
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Bee saat ini sedang memakai helmnya karena bersiap-siap akan pulang, sedangkan Alsya dan Erika sudah pulang duluan. Alta pun ternyata belum pulang dan saat ini menuju mobilnya, motor Bee memang terparkir di samping mobil Alta.
"Kenapa kamu baru pulang? bukannya mata kuliah aku sudah berakhir dua jam yang lalu?" tanya Alta dengan dinginnya.
"Tadi aku di suruh Pak Wahyudi membantu beliau memeriksa hasil pekerjaan teman-teman yang lain."
Alta pun tidak menyahut lagi, dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya tapi belum juga Alta menutup pintu mobilnya, seseorang dengan pakaian jas rapi menghampiri Bee.
"Reza, ngapain kamu disini?" tanya Alta yang kembali keluar dari dalam mobilnya.
"Maaf Tuan Alta, saya di perintahkan oleh Tuan Seno untuk menjemput Nona Bee."
"Untuk apa?" tanya Alta dengan mengerutkan keningnya.
"Saya kurang tahu Tuan, tapi yang jelas saya di perintahkan untuk membawa Nona Bee ke salon dan pergi ke butik untuk mencoba gaun yang akan Nona Bee pakai nanti malam."
"Hah...memangnya Tuan Seno mau ngajak aku kemana?" tanya Bee.
"Nanti malam ada pertemuan keluarga, jadi saya di perintahkan untuk merubah penampilan Nona Bee," sahut Reza.
"Oh...tapi bagaimana dengan motornya," seru Bee.
Bee tampak berpikir sejenak hingga akhirnya senyumannya pun terbit dengan menoleh ke arah Alta.
"Kenapa senyum-senyum? kamu sudah gila ya," seru Alta dengan dinginnya.
"Pak Alta yang tampan, titip motorku ya," seru Bee dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Noo..."
Alta hendak masuk ke dalam mobilnya tapi dengan cepat Bee menyerahkan kunci motornya ke tangan Alta dan Bee segera masuk ke dalam mobil Reza.
"Tuan Reza, ayo kita jalan!" teriak Bee.
"Baik Nona."
Reza pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan Alta yang tampak melongo.
"Kurang ajar, berani-beraninya dia menyuruh majikan," kesal Alta.
Reza yang merupakan asisten Seno membawa Bee ke salon paling mahal membuat Bee melongo.
"Silakan masuk Nona."
Bee pun masuk ke dalam salon mewah itu..
"Mbak, tolong berikan perawatan paling lengkap untuk Nona ini," seru Reza.
"Baik Tuan. Mari Nona ikut saya."
Bee mulai dengan ritual perawatannya sedangkan Reza, saking lamanya menunggu ia sampai tertidur di kursi tunggu.
Dua jam sudah Bee melakukan perawatan, sekarang wajah Bee tampak kinclong dan lebih segar lagi.
"Tuan, Tuan Reza bangun," seru Bee dengan menggoyangkan lengan Reza.
"Ah..sudah selesai ternyata."
"Maaf Tuan lama, soalnya Mbaknya memberikanku perawatan yang lengkap dan semuanya harus di coba."
"Tidak apa-apa, memang itu yang sudah di perintahkan oleh Tuan Seno. Ya sudah, sekarang kita ke butik mengambil gaun yang akan Nona pakai untuk nanti malam."
Bee hanya bisa tersenyum dan mengikuti kemana pun Reza membawanya, sementara itu di rumah, Alta tampak uring-uringan ga jelas. Entah kenapa Alta rasanya hari ini ingin marah-marah terus.
"Kemana gadis itu? kenapa jam segini belum pulang juga," gumam Alta.
Alta mencoba menghubungi Bee, tapi sayang Bee mengubah peraturan ponselnya menjadi silent jadi Bee tidak tahu kalau Alta menghubunginya.
"Sial, berani sekali dia tidak menjawab panggilanku. Awas saja kamu Bianca Anggita," kesal Alta.
__ADS_1
Setelah selesai mengambil gaun dari butik langganan Seno, Bee pun di antar pulang ke rumah Alta. Sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 sore.
"Nona, nanti saya jemput Nona pukul 19.00 malam."
"Iya Tuan Reza, terima kasih."
Dengan wajah yang sumringah, Bee pun masuk ke dalam rumah. Bee hendak melangkahkan kakinya menuju kamar tapi mata Bee menangkap seseorang yang tertidur di sofa dengan laptop yang masih menyala.
Bee pun menghampiri Alta dan memperhatikan wajah polos Alta yang sedang tertidur.
"Sebenarnya Bapak itu tampan, apalagi kalau Tuan tersenyum pasti tambah tampan tapi sayang Bapak terlalu kaku dan dingin," batin Bee.
Bee pun merapikan semuanya dan segera pergi ke dapur untuk memasak makan malam, setelah selesai masak Bee langsung menuju kamar mandi, dan di lihatnya Alta masih tertidur.
Tidak lama kemudian, Alta pun menggerakkan badannya.
"Astaga, aku ketiduran. Apa anak itu sudah pulang?" gumam Alta.
Alta pun bangkit dari duduknya, dilihatnya di meja makan sudah tersaji berbagai macam masakan tapi kali ini Bee memasaknya sedikit-sedikit hanya untuk Alta saja karena malam ini dia akan mulai berakting menjadi pacar sewaan Seno.
"Ternyata anak itu sudah pulang."
Alta pun mendudukkan tubuhnya di kursi dan segera melahap makanannya.
Ceklek...
Pintu kamar Bee terbuka, Bee sudah menggunakan gaun merah dengan dandanan seadanya. Alta sampai melongo melihat penampilan Bee, bahkan tanpa sadar Alta sudah menjatuhkan sendok yang dia pegang.
Bee yang melihat Alta menjatuhkan sendoknya, langsung berlari dan mengambilkan sendok yang baru.
"Ini Pak, sendoknya. Kenapa Bapak sampai menjatuhkan sendoknya sih?" seru Bee.
Alta masih belum berkedip melihat penampilan Bee malam ini.
"Sial, si Seno bisa aja belikan baju seperti itu," batin Alta.
Alta pun segera meraih sendok yang baru dan dengan cepat kembali melahap makanannya, ia tidak mau sampai ketahuan Bee kalau ia merasa terpesona.
"Pak, menurut Bapak bagaimana penampilanku malam ini," seru Bee dengan memutar-mutar tubuhnya di hadapan Alta.
"Jelek, mau pakai apa pun kamu tetap saja kelihatan jelek. Aku tidak mengerti dengan Seno, kok bisa pilih baju yang tidak cocok sama kamu seperti itu," sahut Alta dengan tidak melihat ke arah Bee.
"Baju ini mahal tahu, Tuan Reza saja tadi bilang bagus dan cantik kok waktu di butik. Mata Bapak saja yang katarak ga bisa melihat mana yang cantik dan mana yang jelek," ketus Bee.
"Si Reza itu ga tahu masalah fasion, kambing di pakaikan baju aja dia bilang cantik kok."
Bee menenteng heelsnya dan segera melangkahkan kakinya menuju teras, dia lebih baik menunggu Reza di teras daripada di dekat Alta hanya bisa bikin dia kesal saja.
"Sial, Seno awas kamu kenapa kamu bisa buat Bee secantik itu," gumam Alta.
Entah kenapa Alta merasa kesal melihat penampilan Bee malam ini. Tidak lama kemudian, mobil jemputan pun tiba. Alta segera menyusul ke teras untuk melihat kepergian Bee.
"Pulangnya jangan malam-malam, kalau lewat dari jam sembilan rumah ini bakalan aku kunci," seru Alta.
"Ya sudah kunci saja, aku bisa meminta Tuan Seno buat sewakan aku hotel saja," sahut Bee dengan santainya.
"Apa? berani kamu tidak pulang, awas saja aku potong gaji kamu," ancam Alta.
Bee hanya mendelikkan matanya...
"Tuan Reza ayo kita jalan, aku tidak mau Tuan Seno sampai menunggu."
"Baik Nona."
Mobil Reza pun mulai meninggalkan rumah Alta, Alta terlihat uring-uringan entah apa yang membuat Alta seperti itu.
***
Sementara itu di restoran...
Seno dan kedua orang tuanya sedang menunggu kedatangan sahabatnya itu.
"Mana kekasih kamu itu, Seno?" tanya Mami Seno.
"Sebentar lagi sampai Mi, masih di jalan."
Tidak lama kemudian, Daddy Zidan, Mommy Kinan, dan Zia pun datang.
"Nah itu dia sahabat Papi."
__ADS_1
Kedua orang tua dan Seno berdiri untuk menyambut kedatangan mereka. Seno tampak menajamkan matanya, wanita yang berjalan di paling belakang itu sepertinya dia kenal.
Di saat sudah mulai mendekat, Seno pun membelalakkan matanya begitu pun dengan Zia yang sama terkejutnya.
"KAMU LAGI...." seru Seno dan Zia bersamaan.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Daddy Zidan.
"Tidaaakkk...."
Keempat orang tua itu tampak mengerutkan keningnya, mereka pun berpelukan satu sama lain berbeda dengan Seno dan Zia mereka berdua memperlihatkan raut wajah yang sama-sama menakutkan.
"Seno, kenalkan ini puterinya Om Zidan namanya Zia. Cantik kan? dia seorang Dokter loh Seno," seru Papi Seno.
Seno hanya menatap Zia malas begitu pun sebaliknya, tapi demi menghormati kedua belah pihak Seno pun mengulurkan tangannya dan di balas oleh Zia.
Tiba-tiba seorang pria dan wanita datang secara bersamaan membuat Seno dan Zia mengembangkan senyumannya.
"Sayang...." seru Seno dan Zia bersamaan membuat mereka berdua saling tatap satu sama lain.
Zia langsung berlari dan merangkul pria blasteran itu, sedangkan Seno merangkul pinggang Bee membuat Bee merasa terkejut.
"Akting yang bagus ya Bee, jangan sampai kedua orang tuaku curiga," bisik Seno.
"Siap Tuan."
"Kamu harus berakting yang bagus Jeremi, aku sudah bayar kamu mahal," bisik Zia.
"Oke."
Keempat orang itu menghampiri para orang tua dan memperkenalkan pasangan bohong-bohongan mereka satu sama lain.
"Mi, Pi, kenalkan ini Kekasih Seno."
"Malam Tante, Om, nama saya Bianca," seru Bee dengan sopannya membuat Mami Seno mengembangkan senyumannya.
"Daddy, Mommy, kenalkan ini Jeremi kekasih Zia."
"Hallo Om, Tante."
Jeremi dan Bee pun ikut bergabung dengan para orang tua, Bee sungguh berakting bagus. Bersikap anggun dan elegan layaknya puteri dari keluarga kaya bahkan Bee menyuapi Seno dengan mesranya membuat Mami Seno tersenyum.
Mereka berdua tidak terlihat kaku karena Bee bisa membawa Seno dan mengarahkan Seno, secara jam terbang Bee sudah tinggi untuk menghadapi pria kaku dan keluarga orang kaya.
Berbeda dengan Zia dan Jeremy, yang terlihat sekali kalau mereka berdua sedang pura-pura.
"Tadinya saya ingin menjodohkan puteri saya dengan putera kamu Megantara, tapi kalau melihat keduanya sudah punya kekasih ya mau bagaimana lagi," seru Daddy Zidan.
"Iya, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kebahagiaan anak-anak lebih penting," sahut Papi Seno.
Seno dan Zia saling tatap satu sama lain, keduanya melayangkan tatapan tajam. Zia berpura-pura bersikap manja dengan menyandarkan kepalanya ke pundak Jeremi, Seno pun tidak mau kalah dia merangkul pundak Bee dan mengelus kepala Bee.
Di sisi lain, seseorang di sudur ruangan seorang wanita cantik berusaha menajamkan matanya.
"Iya, itu kan Bee kenapa dia kencan dengan pria lain bukannya Bee kekasihnya Pak Alta? sepertinya pria itu sahabatnya Pak Alta, wah parah juga si Bee selingkuh dengan sahabat Pak Alta," gumam Erika.
Ya, Erika malam ini sedang kencan dengan seorang pria dan tidak sengaja bertemu dengan Bee.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU