CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Berdebar


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Pagi ini Bee bangun dengan perasaan terkejut karena tadi malam dia sedang ada di ruangan kerja Alta tapi sekarang dia sudah tertidur di kamarnya, itu tandanya tadi malam Alta yang sudah memindahkannya.


"Astaga, pasti Pak Alta akan mengira aku itu kaya kebo soalnya tidur kaya bangkai saja di pindah pun sama sekali ga kerasa," gumam Bee mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


Bee pun bangun dengan tidak bersemangat, dengan langkah gontai Bee pun masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai Bee keluar untuk menyiapkan sarapan, tidak ada yang biacara sama sekali keduanya terdiam membisu.


Keduanya tampak canggung satu sama lain...


"Sial kenapa aku jadi canggung kaya gini?" batin Alta.


"Kenapa jadi ga enak kaya gini sih? setiap dekat Pak Alta, jantungku selalu bermasalah padahal cuma berdekatan apalagi kalau sampai bersentuhan. Padahal sama Tuan Seno dan Tuan Gibran, aku berpelukan dan bergandengan tangan tapi sama sekali ga ada perasaan apa-apa, giliran berhadapan dengan Pak Alta semuanya jadi aneh," batin Bee.


Keduanya pun sama-sama ingin mengambil roti sehingga Alta tidak sengaja menyentuh tangan Bee membuat Bee seketika mematung.


"Ah maaf," seru Alta dengan menarik tangannya.


"I---iya, tidak apa-apa."


Keduanya kembali terdiam, ini adalah hari minggu.


"Aku mau olahraga seperti biasa, kamu ikut bawa semua perlengkapanku," seru Alta.


"Ba--baik, Pak."


Hari ini keempat serangkai itu akan melakukan olahraga menembak. Sesampainya di tempat tujuan, ternyata semuanya sudah datang dan sedang menunggu kedatangan Alta.


Bee tampak kesusahan membawakan tas Alta yang berisi semua keperluan Alta.


"Sorry telat."


"It's oke ga apa-apa," sahut Rayyan.


"Pagi Tuan Gibran, pagi Tuan Seno, pagi Pak Rayyan," seru Bee.


Mereka bertiga hanya melambaikan tangannya sembari tersenyum. Keempat serangkai itu mulai berdiri dan menempati tempat masing-masing. Sesaat Bee tampak terpana akan ketampanan keempat serangkai itu.


"Tidak diragukan lagi, mereka memang tampan sekali," batin Bee.


Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Bee membuat Bee mendongakkan kepalanya.


"Hai Bee!"


"Dr.Zia, wah senang sekali bisa bertemu dengan dokter disini. Dokter sedang apa?" tanya Bee antusias.


"Aku sedang latihan menembak."


"Wah, hebat banget memangnya dokter tidak takut ikut latihan menembak?"

__ADS_1


"Tidak, justru ini merupakan olahraga yang tidak biasa. Aku ingin mencobanya, sekali-kali pengen pegang pistolah jangan jarum suntik mulu."


Bee dan Zia pun tertawa bersama...


Alta yang mendengar Bee tertawa menoleh dan mengerutkan keningnya saat ada seorang wanita cantik yang sangat dia kenal duduk dan tertawa bersama Bee.


"Ray, bukannya itu Tante kamu ya?" tanya Alta.


Rayyan menoleh, Rayyan melepaskan penutup telinganya dan menghampiri keduanya begitu pun dengan Alta.


"Tante, ngapain Tante disini?"


"Loh, kamu juga ada disini?"


"Iyalah, aku mah memang sudah jadwalnya sekarang latihan. Tante sendiri mau ngapain disini?"


"Tante juga mau latihan menembaklah, memangnya ga boleh," ketus Zia.


"Lah, Dr.Zia ini Tantenya Pak Rayyan?" tanya Bee.


"Iya Bee, sebenarnya aku malas sih mengakui wanita cerewet ini sebagai Tante aku tapi mau gimana lagi hubungan darah lebih kuat," sahut Rayyan.


Plaaakkk...


Zia memukul lengan Rayyan dengan kuatnya, membuat Rayyan meringis kesakitan.


"Astaga Tante, profesi boleh saja dokter tapi kelakuan kok bar-bar sih, main pukul saja," protes Rayyan membuat Alta dan Bee tersenyum.


Gibran dan Seno pun selesai dan bergabung dengan yang lainnya.


"Waw, ternyata ada Bu dokter cantik disini," seru Gibran.


"Woi, memangnya kamu pikir ini tempat milik Nenek moyangmu apa? semua orang bebas buat datang kesini," kesal Zia.


Seno dan Zia saling menatap penuh kebencian bahkan kalau diumpamakan film kartun, dari sorot mata Seno dan Zia sudah memancarkan kilatan-kilatan petir.


Tiba-tiba ponsel Bee bergetar dan ternyata itu pesan dari Alsya, Bee dengan cepat membalas pesan Alsya supaya Alsya menyusulnya.


"Ayo Bee!" ajak Zia dengan menarik tangan Bee.


"Eeee...mau kemana Bu dokter?" tanya Bee heran.


"Temani aku latihan menembak."


"Tapi aku ga bisa Bu dokter."


"Tenang saja, disana kan ada pelatihnya kita minta ajari sama pelatihnya," sahut Zia.


Zia langsung menarik Bee tanpa menunggu jawaban Bee membuat Alta dan Seno melotot. Kedua pria tampan itu memperhatikan Bee dan Zia, saat ini Bee dan Zia sedang dibimbing oleh pelatih.


Alta yang melihat pelatih itu memegang tangan Bee, langsung membuka airmineral botol dan menegukknya dengan kasar membuat ketiga sahabatnya saling pandang satu sama lain.


Pelatih itu semakin dekat dengan Bee dan itu membuat Alta semakin tidak tahan. Alta bangkit dari duduknya dan menghampiri Bee.


"Sini biar aku yang ajari," seru Alta dingin.


Alta pun berdiri di belakang Bee dan mulai memegang tangan Bee dan mengarahkan pintolnya ke titik target. Alta menyimpan wajahnya di pundak Bee membuat wajah keduanya terlihat dekat.

__ADS_1


"Astaga, jantungku," batin Bee.


"Matanya fokus ke depan," bisik Alta.


"Ah i--iya."


Bee mulai melihat ke depan, dia tidak bisa fokus konsentrasinya buyar seketika ditambah dengan detak jantungnya yang semakin menggila.


Jangan tanyakan Alta, sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama dengan Bee tapi Alta berusaha untuk bersikap senormal mungkin karena Alta tidak mau melihat Bee sampai di pegang-pegang oleh pria lain.


Zia menoleh ke arah Bee dan mengerutkan keningnya.


"Lah, bukannya Bee itu pacarnya Seno? tapi kenapa bukan Seno yang membantunya? malah orang lain, bahkan Seno tampak cuek-cuek saja. Wah ada yang aneh ini," batin Zia.


Zia bukannya menembak malah asyik dengan pikirannya sendiri sehingga dia tidak sadar kalau seseorang sudah berdiri di sampingnya.


"Mau nembak atau mau melamun?"


Zia tersentak dan menoleh ke sampingnya...


"Apaan sih," ketus Zia.


"Kalau cara menembakmu seperti itu, kamu bisa membunuh orang."


Zia melihat pistolnya yang terarah bukan pada target tapi pada seseorang yang sedang terduduk jauh di depan sana.


"Astagfirullah."


Zia langsung menurunkan tangannya, Seno menghampiri Zia dan menendang kaki Zia pelan.


"Kakinya buka sedikit jangan rapat seperti ini."


Seno semakin mendekat, kemudian Seno mendorong pipi Zia pelan supaya melihat ke depan karena saat ini Zia masih melongo menatap Seno.


"Pandangan lurus ke depan, tangannya luruskan, mata fokus ke arah target jangan kemana-mana," seru Seno.


Zia semakin gugup, sama halnya dengan Bee dan Alta, Seno pun mengajari Zia. Sementara itu Rayyan dan Gibran menyesap kopinya dengan santai, tidak memperdulikan pasangan yang sama-sama mempunyai gengsi besar itu.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2