
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Bee tampak kekenyangan membuat dirinya menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Mau tambah lagi?" sindir Alta.
"Sudah cukup Pak, perut aku sudah ga kuat menampungnya," sahut Bee.
Alta melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ketiga sahabatnya sudah pulang duluan karena punya keperluan lain, sedangkan Alta terpaksa harus menunggu Bee menghabiskan makanannya.
"Hai rakus, ayo kita pulang," seru Alta.
"Bentar lagi Pak, perutku masih kekenyangan."
"Ya sudah, nanti kamu pulang naik taksi soalnya aku mau pulang sekarang."
Alta pun bangkit dari duduknya, tapi dengan cepat Bee pun ikut bangkit.
"Jangan tinggalin aku Pak, kan sayang uangnya kalau di pakai ongkos taksi mendingan ikut Bapak gratisan," sahut Bee cengengesan.
"Jangan cengengesan ga lucu."
"Ckckck...dasar kanebo kering, sepertinya urat ketawanya sudah putus tuh orang, maka dari itu kusut mulu wajahnya kaya cucian belum di setrika," batin Bee.
Bee mengikuti langkah Alta dengan langkah yang terseok-seok, perut Bee masih sangat kenyang dan di paksa harus berjalan. Bee pun mulai memasuki mobil Alta, dan Alta dengan cepat menancab gasnya.
"Lamban banget kaya keong."
"Perut aku sakit Pak, Bapak memaksa aku harus jalan sudah tahu aku masih kekenyangan harusnya aku itu diam dulu, biar makanannya turun ke perut."
"Kamu itu rakus banget jadi cewek, apa pun yang berlebihan itu tidak baik. Apalagi soal makanan, ga bisa lihat makanan enak main embat saja."
"Eh Bapak, kita itu harus pintar memanfaatkan siatuasi. Kapan lagi aku bisa makan enak di restoran mewah pula, seumur-umur nginjak restoran mewah kaya gitu aku belum pernah."
Alta hanya mendelikkan matanya ke arah Bee dan setelah itu dia fokus kembali mengemudikan mobilnya. Bee sudah mulai menguap, kebiasaan Bee kalau perut penuh pasti langsung ngantuk.
Benar saja, tidak membutuhkan waktu lama Bee pun langsung tertidur. Alta masih belum menyadari kalau Bee sudah tertidur, dia tetap saja fokus pada jalanan. Hingga akhirnya lampu merah dan Alta pun menghentikan mobilnya.
Alta melirik ke samping karena tidak ada pergerakkan dari Bee.
"Astaga ternyata sudah tidur nih cewek, pantesan saja ga ngoceh," gumam Alta.
Alta memperhatikan wajah Bee, dan tatapannya kembali tertuju pada bibir Bee yang terlihat pink itu.
Deg...
Deg...
Deg...
"Kenapa dengan jantungku ini?" batin Alta.
Alta menepuk-nepuk dadanya...
"Wah, jantungku sudah mulai bermasalah."
Lampu pun berubah menjadi hijau, dan Alta langsung menginjak gasnya melaju menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Alta pun segera keluar dari mobilnya dan langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Bee yang masih tertidur di dalam mobilnya.
Waktu pun berjalan dengan cepat, Bee mulai merentangkan kedua tangannya dan kakinya terasa pegal. Bee membuka matanya dan ternyata dia masih di dalam mobil, Bee melihat ke arah jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Ya ampun, sudah pukul sembilan. Orang itu sungguh keterlaluan, kenapa dia tidak membangunkanku," geram Bee.
Bee pun keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam kamarnya, setelah sebelumnya dia mengunci pintu rumah dan mematikan semua lampu.
***
Sementara itu Zia baru saja keluar dari rumaj sakit, hari ini pekerjaannya sangat banyak sehingga pukul sembilan malam baru saja selesai.
Zia mulai melajukan mobilnya tapi di pertengahan jalan, Zia merasakan haus. Zia celingukkan ke kiri dan ke kanan mencari mini market yang masih buka. Ternyata dari kejauhan sudah terlihat ada mini market yang masih buka, Zia pun segera membelokkan mobilnya.
__ADS_1
Zia masuk ke dalam mini market itu dan langsung menuju tempat minuman, tapi di saat Zia ingin mengambil minuman dingin, bersamaan dengan seseorang sehingga tangan mereka pun bersentuhan.
"KAMU...." seru Zia dan Seno bersamaan.
"Ngapain sih pegang-pegang," seru Zia.
"Idih, siapa juga yang pegang-pegang percaya diri sekali anda Ibu Dokter yang sombong."
"Apa? kamu bilang aku sombong?"
"Memang kenyataannya seperti itu sudah sombong, judes lagi hati-hati loh nanti bakalan jadi perawan tua," ledek Seno.
Zia merasa kesal, dengan geramnya Zia menginjak kaki Seno dengan kerasnya membuat Seno tanpa sadar berteriak.
"Aww....kamu sudah gila ya!" bentak Seno.
"Kamu yang gila, ngatain orang sembarangan dasar keledai."
"Apa kamu bilang? kamu ngatain aku keledai?"
"Memangnya kenapa? memang otak kamu kaya keledai."
Zia mengambil minumannya dan langsung pergi menuju kasir meninggalkan Seno.
"Hai, awas kamu ya."
Seno pun segera mengambil minuman kaleng dan dengan cepat menuju kasir, setelah membayarnya Seno segera menyusul Zia dan mencengkram lengan Zia.
"Apaan sih, lepaskan."
"Kalau kaki aku sampai kenapa-napa, kamu harus tanggung jawab dan kalau kakiku sampai luka atau pun mengakibatkan kelumpuhan, awas saja kamu, aku akan mencarimu kemana pun kamu berada."
"Aku ga salah kan bilang kamu kaya keledai? karena otak kamu memang kosong ga ada isinya, mana ada kaki di injak mengakibatkan kelumpuhan ada-ada saja."
"Pokoknya aku ga mau tahu, kalau sampai terjadi apa-apa sama kakiku, akan aku tuntut kamu."
Zia menghempaskan tangan Seno dan segera masuk ke dalam mobilnya. Zia langsung melajukan monilnya dengan kecepatan sedang.
"Dasar cowok nyebelin, setiap aku ketemu sama tuh cowok pasti selalu membuat kesal. Jangan sampai aku bertemu lagi dengan cowok itu, cukup ini yang terakhir," gumam Zia.
Sementara itu, Seno pun sudah kembali melajukan mobilnya.
"Wanita itu benar-benar ya, selalu saja membuatku emosi. Untung Dokter yang mau Papi jodohkan denganku bukan dia, kalau dia bisa hancur dunia indah Seno," gumam Seno.
***
"Pagi Mommy, pagi Daddy," sapa Zia.
"Pagi juga sayang."
Zia pun duduk di samping Mommy Kinan, dan mulai mengambil selembar roti dan dia olesi dengan selai coklat kesukaannya.
"Oma, Opa, Tante, selamat pagi!" teriak Rayyan.
"Astaga Rayyan, kebiasaan deh kalau sudah teriak-teriak. Ini itu rumah bukan hutan," ketus Zia.
"Yaelah pagi-pagi sudah galak aja, jangan galak-galak nanti cepat tua loh," goda Rayyan.
Pletaaakk...
Zia memukul kepala Rayyan dengan sendok...
"Wadaw...Oma, Opa, lihat deh kelakuan puteri kalian yang kasar ini. Harusnya Oma sama Opa segera menikahkan Tante, biar dia ga ngenes mulu jadi orang," seru Zia.
"Apa kamu bilang?"
Zia sudah kembali melayangkan sendoknya tapi Mommy Kinan menghentikannya.
"Zia, Rayyan, sudah-sudah kenapa sih setiap kalian bertemu selalu saja tidak akur? Mommy pusing tahu lihatnya juga."
"Habisnya dia duluan Mommy."
"Sayang, nanti malam kamu ada acara ga?" tanya Daddy Zidan.
"Enggak ada deh, Dad. Memangnya kenapa?" tanya Zia.
"Daddy mau ngajak kamu bertemu dengan sahabat Daddy."
"Mau ngapain sih, Dad? males ah," sahut Zia.
__ADS_1
"Bau-baunya kayanya mau di jodohkan ini, iya kan Opa?" ledek Rayyan.
Pletaaakkk...
Lagi-lagi Zia memukul kepala Rayyan dengan sendok...
"Tante, kenapa sih hobi banget mukul kepalaku? aku ini Polisi semua orang hormat padaku, hanya di depan Tante saja aku sebagai Polisi ga ada harga dirinya," ketus Rayyan.
"Heleh."
Zia hanya menatap malas ke arah Rayyan, Rayyan memang Polisi yang dingin, mahal senyum, dan juga sedikit kejam tapi kalau di depan semua keluarganya Rayyan langsung berubah menjadi pribadi yang manja dan suka bercanda.
"Pokoknya nanti malam, kamu harus ikut. Daddy mau kenalkan kamu dengan putera sahabat Daddy."
"Apaan sih Daddy ini."
"Nah kan benar, Tante mau di jodohin. Bagus Opa, Rayyan dukung Opa seribu persen."
Zia sudah melayangkan kembali sendok tapi Rayyan segera kabur dan berlari.
"Opa, Oma, Rayyan berangkat dulu!" teriak Rayyan.
"Dasar keponakan kurang ajar."
"Sayang, apa salahnya kalau kamu mencoba berkenalan dulu dengan putera sahabat Daddy, dia seorang pengusaha loh tampan lagi," seru Mommy Kinan.
"Tapi Zia sudah punya kekasih Mommy."
"Hah...iyakah?"
"I--iya Mommy."
"Ya sudah, kalau begitu nanti malam ajak kekasih kamu itu sekalian kenalan dengan Daddy," seru Daddy Zidan yang langsung bangkit dari duduknya.
"Apa?"
Mommy Kinan tersenyum dan meninggalkan Zia seorang diri di meja makan.
"Waduh, bagaimana ini? tadi kan aku cuma asal ngomong saja supaya Daddy membatalkan pertemuannya. Kalau begini apa yang harus aku lakukan?" batin Zia panik.
***
Sementara itu di kediaman Megantara...
"Seno, nanti malam kamu harus kosongkan jadwal karena Papi akan mengajak kamu bertemu dengan sahabat Papi."
"Pi, kerjaan Seno banyak, Seno ga bisa."
"Jangan membantah, Papi ingin kenalkan kamu dengan puteri sahabat Papi."
"Oh iya Mi, Pi, Seno sudah punya kekasih loh jadi kalian tidak perlu susah-susah menjodohkan Seno karena Seno sangat mencintai dia," sahut Seno dengan senyumannya.
"Benarkah? ya sudah, nanti malam kamu ajak saja kekasihmu itu sekalian Papi mau kenalkan dia kepada sahabat Papi."
"Siap Pi, Seno bakalan bawa kekasih Seno," sahut Seno dengan bangganya.
"Awas saja kalau kamu berani bawa wanita sewaan," sindir Mami Seno.
"Tidak Mi, tenang saja."
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU