
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Malam minggu ini, Bee dan yang lainnya lebih memilih menghabiskan malam mingguannya di rumah sakit menemani Alsya dan Gibran.
Alta dan Bee sudah datang duluan dengan membawa makanan.
"Gib, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Alta.
"Alhamdulillah sudah baikkan, tapi masih terasa ngilu sih sedikit."
"Terima kasih ya Gib, sudah mau mendonorkan hati kamu untuk Alsya."
"Jangan PD dulu, aku mau mendonorkan hati aku bukan karena kamu sahabat aku dan Alsya adik kamu tapi aku mau mendonorkan hati aku karena aku cinta sama Alsya, kamu garis bawahi itu," seru Gibran.
"Astaga, semua orang juga tahu kali apa alasan kamu mendonorkan hati kamu ga usah diulang-ulang lagi," sahut Alta dengan malasnya.
Alsya hanya tersenyum, sungguh Alsya sangat bahagia sekali saat ini karena ternyata cintanya terbalaskan. Begitu pun dengan Nasya yang hanya bisa tersenyum tanpa berkata-kata.
"Kak, Alsya, karena Alsya sekarang sudah mendapatkan donor hati sepertinya aku mau kembali lagi ke Perancis," seru Nasya.
"Apa? kenapa mau kembali lagi kesana? lebih baik kamu disini saja Nas," sahut Alsya.
"Iya, kamu sudah sejak kecil tinggal di Perancis apa kamu tidak merindukan kebersamaan kamu dengan kami semua disini?" sambung Alta.
"Justru karena Nasya sejak kecil tinggal disana, makanya Nasya merasa betah disana. Nasya merasa dunia Nasya ada disana Kak, Nasya lebih nyaman tinggal disana."
"Apa Mommy sama Daddy sudah tahu?" tanya Alta.
"Sudah Kak, dan rencananya besok Nasya berangkat."
"Nas, apa kamu tidak bisa tinggal saja disinu?" seru Bee.
"Tidak Bee, aku mau kembali lagi ke Perancis saja. Ya sudah, karena sekarang ada Kak Alta dan Bee, aku mau pulang dulu mau siap-siap membereskan barang-barang," seru Nasya.
"Besok kalau kamunya seperti itu, besok beritahu Kakak jam berapa kamu berangkat biar Kakak bisa ikut nganterin kamu."
"Siap Kak, ya sudah semuanya aku pulang dulu. Kak Gibran semoga sehat selalu ya."
Gibran hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh sedikit pun kepada Nasya, akhirnya Nasya pun pergi.
Tidak lama setelah Nasya pulang, Seno dan Rayyan pun datang.
"Hallo bro, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Seno.
"Alhamdulillah sudah baikan, tinggal nyeri dan ngilunya saja," sahut Gibran.
"Sya, cepat sehat sepi kalau ga ada kamu cewek bar-barnya berkurang satu," seru Rayyan.
"Ishh..Kak Rayyan, Alsya ga bar-bar Kak cuma sedikit gila saja," sahut Alsya.
__ADS_1
Tiba-tiba, pintu terbuka...
"Hallo semuanya!" teriak Erika membuat semua orang menutup telinganya.
"Astaga bule gila, ngapain teriak-teriak kamu pikir ini hutan," ketus Rayyan.
"Ishh..Pak Polisi kaku, mau aku cium lagi," goda Erika dengan mendekati Rayyan.
"Dasar bule gila, stop jangan mendekat sana jauh-jauh," sentak Rayyan.
"Ckckck...baru gitu aja sudah ketakutan, bagaimana kalau aku terkam sekalian," ledek Erika.
"Gila nih cewek, agresif banget. Sosor terus bule jangan kasih kendor," seru Gibran.
"Apaan sih Gib, jangan mulai deh. Ogah banget sama cewek liar dan agresif kaya dia, aku maunya cewek kalem dan manis," sahut Rayyan.
"Jangan gitu Bang, nanti malah Abang balik bucin sama Erika," goda Bee.
"Idih amit-amit Bee, aku itu pilih-pilih cari cewek mana mungkin aku suka sama cewek bar-bar, agresif, sama playgirl kaya dia, sumpah dia bukan kriteria cewek idaman aku," seru Rayyan.
"Awas kamu kanebo kering, aku bersumpah bakalan buat kamu bertekuk lutut sama aku setelah kamu cinta sama aku, aku bakalan tinggalin kamu biar tahu rasa," batin Erika.
"Noh, kaya pria itu setelah dijauhi ceweknya malah balik kena karma doi, sekarang malah dia yang ngejar-ngejar," ledek Bee.
Seno yang sedang mengotak-ngatik ponselnya langsung mengangkat wajahnya dan terlihat semua orang sedang melihat ke arahnya.
"Ngapain kalian lihat-lihat? aku ga bucin ya, aku hanya tidak mau mengecewakan kedua keluarga saja, bagaimana jadinya kalau kita membatalkan tunangan bisa-bisa mereka kecewa," seru Seno dengan santainya.
Bee menghampiri Seno dan duduk di samping Seno...
Seno menatap wajah Bee, kemudian langsung memiting leher Bee membuat Bee berteriak.
"Awas kamu ya Bee, berani-beraninya kamu meledekku kamu mau durhaka meledek orang yang lebih tua darimu," seru Seno dengan gemasnya.
"Ih lepasin Bang, iya-iya ampun. Oppa tolongin istri cantikmu ini," teriak Bee.
Alta dan yang lainnya hanya tertawa, hingga tiba-tiba pintu kembali terbuka.
"Malam semuanya!" sapa Zia.
"Malam..."
Seno langsung melepaskan Bee dan merapikan penampilannya membuat Bee mencebikkan bibirnya.
"Kak Zia, tahu ga Kak kalau kata Bang Seno tadi....mmppfffttt."
Ucapan Bee terhenti karena Seno langsung membekap mulut Bee dengan tangannya.
"Jangan banyak bicara, kalau kamu diam nanti aku akan bayar kamu," bisik Seno.
Bee langsung diam dan menganggukkan kepalanya..
"Anak pintar." Seno menepuk-nepuk kepala Bee.
"Apa Bee, Seno bilang apa sama kamu?" tanya Zia dengan melipat tangannya didada.
"Ah tidak Kak, tadi Bang Seno bilang kalau Bang Seno ingin menikahi Kak Zia bulan depan," sahut Bee.
__ADS_1
"Apa?"
Bee menatap Seno yang saat ini sedang melotot ke arahnya, sebelum Seno menganiayanya lagi Bee langsung berlari ke arah Alta dan memeluknya meminta pertolongan.
Zia menatap Seno dengan tajam, sedangkan Seno yang ditatap hanya bisa meringis.
"Buahahaha...si singa jantan berubah menjadi kucing manis gara-gara ditatap horor sama Tanteku," ledek Rayyan.
Zia menghampiri Seno dan berdiri tepat dihadapan Seno dengan berkacak pinggang.
"Maksud dari ucapan Bee tadi apa?"
"Ah, tidak apa-apa si Bee mah memang suka bercanda jangan didengerin," sahut Seno gugup.
"Oh jadi cuma bercanda?"
Seno menganggukkan kepalanya...
"Berarti kamu tidak serius dong, terus buat apa kemarin menyuruh aku untuk memakai lagi cincin ini kalau kamu pada akhirnya ga mau nikahin aku dalam waktu dekat ini," kesal Zia.
"Tuh kan salah ngomong lagi, ini semua gara-gara kamu, Bee," geram Seno.
Bee hanya cekikikan dalam pelukkan Alta, begitu pun dengan yang lainnya terlihat puas menertawakan Seno.
"Nah loh, hajar Tante jangan dikasih ampun. Kamu belum tahu Seno seberapa galaknya Tante aku ini, galaknya melebihi emak tiri tahu. Apalagi kalau nanti sudah nikah, jangan buat kesalahan sedikit pun bisa-bisa kamu direbus hidup-hidup," ledek Rayyan.
"Apa kamu bilang?" seru Zia dengan menatap horor ke arah Rayyan.
"Astaga Tante, jangan melotot kaya gitu matanya takut loncat tuh," seru Rayyan.
"Dasar keponakan tidak tahu diri, sini kamu Rayyan!" teriak Zia.
Rayyan yang merasakan alarm tanda bahayanya berbunyi akhirnya memilih untuk kabur dan itu semua membuat semuanya tertawa, tak terkecuali Alsya dan Gibran mereka sampai mengaduh kesakitan karena perutnya sakit saking terlalu banyak tertawa.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1