
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Keempatnya berteriak memanggil nama Bee tapi tak jua terdengar ada jawaban. Sementara itu, Bee yang sudah berada dalam tawanan lima pemuda itu sudah kehabisan tenaga untuk melawan.
"Tolong lepaskan aku," lirih Bee.
Kelima pemuda itu seakan sudah kehilangan akal akibat pengaruh alkohol, mereka sudah sangat berhasrat kepada Bee bahkan saat ini kaos yang dipakai Bee pun sudah koyak akibat kebringasan kelimanya.
Bee hanya bisa menutup dadanya dengan kedua tangannya yang sudah sedikit terbuka.
"Aku mohon lepaskan aku, jangan lakukan ini."
Bee terus saja memohon, Bee sudah tidak punya tenaga lagi bahkan untuk bicara pun Bee sudah lemas. Kelima pemuda yang memang sudah terpengaruhi minuman beralkohol sampai menyiksa Bee yang mengakibatkan sudut bibir Bee sobek dan pipinya juga lebam karena Bee terus saja melawan kepada mereka membuat mereka emosi.
Bee terus saja merangkak mundur saat kelimanya mendekatinya, dengan deraian airmata Bee hanya bisa berharap bantuan datang.
Disaat kelimanya hendak menyentuh Bee, tiba-tiba...
Bugh...bugh...bugh...
Kelima pemuda itu tersungkur ke tanah, Alta membelalakkan matanya saat melihat keadaan Bee yang mengenaskan. Sedangkan Seno, Rayyan, dan Gibran langsung memalingkan wajahnya karena merasa mereka tidak pantas melihat keadaan Bee sekarang.
Alta segera membuka jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Bee yang sudah sangat terekpose itu.
"Oppa...." lirih Bee dengan deraian airmata.
Alta mengulurkan tangannya menyentuh sudut bibir Bee dan mengelus pipi Bee yang lebam. Alta mengepalkan tangangnya, rahangnya mengeras, dan napasnya tampak memburu.
Alta berdiri dengan emosinya dan menatap kelima pemuda yang saat ini masih tersungkur di tanah tidak bisa berdiri lagi.
"Kurang ajar kalian semua, apa yang sudah kalian lakukan pada Bee!" teriak Alta.
Alta sudah kehilangan kesabarannya lagi, dia langsung memukul kelimanya dengan membabi buta tidak ada yang melawan karena memang sesungguhnya mereka sudah parah karena terpengaruhi minuman beralkohol.
"Brengsek kalian semua, aku tidak akan memaafkan kalian jadi lebih baik sekarang kalian mati!" teriak Alta.
Setelah dirasa cukup, akhirnya Seno menghentikan Alta. Mereka memang membiarkan Alta untuk melampiaskan kemarahannya terlebih dahulu supaya Alta merasa puas.
"Sudah cukup, Al."
"Lepaskan Seno, aku mau buat mereka mati."
"Jangan buang-buang tenaga kamu buat orang-orang tidak berguna seperti mereka, sudah cukup mereka bisa mati kalau kamu terus memukulnya."
"Aku tidak peduli, justru aku ingin membuat mereka mati baru aku akan puas."
"Sudah Al, Bee lebih membutuhkanmu daripada harus ngurusin orang tidak berguna seperti mereka," seru Gibran.
"Aku sudah menghubungi POLRES Sukabumi suruh segera datang kesini, dan mengamankan mereka," sambung Rayyan.
__ADS_1
Alta langsung menoleh ke arah Bee yang saat ini sudah sangat lemah, tanpa menunggu lagi Alta langsung mengangkat tubuh Bee. Sementara itu ketiga sahabat Alta menggiring kelima pemuda itu untuk ikut ke tenda.
Semua orang tampak khawatir menunggu kabar dari Alta dan yang lainnya, apalagi saat ini Alsya sudah menangis karena merasa bersalah dan Alsya juga takut kalau sampai kenapa-napa.
"Itu mereka!" seru Daddy Zein.
Semuanya langsung menghampiri Alta yang saat ini menggedong Bee.
"Ya Alloh Bee," seru Mommy Tasya.
"Tante, tolong periksa Bee dan obati Bee," seru Alta.
"Baik Al, kamu baringkan Bee di dalam tenda saja," sahut Zia.
Alta pun segera membaringkan Bee, Zia segera masuk ke dalam tenda dengan membawa kotak yang berisi obat-obatan miliknya.
"Al, kamu bisa keluar dulu, biar aku periksa Bee terlebih dahulu," seru Zia.
Alta hanya bisa menganggukkan kepalanya dan keluar sesuai apa yang diperintahkan Zia, Alsya dan Erika ikut masuk ke dalam tenda melihat keadaan Bee.
Sedangkan diluar, kelima pemuda itu sudah diikat dengan tali tambang dan jadikan satu menunggu kepolisian Sukabumi datang dan membawa mereka.
"Oh, jadi ini anak ingusan yang sudah berani melukai Bee," seru Mommy Rubby dengan melipat tangan jaketnya.
"Mommy mau ngapain?" tanya Gibran.
"Mommy mau kasih pelajaran kepada mereka, dasar anak ingusan tidak tahu diri," sahut Mommy Rubby dengan emosinya.
Mommy Rubby hendak menghampiri kelima pemuda itu tapi Daddy Gerry langsung menahannya.
"Sayangku, cintaku, permaisuriku, sudah ya jangan macam-macam, lihatlah kelimanya sudah babak belur begitu. Wajah mereka sudah jelek jangan kamu tambah lebih jelek lagi kasihan," seru Daddy Gerry.
Akhirnya Mommy Rubby mengalah dan kembali menurunkan lengan jaketnya. Rayyan berinisiatif mencari kayu bakar, malam ini dia akan membuat api unggun karena cuaca sudah mulai dingin.
Semuanya menunggu Zia selesai memeriksa Bee dan tidak lama kemudian, Zia pun keluar.
"Bagaimana Tante? apa Bee perlu dibawa ke rumah sakit?" tanya Alta panik.
"Kamu tenang saja Al, Bee tidak apa-apa dia hanya mengalami luka luar saja akibat pukulan tadi aku sudah kasih antibiotik dan mengobati lukanya, sekarang Bee sedang istirahat ditemani Alsya dan Erika," sahut Zia.
Semuanya bernapas lega mendengar penjelasan Zia, tidak lama kemudian rombongan Polisi pun datang dan membawa kelima pemuda itu pergi.
Waktu sudah menunjukan pukul 20.00 malam, dan para orangtua memutuskan untuk istirahat ke dalam tenda masing-masing. Hanya tinggal keempat serangkai dan ketiga wanita yang masih bangun dan duduk di depan api unggun sembari menjaga Bee.
"Kalian belum makan, aku buat mie instan ya," seru Zia.
Semuanya tampak mengangguk, kemudian Zia pun segera membuatkan empat mangkok mie instan buat keempat pria itu.
Alsya dan Erika keluar dari tenda Bee dan ikut bergabung bersama yang lainnya.
"Lain kali jangan pergi ke tempat mana pun tanpa izin dari kami," seru Alta dingin.
"Maaf Kak, ini semua salah Alsya karena Alsya tadi yang mengajak mereka main ke sungai," sahut Alsya dengan menundukkan kepalanya.
Tidak lama kemudian, Zia pun selesai membuatkan mie instan dan memberikan kepada para pria itu. Zia duduk di samping Seno dengan perasaan canggung.
"Kamu sudah makan?" tanya Seno dingin.
__ADS_1
"Sudah," sahut Zia singkat.
Keempat pria itu tampak lahap memakan mie instan yang sebenarnya baru mereka rasakan. Maklum mereka lahir dari keluarga sultan, dan orangtua mereka sangat over protektif kepada anak-anaknya.
"Ternyata mie instan enak juga ya," gumam Seno tapi masih terdengar oleh Zia.
"Kamu belum pernah makan mie instan?" tanya Zia.
Seno menggelengkan kepalanya...
"Mie tidak sehat."
"Kalau sesekali ga apa-apa asalkan jangan sering-sering saja."
Zia berbicara tanpa melihat wajah Seno, dia hanya fokus kepada api unggun yang saat ini sangat berguna menghangatkan tubuh mereka.
"Mama, Papa, Rega...."
Tiba-tiba semuanya terdiam karena mendengar suara Bee. Zia segera berlari masuk ke dalam tenda begitu pun dengan Alta yang ikut masuk ke dalam tenda.
"Bee demam, Al."
Alta segera keluar tenda dan mengambil handuk kecil dan air mineral. Zia segera mengompres Bee, sedangkan Bee terus saja mengigau.
"Mama...Papa...Rega..."
Alta menggenggam erat tangan Bee, wajahnya tampak terlihat sekali khawatir membuat Zia mengembangkan senyumannya.
"Al, kamu suka ya sama Bee?" tanya Zia.
Al terdiam sejenak, Alta tidak tahu apa yang akan dia jawab. Alta masih belum yakin dengan perasaannya, tapi yang jelas setiap Bee terluka seperti ini Alta merasa sangat sakit dan ingin selalu menjadi orang yang bisa melindungi Bee.
Zia tersenyum dan menepuk pundak Alta...
"Tidak usah dijawab, aku sudah tahu jawabannya tapi menurut saran aku, kalau memang kamu menyukai Bee, katakanlah secepatnya jangan sampai kamu menyesal," seru Zia.
Zia pun memutuskan untuk keluar dari tenda Bee dan kembali bergabung dengan yang lainnya, sedangkan Alta masih terdiam dan memikirkan kata-kata yang barusan Zia ucapkan.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU