CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Mulai Masuk Perusahaan


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Keesokkan harinya....


Setelah melakukan serangkaian tes yang menguras emosi dan tenaga, akhirnya hari ini Rayyan dan Erika mau melaksanakan Nikah kantor. Erika datang bersama kedua orang tuanya begitu pun Rayyan sudah menunggu bersama kedua orang tuanya.


Erika terlihat tidak bersemangat, jangankan menikah dengan Rayyan, melihat wajahnya saja membuat Erika malas.


Rayyan yang melihat mobil calon mertuanya tiba langsung menyambutnya dan mencium punggung tangan keduanya membuat Erika memutar bola matanya malas.


Tiba-tiba Rayyan menggenggam tangan Erika membuat Erika tersentak.


"Apa-apaan ini? apakah ini akting lagi?" batin Erika.


Rayyan menghentikan langkahnya karena Erika terlihat diam.


"Kenapa diam? ayo jalan."


Erika menatap tajam ke arah Rayyan, tatapan benci dan tidak suka.


"Kenapa? jangan-jangan kamu berpikiran mau kabur dari sini? jangan harap."


"Kalau aku niat kabur, sudah dari dulu aku melarikan diri."


Erika menghempaskan tangan Rayyan. "Jangan terlalu banyak akting itu tidak bagus, aku tidak butuh pengakuan darimu dan aku juga tidak butuh kepura-puraan darimu."


Erika melangkahkan kakinya meninggalkan Rayyan dan menyusul para orang tua. Hingga saatnya Rayyan dan Erika melaksanakan nikah kantor, sang komandan memberikan nasehatnya kepada Rayyan dan Erika.


Erika sama sekali tidak mendengarkan nasehat itu, yang ada di otaknya sekarang dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.


***


Sementara itu di tempat lain...


Mobil Alta yang dikendarai Edo sang asisten tiba di perusahaan, Edo dengan cepat keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mpbil untuk Alta dan juga Bee.


Bee berjalan mengikuti Alta dari belakang, dengan sesekali celingukkan memperhatikan perusahaan yang besar itu.


"Wow, aku baru tahu kalau suamiku ternyata sangat kaya, perusahaannya juga sangat besar dan megah," batin Bee.


Sementara itu, semua karyawan tampak melihat tidak suka kepada Bee karena baru pertama kali ini Alta membawa seorang wanita bahkan sampai satu mobil seperti itu.


"Siapa tuh cewek?" seru Mona.


"Dia pasti sekertaris baru yang kemarin Pak Edo umumkan," sahut Asri.


"Ya ampun, kok bisa sih Pak Alta menjadikan cewek seperti itu seorang sekertaris?" ketus Mona.


"Tapi dia cantik Mon, aku akui penampilannya pun sangat modis," sahut Asri.


"Apa? kamu itu teman aku bukan sih? kenapa kamu malah membela dia!" sentak Mona.


"Maaf, aku hanya mengatakan yang sejujurnya."


Mona dan Asri adalah seorang resepsionis di perusahaan Alta, Mona adalah karyawan lama dan sudah lama pula mengincar Alta sosok pria idaman semua wanita.


Sampai-sampai Mona sampai saat ini belum juga menikah karena masih mengharapkan keajaiban kalau Alta tiba-tiba melamarnya, sungguh mimpi yang terlalu ketinggian.

__ADS_1


Ting...


Pintu lift pun terbuka tepat di depan ruangan Alta, disana terlihat sepi karena hanya ada ruangan yaitu ruangan Alta dan ruangan Edo. Di depan pintu masuk, Edo sudah menyiapkan meja kerja untuk Bee.


"Edo..."


"Iya Tuan."


"Kenapa mejanya disimpan diluar? kenapa kamu ga simpen di ruanganku saja?" seru Alta.


"Maaf Tuan, itu semua permintaan Nona Bee."


"Sayang, aku ingin meja kerja kamu berada didalam ruanganku karena supaya aku semangat bekerja kalau selalu melihat kamu."


"Alah Oppa lebay, sudah ah aku mau meja kerjaku disini saja biar tidak mengundang kecurigaan semua karyawan. Memangnya tadi Oppa tidak lihat, semua mata karyawan terlihat bingung melihat aku turun dari dalam mobil Oppa."


"Kenapa kamu suka sekali dengan hal ribet? kalau aku beritahu semua karyawan kamu adalah istriku, tidak akan seribet ini."


"Sudahlah, lebih baik sekarang Oppa berangkat ke kampus kasihan kalau para Mahasiswa menunggu Oppa."


"Tapi kamu ga apa-apa kalau aku tinggal?"


"Ya ampun, aku tidak apa-apa kan ada Kak Edo yang akan membantuku dan mengajariku."


"Edo..."


"Iya Tuan."


"Tolong kamu ajari istri saya yang benar, jangan dibentak-bentak, jangan dimarahi, dan satu lagi kamu dan istri saya harus jaga jarak minimal satu meter dan jangan coba-coba menyentuh istri saya, ingat itu!" ancam Alta.


"Siap Tuan."


"Sayang, kalau begitu aku ke kampus dulu nanti pulang dari kampus aku langsung kesini kalau si Edo macam-macam langsung hubungi aku."


"Iya Oppa."


"Balikan tubuh kamu."


"Baik Tuan."


Edo pun langsung membalikkan tubuhnya, Alta memeluk dan menciumi seluruh wajah Bee.


"Sudah Oppa, nanti kalau ada yang lihat bagaimana?"


"Ga bakalan ada yang lihat, soalnya tidak sembarangan orang bisa masuk kesini."


"Ga bakalan ada yang lihat? terus aku ini apa Bos, tega banget anda menganggapku patung," batin Edo.


"Ya sudah aku pergi dulu. Edo, ingat pesan saya tadi."


"Siap Bos."


Alta pun akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan perusahaan, sebenarnya Alta berat sekali meninggalkan Bee tapi Alta percaya kalau Edo bisa mengajarinya dengan baik.


"Ehmm...baiklah Nona, saya akan mengajarkan Nona karena mulai sekarang dan seterusnya, Nona akan menjadi sekertarisnya Pak Bos. Tugas Nona adalah mencatat semua jadwal Pak Bos dan Nona pun harus selalu mengingatkan Pak Bos mengenai jadwalnya," jelas Edo.


"Baik."


Edo pun memberikan setumpuk map untuk Bee pelajari, setelah itu Edo berdiri persis satu meter disamping Bee. Bee mulai membaca satu persatu map itu tapi satu pun sama sekali Bee tidak mengerti.


"Kak Edo yang ini bagaimana?" tanya Bee tanpa melihat kearah Edo.


Edo terlihat kesulitan melihatnya karena jaraknya yang lumayan sedikit jauh membuat Edo susah payah berjinjit melihat yang ditunjuk oleh Bee.


Karena tidak ada jawaban, Bee pun mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping.

__ADS_1


"Allohuakbar, Kak Edo kok jauh banget sini aku ga ngerti semuanya sama sekali."


"Kata Pak Bos kan harus jaga jarak minimal satu meter, jadi saya harus menurutinya," sahut Edo.


"Astaga Kak Edo, bagaimana Kak Edo mau memberitahu aku kalau jaraknya jauh banget sini ga apa-apa toh Oppanya juga ga ada."


"Tapi Nona---"


"Sudah sini, nanti kalau Oppa marah aku yang tanggung jawab."


Akhirnya dengan ragu-ragu, Edo pun menghampiri Bee. Edo memang asisten paling jujur, saking jujur dan penurutnya Edo selalu menuruti perintah Alta walaupun Alta tidak ada disana.


Edo pun akhirnya mengajari Bee satu demi satu tapi tetap saja Bee ga ngerti-ngerti membuat Edo menggeretakkan giginya dan mengepalkan tangannya yang berada dibawah meja.


Edo sungguh sangat kesal tapi Edo tidak bisa berbuat apa-apa, dadanya menahan sesak. Sungguh Edo berada dalam posisi yang tidak mengenakan, mau marah takut dipecat karena yang ada dihadapannya adalah istri bosnya tapi kalau ga dikeluarkan bisa-bisa dia stres.


"Maaf Nona, saya izin ke toilet dulu."


"Ah, iya silakan."


Edo pun dengan cepat masuk ke dalam ruangannya dan masuk ke dalam toilet yang ada didalam ruangan kerjanya.


Edo melonggarkan dasinya, kemudian dia memukul-mukul udara saking emosinya.


"Aku lebih baik disuruh berkelahi daripada harus mengajari istri bos yang dari tadi ga ngerti-ngerti, astaga istri Pak Bos memang cantik tapi kenapa isi otaknya kecil sekali," seru Edo dengan nafas yang tersengal-sengal.


Edo kemudian menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan, Edo terus melakukan itu sampai berulang-ulang. Hingga dirasa sudah lumayan tenang, Edo pun kembali merapikan penampilannya.


"Oke...aku harus mempunyai stok sabar yang banyak sekarang," gumam Edo.


Edo pun keluar dari dalam toilet dan kembali melangkahkan kakinya menuju meja Bee, tapi betapa terkejutnya Edo saat sampai di meja Bee ternyata Bee malah tertidur ditumpukan map itu.


"Allohuakbar." Edo kembali mengusap wajahnya kasar.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Yuk, guys kasih giftnya yang banyak karena ada hadiah pulsa menunggu kalian😍😍


Juara 1 : 100k


Juara 2 : 75k


Juara 3 : 50k


Juara 4-10 : 20k


Ayo, semangat waktunya dimulai sekarang sampai tanggal 1 MaretπŸ’ͺπŸ’ͺ😍😍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2