CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Mr.Perfesionis


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Bee dan Alsya mengikuti kelas mata kuliah Alta dengan tenang membuat Alta sedikit aneh dengan tingkah kedua wanita bar-bar yang tiba-tiba menjadi kalem.


Dua jam sudah, mata kuliah Alta pun selesai Alta segera meninggalkan kelas dan langsung pulang. Alsya dengan semangat mengajak Bee ke rumah Alta, Bee mengikuti mobil Alsya dari belakang.


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Alta. Bee tampak menganga melihat rumah Alta yang super megah dan mewah, Bee memarkirkan motornya tiba-tiba Bee menoleh ke samping.


"Perasaan kenal nih sama mobil," gumam Bee.


"Bee, ayo cepetan masuk!" teriak Alsya.


"Iya, kok perasaan aku tiba-tiba ga enak kaya gini ya."


Bee mengikuti langkah Alsya masuk ke dalam rumah itu.


"Kakak...yuhuuu..!" teriak Alsya.


Tap..tap..tap..


Suara langkah kaki menuruni anak tangga membuat Bee menelan salivanya, entah kenapa perasaannya tidak enak.


Seorang pria tampan menuruni anak tangga dengan memainkan ponselnya tanpa melihat ke arah Alsya dan Bee tapi berbeda dengan Bee yang terlihat terkejut dengan kedatangan Alta.


Perlahan Bee ingin meninggalkan rumah Alta tapi Alsya dengan cepat menarik kerah baju Bee bagian belakang membuat Bee tak bisa berkutik.


"Mau kemana? sudah diam," seru Alsya.


Alta mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Alsya dan Bee.


"Alsya, ngapain kamu bawa dia kesini?"


"Kak, Kakak kan butuh tukang masak ayolah terima Bee menjadi tukang masak di rumah ini lagipula kan rumah Bee, Kakak yang beli kasihan Bee tidak punya tempat tinggal," seru Alsya.


"Bodo, emang apa urusannya sama Kakak."


Alta duduk di sofa dengan santainya..


"Yaelah Kak, jangan jadi orang kejam napa. Alsya pernah lihat tuh di tv ada orang yang kejam dan tidak punya perasaan, nah pas meninggalnya kuburannya penuh dengan batu loh, Kak."


Alta mengusap wajah adiknya itu dengan gemas. "Kebanyakan nonton sinetron, makannya jadi gitu."


"Bee, sini duduk," seru Alsya.


Bee pun yang masih menundukkan kepalanya dan langsung duduk di samping Alsya.


"Kak, ayolah kasih Bee kesempatan. Bagaimana kalau sekarang Bee suruh masak untuk makan siang kita," usul Alsya.


"Memangnya kamu bisa masak apa?" tanya Alta dingin.


"Apa saja Pak, Indonesian Food, Korean food, Western juga saya bisa," sahut Bee dengan masih menundukkan kepalanya.


"Oke...saya akan test kamu, sekarang masakan saya makanan Indonesian food saja. Saya suka yang berkuah-kuah."


Bee melirik ke arah Alsya...


"Ayo Bee, kamu pasti bisa."


Alsya pun membawa Bee ke dapur untuk mulai memasak, Bee mulai memakai celemek dan membuka kulkas. Ternyata isi di dalam kulkas sangat lengkap, bermacam-macam daging, ikan laut, semuanya lengkap.


"Kamu masak apa, Bee?" tanya Alsya yang dari tadi sibuk mengekor di belakang Bee.


"Aku mau buat soto ayam Bandung, sepertinya untuk di makan siang-siang begini akan terasa sangat segar."


"Wow....aku sudah ga sabar buat mencicipinya," seru Alsya dengan antusiasnya.


"Oh iya Sya, ternyata Pak Alta itu Kakak kamu? aku ga nyangka loh, soalnya kamu tidak memperlihatkan seperti Kakak beradik malahan kamu pintar sekali berakting pura-pura tidak kenal sama Pak Alta."


"Maaf, sebenarnya aku juga ga mau mengakui Kak Alta sebagai Kakakku tapi ya mau bagaimana lagi ikatan darah kita jauh lebih kuat," seru Alsya.


"Ngaco deh kamu, gitu-gitu juga Kakak kamu."


"Ogah ah, aku lebih memilih ga punya Kakak daripada punya Kakak tapi nyebelinnya minta ampun."


"Hus...kalau ngomong jangan sembarangan."

__ADS_1


"Woi, mau masak atau mau ngeghibah kapan selesainya!" teriak Alta.


"Tuh kan, nyebelin banget," bisik Alsya.


Bee tidak menggubris lagi ocehan Alsya, dia fokus sibuk memasak supaya masakannya enak dan Alta mau menerimanya sebagai tukang masak di rumahnya.


Tidak lama kemudian, Bee pun selesai masak. Bee menata masakannya di atas meja makan dengan di bantu oleh Alsya.


"Kak, masakannya sudah siap!" teriak Alsya.


"Biarkan dulu sampai suhunya tiga puluh enam derajat celcius," seru Alta dengan santainya sembari Alta mengotak-ngatik laptopnya.


"Hah...."


"Tuh kan Kakakku aneh," bisik Alsya.


"Alsya, Kakak bisa dengar ya."


"Astaga, aku lupa kalau pendengaran Kak Alta lebih peka di banding gukguk tetangga," cibir Alsya.


"Apa? jadi kamu menyamakan Kakak dengan a***** tetangga," sentak Alta.


"Bee, coba ambil termometer apa sotonya sudah tiga puluh enam derajat celcius," seru Alsya mengalihkan pembicaraan.


Bee sungguh tidak menyangka kalau adik kakak itu sungguh ajaib kelakuannya. Lima belas menit kemudian...


"Pak Alta, suhunya sudah tiga puluh enam derajat celcius," seru Bee.


Alta menutup laptopnya dan melangkahkan kakinya menuju meja makan, sedangkan Alsya dengan santainya sudah melahap soto buatan Bee.


"Hai, kenapa diam saja? ambilkan saya nasi."


"Ah iya Pak."


Bee dengan cekatan mengambilkan nasi...


"Tunggu...."


Bee menghentikan tangannya dan menatap ke arah Alta sedangkan Alsya cuek-cuek saja, dia tahu apa yang akan Kakak lakukan.


"Ada apa, Pak?"


"Nasinya harus pas seratus lima puluh gram tidak boleh lebih, itu tandanya nasi itu harus pas sebanyak sepuluh suapan kalau lebih, saya tidak akan menerima kamu bekerja di sini," seru Alta.


"Apa?"


"Mau makan aja ribet benget, kalau aku ga butuh pekerjaan dan tempat tinggal, ga sudi aku bekerja di sini. Pantesan saja tukang masaknya ga ada yang betah," batin Bee dengan kesalnya.


"Tidak usah menggerutu," seru Alta tanpa melihat ke arah Bee.


"Allohuakbar, kenapa dia bisa tahu? apa dia juga bisa baca pikiran dan bahasa hatiku? wah...bahaya nih," batin Bee.


Bee menatap ke arah Alsya dan dia hanya mengangkat bahunya.


Alta mulai mencoba masakan Bee, sedangkan Bee dan Alsya terdiam dan menatap was-was ke arah Alta.


"Bagaimana Kak, enak kan?" seru Alsya.


"Lumayan..."


Bee benar-benar di buat jantungan oleh Dosennya yang satu ini, mudah-mudahan saja Bee di terima supaya Bee bisa mengumpulkan uang dan menebus akta rumahnya kembali.


Setelah selesai makan, ketiganya duduk di ruangan tamu.


"Kak, bagaimana? Bee di terima kan jadi tukang masak di rumah ini?" tanya Alsya antusias.


"Oke..kamu saya terima bekerja di sini."


"Serius Kak?"


"Iya..."


Alsya dan Bee tampak bahagia mereka berpelukkan saking bahagianya.


"Tapi dengan satu syarat."


"Apa Pak?" tanya Bee.


"Tugas kamu di sini hanya sebagai tukang masak, jadi tidak usah mengerjakan hal selain masak."


"Siap Pak, saya akan melaksanakannya. Tapi Pak, saya juga punya satu permintaan," seru Bee dengan sengirannya.


Alta menaikkan satu alisnya dan menatap Bee.

__ADS_1


"Apa?"


"Kalau seandainya saya ada kerjaan mendesak, saya di izinkan keluar kan dari rumah ini?"


"Kerjaan mendesak?"


"Iya Pak, selama ini saya kuliah sambil bekerja tapi pekerjaan saya tidak menentu."


"Oke...asalkan setiap waktu sarapan, makan siang, dan makan malam kamu harus siapkan kalau sampai kamu telat menyiapkan, saya tidak akan segan-segan memecat kamu," tegas Alta.


"Siap Pak."


"Kamu dengarkan baik-baik peraturan yang saya buat, jangan sampai lupa."


"Baik Pak."


Alta bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Bee dan Alsya yang dengan serius bersiap mendengarkan apa yang akan Alta katakan.


"Pertama, saya hanya akan makan nasi setiap makan siang dan makan malam. Kebutuhan karbohidrat setiap hari itu harus mencapai lima ratus gram, jadi makan siang seratus lima puluh gram, makan malam seratus lima puluh gram, dan dua ratus gramnya pas sarapan. Setiap sarapan, kamu siapkan roti tiga lembar dan dua buah kentang ukuran sedang."


Bee dan Alsya melongo dengan ucapan Alta, apalagi Bee hanya bisa menganga dengan mata yang berkedip-kedip.


"Terus, setiap hari dari senin sampai jum'at saya harus makan nasi merah kalau nasi putih hanya pas weekend saja. Cara memasak nasinya jangan terlalu lembek karena nasi yang terlalu lembek kadar gulanya itu tinggi sehingga kandungan serat menjadi hilang, pokoknya kamu harus sebisa mungkin memasak nasi dengan tekstur yang benar-benar pas. Paham kamu?"


Alta melihat Alsya dan Bee hanya melongo seperti orang yang habis kena hipnotis. Alta menjentikkan jarinya di depan wajah Alsya dan Bee sehingga kedua wanita cantik itu pun tersadar.


"Kamu paham tidak dengan apa yang saya jelaskan barusan?"


"Ah, iya Pak saya paham," sahut Bee dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Astaga, Kak kok jadi tukang masak aja ribet banget sih melebihi dari buat skripsi," keluh Alsya.


"Bukannya ribet, itu artinya cara makan yang sehat kamu harus tahu itu jangan tahunya cuma makan doang."


Alsya menarik tangan Bee dan membawanya agak menjauh dari Alta.


"Bagaimana Bee? apa kamu sanggup? kamu masih punya waktu untuk mengundurkan diri, sebelum batin dan jiwamu menjadi terguncang dengan aturan Kak Alta," bisik Alsya.


"Sepertinya aku mau lanjut Sya, kamu tahu kan bagaimana aku? aku ga bakalan pernah menyerah, kalah sebelum perang adalah bukan sifat aku."


"Ah iya, kamu kan wanita tangguh. Okelah, aku akan selalu mendukungmu dan kalau si Mr.Perfesionis itu menyebalkan, kamu lawan saja jangan takut."


"Pasti Sya."


"SEMANGAT...." Alsya dan Bee mengepalkan tangannya ke udara tanda semangat.


Bee menghampiri Alta...


"Pak Alta, saya bersedia bekerja di rumah ini. Saya akan berusaha bekerja dengan baik jadi mohon bimbingannya," seru Bee dengan membungkukkan tubuhnya.


"Oke...sekarang kamu boleh pergi, besok kamu sudah bisa mulai bekerja di sini."


"Terima kasih Pak, terima kasih."


Bee reflek meraih tangan Alta dan menciumnya dengan senang hati, Alta merasa terkejut dan dengan cepat menghempaskan tangan Bee.


"Jangan sembarangan sentuh-sentuh saya."


"Maaf Pak, saking bahagianya. Kalau begitu saya pergi dulu, sekali lagi terima kasih ya Pak."


"Kak, Alsya juga pulang dulu."


Alsya dan Bee pun meninggalkan rumah Alta.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2