
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Bee sangat kesal dengan Alta, dia selalu saja berkata yang menyakiti hatinya.
"Sebenarnya dia itu orangnya seperti apa sih? kadang manis, kadang menyebalkan, kadang perhatian, kadang bikin baper, tapi kebanyakan menyebalkan," batin Bee.
Bee saat ini menuju makam kedua orang tuanya, setelah sebelumnya membeli bunga terlebih dahulu. Bee mencabuti rumput yang sudah mulai tumbuh dimakam kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, maaf Bee jarang kesini, akhir-akhir ini Bee sangat sibuk mengumpulkan uang supaya bisa menebus rumah peninggalan kalian yang sudah Rega jual. Maafkan Bee karena Bee tidak bisa menjaga Rega, Bee tidak tahu bagaimana keadaan Rega sekarang bahkan dia berada dimana pun Bee tidak tahu," gumam Bee.
Bee menundukkan kepalanya, pundaknya bergetar hebat. Sungguh Bee sangat lelah dengan semua ini, Bee harus berjuang demi hidupnya.
Hanya makam kedua orang tuanya yang selalu membuatnya nyaman, Bee banyak bercerita berbagai hal dan itu membuatnya sedikit lega.
***
Alta tampak mondar-mandir di depan televisu, sudah pukul 17.00 sore tapi Bee belum juga pulang mana cuaca sudah mendung dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
"Ya ampun, dia kemana sih? kenapa dia suka sekali membuat orang khawatir," gumam Alta.
Alta terus saja menghubungi Bee tapi Bee tidak mengangkatnya malah sekarang Bee mematikan ponselnya dan itu membuat Alta semakin khawatir.
Sementara itu, Bee yang terlalu larut dalam kesedihannya tidak sadar kalau hujan sudah mulai turun.
"Ya ampun hujan."
Bee mulai berlari dan berteduh disebuah saung yang tidak jauh dari makam, saung itu merupakan tempat orang berjualan bunga dan karena sekarang sudah sore, penjualnya sudah pulang.
Petir menyambar saling bersahutan membuat Bee berjongkok dan menutup telinganya. Bee sangat takut mendengar petir, badan Bee sudah basah kuyup, airmatanya tidak henti-hentinya mengalir.
"Ma, Pa, Bee takut," gumamnya.
Alta yang merasa sangat khawatir akhirnya memutuskan untuk mencari Bee. Alta sudah menghubungi adiknya Alsya tapi Alsya tidak sedang bersama Bee saat ini.
"Astaga, kamu kemana sih?"
Saat ini Alta benar-benar sangat khawatir, Alta tahu kalau Bee tidak punya tujuan tapi Alta juga bingung harus mencari Bee kemana.
Hujan semakin deras dengan diselingi petir, bahkan sekarang hari sudah mulai gelap, Alta semakin dibuat khawatir.
"Ah, sial kemana lagi aku harus mencari Bee?" Alta tampak frustasi, hingga tanpa sadar mobil Alta sudah berada di daerah pemakaman umum.
"Loh, kok aku bisa sampai kesini sih?" gumam Alta.
Alta memang tidak sadar melajukan mobilnya memasuki daerah pemakaman, entah karena kebetulan atau karena panggilan hati karena Bee sedang membutuhkan bantuan.
Alta kembali melajukan mobilnya, tapi lampu depan mobil Alta melihat seseorang yang sedang berjongkok dengan menutup kedua telinganya bahkan bajunya sudah basah kuyup.
Alta mulai menajamkan pandangannya, hingga akhirnya Alta mengenali baju yang dia pakai.
"Bee...."
Alta segera menghentikan mobilnya dan Alta mengambil payung di jok belakang dan segera turun dari dalam mobil. Alta menghampiri Bee, Bee masih belum sadar karena Bee menangis dengan memejamkan matanya.
"Bee..." panggil Alta.
__ADS_1
Bee mendengar suara yang dia kenal, perlahan Bee membuka matanya dan mendongakkan kepalanya. Di hadapannya sudah ada Alta berdiri dengan membawa payung.
"Pak Alta...."
Tanpa berpikir lagi, Bee bangkit dan langsung memeluk Alta membuat Alta tampak terkejut.
"Pak, aku takut Pak."
Suara Bee terdengar bergetar, awalnya Alta hanya diam mematung tapi perlahan Alta pun membalas pelukkan Bee.
"Jangan takut, ada aku disini."
Bee semakin mengeratkan pelukkannya, cukup lama Bee dan Alta saling berpelukkan hingga akhirnya Bee sadar dan melepaskan pelukkannya.
"Maaf Pak."
Alta melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepada Bee membuat Bee sedikit terkejut.
"Ayo pulang, kamu sudah basah kuyup kaya gitu nanti kamu sakit lagi mana kamu itu baru sembuh."
Bee pun akhirnya mengikuti Alta dan masuk ke dalam mobil, selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan keduanya tampak diam dengan pikiran masing-masing.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Alta pun sampai di rumahnya. Bee segera keluar dan masuk ke dalam rumah, tapi disaat Bee hendak ingin masuk ke dalam kamarnya Alta menghentikan langkah Bee.
"Lain kali jangan buat aku khawatir dan jangan sekali-kali mematikan ponselmu," seru Alta.
Setelah mengucapkan itu, Alta pun naik ke atas menuju kamarnya. Sedangkan Bee masih terdiam di tempatnya mencerna kata-kata Alta.
***
Disisi lain...
Zia baru saja keluar dari rumah sakit, kebetulan hujan sudah mulai sedikit reda. Zia mulai melajukan mobilnya tapi di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba mobilnya mati tidak bisa bija jalan.
Zia mulai merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
"Astaga, kenapa disaat seperti ini ponselku malah mati. Bagaimana ini?"
Zia melihat dari kaca spion, kalau dari kejauhan ada mobil yang akan lewat. Zia pun turun dari mobil berniat menghentikan mobil itu dan mudah-mudahan bisa menolongnya.
Zia berdiri di tengah jalan dengan melambai-lambaikan tangannya dan benar saja mobil itu berhenti. Tapi sayangnya, ternyata Zia menghentikan mobil yang salah. Orang-orang yang berada dalam mobil itu tampak menatap Zia dengan tatapan ingin memangsa.
Zia merasa takut dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya. Tapi belum juga Zia masuk ke dalam mobil, salah satu dari orang itu berhasil menahannya.
"Mau kemana cantik, bukannya tadi kamu menghentikan mobil kami? ayo ikut dengan kami."
"Tidak, lepaskan aku!" teriak Zia.
"Wah cantik sekali, ayo ikut dengan kami dijamin kami akan menyenangkanmu."
"Tidak, lepaskan aku. Tolong! tolong!"
Zia terus saja berontak bahkan saat ini airmatanya sudah meluncur bebas di pipinya yang putih mulus.
Ketiga pria itu terus saja memaksa Zia untuk ikut bersamanya, hingga akhirnya sebuah mobil datang dan menghentikan lajunya.
"Ada apa, Reza?"
"Tuan, sepertinya wanita itu mau diculik."
Seno menajamkan pandangannya, hingga akhirnya matanya terbelalak.
"Itukan si Dokter sombong."
__ADS_1
"Tolong! tolong!"
Seno segera keluar dari dalam mobilnya...
"Lepaskan wanita itu!"
"Jangan ikut campur urusan kami kalau kamu ingin selamat."
Seno dan Reza langsung menghajar ketiga pria itu, seketika terjadi perkelahian. Zia hanya bisa terdiam dengan deraian airmata, bahkan tubuhnya begitu bergetar saking ketakutannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, ketiga pria itu langsung kabur dan masuk ke dalam mobil mereka lalu meninggalkan tempat itu.
"Kamu tidak ap----"
Ucapan Seno terhenti karena Zia tiba-tiba berlari dan langsung memeluk Seno. Seno hanya bisa terdiam membeku tidak tahu harus melakukan apa, apalagi saat ini jantungnya sangat tidak bisa dikontrol.
"Ehmm...."
Zia tersentak mendengar deheman Seno, Zia langsung melepaskan pelukkannya.
"Ma---maaf," lirih Zia dengan sesegukkan.
Seno sangat tidak tega melihat keadaan Zia yang sepertinya merasa ketakuta.
"Sedang apa kamu malam-malam, di tempat sepi seperti ini?" tanya Seno.
"Mobil aku mogok."
"Ya sudah, ayo masuk biar aku antarkan kamu pulang."
Tanpa menunggu lagi, Zia langsung masuk ke dalam mobil Seno. Keduanya tampak canggung, tidak ada yang memulai pembicaraan.
Hingga akhirnya mobil Seno pun sampai di depan rumah yang tampak megah itu.
"Terima kasih sudah menolongku."
"Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu."
Zia pun menganggukkan kepalanya dan mobil Seno pun perlahan meninggalkan rumah Zia.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1