
π
π
π
π
π
Sepanjang malam Rayyan menjaga Erika, bahkan Rayya mendengar Erika selalu mengatakan kalau dia benci kepadanya.
Perlakuan dan ucapan Rayyan selama ini memang tidak pantas untuk dimaafkan tapi Rayyan akan berusaha merebut kembali hati sang istri bagaimana pun caranya.
***
Keesokkan harinya...
Erika mulai menggerakkan tubuhnya, kepalanya masih terasa pusing memang karena tadi malam Erika belum sempat meminum obatnya. Erika perlahan bangkit dari tidurnya dengan mata yang masih terpejam.
"Erika kamu mau kemana?" tanya Rayyan yang langsung bangun.
"Bukan urusanmu."
Erika berusaha untuk bangun tapi lagi-lagi Erika harus terjatuh dan itu membuat Rayyan semakin khawatir.
"Kita ke rumah sakit ya."
"Aku tidak mau, sudah sana kamu lebih baik pergi saja dari sini!" bentak Erika.
"Tidak akan, pokoknya kamu mau marah, mau pukul aku, mau bentak-bentak aku, aku tidak masalah yang penting sekarang aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi."
Erika kembali memejamkan matanya, dia sungguh tidak kuat kalau harus meladeni Rayyan berdebat lebih baik sekarang dia tidur lagi.
"Sebentar ya, aku akan buatkan kamu bubur."
Rayyan pun segera berlari menuju dapur, dan dengan semangatnya Rayyan membuatkan bubur untuk Erika. Rayyan tidak jago masak, tapi hidup sendirian di rumah dinas mau tidak mau harus bisa masak sendiri.
Setelah selesai membuatkan bubur, Rayyan pun segera membawa bubur itu ke dalam kamar Erika tapi disaat sampai di kamar ternyata Erika sudah terlelap tidur. Rayyan menyimpan bubur buatannya diatas meja, lalu dia duduk disamping Erika dan diperhatikannya wajah Erika.
"Dulu aku terlalu dibutakan oleh rasa benci, sehingga tidak sadar kalau aku mempunyai istri yang sangat cantik. Terima kasih sudah menjaganya dan aku adalah orang pertama yang mendapatkannya. Maaf sudah menyebutmu dengan sebutan wanita murahan, aku sangat menyesal," gumam Rayyan.
Rayyan mengusap kepala Erika dan perlahan mencium kening Erika. Rayyan mengambil baju gantinya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Satu jam pun berlalu, Erika kembali mulai bangun dengan memegang kepalanya.
"Erika, kamu makan bubur dulu ya habis itu minum obat."
Erika tidak menjawab, dia hanya terus memejamkan matanya. Erika terduduk dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.
"Ayo buka mulutnya, biar aku suapin kamu."
"Tidak usah, sini biar aku saja," tolak Erika.
"Sudah jangan membantah, sekarang kamu buka mulut biar aku yang suapi."
Erika menatap Rayyan dengan tatapan bingung, hingga akhirnya Erika pun terpaksa membuka mulutnya tentu saja dengan bahagianya Rayyan menyuapi Erika.
Selama makan, Erika terus saja menatap Rayyan membuat Rayyan sedikit salah tingkah.
"Kenapa kamu lihat aku terus kaya gitu? aku tahu aku memang tampan jadi jangan dilihatin terus takutnya kamu jatuh cinta sama aku," goda Rayyan.
"Cih, percaya diri sekali anda. Aku lihatin kamu bukannya aku jatuh cinta tapi aku aneh kenapa baru sekarang kamu bisa bersikap manis seperti ini, kemarin-kemarin kemana saja?"
__ADS_1
"Iya, aku tahu aku sangat salah mangkanya aku mau minta maaf sama kamu dan memperbaiki lagi semuanya."
"Tidak semudah itu, Pak Polisi," ketus Erika.
Rayyan terkekeh, Erika yang judes sudah mulai kembali lagi dan itu merupakan awal yang bagus untuk Rayyan.
"Jangan tertawa, tidak ada yang lucu. Sudah, aku sudah kenyang."
"Tapi kamu baru saja makan beberapa suap saja, habiskan ya."
"Ga mau, aku bilang sudah kenyang."
"Ya sudah, ini obatnya kamu minum dulu biar kamu cepat sembuh. Ga enak soalnya berdebat dengan orang sakit kurang asyik," goda Rayyan.
"Apaan sih."
Erika segera mengambil obat yang diberikan oleh Rayyan, setelah itu Erika kembali menyandarkan tubuhnya. Sementara itu, Rayyan membereskan bekas makan Erika dan mencucinya setelah itu Rayyan kembali masuk ke dalam kamar Erika dan duduk di sofa single.
"Ngapain kamu masih disini? sudah sana pergi," usir Erika.
"Lah, memangnya kenapa kalau aku tinggal disini? toh, aku kan suami kamu tidak akan yang melarang juga kok," sahut Rayyan dengan santainya.
"Tapi aku tidak mau kamu tinggal disini, jadi lebih baik sekarang kamu pergi cari tempat lain atau tidak kamu kembali lagi ke Jakarta."
"Aku tidak akan kembali sebelum kamu mau memaafkan aku."
"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu, jadi percuma kamu tetap disini lebih baik sekarang kamu pergi!" sentak Erika.
Rayyan tidak lagi mendengarkan ocehan Erika, dia saat ini hanya fokus dengan ponselnya.
"Kalau aku tidak sakit, habis kamu aku bakalan jambak, pukul, cakar, biar wajahmu hancur dan tidak akan ada yang mau lagi sama kamu," ketus Erika.
Lagi-lagi Rayyan hanya terkekeh mendengar gerutuan Erika.
Erika hanya mendelikkan matanya, hingga akhirnya Erika pun lebih memilih kembali merebahkan tubuhnya dan tidak membutuhkan waktu lama, Erika pun kembali terlelap.
Rayyan yang melihat Erika sudah kembali terlelap memilih keluar dari kamar Erika dan hendak mencari makanan karena perutnya sudah sangat lapar.
Tidak lama kemudian, Rayyan pun sudah kembali lagi dengan dua kantong kresek berisi makanan. Rayyan langsung melahap makanan itu, setelah dirasa kenyang mulailah matanya sudah tidak bisa di kompromikan lagi.
"Ya ampun aku ngantuk banget, cuci piringnya nanti sajalah setelah bangun tidur," gumam Rayyan.
Rayyan pun merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu, dan tidak membutuhkan waktu lama Rayyan pun sudah pergi menuju alam mimpinya.
***
Erika kembali terbangun, dan sekarang badannya sudah agak mendingan dan lebih enak.
"Sepertinya aku harus mandi, badanku sudah lengket dengan keringat," gumam Erika.
Erika pun bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi, tidak beberapa lama kemudian Erika keluar dengan hanya memakai handuk yang menutup dadanya dan bagian bawahnya. Dengan santainya Erika berjalan menuju lemari untuk mengambil baju.
Ceklek...
Erika langsung menoleh ke arah pintu dan matanya melotot saat melihat Rayyan sudah berdiri di depan pintu dengan mata yang melotot juga, Erika lupa kalau Rayyan masih ada di apartemennya.
"Astaga apa-apaan kamu main masuk kamar orang sembarangan!" teriak Erika.
"Ah, maaf-maaf."
Erika mengambil barang-barang yang ada di dekatnya dan melemparnya ke arah Rayyan membuat Rayyan kewalahan tapi dengan cepat Rayyan menghampiri Erika dan memegang kedua tangan Erika.
"Sudah hentikan, aku minta maaf," seru Rayyan.
__ADS_1
"Ngapain kamu malah masuk, sana keluar aku mau pakai baju!" bentak Erika.
"Iya-iya aku akan keluar."
Tapi tiba-tiba....
Pluk...
Handuk yang dipakai Erika melorot, sehingga saat ini tubuhnya polos. Erika dan Rayyan saling pandang, kemudian keduanya sama-sama melihat ke arah tubuh Erika.
"Aaaaaaaa...."
Erika berteriak sekuat tenaga membuat Rayyan pun panik, tapi saking paniknya Rayyan bukannya melepaskan tangan Erika malah semakin erat memegang tangan Erika, tidak lupa pandangannya tertuju pada tubuh Erika yang sangat menggiurkan itu.
"Tutup matamu Bang, lepaskan tanganku!" teriak Erika.
"Iya-iya."
Rayyan menjawab iya, tapi dia tak kunjung melepaskan tangan Erika hingga akhirnya Erika kesal dan campur malu, Erika menendang benda pusaka Rayyan dan otomatis Rayyan melepaskan tangannya dan mengaduh kesakitan.
Erika langsung mengambil handuknya, lalu menendang tubuh Rayyan supaya keluar dari kamarnya dan Erika segera menguncinya.
"Dasar brengsek!" teriak Erika.
π
π
π
π
π
Guys, mampir yuk di karya terbaruku yang ikutan lomba dan minta dukungannya klik rate bintang 5, like, gift, vote, dan klik tanda β€...
"PESONA SI GADIS CULUN"
Yuk, guys kasih giftnya yang banyak karena ada hadiah pulsa menunggu kalianππ
Juara 1 : 100k
Juara 2 : 75k
Juara 3 : 50k
Juara 4-10 : 20k
Ayo, semangat waktunya dimulai sekarang sampai tanggal 1 Maretπͺπͺππ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1