
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Setelah berdebat unfaedah, Bee pun akhirnya bisa pulang. Entah apa yang ada dipikirkan Alta, selalu saja berdebat hal yang tidak penting.
Malam pun tiba...
Saat ini Bee dan Rega sedang makan bersama, lesehan di depan televisi.
"Kak, sepertinya Tuan Alta suka deh sama Kakak."
"Kata siapa?"
"Rega bisa lihat sendiri, waktu Kakak masuk rumah sakit saja Tuan Alta begitu perhatian sama Kakak, sepertinya Tuan Alta khawatir banget sama Kakak."
"Iyakah?"
"Heem."
"Oh iya Kak, besok Rega mau ikutan paket c supaya dapat ijazah SMA habis itu Rega mau daftar kuliah."
"Serius kamu Rega?"
"Iya Kak, Rega sudah menyesal mengabaikan pendidikan demi hal-hal yang sama sekali tidak berguna hanya bisa menjerumuskan Rega."
"Bagus Rega, Kakak akan selalu mendukung kamu. Kamu kuliah di kampus Kakak saja biar kita bisa barengan."
"Memang Rega akan kuliah disana, karena Tuan Alta sudah mendaftarkan Rega disana."
"Uhuk...uhuk...uhuk..."
Rega segera memberikan minum untuk Kakaknya itu, Bee langsung meminumnya sampai tandas.
"Apa kamu bilang? Oppa sudah mendaptarkan kamu disana?" tanya Bee kaget.
"Iya Kak, bahkan Tuan Alta yang sudah mencarikan tempat untuk Rega melaksanakan paket c."
"Kok kamu ga bilang sama Kakak?"
"Kakak ga nanya," sahut Rega dengan santainya.
Pletaak...
Bee menimpuk kepala Rega dengan timun...
"Seharusnya nanya atau tidak nanya kamu harus cerita sama Kakak," kesal Bee.
***
Keesokkan harinya....
Bee dengan semangat melajukan motornya menuju rumah Alta, seperti biasa dia akan membuatkan sarapan untuk orang yang saat ini statusnya sebagai kekasih Bee.
Bee sampai tertawa geli mengingat kemarin Alta menyatakan cintanya bahkan mengajaknya menikah. Sesampai di rumah Alta, Bee segera menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuk Alta.
Senyuman tidak pernah luntur dari wajah Bee, hari ini Bee begitu sangat bahagia bahkan saking bahagianya, Bee membentuk selai roti Alta dengan bentuk hati.
"Ya ampun cantik sekali," gumam Bee kegirangan.
Tap...tap...tap...
Suara ketukan sepatu milik Alta sudah terdengar, dan benar saja tidak lama kemudian Alta turun dengan pakaiannya yang sudah rapi.
"Pagi Oppa!"
__ADS_1
"Pagi."
"Ayo duduk Oppa, aku sudah buatkan sarapan buat Oppa. Tiga lembar roti gandum dengan selai kacang kesukaan Oppa," seru Bee dengan cerianya.
Alta pun duduk dan menaikkan satu alisnya saat melihat mahakarya Bee di atas rotinya.
"Apa ini?"
Senyuman Bee langsung luntur, bukan itu ucapan yang Bee harapkan dari Alta.
"Aku sudah susah-susah mengukir selai itu supaya bentuk hati, malah di tanya apa ini? seharusnya Oppa itu bilang kaya gini, wah Bee kamu romantis banget sayang aku jadi terharu. Seharusnya Oppa bilang gitu," ketus Bee.
Bee mengerucutkan bibirnya dan mendudukkan tubuhnya dengan kesalnya kemudian Bee melahap roti buatannya dengan perasaan kesal dan dongkol, membuat Alta mengulum senyumannya.
Alta pun bangkit dari duduknya, dan menghampiri Bee tapi Bee terlanjur dongkol dan tidak memperdulikan Alta.
Alta membungkukkan tubuhnya dan....cup...Alta mencium pipi Bee membuat Bee hampir saja tersedak.
"Terima kasih, Bee my love," bisik Alta.
Wajah Bee seketika memerah dan menundukkan kepalanya.
"Sarapan yang banyak, aku harus berangkat duluan soalnya ada masalah di kantor. Hati-hati di jalan."
Alta mengusap kepala Bee dan mengecup kepala Bee, setelah itu Alta pun segera berangkat meninggalkan Bee yang masih terdiam tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Alta.
"Astaga, jantung oh jantung. Ya ampun, aku senang banget," gumam Bee dengan berjingkrak-jingkrak seperti orang gila.
Setalah sarapan, Bee pun segera melajukan motornya menuju kampus. Bee melajukan motornya dengan santai sembari senyum-senyum sendiri bahkan saat lampu merah pun, Bee masih senyum-senyum sendiri membuat Rayyan mengerutkan keningnya.
Rayya yang saat ini sedang mengamankan lalu lintas kemudian menghampiri Bee tapi Bee tidak sadar kalau Rayyan sekarang sudah ada di hadapannya.
"Woi...." teriak Rayyan.
"Allohuakbar, Abang bikin kaget aja bagaimana kalau aku kena serangan jantung," kesal Bee.
"Habisnya dari tadi aku lihat kamu nyengir terus, ga takut giginya bakalan kering," ledek Rayyan.
"Kamu lagi bahagia ya? baru dapat lotre?"
"Aishh...lotre apaan? aku lagi senang saja Bang."
"Roman-romannya lagi jatuh cinta nih," goda Rayyan.
"Sotoy...pacaran saja ga pernah sok-sok an, memangnya Abang tahu raut wajah yang lagi jatuh cinta?"
"Tahulah..."
"Kaya gimana?"
"Ya kaya kamu sekarang."
Tiba-tiba lampu pun berubah menjadi hijau...
"Sudah dulu Bang, aku berangkat dulu. Bang di gigi ada cabenya nyangkut!" teriak Bee.
Rayyan membelalakan matanya dan dengan reflek menutup mulutnya. Rayyan segera mengeluarkan ponselnya dan memeriksa giginya.
"Ga ada cabenya kok, aish...si Bee kurang asem ngerjain aku," gerutu Rayyan.
Tidak lama kemudian, Bee pun sampai di kampus bersamaan dengan mobil Erika dan Alsya yang sama-sama baru saja sampai.
"Hai guys..." seru Bee dengan semangatnya.
"Kamu kenapa Bee, kok hari ini aneh banget," seru Alsya.
"Aneh apanya?"
"Ya, seperti ada sesuatu yang sudah membuatmu bahagia, iya kan Er?"
"Yups, ada apa nih? apa hari ini kamu ada yang nyewa dengan bayaran fantastis?" sambung Erika.
__ADS_1
"Ih apaan sih kalian, ga ada yang nyewa-nyewa karena mulai sekarang aku sudah pensiun jadi pacar sewaan."
"Whaaattt..." sahut Alsya dan Erika bersamaan.
"Kenapa pensiun?" tanya Alsya.
"Nanti juga kalian tahu, let's go kita masuk kelas," ajak Bee dengan merangkul pundak kedua sahabatnya itu.
Disaat Alta menjelaskan pelajaran, Bee tidak henti-hentinya memandangi wajah Alta yang sangat tampan itu bahkan disaat yang lain sibuk menulis apa yang sudah dijelaskan oleh Alta, Bee hanya melamun sembari senyum-senyum.
Alta menyadari itu dan tampak menahan senyumannya.
"Bianca Anggita, tolong konsentrasi!" seru Alta dengan suara yang sedikit tinggi.
"Ah...siap Oppa," sahut Bee keceplosan.
Semua anak-anak langsung menatap heran le arah Bee, begitu pun Alsya dan Erika.
"Apa kamu bilang? Oppa?" seru Alsya.
Bee langsung menutup mulutnya dan menundukkan kepalanya karena malu diperhatikan oleh semua anak-anak.
Sedangkan Alta semakin dibuat lucu oleh tingkah Bee. Hingga akhirnya mata kuliah Alta pun selesai dan Alsya segera menyeret Bee ke taman kampus.
"Ya ampun Sya, jangan di seret-seret dong memangnya aku ini karung beras apa?" keluh Bee.
Alsya dan Erika melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Bee dengan horor membuat Bee bergidik ngeri.
"Apa yang sudah kamu sembunyikan dari kita?" tanya Alsya.
"Ap---apa, aku tidak menyembunyikan apa-apa dari kalian," sahut Bee gugup.
"Jangan bohong Bee, kenapa kamu panggil Pak Alta dengan sebutan Oppa?" tanya Erika.
Bee tampak meringis, dia tidak tahu apa yang akan dia jawab.
"Sayang, nanti siang kamu tidak usah datang ke rumah karena aku mau langsung ke kantor," seru Alta yang tiba-tiba datang.
Ketiga wanita itu menoleh ke arah Alta, termasuk Bee yang tampak kaget dengan panggilan sayang yang diucapkan oleh Alta. Sementara itu, Alta dengan santainya masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya meninggalkan ketiga wanita cantik itu.
Alsya dan Erika langsung menatap tajam ke arah Bee, dan Bee menundukkan kepalanya.
"Sayang, Oppa, Bianca Anggita tolong jelaskan semua ini dengan sejelas-jelasnya," seru Alsya dengan penuh penekanan.
Bee hanya bisa meringis, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hingga akhirnya melihat Alsya dan Erika lengah, Bee langsung ngacir meninggalkan mereka berdua.
"Bee....." teriak Alsya dan Erika bersamaan.
Bee langsung menancap gasnya dan meninggalkan kedua sahabatnya yang terlihat sangat kesal.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU