
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Setelah menjalani pemeriksaan, Gibran pun masuk ke dalam ruangan rawat Alsya. Semuanya tampak terdiam dengan raut wajah yang sedih.
"Nak, kamu tidak perlu mengorbankan diri kamu untuk mendonorkan hati kamu untuk Alsya," seru Daddy Alvian.
"Tidak Om, Gibran sudah memutuskan untuk mendonorkan hati Gibran untuk Alsya."
"Apa alasan kamu mau mendonorkan hati kamu untuk Alsya?" tanya Daddy Alvian.
"Semua karena cinta Om, Gibran mencintai Alsya walaupun sedikit terlambat dan Gibran tidak mau menambah penyesalan Gibran dengan tidak berbuat apa-apa untuk Alsya."
Semua orang tampak tersenyum, Daddy Alvian menepuk pundak Gibran.
"Terima kasih sudah mencintai puteri Om."
Akhirnya, Mommy Tasya, Daddy Alvian, dan Nasya terpaksa harus pulang karena Alta dan Bee yang memaksanya. Sekarang tinggalah Alta, Bee, dan Gibran yang berada di ruangan itu.
Gibran duduk di samping Alsya dengan menggenggam tangan Alsya dan sesekali Gibran terlihat mencium tangan Alsya, sementara itu Alsya masih setia memejamkan matanya.
Gibran mengingat saat-saat bersama Alsya, si lalat pengganggu yang selalu saja merecokinya. Alsya bahkan tidak terlihat seperti orang yang sakit, dia selalu memperlihatkan wajah yang ceria dan penuh semangat.
"Bodoh, dasar lalat pengganggu bodoh kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit? memangnya dengan kamu diam seperti ini, semuanya akan berubah? bagaimana kalau tadi aku tidak ingin ke kamar mandi, mungkin sampai kapan pun aku ga bakalan tahu kalau kamu sakit," gumam Gibran.
"Awas saja, kalau nanti kamu bangun aku akan marahi kamu habis-habisan," sambungnya dengan bibir yang bergetar.
Airmata Gibran akhirnya keluar juga, bahkan saat ini pundaknya sudah bergetar menahan gemuruh yang ada dihatinya.
Alta menghampiri Gibran dan menepuk pundak Gibran perlahan.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku kalau Alsya sedang sakit?"
"Maaf Gib, ini semua keinginan Alsya dan kami pun tidak bisa berbuat apa-apa," sahut Alta.
"Bang Gibran tahu, Alsya itu selalu semangat kalau sudah bercerita tentang Abang? Alsya itu sudah sejak lama suka sama Abang, dia tidak mau memberitahu Abang karena Alsya pikir diberi tahu pun Abang tidak akan peduli kepada Alsya karena Alsya tahu kalau Abang tidak mencintainya," seru Bee.
Dada Gibran semakin sesak mendengar ucapan Bee. Alta menceritakan semua tentang Alsya membuat Gibran dan Bee tidak percaya kalau Alsya wanita yang begitu kuat.
Ternyata, dibalik sikap Alsya yang ceria dan bar-bar Alsya menyimpan sejuta rasa sakit yang dia simpan sendirian.
"Ya Alloh Alsya, kamu memang wanita yang kuat," gumam Bee.
Alta memeluk istrinya itu dan menenangkannya.
***
Keesokkan harinya....
__ADS_1
Alsya mulai menggerakkan tubuhnya, tangannya terasa pegal dan ternyata Alsya sangat terkejut karena seorang pria sedang tertidur disampingnya dengan menggenggam tangannya.
"Kak Gibran," lirih Alsya.
Gibran langsung menggerakkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya ke arah Alsya, ternyata Alsya sudah bangun dengan senyuman menghiasi wajahnya yang saat ini terlihat sangat pucat.
"Alsya, kamu sudah bangun."
Alsya hanya tersenyum...
"Apa kamu mau minum?"
Alsya menganggukkan kepalanya, Gibran dengan cepat mengambil minum dan memberikannya kepada Alsya.
"Bagaimana sekarang? apa yang sakit? coba bilang sama aku, biar aku hubungi Uncle Zidan dan Uncle Billy."
Alsya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak merasakan sakit kok, Kakak jangan khawatir."
Gibran kembali duduk dengan menggenggam tangan Alsya membuat Alsya merasa kaget.
"Kak, maafin Alsya ya karena selama ini Alsya sudah menjadi wanita yang paling menyebalkan yang selalu mengganggu Kakak, sehingga membuat Kakak kesal," lirih Alsya.
Gibran menggelengkan kepalanya. "Tidak Sya, aku tidak merasa terganggu justru aku merasa kesepian kalau kamu tidak menggangguku."
"Terima kasih Kak, karena selama ini Kakak sudah menjadi penyemangat Alsya. Alsya tidak peduli Kakak tidak menyukai Alsya yang penting Alsya mencintai Kakak dan Alsya juga tidak meminta Kakak untuk membalasnya, dengan Alsya melihat Kakak saja sudah cukup membuat Alsya bahagia."
Tes...
Airmata Gibran kembali menetes dengan sendirinya, perlahan tangan Alsya terulur dan mengusap airmata Gibran.
Gibran langsung memeluk Alsya dengan erat membuat Alsya terkejut.
"Maaf Sya, maafkan aku karena selama ini sudah kasar sama kamu tapi jujur aku memang sudah menyukaimu sejak dulu cuma aku pura-pura tidak peduli sama kamu."
Alsya melepaskan pelukkannya dan menatap wajah tampan Gibran dengan seksama.
"Kakak tidak perlu bohong hanya untuk membuat Alsya bahagia, Alsya tidak butuh dikasihani Kak, Alsya sudah bilang kalau Kakak tidak perlu membalas cintaku karena dengan melihat Kakak saja Alsya sudah bahagia," seru Alsya dengan deraian airmata.
Gibran menangkup wajah Alsya. "Aku tidak bohong Sya, aku memang mencintaimu."
Airmata Alsya semakin deras membuat Gibran kembali memeluk Alsya.
"Sudah jangan menangis, sekarang kamu tidak sendirian lagi ada aku yang akan selalu ada untukmu, kita jalani semuanya bersama-sama, oke..."
Alsya pun menganggukkan kepalanya di dalam pelukkan Gibran. Sementara itu, Bee yang sejak tadi sudah bangun memilih pura-pura tidur dan tampak menitikan airmata.
Waktu pun beranjak siang, saat ini Gibran sedang menyuapi Alsya membuat Alta dan Bee tampak tersenyum.
"Sayang suapin dong," rengek Alta.
"Apaan sih Oppa, kan Oppa sehat masih punya tangan."
"Ishh..ishh..ishh..kamu mah tidak ada romantis-romantisnya Bee."
__ADS_1
"Yaelah Al, sejak kapan kamu jadi manja kaya gitu?" ledek Gibran.
"Sejak menikah, memangnya kenapa?" ketus Alta.
"Astaga, biasa saja kali ga usah sewot aku tahu kamu kesal karena tadi malam ga anu-anu kan?" goda Gibran.
"Enggak juga, kalau aku mau, aku bisa sewa satu kamar disini buat berdua."
"Heleh..."
Ceklek...
"Selamat pagi!" sapa Mommy Tasya.
Mommy Tasya menghampiri Alsya dan mencium kening puterinya itu.
"Bagaimana sayang, apa sekarang sudah baikkan?"
"Sudah dong Mom, apalagi ada Kak Gibran yang menemani Alsya jadi Alsya tambah semangat."
Gibran mengusap kepala Alsya, sedangkan Nasya terlihat menundukkan kepalanya. Nasya masih takut kalau harus beradu pandang dengan Gibran.
"Alta, Bee, ini Mommy bawakan baju ganti buat kalian sana kalian mandi dulu."
"Terima kasih, Mommy," sahut Bee.
"Ayo Oppa kita mandi!" ajak Bee.
"Astaga sayang, kamu mau mancing-mancing aku ya," sahut Alta.
Alsya dan Mommy Tasya terkikik mendengar Bee mengajak Alta mandi bareng. Bee sungguh tidak punya rasa malu, baru kali ini ada wanita yang ga jaim-jaim seperti Bee dan itu sangat langka.
"Bukannya mau mancing-mancing, biar sekalian saja kalau ga mau ya sudah."
Bee mulai melangkahkan kakinya tapi dengan cepat Alta menyusulnya membuat semua orang tertawa melihat kelakuan pengantin baru itu.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU