segera berlari menghampiri Bee...
"Kak, bangun Kak maafin Rega."
Alta pun langsung mengangkat tubuh Bee dan membawanya masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Rega yang tampak sangat khawatir dengan keadaan Kakaknya itu.
Bee dibaringkan di kursi belakang dengan kepalanya berada di pangkuan Rega.
"Kak, bangun Kak kenapa wajah Kakak pucat sekali," seru Rega.
"Selama ini Bee mencari kamu kemana-mana," seru Alta.
Rega menoleh kearah Alta dan memperhatikan wajah Alta, sesaat Rega mencoba mengingat dimana dirinya pernah bertemu dengan Alta, hingga akhirnya Rega pun mengingatnya.
"Maaf, bukannya Tuan orang yang sudah membeli rumah peninggalan orangtuku?" tanya Rega.
"Iya."
"Kenapa anda bisa mengenal Kakakku?"
"Kakakmu bekerja di rumahku sebagai tukang masak, dia ingin mengumpulkan uang supaya bisa menebus rumah yang sudah kamu jual," sahut Alta.
Rega tampak terkejut dan kemudian menundukkan kepalanya merasa malu kepada Kakaknya.
Tidak lama kemudian, mobil Alta pun sampai di rumah sakit. Bee langsung mendapatkan penanganan dan saat ini Bee sudah berada di dalam ruangan rawat inap. Bee masih tertidur karena akibat pengaruh obat, sedangkan Rega masih setia berada disamping Bee dengan terus menggenggam tangan Kakaknya itu.
"Apa kamu mengenal Bani?" tanya Alta.
__ADS_1
Rega tampak terkejut. "Darimana Tuan mengenal Bani?" Rega justru balik bertanya.
"Lihatlah wajah lebam yang ada di wajah Bee, itu semua akibat ulah Bani dan kalau sampai aku telat menemukan Bee, entah apa yang akan terjadi kepada Bee."
Rega tampak mengepalkan tangannya. "Brengsek, berani sekali dia melukai Kakakku," geram Rega.
"Kamu tenang saja, Bani dan teman-temannya sudah masuk penjara."
Rega bangkit dari duduknya dan pergi menjauh dari ranjang Bee, kemudian duduk di sofa disusul oleh Alta yang ikut duduk di hadapan Rega.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? kenapa kamu sampai tega menjual rumah peninggalan orangtua kalian dan uangnya kamu berikan kepada Bani?" tanya Alta.
Rega menundukkan kepalanya dengan sesekali menjambak rambutnya.
"Tuan, aku sudah dijebak oleh Bani aku pikir Bani tidak sepicik itu."
"Maksud kamu apa?"
"Dulu, disaat aku kehilangan kedua orangtuaku, aku merasa sangat frustasi. Hingga singkat cerita, aku bertemu dengan Bani dan teman-temannya, dari sana kehidupanku mulai hancur. Aku jadi mengenal yang namanya mabuk-mabukkan dan obat-obatan terlarang, bahkan aku juga sering melakukan pencurian kendaraan bermotor. Aku jadi mulai ketagihan sehingga aku sering meminta uang kepada Kakak dan sedikit memaksanya."
"Anehnya, Kakakku selalu saja memberikanku uang tanpa aku tahu kalau selama ini Kakak bekerja sampingan untuk biaya kuliah dan aku. Tapi aku dengan teganya dan tidak tahu dirinya terus saja meminta uang kepadanya. Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Aku ingin keluar dari geng Bani, tapi ternyata tidak ku sangka Bani begitu licik, aku bisa terlepas dari Bani asalkan aku harus bayar denda kalau tidak, Bani akan menyerahkanku ke Polisi atas apa yang selama ini sudah aku lakukan," sambungnya.
Rega tampak mengusap wajahnya dengan kasar.
"Selama ini aku memang melakukan kejahatan seorang diri, karena menurut Bani sebagai anggota baru harus bisa melakukannya seorang diri. Ternyata selama aku melakukan kejahatan, Bani diam-diam merekamnya dan itulah yang dia jadikan alat untuk mengancamku. Selama ini aku hidup tidak tenang karena aku menjadi buronan Polisi."
"Kalau kamu menjadi buronan Polisi, kenapa tadi kamu ada dijalanan yang kemungkinan besar banyak Polisi disana?"
"Tuan, aku butuh uang untuk makan maka dari itu aku nekad turun ke jalanan untuk mengamen berharap nasib baik akan menghampiriku tapi disaat aku melihat Polisi, aku langsung pergi."
Alta tampak menghembuskan nafasnya, melihat anak muda yang ada dihadapannya itu.
"Aku akan membantumu, tapi kamu harus janji jaga Kakakmu jangan buat dia bersedih," seru Alta.
"Terima kasih, Tuan."
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU