
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Keesokan harinya....
Bee bangun dengan tubuh yang seakan remuk, bagaimana tidak, tubuh remuk bukan karena kelamaan anu-anu tapi kebanyakan gaya yang akhirnya Alta kecapean mana sebelumnya dia sudah olahraga dulu yang katanya pemanasan supaya tidak kram otot.
Sungguh pasangan unik, Bee turun dari tempat tidur dengan tertatih-tatih tanpa memakai sehelai benang pun membuat Alta yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melotot.
"Allohuakbar Bee, kok kamu ga pakai apa-apa sih bagaimana kalau ada yang masuk!" sentak Alta.
"Yang masuk siapa? ga bakalan ada yang berani masuk."
"Maksudnya punyaku yang masuk," seru Alta cengengesan.
"Apaan, minggir aku mau mandi."
"Mandi bareng sepertinya asyik, Bee."
Bee menoleh ke arah Alta dengan tatapan tajamnya membuat Alta meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sudah dipastikan Bee bakalan memarahinya.
"Mau mandi bareng?"
Alta menganggukkan kepalanya...
"Bukannya itu sudah mandi?"
"Kayanya gerah lagi, lihat kamu Bee."
"Ckckck...oke, ayolah kalau mau mandi bareng."
"Hah...seriusan Bee?"
"Iya."
"Asyiiiikkkk...."
"Tapi ingat, jangan bahas buku lagi."
"Oke sayang."
Alta pun mengikuti Bee masuk ke dalam kamar mandi, seketika suasana di dalam kamar mandi berubah menjadi bising entah apa yang mereka lakukan yang jelas terdengar berisik.
Butuh waktu lama untuk menyelesaikan acara mandi bersama itu, hingga akhirnya mereka berdua pun keluar dengan wajah yang tampak berseri-seri.
Mereka berdua pun selesai memakai pakaian masing-masing.
"Bee, kamu mau sarapan ke bawah atau disini saja? biar aku yang bawakan sarapan kamu kesini."
"Sarapan di bawahlah, ngapain sarapan di kamar."
"Bukannya gitu, takutnya kamu malu lagipula biasanya kalau pengantin baru itu pengennya di kamar terus malu kalau bertemu dengan orang-orang karena takut di godain."
"Pengantin baru di godain itu sudah biasa, lagipula aku ga mau kaya di novel habis malam pertama dimanjain jangan sampai turun dari ranjang bahkan sarapan pun dibawakan ke kamar, kalau menurut aku itu lebay."
__ADS_1
"Istri aku memang beda daripada yang lain."
"Iyalah harus beda dong jangan disama-samain, sudah ah ayo kita ke bawah aku sudah lapar."
"Oke sayang."
Alta pun menggandeng tangan Bee menuju meja makan, semuanya sudah sarapan karena ini waktu sudah melebihi jam sarapan.
"Ya ampun pengantin baru baru turun," goda Mommy Tasya.
"Maaf Mommy, kami bangun kesiangan bahkan Bee ga bantuin buat sarapan."
"Tidak apa-apa sayang, Mommy ngerti kok sama pengantin baru soalnya Mommy juga pernah mengalaminya."
"Daddy mana, Mom?" tanya Alta.
"Daddy kamu sudah berangkat ke kantor."
"Kalau Nasya kemana?" tanya Bee.
"Nasya ada di kamar Alsya, ya sudah kalian sarapan dulu ya, soalnya sekarang Mommy mau pergi dulu ada arisan."
"Iya Mom, hati-hati."
Seperti biasa, Alta hanya makan roti tiga lembar untuk sarapannya berbeda dengan Bee yang lahapnya makan nasi goreng.
"Pelan-pelan makannya Bee, kaya yang kelaparan saja."
"Memang aku lapar Oppa, aku itu harus banyak makan karena aku tahu Oppa pasti bakalan minta anu-anu terus sama aku," seru Bee dengan konyolnya.
"Astaga Bee, bisa ga ngomongnya sedikit di filter malu tahu kedengaran para ART walaupun memang kenyataannya ucapan kamu benar," sahut Alta.
Alta hanya bisa menepuk jidatnya mendengar ucapan istrinya yang memang tidak ada malu-malunya sama sekali.
Berbeda dengan Alta dan Bee, Nasya tampak terlihat canggung saat Alsya memanggilnya.
"Ada apa Sya? apa kamu butuh sesuatu?" tanya Nasya.
"Nas, sini duduk."
Nasya pun duduk dihadapan Alsya, dilihatnya wajah alsya yang semakin memucat.
"Nas, nanti malam Kak Gibran ngajak kamu ketemuan ya?"
Nasya tersentak. "Da--dari mana kamu tahu, Sya?" sahut Nasya gugup.
"Kak Gibran mengirimkanku pesan katanya dia akan jemput aku malam ini, dia ga tahu kalau kamu itu aku makanya dia mengirim pesan kepadaku."
"Maaf Sya, aku tidak bilang sama kamu tapi aku mau menolaknya kok."
Alsya menggenggam tangan Nasya. "Jangan ditolak, aku tidak apa-apa kok justru aku senang akhirnya Kak Gibran mau melihatku walaupun lewat dirimu."
"Sya, kamu harus semangat kamu pasti sembuh dan bakalan ada yang akan mendonorkan hatinya untukmu, bahkan kalau boleh aku pun ingin mendonorkan hatiku untukmu."
Alsya hanya tersenyum. "Nas, aku mau istirahat."
"Ya sudah, kalau begitu aku keluar dulu."
Nasya pun akhirnya keluar dari kamar Alsya, seketika airmata Alsya mengalir dengan derasnya.
Sementara itu di tempat yang lain, Gibran tampak melamun di depan jendela kantornya. Entah kenapa akhir-akhir ini Gibran ingat terus kepada Alsya padahal dia tahu kalau Alsya baik-baik saja.
__ADS_1
"Sya, maafkan aku karena selama ini aku sudah tidak memperdulikanmu. Aku memang belum tahu bagaimana perasaanku terhadapmu tapi yang jelas, akhir-akhir ini aku merasa sangat merindukanmu. Rindu akan kebar-baranmu, rindu Alsya yang ceria, rindu Alsya yang centil, dan rindu Alsya yang selalu agresif ingin selalu nempel kepadaku, aku rindu sama semua yang ada pada dirimu, Sya," gumam Gibran.
***
Malam pun tiba...
Saat ini Nasya sudah dandan sangat cantik, awalnya Nasya ingin membatalkan pertemuannya dengan Gibran tapi Alsya terus saja memaksa dan memohon untuk tidak membatalkannya.
Hingga akhirnya dengan terpaksa, Nasya mengikuti semua kemauannya Alsya. Saat ini Gibran sudah menunggu di depan rumah dan kebetulan Alta sedang ada di teras.
"Wuidih, mau kemana kamu sudah rapi kaya gitu?" goda Alta.
"Aku mau pinjam Alsya ya sebentar."
"Mau kemana? jangan macam-macam kamu sama adikku."
"Yaelah Al, kalau aku macam-macam sama adikmu, kamu cari saja aku ke rumahku lagipula kalau sampai terjadi yang enggak-enggak, aku akan tanggung jawab kok."
"Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu, aku akan cari kamu sampai ke lubang semut pun."
"Siap calon Kakak Ipar."
"Apa kamu bilang?"
Gibran sudah mau membalas ucapan Alta tapi Nasya keburu datang.
"Kak, aku pergi dulu ya."
"Iya, hati-hati dan pulangnya jangan larut malam."
"Siap Al, kamu tenang saja."
Gibran pun membukakan pintu mobil untuk Nasya, kemudian dirinya berputar dan masuk di depan kemudi. Mobil Gibran pun mulai meninggalkan rumah kediaman Bakrie.
Alta hendak masuk ke dalam rumah, tapi disaat Alta mendongakkan kepalanya dia tidak sengaja melihat Alsya yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Seketika hati seorang Kakak merasa sangat sakit melihat adiknya seperti itu.
Alta segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Alsya dia menatap kepergian Nasya dengan pria yang sangat dia cintai sejak dulu. Sungguh sakit rasanya tapi pada akhirnya, Alsya memang harus merelakan Gibran untuk wanita lain.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1