CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Dokter Cantik Yang Sombong


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Di sebuah ruangan mewah, seorang pria tampan namun bengis terlihat memegang perutnya.


"Astaga, kenapa perut aku sakit? perasaan aku tidak makan pedas hari ini," gumam Seno.


Seno terus saja memegangi perutnya...


"Reza....Reza...." teriak Seno.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit perut sata sakit sekali."


"Ah iya, baik Tuan."


Reza yang merupakan Asisten sekaligus sopir Seno dengan panik langsung menyiapkan mobil, Reza terlihat khawatir saat melihat wajah Bos besarnya itu sangat pucat.


Sedangkan Seno dengan tertatih-tatih memaksakan diri untuk turun ke bawah, setelah mobil siap Seno pun segera masuk ke dalam mobil.


"Cepetan, Za. Saya sudah ga kuat, sakit banget ini."


"Iya Tuan, ini juga sudah cepat."


Sesampainya di rumah sakit, saking tidak kuatnya menahan sakit Seno langsung berlari mencari ruangan Dokter.


"Tuan tunggu!" teriak Reza.


Reza segera memarkirkan mobilnya dan langsung menyusul Seno, dari kejauhan Reza melihat Seno masuk ke dalam sebuah ruangan Dokter.


"Bos tung----" ucapan Reza terhenti karena Seno sudah terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan itu.


Reza ingin memberitahukan kalau Bosnya itu salah masuk ruangan. Sementara itu, Seno tanpa melihat sedikit pun langsung berbaring di ranjang pasien membuat seorang Dokter yang saat ini sedang beristirahat menatap Seno dengan tatapan tajam.


"Dokter, cepat periksa perut saya. Perut saya sakit sekali," keluh Seno.


"Maaf, ini waktunya istirahat jadi lebih baik anda keluar," serunya dengan dingin.


Seno menatap tajam ke arah Dokter yang di name tagnya bernama Zia itu.


"Berapa gaji anda selama istirahat? saya akan bayar anda berapa pun, asalkan anda memeriksa perut saya."


"Tidak semuanya bisa di beli oleh uang Tuan, lagipula saya tidak butuh uang anda yang saya butuhkan hanya waktu untuk istirahat," sahut Zia dengan dingin.


"Dokter, setahu saya Dokter itu sudah di sumpah untuk menolong orang yang sangat membutuhkan. Sekarang perut saya sedang sakit, dimana hati nurani Dokter? saya bisa laporkan anda ke pemilik rumah sakit ini, biar anda di mutasi sekalian ke Papua sana," seru Seno dengan emosinya.


Zia mendekati Seno dengan melipat kedua tangannya di perut.


"Meskipun dalam kondisi tidak sedang istirahat, saya tidak bisa menolong anda."


"Kamu....."


Ceklek...


"Maaf Tuan, maaf Dr.Zia. Tuan mari saya antar ke ruangan Dokter!"


"Maksud kamu apa Reza? saya ingin diperisa dulu," sentak Seno.


"Tuan, apa anda tidak lihat papan nama yang tertempel di pintu ruangan saya? di sana tertulis dengan jelas, Dr.Zia Aditya Atmanegara Sp.OG artinya Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. Anda tahu apa artinya?" sentak Zia dengan kesalnya.

__ADS_1


Seno hanya menggelengkan kepalanya...


"Itu artinya, saya adalah Dokter kandungan. Anda masuk ke ruangan saya tanpa permisi dan ingin di periksa oleh saya, apa anda saat ini sedang mengalami kontraksi dan ingin melahirkan?" cibir Zia.


Seno tampak membelalakkan matanya sedangkan Reza mengulum senyumnya menahan tawa supaya tidak pecah. Reza baru ngelihat Bosnya yang kejam dan bengis di buat mati kutu oleh seorang Dokter.


"Ah...sial."


Seno segera bangkit dari ranjang pasien itu dan segera keluar tanpa permisi karena Seno merasa malu dengan Dokter cantik itu.


"Maaf Dokter atas kelakuan Bos saya."


"Iya tidak apa-apa."


"Kalau begitu saya permisi."


Reza segera keluar dari ruangan Zia dan segera mengejar Bosnya itu. Setelah mendapatkan pertolongan, ternyata Seno mengalami usus buntu dan harus segera di operasi.


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Seno pun sudah selesai menjalani operasi dan sekarang Seno sudah berada di ruangan rawat inap kelas vvip itu.


Tidak lupa ketiga sahabatnya itu pun langsung datang ke rumah sakit saat mendengar berita Seno di operasi. Keempat serangkai itu memang solid banget, jika salah satu di antara mereka ada yang terkena musibah, semuanya akan langsung datang dan meninggalkan aktifitas mereka masing-masing.


"Seno, kamu itu seorang pengusaha sukses dan kaya raya, Hotelmu ada di mana-mana memangnya ga ada penyakit yang lebih berkelas lagi apa selain usus buntu?" ledek Gibran.


"Iya, Kanker gitu apa Gagal ginjal yang lebih elit sedikit," sambung Rayyan.


"Allohuakbar, sialan kalian semua berarti kalian mendo'akan aku cepat mati kalau begitu," sentak Seno.


"Tapi bagus juga loh kalau dia mati, pasti semua perusahaannya jatuh ke tangan kita," ledek Alta dengan santainya.


"Brengsek kalian semua," geram Seno.


Seno bangun dan ingin menghajar ketiga sahabatnya yang tidak punya hati itu, dia lupa kalau dia baru saja selesai di operasi sehingga membuat dia meringis kesakitan memegang perutnya. Sedangkan ketiga sahabat yang tidak tahu diri itu justru malah tertawa terbahak-bahak.


"Oh iya, aku mau laporkan salah satu Dokter di sini kepada pemilik rumah sakit. Dokter itu tadi sudah berani mempermalukanku," seru Seno.


"Tadi aku sudah sangat kesakitan tapi Dokter itu bukannya menolong malah marah-marah dan menantangku, resek tuh Dokter. Oh iya, bukannya pemilik rumah sakit ini Kakek kamu Rayyan? kamu bisa bilang sama Kakek kamu buat pecat tuh Dokter atau mutasikan saja dia ke Papua," seru Seno dengan kesalnya.


"Sekarang rumah sakit ini anaknya yang bungsu yang pegang alias tante aku," sahut Rayyan.


"Kamu bisa hubungi Tante kamu untuk datang ke sini? setidaknya aku ingin Dokter itu dapat surat peringatan," seru Seno dengan bengisnya.


"Ogah."


"Dasar, sahabat macam apa kamu tidak mau membantu. Sudah sana kalian pergi saja dari sini, ada di sini juga kalian hanya buat aku emosi saja," geram Seno.


"Heleh, kaya anak perawan aja ngambekkan," ledek Rayyan.


"Sudahlah Ray, kamu hubungi Tante kamu saja ribet urusannya kalau si bengis itu sampai ngamuk," seru Gibran dengan santainya sembari main game di ponselnya.


"Ck...." Rayyan hanya bisa berdecak kesal.


Rayyan pun segera menghubungi Tantenya untuk segera datang ke ruangan vvip tempat dimana Seno di rawat. Ketiga pria tampan itu memilih bersantai di sofa dengan ponsel mereka masing-masing.


Ketiga sahabat Rayyan memang tidak kenal dengan Zia, mereka hanya kenal dengan orang tua dari sahabat mereka masing-masing, masalah saudara mereka tidak ada yang mau tahu dan kepo juga.


Lagipula, Zia baru beberapa bulan ini ada di Indonesia karena Zia melanjutkan kuliah di Belanda. Zia langsung mendapat perintah dari Daddy Zidan untuk mengambil alih rumah sakit.


Ceklek...


Ke empat pria tampan itu reflek menoleh ke arah pintu yang terbuka. Seno kembali membelalakan matanya saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Kamu! ngapain kamu ke sini?" sentak Seno.


Zia dengan angkuhnya menatap tajam ke arah Seno dengan melipat ke dua tangannya di perut.


"Rayyan, dia adalah Dokter yang tadi berani menantangku. Dokter sombong yang tidak mau memeriksaku bahkan membiarkan aku kesakitan," geram Seno dengan menunjuk ke arah Zia.

__ADS_1


Alta dan Gibran sampai melongo melihat Zia, Dokter cantik dan anggun tapi terlihat sangat angkuh itu.


"Mana Tante kamu Rayyan? biar Dokter sombong ini di pecat sekalian," geram Seno.


Sementara itu Rayyan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu Rayyan mendekat ke arah Zia dan merangkul pundak Zia membuat ketiga pria itu melotot.


"Ini, Tante aku pemilik rumah sakit ini," seru Rayyan.


"Apa?" sahut ketiganya bersamaan.


Zia menaikan sebelah alisnya menatap Seno dengan senyuman sinisnya.


"Jadi dia teman kamu, Rayyan?" tanya Zia.


"Iya Tan."


Zia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Seno, membuat Seno sedikit tersentak.


"Jadi kamu yang ingin melaporkan saya dan memecat saya dari rumah sakit ini? sayang sekali Tuan, rumah sakit ini milik saya jadi kamu tidak bisa memecat atau pun memutasi saya," seru Zia.


Kemudian Zia mendekatkan wajahnya ke wajah Seno, reflek Seno memundurkan wajahnya dengan mata yang terbelalak.


"Jangan macam-macam sama saya, atau kamu akan saya suntik mati sekalian," seru Zia dengan dinginnya.


Susah payah Seno menelan salivanya, hingga Zia pun membenarkan posisinya kembali.


"Rayyan, lain kali jangan sembarangan panggil Tante apalagi kalau urusan dengan orang yang ga penting seperti dia."


"Ah, siap Tante."


Zia pun pergi meninggalkan ruangan rawat Seno, Seno menghembuskan napasnya lega dan memegang jantungnya yang serasa mau copot tadi.


"Gila, Tante kamu cantik banget Ray," seru Gibran.


"Iya, tapi terlihat angkuh dan galak ya," sambung Alta.


"Hooh, noh lihat si Mr.bengis pun langsung mati kutu di buatnya," ledek Gibran.


"Sumpah, aku pikir Tante kamu itu sudah Ibu-ibu tapi ternyata masih muda. Ga nyangka aku," seru Alta.


"Iya, dia hanya terpaut beberapa tahun saja sama aku."


Ketiga pria tampan itu kembali berbincang-bincang, sedangkan Seno berusaha menetralkan jantungnya.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2