CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Kesedihan Bee


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Setelah puas nongkrong di kantin Kampus, Bee dan Alsya pun memutuskan untuk pulang. Bee pulang ke kontrakannya dan berniat ingin membereskan barang-barang yang nantinya akan Bee bawa.


Hari ini tidak ada klient yang menyewa jasa Bee jadi Bee bisa senang-senang istirahat di kontrakannya. Sesampainya di kontrakan, Bee dengan semangat masuk dan mulai membereskan barang-barangnya.


Di saat Bee membuka lemari dan mencari akta rumah, Bee sangat terkejut karena akta rumahnya tidak ada.


"Loh, kok ga ada? aku kan menyimpannya di sini," gumam Bee.


Bee langsung mengacak-ngacak lemari kecil miliknya itu tapi akta rumahnya memang sudah tidak ada.


"Astaga, kok bisa hilang? kemana ya?"


Bee terduduk di lantai dan mulai mengingat-ngingat lagi dimana ia menyimpan akta rumah itu. Tidak lama kemudian, ponsel Bee pun berbunyi pertanda ada notif pesan yang masuk.


Bee segera membukanya, betapa terkejutnya Bee saat melihat isi pesan yang di kirim oleh Rega adiknya itu.


📩"Kak, maafkan Rega. Rega sudah mengambil akta rumah dan Rega sudah menjualnya, Rega tidak punya pilihan saat ini Rega di kejar-kejar depkolektor kalau Rega tidak segera membayar hutangnya, Rega akan di penjara. Sekali lagi maafkan Rega."


Tangan Bee tiba-tiba bergetar, airmatanya sudah mulai menetes, Bee benar-benar sudah tidak bisa memaafkan lagi kelakuan adiknya itu. Bee segera menghubungi adiknya tapi sayang, ponselnya sudah tidak aktif.


"Sialan, kurang ajar kamu Rega. Kamu sudah membuatku menderita!" teriak Bee sembari menangis.


Bee menangis meraung-raung, hatinya begitu sakit harta satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya sekarang sudah tidak ada lagi.


"Awas kamu Rega sialan!" teriak Bee.


Dua jam pun berlalu, penampilan Bee sangat kacau bahkan matanya pun sudah sembab karena terlalu lama menangis. Bee menghapus airmata secara kasar, setelah itu Bee mencuci wajahnya dan dengan cepat mengambil kunci dan tasnya.


Bee dengan cepat melajukan motornya, Bee ingin pergi ke rumah orang tuanya. Bee ingin tahu siapa yang sudah membeli rumahnya, Bee akan bernegosiasi dengan orang yang sudah membeli rumahnya itu.


Tidak lama kemudian, Bee pun sampai di depan rumah peninggalan kedua orang tuanya itu. Perlahan Bee turun dari atas motornya dan melihat gerbangnya sudah terkunci dengan rapat.


"Ma, Pa, maafkan Bee. Bee tidak bisa menjaga rumah peninggalan kalian dengan baik," gumam Bee dengan menatap rumah itu dengan tatapan sendu.


"Woi, ngapain kamu lihat-lihat rumah saya? kamu mau maling ya."


Bee terdiam, dia seperti mengenal suara itu, perlahan Bee membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya Bee saat tahu siapa orang itu.


"Pak Alta, ngapain anda ada di sini?" tanya Bee.


"Seharusnya saya yang tanya seperti itu, ngapain kamu di sini dan celingukkan ke dalam rumah saya, jangan-jangan kamu spesialis sindikat pencurian rumah kosong, iya kan?"


"Hah...rumah Bapak, jangan sembarangan kalau ngomong. Ini itu adalah rumah saya," sentak Bee dengan percaya dirinya.


Alta mendekat ke arah Bee sehingga membuat Bee memasang alarm tanda bahaya.


"Hai Nona, tadi yang terbentur itu bibir bukan kepala tapi kenapa anda menjadi hilang ingatan dan mengaku-ngaku kalau ini rumahmu."


"Ini memang rumah saya, coba mana buktinya kalau Bapak pemilik rumah ini," tantang Bee.


Alta kembali mendekat ke arah mobilnya dan menyerahkan akta rumah ke wajah Bee. Bee membukanya dan langsung membelalakkan matanya tak percaya.


"Jadi anak sialan itu sudah menjual rumah ini kepada Bapak?" geram Bee.


"Anak sialan?" seru Alta dengan mengerutkan keningnya.


"Iya, yang menjual rumah ini adalah adik saya dan dia mencuri akta rumah ini dari kontrakan saya."

__ADS_1


"Apa?"


"Maka dari itu Pak, saya mohon kembalikan rumah ini, tapi saya akan membayarnya secara mencicil saya janji akan bekerja lebih keras lagi untuk membayar rumah ini," seru Bee dengan tampang memelas.


Alta kembali merebut akta rumah itu...


"Enak saja, saya tadi bayar secara cash kalau kamu mau rumah ini lagi, ya kamu harus bayar secara cash juga," sentak Alta.


"Ayolah Pak, kasihanilah saya."


"Tidak, rumah ini sudah menjadi milik saya jadi sudah sana pergi."


Alta hendak melangkahkan kakinya tapi tiba-tiba Bee berlutut dan memegang kaki Alta dengan eratnya.


"Hei, apa-apaan kamu lepaskan kaki saya," sentak Alta dengan berusaha melepaskan tangan Bee dari kakinya.


"Saya tidak akan melepaskan kaki anda, sebelum anda mau menyerahkan akta itu. Saya janji akan membayarnya secara mencicil."


"Saya bilang tidak ya tidak, cepat lepaskan kaki saya malu di lihat orang."


"Tidak."


Orang-orang yang melihat kelakuan Bee dan Alta membuat mereka berbisik-bisik dan menatap sinis ke arah Alta.


"Astaga, anak ini," gumam Alta.


Wajah Alta sudah sangat memerah menahan malu sekaligus emosi tapi Bee tidak ada tanda-tanda mau melepaskan kakinya hingga akhirnya sebuah senyuman tipis terbingkai di wajah tampan Alta.


"Oke...saya akan memberikan akta rumah ini tapi kamu harus melepaskan dulu kaki saya," seru Alta.


Wajah Bee kembali berbinar...


"Benarkah?"


Alta menganggukkan kepalanya, Bee dengan senang hati langsung melepaskan kaki Alta tapi dengan cepat Alta langsung kabur dan masuk ke dalam mobilnya.


Alta hanya tersenyum dan melambaikan tangannya, setelah itu Alta segera menancab gasnya dan meninggalkan Bee yang saat ini sedang mencak-mencak dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Awas ya," gumam Bee.


Bee kembali lemas dan dengan langkah gontai menghampiri motornya dan segera melajukannya kembali menuju kontrakan.


Sesampainya di kontrakan, Bee langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya itu. Airmatanya kembali menetes...


"Kalau rumah itu sudah di jual, terus aku mau tinggal dimana habis bulan ini? Rega sialan, awas kalau sampai Kakak ketemu sama kamu, Kakak ga bakalan melepaskan kamu. Dasar adik kurang ajar!" teriak Bee.


Sementara itu, Alta baru saja sampai di rumahnya sendiri. Alta tampak mengerutkan keningnya karena sebuah mobil yang sangat Alta kenal sudah terparkir cantik di halaman rumahnya.


Alta segera masuk dan benar saja, Alsya dengan santainya sedang menonton tv sembari toples kue yang berada di pangkuannya.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Alta dingin dengan melipat kedua tangannya.


"Yaelah, galak amat biasa aja kali Kak."


Alta duduk di samping Alsya dan segera mengambil toples kue itu membuat Alsya merengut kesal.


"Jangan kebanyakan makan yang manis-manis, sekarang ga bakalan kerasa tapi nanti kalau kamu sudah tua baru tahu akibatnya."


"Apaan sih Kak."


"Cepat katakan, ada apa datang kesini? Kakak tahu kamu ada maksud tertentu."


"Ga percuma aku punya Kakak genius, ternyata Kakak tahu aja kalau aku punya maksud datang kesini," sahut Alsya dengan sengirannya.


"Ga usah nyengir, buruan kamu mau apa?" tanya Alta dingin.


"Kak, di kantor Kakak ada lowongan pekerjaan ga buat karyawan paruh waktu?"

__ADS_1


"Kamu pikir kantor Kakak warung grosiran yang mempekerjakan karyawan paruh waktu."


"Ayolah Kak, kasihan sahabat aku dia butuh banget pekerjaan," rengek Alsya.


"Siapa?"


"Bee..."


"Bee?"


"Bianca Anggita, Kak. Sahabat aku yang tadi pagi ciuman sama Kakak," seru Alsya dengan menaik turunkan alisnya.


Seketika wajah Alta memerah mendengar ucapan Alsya, Alta bangkit dari duduknya dan berniat meninggalkan adiknya yang usil itu.


"Kak, ayolah kasihan Bee kalau tidak Kakak minta bantuan sama teman-teman Kakak itu, sama Kak Seno buat bekerja di restorannya."


"Seno tidak sembarangan mempekerjakan karyawannya, yang jadi cleaning servisenya aja minimal harus lulusan S1."


"Kalau gitu sama Kak Gibran aja, jadi apa kek di perusahaannya."


"Perusahaan Gibran sama perusahaan Kakak sama-sama perusahaan besar, mana ada karyawan paruh waktu bisa-bisa semua karyawan demo dan di sangkanya pilih kasih."


"Kalau minta bantuan sama Kak Rayyan bagaimana? ga apa-apalah jadi tukang bersihin pistol Kak Rayyan juga yang penting Bee dapat pekerjaan," rengek Alsya tidak mau menyerah.


Alta mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak menyangkan punya adik sebawel dan secerewet Alsya.


"Tidak Alsya, Kakak tidak bisa membantu."


Alta kembali melangkahkan kakinya hendak menuju kamarnya yang berada di lantai dua tapi Alsya dengan cepat mengejar Alta dan menarik-narik kemeja Alta.


"Kak, ayolah kasihan Bee," rengek Alsya.


"Kamu itu apa-apaan sih Sya? sudah sana pulang, nanti Mommy sama Daddy bakalan khawatir kalau kamu belum pulang."


"Biarin, kalau perlu aku bakalan nginap di sini sampai Kak Alta mau cariin Bee pekerjaan."


"Astaga Alsya, sampai segitunya. Terserah kamu saja."


Alta segera masuk ke dalam kamarnya dan di saat Alsya ingin masuk juga, Alta dengan cepat menutup pintunya membuat kening Alsya terbentur.


"Ishh..ishh..ishh...dasar Kakak yang kejam," gerutu Alsya.


Alsya memutuskan untuk menginap di rumah Kakaknya itu, pokoknya Alsya akan terus meminta bantuan sama Alta dan akan merengek sampai Alta luluh dan memberikan Bee pekerjaan.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2