CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Ngidam Ala Zia


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Saat ini usia kandungan Zia sudah masuk usian dua bulan, sedang giat-giatnya ngidam ingin ini itu tapi karena Zia seorang dokter kandungan, Zia sudah tahu apa yang harus dia lakukan saat mual dan pusing itu melandanya.


Justru yang membuat Zia pusing, kadang-kadang dia suka menginginkan hal yang tidak sesuai karakternya. Zia saja pusing saat menginginkan sesuatu apalagi Seno.


Seperti saat ini, entah kenapa tiba-tiba dirinya rindu sekali kepada Seno. Seno termasuk suami siaga, dia akan melakukan apa pun yang istrinya inginkan.


Bruukkk...


Seno membuka pintu ruangan kerja Zia dengan sangat keras membuat Zia terlonjak kaget.


"Kenapa sayang? apa yang sakit?" seru Seno dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


Zia tersenyum dan menghampiri Seno lalu dengan manjanya Zia memeluk Seno.


"Aku tidak apa-apa kok Mas, aku baik-baik saja."


"Kamu kan barusan nelepon Reza katanya aku harus segera kesini."


"Iya, aku cuma rindu saja sama kamu pengen meluk kamu."


"Hah...."


Seno hanya bisa melongo dengan jawaban istrinya itu, sungguh Seno tidak menyangka kalau istrinya menyuruh dia datang cepat-cepat ke rumah sakit hanya karena rindu.


"Ya ampun sayang, aku lagi meeting loh barusan dan aku harus meninggalkan tempat meeting karena khawatir takut kamu kenapa-napa kalau cuma rindu kan aku bisa kesini pas meeting selesai," sahut Seno.


Zia melepaskan pelukkannya dan menatap Seno dengan tajam.


"Oh gitu, jadi sekarang kamu lebih mementingkab kerjaan dibandingkan aku dan calon anak kita," seru Zia dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Astaga sayang bukannya begitu, tuh kan salah ngomong lagi."


"Ya sudah, sana kembali lagi ke hotel mulai sekarang jangan perdulikan aku," kesal Zia.


"Sayang-sayang jangan begitu, iya-iya aku minta maaf," sahut Seno panik dan segera mendekati istrinya itu.


"Kamu mah selalu saja begitu, aku dan calon anak kita selalu di nomor duakan," ketus Zia.


"Sayang, kok ngomongnya gitu sih kalian adalah orang yang paling berharga dalam hidupku masa aku menomor duakan kalian, itu tidak mungkin."


Seno kembali menarik tubuh Zia ke dalam dekapannya, sungguh Seno serba salah menghadapi istri yang sedang hamil. Selain sensitifnya tingkat tinggi, Seno juga selalu disalahkan katanya sudah tidak perhatian lagilah, sudah tidak sayang lagilah, padahal yang barusan apa Seno bela-belain meninggalkan meeting penting hanya karena khawatir Zia menghubunginya.


Tapi apalah daya, Seno tidak bisa berdebat dengan Zia karena percuma pasti dia lagi yang salah dan berakhir dengan tidur di ruang tamu sendirian, sungguh miris nasib calon Bapak.


"Ya sudah, sekarang kamu mau apa?" tanya Seno dengan lembut.


"Aku tidak mau apa-apa, hanya ingin peluk kamu saja karena aku selalu rindu dengan pelukanmu."

__ADS_1


"Okelah, silakan saja peluk suami tampanmu ini sesuka hatimu aku akan diam saja sekarang bahkan kamu gerayangi aku juga ga apa-apa, justru aku sangat senang sekali," goda Seno.


"Itu mah hanya maumu saja, Mas."


"Oh jelaslah."


Zia terlihat sangat nyaman berada dalam pelukkan Seno.


"Mas..."


"Heemm."


"Apa kamu selalu ingat aku kalau sedang jauh denganku?"


"Iyalah, bahkan kalau tidak bertemu satu jam saja Mas sudah sangat rindu sekali denganmu."


"Bohong, pasti kamu bilang seperti itu karena kamu ingin membuat aku bahagia kan? buktinya kemarin kamu pergi ke luar kota dua hari sampai lupa menghubungi aku."


"Ya ampun sayang, kenapa mesti dibahas lagi sih? aku kan sudah bilang, kalau aku sangat sibuk ga sempat menghubungi kamu dan malamnya aku langsung tertidur karena kelelahan."


Zia kembali melepaskan pelukannya dan wajahnya langdmsung cemberut.


"Ya sudah, sekarang kamu bisa pergi."


"Lah, kok gitu sih? bukannya kamu mau peluk aku sampai kamu puas."


"Ga jadi, sekarang aku sudah malas jadi sekarang kamu pergi saja lagipula sebentar lagi waktu istirahatku habis dan aku harus kembali bekerja," ketus Zia.


"Yassalam, apalagi ini?" batin Seno.


Sungguh Seno tidak mengerti dengan perubahan sikap seorang Ibu hamil, sangat membingungkan.


Zia hanya menganggukkan kepalanya dan Seno pun mencium kening istrinya kemudian pergi meninggalkan ruangan Zia.


Selama dalam perjalanan, Seno tampak memijit keningnya yang dirasa berdenyut.


"Za, apa begini ya rasanya kalau istri sedang hamil sangat membingungkan dan serba salah."


"Mana saya tahu Bos, saya kan belum punya istri jangankan istri, calon pacar pun saya tidak punya," keluh Reza.


"Astaga, kasihan banget kamu sungguh menyedihkan sekali nasibmu Za, makannya cari pacar dong Za biar kamu ga ngenes mulu kalau lihat orang bermesraan," seru Seno dengan santainya.


"Tidak ada waktu untuk cari pacar Bos, karena Bos tidak pernah memberiku libur," sahut Reza.


"Iyakah?" tanya Seno dengan sangat menyebalkannya.


"Ya ampun, memangnya yang membuat saya jomblo siapa? Bos, anda tidak sadar apa kalau selama ini anda tidak pernah memberiku waktu untuk berlibur mana ada waktu untuk mencari pacar kalau setiap hari kerja terus, lama-lama saya pites juga ini orang," batin Reza dengan kesalnya.


Reza tidak menjawab lagi ucapan Bosnya, dia yakin walaupun sekarang dia berdebat sampai mulutnya berbusa, tetap saja yang menang itu Bosnya.


Tidak lama kemudian, mobil Seno pun sampai di hotel dan Seno pun kembali bekerja.


"Za, tolong buatkan kopi rasanya aku ngantuk sekali."


"Baik Bos."


Reza pun dengan cepat menuju pantry untuk membuatkan Seno kopi, Seno memang tidak mau menyuruh OB karena Seno hanya bisa minum kopi kalau itu buatan Reza.

__ADS_1


Reza mulai meracik kopi untuk Bosnya. "Lama-lama aku bisa tua disini, ya ampun aku ingin menikah kalau kelamaan menjomblo bisa-bisa pas keluar bakalan kaya pasta gigi ini," gerutu Reza.


"Apanya yang kaya pasta gigi, Mas?"


"Astagfirullah, Sumaji bisa tidak kamu itu tidak mengagetkanku? selalu saja seperti ini, kamu datang ke pantry tidak pernah ketahuan, jangan-jangan kamu makhluk astral lagi."


"Mas, masa makhluk astral bisa napak kakinya setahu saya kalau makhluk seperti itu selalu melayang."


"Kata siapa?" tanya Reza.


"Kata saya barusan, Mas."


"Lah, tapi kok ini mahkluk astralnya bisa napak?"


"Saya manusia Mas, bukan mahkluk astral mangkanya bisa napak," sahut Sumaji.


"Kalau kamu manusia, kenapa wajah kamu sangat menyeramkan melebihi mahkluk astral," seru Reza dengan meninggalkan pantry.


"Si Mas Reza mah bisa saja, wajah aku tampan seperti ini kok dibilang menyeramkan buktinya aku sudah punya istri sedangkan Mas Reza masih sendiri, itu tandanya aku lebih tampan dari Mas Reza," sahut Sumaji.


Sayangnya Reza sudah pergi dan tidak mendengar ocehan Sumaji.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Mampir ke karya terbaruku "PESONA SI GADIS CULUN" dan jangan lupa dukungannyaπŸ™πŸ™


Yuk, guys kasih giftnya yang banyak karena ada hadiah pulsa menunggu kalian😍😍


Juara 1 : 100k


Juara 2 : 75k


Juara 3 : 50k


Juara 4-10 : 20k


Ayo, semangat waktunya dimulai sekarang sampai tanggal 1 MaretπŸ’ͺπŸ’ͺ😍😍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2