CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Seno Dan Zia


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Waktu pun berjalan dengan cepat, Zia melihat pantulan wajahnya di cermin. Tidak ada raut bahagia, malam ini Zia sudah tampil cantik karena akan menghadiri pesta ulang tahun teman satu profesinya.


Dengan langkah gontai, Zia pun menuruni anak tangga.


"Ya ampun, puteri Mommy cantik sekali. Tapi kok cemberut sih?" seru Mommy Kinan.


"Seno ga nemenin kamu?" tanya Daddy Zidan.


"Dia sibuk Dad, banyak kerjaan katanya," ketus Zia.


"Ya sudah kalau dia sibuk, kamu harus maklum karena kamu juga kan tahu siapa Seno? pengusaha muda dan sukses jadi wajar saja kalau dia sibuk," seru Mommy Kinan.


"Iya Mommy, kalau begitu Zia pergi dulu."


"Hati-hati sayang."


Zia pun pergi meninggalkan rumahnya dengan tidak bersemangat, Zia segera masuk ke dalam mobilnya.


"Seno nyebelin," gumam Zia.


Sesampainya di hotel tempat acara pesta diselenggarakan, Zia tampak menghela nafasnya dengan kasar hingga akhirnya Zia pun segera turun dan masuk ke dalam hotel itu.


Zia tidak sadar kalau hotel itu adalah salah satu milik Seno. Semua mata pria menatap Zia dengan seksama, bahkan tidak sedikit dari mereka memuji kecantikan dokter muda itu.


Zia segera menghampiri Yuli temannya dan setelah itu, Zia memutuskan untuk segera pergi dari acara itu.


"Yuli, selamat ya."


"Zia, mana tunanganmu? kok kamu datang sendirian sih?" tanya Yuli.


"Ah, dia sibuk Yul jadi ga bisa nemenin aku."


"Oh begitu ya."


"Ya sudah, aku kesana dulu ya."


Zia pun mengedarkan pandangannya, terlihat semua orang datang dengan pasangannya masing-masing membuat Zia lagi-lagi menghela nafasnya.


"Zia....."


Seseorang memanggil nama Zia, membuat Zia menoleh.


"Hai, kamu sendirian?" tanya Jeremi.


"Hai Jeremi, iya aku sendirian."

__ADS_1


Jeremi memperhatikan penampilan Zia dari atas hingga bawah.


"Wow, malam ini kamu sangat cantik."


"Terima kasih."


Zia hendak melangkahkan kakinya tapi Jwremi dengan cepat menahannya.


"Mau kemana Zia? ini kan masih siang, lagipula aku lihat kamu baru saja datang."


Zia melepaskan tangan Jeremi...


"Maaf Jeremi, aku mau pulang."


"Nanti sajalah, aku juga kesini tanpa pasangan bagaimana kalau kamu temani aku."


"Maaf Jeremi aku tidak bisa."


Zia kembali hendak melangkahkan kakinya tapi Jeremi menghalangi pangkah Zia membuat Zia kesal.


"Ayolah Zia, temani aku."


"Maaf Jeremi, aku kan sudah bilang aku tidak bisa."


"Kenapa kamu sombong sekali, padahal waktu itu kamu memohon kepadaku untuk menjadi pacar pura-puramu, bagaimana kalau sekarang aku yang bayar kamu untuk menjadi pacar pura-puraku?" seru Jeremi dengan senyumannya.


Tiba-tiba sebuah tangan menarik Zia ke dalam dekapannya membuat Zia tersentak.


"Apa kamu tidak pernah melihat berita, kalau Zia sudah bertunangan? aku paling tidak suka kalau milikku diusik oleh orang lain, jadi kalau kamu tidak mau punya masalah, berhenti mengganggu tunanganku," seru Seno.


"Jangan mengaku-ngaku, bukannya kamu pria yang waktu itu hendak dijodohkan dengan Zia tapi nyatanya Zia malah menyewa jasaku itu artinya Zia tidak mau dijodohkan denganmu," sinis Jeremi.


"Itu dulu, tapi sekarang Zia adalah tunanganku," kesal Seno.


"Astaga, ternyata orang-orang kaya sepertimu kebanyakan menghalu," ledek Jeremi.


"Kamu tidak percaya? baiklah aku akan membuktikannya," seru Seno dengan seringainya.


Seno menatap Zia yang dari tadi melihatnya tanpa berkedip, dan dengan tanpa aba-aba Seno mendaratkan ciumannya di bibir Zia membuat Zia membelalakkan matanya begitu pun dengan Jeremi dan para tamu undangan.


Seno melepaskan ciumannya dan meraih tangan Zia sedangkan Zia dia masih terdiam membeku masih syok mendapat serangan fajar dari Seno.


"Apakah tangan ini yang tadi dia sentuh?" tanya Seno.


Seno mengambil sapu tangan dari saku jasnya dan membersihkan tangan Zia dengan sapu tangan itu.


"Aku tidak suka milikku disentuh oleh sembarangan orang, apalagi orang tidak jelas seperti dia," sindir Seno dengan melirik ke arah Jeremi.


"Apa kamu bilang?"


Jeremi sudah emosi dan hendak melayangkan tangannya ke arah Seno, tapi belum juga tangan Jeremi menyentuh tubuh Seno, seseorang menahan tangan Jeremi.


"Jangan macam-macam dengan Tuan kami, atau kami patahkan tangan anda," seru orang tinggi besar itu.


Seno hanya tersenyum dan dengan cepat membawa Zia pergi dari tempat itu. Seno membukakan pintu mobil untuk Zia.

__ADS_1


"Mobil aku bagaimana?"


"Nanti anak buahku yang bawa."


Zia pun hanya menurut dan masuk ke dalam mobil Seno, kali ini Seno yang membawa mobilnya sendiri.


"Kenapa kamu datang? bukannya kamu mau ke luar kota ada kerjaan?" ketus Zia.


"Baru dibercandain kaya gitu saja sudah ngambek, makanya aku ga mau ada hubungan dengan wanita, wanita itu ribet gampang ngambekkan," seru Seno.


"Kalau ga mau punya hubungan dengan wanita, ngapain kamu mau menerima perjodohan ini?"


"Kenapa ya? karena aku hanya tidak mau membuat orang tuaku kecewa saja."


Zia hanya mampu menggigit bibir bawahnya mendengar jawaban dari Seno, sungguh ucapan Seno sangat menyakitkan.


"Kalau begitu, lebih baik kita akhiri saja semua ini sebelum semuanya terlambat. Memangnya kamu pikir, cuma kamu saja yang tidak mau melihat orang tua kamu kecewa? aku juga sama, tidak mau orang tuaku kecewa, tapi kalau memang kamu terpaksa dengan perjodohan ini lebih baik kita akhiri sekarang juga."


Seno hanya diam, dia lebih fokus melihat ke arah jalanan. Hingga tidak lama kemudian, mobil Seno pun sampai di depan rumah Zia.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang."


Zia pun hendak membuka pintu mobil, tapi dia urungkan karena mengingat sesuatu. Zia langsung melepaskan cincin yang tersemat indah di jari manisnya itu dan memberikannya kepada Seno.


"Ini aku kembalikan cincinnya."


Setelah menyerahkan cincin itu, Zia pun langsung keluar dari dalam mobil Seno dan masuk ke dalam rumahnya.


Seno menatap cincin yang barusan diberikan oleh Zia kemudian dia menggenggamnya dengan erat, sejenak Seno menyandarkan tubuhnya hingga tidak lama kemudian Seno pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Zia.


Tanpa Seno ketahui, dari jendela kamarnya Zia melihat mobil Seno. Airmatanya mulai menetes dengan sendirinya, sungguh ucapan Seno sangat menyakitkan untuknya.


"Padahal aku sudah mulai menyukaimu, Seno," gumam Zia.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2