
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Hari ini Erika pergi ke kampus dengan perasaan sedih, Mommy dan Daddynya terlihat sekali kecewa kepada Erika. Erika mengendarai mobilnya dengan melamun, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau di depannya ada mobil yang sedang berhenti karena memang lampu merah.
Bruuugggghhh.....
Erika tersentak...
"Astaga, sial banget sih aku hari ini."
Seorang pria turun dari dalam mobilnya dan menatap tajam ke arah Erika.
Tok...tok...tok...
Pria itu mengetuk kaca mobil milik Erika sehingga Erika pun menurunkan kaca mobilnya.
"Ya ampun, kamu lagi-kamu lagi. Kenapa sih dari sekian banyaknya tempat di kota ini, aku selalu bertemu kamu dimana-mana? dan aku selalu sial kalau bertemu denganmu!" bentak Rayyan.
Ya, mobil yang Erika tabrak adalah mobil milik Rayyan. Saat ini Rayyan sedang bebas tugas dan Rayyan sedang jalan-jalan memanfaatkan waktu liburannya.
"Maaf," lirih Erika dengan menundukkan kepalanya.
Lampu pun berubah menjadi hijau...
"Tolong ke pinggirkan mobil kamu, urusan kita belum selesai dan jangan coba-coba kamu kabur," sentak Rayyan.
Erika hanya diam saja dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Rayyan membuat Rayyan sedikit aneh dengan sikap Erika yang biasanya bar-bar dan banyak ngoceh tiba-tiba sekarang diam saja.
Setelah menepikan mobilnya ke pinggir jalan, Erika pun turun dari mobilnya dengan lemas. Rayyan pun menghampiri Erika dan menatap Erika dengan tatapan tajam.
"Lihatlah, mobil bagian belakangku penyok pokoknya aku ga mau tahu kamu harus ganti semua kerusakan akibat ulah kamu."
Erika merogoh tasnya dan mengambil sebuah kartu ATM dari dalam dompetnya.
"Ini, kamu bisa menggunakan kartu ATMku pakai saja berapa pun yang kamu mau," sahut Erika lemas tanpa menatap ke arah Rayyan.
"Ini anak kenapa? lemas banget kaya tidak bersemangat gitu?" batin Rayyan.
"Sudahkan Pak, sekarang aku harus pergi ke kampus."
Erika kembali masuk ke dalam mobilnya dan langsung meninggalkan Rayyan yang masih terdiam membeku.
"Aneh banget, kenapa dia tidak membalasku? biasanya dia akan selalu berdebat denganku kok ini tidak," gumam Rayyan.
Tidak lama kemudian, Erika pun sampai di kampus. Bee dan Alsya yang baru sampai juga saling pandang satu sama lain melihat Erika yang ceria tiba-tiba murung seperti itu.
"Kamu kenapa, Er? kok sepertinya lagi sedih?" tanya Bee.
Erika pun duduk di kursi taman diikuti oleh Bee dan Alsya, Erika terlihat menghela napasnya dan menceritakan apa yang sudah terjadi.
"Ya wajarlah orang tua kamu marah dan kecewa, kelakuan kamu itu benar-benar keterlaluan. Seumur-umur, aku belum pernah masuk ke dalam Bar apalagi sampai mabuk-mabukkan seperti itu," sahut Alsya.
"Aku malahan takut, apalagi setelah kejadian waktu itu waktu aku di tipu sama si Simon, rasanya aku trauma masuk ke tempat kaya gituan," sambung Bee.
"Ini akibat pergaulanku waktu di Amerika, awalnya aku juga takut masuk ke tempat seperti itu tapi tidak ada yang mau berteman denganku karena aku selalu menolak ajakan teman-teman hingga akhirnya aku yang merasa semakin dijauhi oleh teman-temanku mencoba untuk pergi ke tempat seperti itu, lama-kelamaan aku jadi terbiasa dan kebawa sampai kesini," lirih Erika.
"Memangnya kamu tidak takut kalau ada pria hidung belang ngapa-ngapain kamu?" tanya Bee.
"Sebenarnya takut sih, tapi ya mau bagaimana lagi sudah menjadi kebiasaan jadi aku suka ketagihan kalau satu hari saja ga minum," sahut Erika dengan jujur.
"Astaga Erika, itu tidak baik untuk kesehatan kamu," seru Alsya.
"Terus aku harus bagaimana? please kalian bantu aku supaya aku lupa dengan semuanya dan aku berhenti minum-minum beralkohol lagi."
"Tenang saja, kita akan membantu kamu tapi kamu harus janji jangan datang lagi ke tempat itu," sahut Bee.
"Janji."
Mereka bertiga pun berpelukkan dan masuk ke dalam kelas. Alta mulai memberikan penjelasan mengenai mata kuliahnya, entah kenapa Bee dan Alta terlihat canggung satu sama lain.
Semenjak kejadian tadi malam, Bee merasa malu saja kalau bertatapan dengan Alta karena lagi-lagi Bee yang duluan nyosor. Setelah dulu Bee yang nyosor mencium Alta, tadi malam Bee duluan yang memeluk Alta.
Tanpa sadar Bee berteriak frustasi dengan mengacak-ngacak rambutnya, membuat Alsya dan Erika memegang dadanya karena kaget.
"Astaga Bee, kamu itu kenapa sih?" sentak Erika.
Bee celingukkan dan mendapati semua mata sedang menatap ke arahnya dengan tatapan kesal. Bee hanya bisa meringis dengan menggaruk kepalanya.
"Maaf," seru Bee dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Akhirnya kelas Alta pun selesai, ketiga wanita cantik itu segera keluar.
"Siang ini kamu tidak usah masak karena aku mau ke kantor ada urusan penting."
Alta bersuara saat Bee melewati dirinya...
"Baiklah...kalau makan malam?" tanya Bee.
"Aku belum tahu, nanti aku kasih kabar lagi."
Alta pun segera meninggalkan kelas...
"Kalau Kak Alta mau ke kantor, berarti siang ini kamu free dong," seru Alsya.
Bee menganggukkan kepalanya...
"Bagus, bagaimana kalau siang ini kita nongkrong di caffe sudah lama kita ga nongkrong-nongkrong."
"Ide bagus tuh," sahut Erika.
"Bagaimana Bee?" tanya Alsya.
"Let's gooooo!" teriak Bee.
Akhirnya ketiga gadis cantik itu pergi ke caffe langganan Alsya dan Bee menggunakan kendaraan masing-masing.
"Sebentar ya aku mau ke toilet dulu," seru Bee.
Bee berlari kecil menuju toilet...
Bruuukkkk....
"Aww....."
Keduanya terjatuh dan meringis...
"Maaf, aku tidak sengaja," seru Bee.
"Tidak apa-apa."
Bee pun segera beranjak dan hendak masuk toilet.
"Bukannya kamu pacarnya Seno ya?"
Bee pun menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, Bee tampak terkejut.
"Ah...iya Bu Dokter."
"Kenalkan namaku Zia."
"Aku Bee."
"Ya sudah, aku duluan ya senang berteu denganmu."
"Iya sama-sama Bu Dokter."
Zia pun melangkahkan kakinya meninggalkan Bee yang masih terdiam.
"Gila, cantik banget kenapa Tuan Seno menolaknya padahal Dr.Zia baik kok, ramah pula, dimana letak menyebalkannya?" gumam Bee.
Bee pun kembali masuk ke dalam toilet...
"Sorry lama..."
"Ga apa-apa."
"Oh iya Bee, barusan Alsya sudah menceritakan semuanya. Kamu sudah lama kerja di rumah Pak Alta?" tanya Erika.
"Lumayanlah."
"Hebat kamu pintar masak, aku mah boro-boro masak pegang wajan pun ga pernah," seru Erika.
"Iya, aku memang sudah terbiasa masak karena sejak kecil aku suka bantuin Mama masak."
"Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya satu rumah sama Pak Alta? pasti menyenangkan kan? secara setiap hari bisa melihat Pak Alta yang tampan," seru Erika antusias.
"Senang apanya? kamu belum tahu saja bagaimana Pak Alta."
Alsya hanya cekikikan tanpa berniat ikut dalam obrolan antara Bee dan Erika. Tidak terasa ketiga gadis cantik itu sudah lama ngobrol dan waktu pun sudah sore.
"Sudah sore, pulang yuk!" ajak Alsya.
"Ayo."
Ketiganya pun keluar dari caffe itu, Alsya dan Erika sudah pergi duluan. Bee hendak menyalakan motornya tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi, dilihatnya nomor tidak dikenal.
"Nomor siapa nih?"
__ADS_1
Perlahan Bee pun mengangkatnya....
📞"Hallo..."
📞"........"
📞"Aku baru saja mau pulang, Tuan."
📞".........."
📞"Di CAFFE SEHATI."
📞"........"
📞"Oh oke..."
Sambungan telepon pun terputus, Bee yang awalnya akan pulang harus mengurungkan niatnya karena seseorang ingin bertemu dengannya.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di halaman Caffe dan Bee tampak terduduk diatas motornya.
"Bee...maaf menunggu lama."
"Tidak apa-apa Tuan, Tuan mau bicara apa sama aku?" tanya Bee.
"Kita ngobrol di dalam saja."
Bee pun kembali membuka helmnya dan mengikuti Gibran ke dalam.
"Kamu mau makan apa?" tanya Gibran.
"Tidak Tuan, aku sudah makan barusan."
"Oh...ya sudah pesan minuman saja orange juice dua Mbak."
"Baik Tuan."
"Bee, aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa, Tuan?"
"Besok ada reunian SMA, sebenarnya aku ga pernah hadir karena kalau aku hadir pasti ditanyain masalah gandengan tapi tadi mereka terus saja memaksa katanya masa sudah jadi Bos besar masih belum punya gandengan kalah dengan truk, aku ga maulah diremehin terus-terusan jadi aku memutuskan untuk menyewa kamu."
"Kapan?" tanya Bee.
"Besok malam."
"Ehhmmm...bagaimana ya?"
Gibran mengeluarkan segepok uang dihadapan Bee membuat mata Bee melotot dan menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ayolah Bee tolongin aku, kalau kurang nanti aku tambahin lagi," bujuk Gibran.
Melihat uang segepok ada dihadapannya membuat jiwa mata duitan Bee meronta-ronta, Bee langsung menyambar uang itu dengan mata yang berbinar.
"Oke...aku terima tawarannya."
"Syukurlah, kalau begitu besok malam aku jemput kamu. Ya sudah, aku pergi dulu soalnya aku harus segera kembali ke kantor."
"Baiklah terima kasih Tuan dan hati-hati di jalan."
Bee melambaikan tangannya ke arah Gibran, setelah Gibran pergi Bee tampak menciumi uang yang diberikan oleh Gibran.
"Ternyata begini rasanya kenal dengan para sultan, uang segepok begini ga ada artinya buat mereka," gumam Bee.
Bee pun memasukkan uangnya ke dalam tas kemudian meninggalkan Caffe itu dengan perasaan riang gembira.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU