CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Malu Tingkat Dewa


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Bee mulai menggeliat dan bangkit dari tidurnya dengan memegang kepalanya yang masih terasa pusing.


"Sial, kenapa kepalaku masih pusing sih?" gumamnya.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Bee membelalakkan matanya, dia ingat apa yang semalam sudah terjadi. Mulai dia minum dan Simon hendak membawanya tapi Alta datang dan menghajar Simon, dan yang terakhir Bee ingat saat Alta mengangkat tubuhnya dan menidurkannya, tiba-tiba saja Bee melakukan hal yang sangat memalukan.


"Aaaarrrrrgggghhhh....kenapa aku bisa melakukan semua itu? pasti aku sudah gila ini, Pak Alta pasti marah besar dan aku akan di pecat terus di usir dari sini. Huwaaaa....."


Bee berteriak sembari mengacak-ngacak rambutnya frustasi, dengan langkah gontai Bee pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Dilihatnya jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Bee berniat akan membuatkan sarapan setelah itu dia akan segera pergi ke kampus. Walaupun Bee kuliah pukul sembilan pagi, tapi kali ini Bee tidak sanggup kalau harus berlama-lama berhadapan dengan Alta.


Bee keluar dari kamarnya dengan celingukkan kesana-kemari.


"Syukurlah, sepertinya Pak Alta masih di atas, aku harus segera membuat sarapan sebelum dia turun," gumamnya.


Bee membuat sarapan dengan memakai helm, jaga-jaga bila Alta muncul tiba-tiba. Benar saja, Alta pun menuruni anak tangga sama seperti pemikiran Bee, Alta pagi ini ingin cepat-cepat menuju kantor sebelum dia pergi ke kampus.


Tapi sayang, Bee sudah berkutat di dapaur membuatkan sarapan untuknya. Alta menikkan satu alisnya dan menghampiri Bee, Alta berdiri tepat di belakang Bee.


"Lagi ngapain kamu?"


Bee terlonjak kaget, piring yang dia pegang hampir saja jatuh untung dia memegangnya dengan sangat erat.


"Astaga, lama-lama aku kerja di sini punya penyakit jantung," batin Bee.


"Kamu lagi ngapain?" Alta kembali bertanya.


"A---aku se---dang buat sarapan."


"Ngapain pakai helm di dalam rumah?"


"Ah ini, aku lagi buru-buru jadi kalau sudah buat sarapan aku bisa langsung berangkat," sahut Bee.


"Memangnya kelihatan membuat sarapan dengan kaca helm di tutup seperti ini?"


Alta hendak membuka kaca helm Bee, tapi Bee dengan cepat menahannya.


"Pak, sarapannya sudah aku buatkan kalau begitu aku berangkat ke kampus dulu."


Bee segera berlari meninggalkan Alta...

__ADS_1


"Gadis yang aneh."


Dag..dig..dug..


Alta memegang dadanya...


"Sial, kenapa jantungku jadi seperti ini kalau berhadapan dengan Bee," gumam Alta.


Bee langsung melajukan motornya, Bee beberapa kali menghembuskan napasnya.


"Aaarrrggghhh...kenapa semuanya jadi seperti ini? kenapa aku harus cium Pak Alta? ini semua gara-gara si Simon, dia sudah menipuku ternyata mana dia belum sempat bayar lagi, aku rugi banget kali ini," gerutu Bee.


Sesampainya di kampus, Bee langsung menuju kantin karena Bee belum sarapan di tambah saat ini dia sedang emosi jadi laparnya bertambah berkali-kali lipat.


***


Sementara itu di kediamanan keluarga Megantara...


"Seno, kamu itu sudah pantas menikah tapi kenapa sampai saat ini kamu belum pernah memperkenalkan seorang wanita kepada kami," seru Papi Seno.


"Pi, Seno itu masih muda belum juga nginjak tiga puluh tahun santai sajalah ngapain sih buru-buru."


"Iya, kamu memang belum tiga puluh tahun tapi memangnya usia kami akan sampai ke sana? bagaimana kalau kami meninggal di saat kamu belum mendapatkan pendamping," seru Mami Seno.


"Astagfirullah Mami, jangan bicara seperti itu ucapan itu do'a Seno ga mau kalian meninggal dulu sebelum Seno menikah."


"Maka dari itu cepat cari calon istri, kalau tidak Papi akan jodohkan kamu dengan sahabat Papi."


"Lagi-lagi di jodohkan," keluh Seno.


"Apa Dokter? enggak-enggak, Seno ga mau di jodohkan sama Dokter bicara mengenai seorang Dokter, Seno jadi ingat sama Dokter sombong dan judes itu," ketus Seno.


"Tapi puteri sahabat Papi itu sopan dan ramah, kamu pasti bakalan suka."


"Enggak Pi, Seno ga mau," tolak Seno.


"Ya sudah begini saja kalau bulan depan di acara ulang tahun Mami kamu tidak membawa calon menantu buat kami, kami akan jodohkan kamu dengan wanita pilihan kami dan kami tidak akan menerima penolakan," tegas Mami Seno.


"Mi, ngancamnya ga lucu deh. Mami boleh minta apa saja tapi jangan calon menantu, susah carinya," rengek Seno.


"Bodo amat, pokoknya Mami kasih waktu satu bulan dan di hari ulang tahun Mami kamu harus bawa wanita itu kalau tidak, Mami dan Papi akan jodohkan kamu dengan puteri sahabat Papimu. Dan satu lagi, tidak ada kata wanita bayaran awas saja kalau itu sampai terjadi," ancam Mami Seno.


Seno mendengus kesal, dia sangat tahu dengan kepribadian orang tuanya kalau mereka sudah menginginkan sesuatu, sesuatu itu harus terlaksana kalau tidak Seno harus benar-benar menerima perjodohan itu.


Seno mengirimkan pesan kepada ketiga sahabatnya kalau nanti sore mereka harus bertemu di SAGR RESTO, yang merupakan restoran milik keempat serangkai itu.


Di sisi lain, saat ini Erika sudah sampai di POLRES untuk mengambil mobilnya yang kemarin di tahan oleh Rayyan.


"Astaga, lama banget sih?" gumam Erika.


Erika memang sudah menunggu setengah jam yang lalu, dia rela bangun pagi-pagi sekali hanya untuk mengambil mobilnya tapi Rayyan belum juga datang.


Hingga tidak lama kemudian, sebuah mobil memasuki halaman POLRES. Rayyan keluar dari dalam mobilnya dengan kaca mata hitam yang menempel sempurna di wajah tampannya membuat Erika seketika melongo melihat Rayyan.


Rayyan menghampiri Erika yang saat ini memakai rok mini dan atasan kaos ketat sehingga memperlihatkan tubuh **** dan putih mulusnya itu.


"Woi..." Rayyan menjentikkan jarinya di hadapan wajah Erika sehingga membuat Erika tersadar.

__ADS_1


"Astaga, Bapak ini kemana saja sih jam segini baru datang? aku sudah menunggu Bapak setengah jam yang lalu, bela-belain bangun pagi, ga sarapan dulu, demi datang ke sini untuk mengambil mobil, jadi sekarang man kunci mobilku?" cerocos Erika.


"Mulut kamu itu kaya emak-emak yang ketinggalan tukang sayur, nyerocos ga ada titik komanya," seru Rayyan dengan melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


Erika langsung mengekor kepada Rayyan, dan duduk di kursi sembari menyilangkan kakinya dan memperlihatkan paha putih dan mulusnya.


Rayyan menelan salivanya dengan susah payah, bagaimana pun Rayyan pria normal yang kalau di suguhi pemandangan seperti itu akan langsung on.


"Sial, pagi-pagi sudah bikin panas dingin saja," batin Rayyan.


"Ini surat-suratnya, sekarang kembalikan kunci mobil aku," kerus Erika.


Rayyan langsung menyerahkan kunci mobilnya, dia sudah tidak tahan kalau Erika lama-lama berada di ruangannya.


"Ini kunci mobilnya."


"Terima kasih."


Erika bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan Rayyan.


"Tunggu..."


"Ada apa lagi, Pak?"


"Tolong ubah gaya penampilan kamu, ini Bukan Amerika tapi Indonesia. Kalau penampilan kamu seperti itu, akan mengundang kejahatan," seru Rayyan tanpa melihat ke arah Erika.


Erika mengerutkan keningnya...


"Kalau nanti ada yang jahat sama aku kan ada Bapak yang akan menolongku," seru Erika.


Rayyan mendongakkan kepalanya menoleh ke arah Erika, dan Erika langsung mengedipkan sebelah matanya ke arah Rayyan setelah itu Erika pun keluar dari ruangan Rayyan.


"Astaga, godaan apa lagi ini," gumam Rayyan dengan mengusap wajahnya kasar.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2