CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Terungkap


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Selama dalam perjalanan, Nasya tampak diam tidak bicara sedikit pun tidak tahu kenapa Nasya teringat terus dengan Alsya dan perasaannya pun merasa tidak enak.


"Malam ini kamu cantik sekali, Sya."


Nasya masih saja melamun sampai-sampai tidak mendengar pujian yang ucapkan oleh Gibran. Gibran mengerutkan keningnya, hingga satu tangannya menyentuh pundak Nasya dan itu membuat Nasya terkejut.


"Astaga Kak, aku kaget."


"Kamu kenapa melamun? apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Gibran.


"Ah tidak apa-apa kok, Kak."


Lagi-lagi Gibran merasa kalau ini bukan Alsya, tapi Gibran membuang jauh-jauh perasaan itu karena Gibran tahu kalau Nasya sedang ada di Perancis dan walaupun Nasya pulang, dirinya pasti akan tahu bahkan diacara pernikahan Alta dan Bee pun hanya ada satu orang tidak ada kembarannya.


Tidak lama kemudian, mobil Gibran pun sampai di sebuah restoran mewah. Gibran dengan romantisnya membukakan pintu mobil untuk Alsya. Keduanya masuk ke dalam restoran itu dan langsung memesan makanan.


Nasya terlihat tidak bersemangat untuk makan, perasaannya semakin tidak enak. Setelah selesai makan, hening seketika dan Nasya hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Sya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," seru Gibran memecah keheningan.


"Kakak mau bicara apa?"


Tiba-tiba Gibran menggenggam kedua tangan Nasya membuat Nasya terkejut.


"Sya, maaf sebelumnya karena selama ini aku sudah tidak memperdulikanmu. Awalnya aku memang merasa terganggu dengan kehadiran kamu, tapi setiap aku tidak bertemu kamu satu hari saja aku merasa rindu kepadamu justru aku sering merindukan kelakuanmu yang selalu heboh makanya aku merasa aneh karena akhir-akhir ini sikap kamu sangat berubah. Aku memang menginginkan kamu bersikap manis seperti ini, tapi setelah aku pikir-pikir aku memang suka dengan Alsya yang ceria, heboh, bar-bar, dan agresif jadi lebih baik kamu jangan berubah tetaplah menjadi Alsya yang dulu."


"Aku Nasya, Kak bukan Alsya," batin Nasya.


"Sya, ternyata aku baru sadar kalau aku menyukaimu. Aku tidak tahu kapan rasa itu muncul yang jelas aku selalu merindukanmu kalau sehari saja kamu ga gangguin aku."


Nasya sangat terkejut, apa yang harus dia jawab dia pun tidak tahu.


"Ya Alloh, apa yang harus aku jawab," batin Nasya.


Akhirnya Nasya pun melepaskan genggaman tangan Gibran membuat Gibran bingung.


"Kenapa? apa kamu tidak menyukaiku?" tanya Gibran.


"Maaf Kak, bukannya begitu bisa tidak aku memikirkan jawabannya dulu."


Meskipun tampak kebingungan dihati Gibran karena Gibran melihat keragu-raguan di dalam diri Alsya yang berbanding terbalik dengan Alsya yang selama ini dia kenal.


Alsya selalu mengejar-ngejar Gibran dan Gibran mempunyai keyakinan kalau Alsya akan menerimanya tapi ternyata jauh dari perkiraannya.


Terjadi keheningan diantara keduanya, sehingga Gibran pun memutuskan untuk mengajak Nasya pulang karena waktu pun sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.


Sementara itu di kediaman Bakrie, Alsya merasa sangat haus dan ternyata air minum di kamarnya pun sudah habis. Dengan langkah yang tertatih, Alsya melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil minum.


Mobil Gibran pun sampai di depan rumah Nasya.


"Terima kasih, Kak."


Tiba-tiba entah kenapa Gibran merasa kebelet ingin ke toilet.


"Sya, boleh aku numpang ke kamar mandi? aku pengen ke toilet."


"Boleh, ayo masuk."


Gibran pun mengikuti Nasya masuk, rumah terlihat gelap itu tandanya semua penghuni rumah sudah berada dalam alam mimpinya.


"Kak, kamar mandinya ada di dapur."

__ADS_1


"Ya sudah, aku ke kamar mandi dulu."


Baru saja beberapa langkah, dari arah dapur terdengar suara benda jatuh.


Praaaannnggg...


Nasya dan Gibran saling pandang, lalu kemudian segera menuju dapur. Betapa terkejutnya Nasya dan Gibran saat melihat seseorang yang sudah tersungkur di lantai dengan pecahan gelas yang berserakan.


"Alsya...." teriak Nasya.


Deg....


Gibran hanya bisa terdiam dan melongo dengan teriakan Nasya. Bee dan Alta segera berlari setelah mendengar benda jatuh dan teriakan Nasya.


"Alsya bangun Sya, Nasya kamu bangunin Mommy sama Daddy, biar Kakak yang siapkan mobil!" teriak Alta panik.


"Iya Kak."


Nasya segera berlari melewati Gibran yang masih diam mematung, Gibran masih syok bahkan yang awalnya kebelet pipis seolah menghilang seketika.


"Bang Gibran, tolong bantuin angkat Alsya," seru Bee.


Seolah tersentak, Gibran langsung menghampiri Alsya.


"A---Alsya..."


"Iya Bang, nanti kita jelaskan semuanya sekarang kita harus bawa Alsya ke rumah sakit," seru Bee panik.


Tanpa menunggu lagi, Gibran pun langsung mengangkat tubuh Alsya dan membawanya masuk ke dalam mobil Alta.


Semuanya masuk ke dalam mobil Alta dan Gibran, kemudian menuju rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Gibran masih memikirkan semuanya, sebenarnya apa yang sudah terjadi. Kalau gadis yang pingsan tadi adalah Alsya, berarti gadis yang bersamanya adalah Nasya kembarannya.


"Aaaarrrggghhh....sial," geram Gibran dengan memukul stir mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, ternyata Dr.Zidan dan Dr.Billy sudah menunggu di depan rumah sakit dengan beberapa perawat dan blangkar.


Alta segera mengangkat tubuh Alsya dan merebahkan tubuh lemah itu di atas blangkar, lagi-lagi Gibran hanya bisa melongo saat Alsya dengan cepatnya dibawa ke ruangan pemeriksaan.


Berbagai pertanyaan mengganggu pikiran Gibran, hingga akhirnya Dr.Zidan dan Dr.Billy pun membawa Alsya ke ruangan khusus dan semuanya hanya bisa menunggu di kursi tunggu.


Mommy Tasya dan Bee bahkan sudah menangis dipelukkan suami masing-masing, sedangkan Nasya tampak menundukkan kepalanya dengan deraian airmata.


Gibran tampak geram, dia menarik tangan Nasya dan membawanya ke tempat yang sepi.


"Jelaskan apa maksud dari semua ini?" geram Gibran.


"Ma--maafkan aku, Kak."


"Aku tidak butuh maaf dari kamu, yang aku butuh hanyalah penjelasan."


"Al--Alsya mengidap penyakit Liver."


Gibran membelalakkan matanya, bahkan tubuhnya mundur satu langkah saking terkejutnya.


"Sejak kapan?" tanya Gibran dingin.


"Sejak bayi."


"Apa? terus kalian semua menyembunyikannya dari aku, bahkan kamu berpura-pura menjadi Alsya demi menutupi penyakitnya!" teriak Gibran yang sedikit tertahan karena Gibran tahu itu adalah rumah sakit.


Nasya tersentak, airmatanya semakin mengalir deras.


"Sungguh hebat, ternyata selama ini aku di bodohi sama kamu? pantas saja aku merasa aneh dengan kelakuanmu yang sama sekali jauh berbeda dengan Alsya. Terima kasih Nasya sudah mau menggantikan Alsya, tapi sayang aku sedikit pun tidak tertarik denganmu walaupun kelakuanmu sangat manis dan wajahmu mirip dengan Alsya."


Gibran lngsung meninggalkan Nasya, sedangkan Nasya semakin sesegukkan mendengar ucapan Gibran yang menurutnya sangat menyakitkan.


Gibran kembali menghampiri keluarga Bakrie dan bersamaan dengan Dr.Zidan keluar dari ruangan pemeriksaan Alsya.


"Bagaimana Mas, keadaan Alsya?" tanya Daddy Alvian.


"Alvian, keadaan Alsya sudah sangat lemah bahkan sekarang seluruh tubuhnya sudah mulai terlihat menguning, Alsya harus segera mendapatkan donor hati sesegera mungkin kondisinya saat ini sudah sangat tidak mungkin untuk menunggu lagi," seru Dr.Zidan.

__ADS_1


"Aaarrrgghhh...."


Alta memukul-mukul dinding rumah sakit saking marahnya pada diri sendiri karena tidak bisa mencarikan donor hati untuk adiknya itu.


"Oppa hentikan, jangan seperti ini," seru Bee.


"Aku sudah gagal Bee menjadi seorang Kakak, aku memang Kakak yang tidak berguna."


Bee langsung memeluk suaminya itu, untuk pertama kalinya Alta meneteskan airmatanya.


"Dr.Zidan, bisakah anda memeriksa keadaan hati saya? mungkin saja hati saya cocok dengan Alsya," seru Bee.


"Tidak, aku saja yang diperiksa Uncle," seru Gibran.


Semua orang menoleh ke arah Gibran, Gibran menghampiri Dr.Zidan.


"Uncle, aku mohon periksalah hati saya kalau cocok, Uncle harus segera melakukan tindakan," seru Gibran.


"Tapi Gibran, kamu harus mendapat persetujuan dari orang tua kamu sebagai penanggung jawab kamu," sahut Dr.Zidan.


"Periksa dulu keadaan hati saya Uncle, kalau hati saya cocok, saya akan segera menghubungi kedua orang tua saya."


Dr.Zidan menatap semua orang yang ada disana satu-persatu dan tidak ada yang berani menjawab.


"Baiklah, Billy tolong kamu siapkan alat-alatnya."


"Baiklah."


"Mari Gibran, kamu ikut saya."


"Baik Uncle."


Gibran pun mengikuti Dr.Zidan untuk melakukan pemeriksaan, cukup lama Dr.Zidan memeriksa keadaan Gibran hingga akhirnya Dr.Zidan menyatakan kalau keadaan hati Gibran baik dan sangat cocok dengan hati Alsya.


"Hasilnya bisa kita lihat besok, saya harap selama proses pemeriksaan berlangsung kamu harus jaga kesehatan."


"Baik Uncle."


"Saya beri waktu kamu untuk berpikir, ini bukan masalah kecil kamu harus memikirkannya secara matang karena nantinya akan ada efek samping dan resiko pasca operasi."


"Saya sudah memikirkannya Uncle, saya akan tetap mendonorkan hati saya untuk Alsya."


"Jangan sampai kamu menyesal Gibran, karena ini merupakan keputusan yang sangat penting," sambung Dr.Billy.


"Tidak Uncle, saya sudah yakin dan tidak akan mundur lagi."


Dr.Zidan dan Dr.Billy pun saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya mereka pun hanya bisa menyetujui keputusan Gibran.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2