CINTA PERTAMA SEORANG CEO

CINTA PERTAMA SEORANG CEO
Part# 54 Sikap Aneh (2)


__ADS_3

Apa??? Hamil??? teriak tuan muda kepada dokter Nathan.


"Ia aku akan mengambil darah kakak ipar untuk di periksa apakah benaran dia hamil" jawab Nathan.


Tuan muda mondar mandir seperti setrikaan penampilannya kusut mengingat Lili yang tidak ingin melihat nya dan mengatakannya bau sedikit membuatnya gusar.


"Kenapa kau kelihatan marah, apa kakak ipar bukan hamil karena kamu?" tanya Nathan sambil menatap ke arah Lie Yuan


apa benar aku bau ndak mungkin dech.


Melihat Lie Yuan tidak menjawab malah semakin terlihat benggong membuat spekulasi sendiri di dalam hati Nathan.


Apa rumor dia benar? tapi bagaiman bisa kakak ipar hamil kalau dia tidak berfungsi, ah bikin pusing sebaiknnya aku pulang dan priksa dulu darahnya untuk memastikannya.


Nathan mengeluarkan jarum suntik dan memegang lengan Lili untuk mengambil darahnnya, disibaknya selimut diraihnya lengan Lili dan di tariknya lengan baju tudur Lili ke atas.


"Stopp! apa yang akan kamu laukan" Lie Yuan seakan baru tersadar dari pikiranya sendiri dia menahan pergerakan tangan Nathan yang akan menyibak baju di tanggan Lili dengan wajah garang.


"Aku akan memeriksakan darah kakak ipar apa benar dugaanku kalau kakak ipar hamil" Jawab Nathan dan ingin melanjutkan ingin menyuntikan jarum di lengan Lili.


"Jangan, lakukan enak saja kamu main pegang pegang" teriaknya sambil menghalagi pergerakan Nathan.


"Tolong menyingkirlah aku hanya akan mengambil darah tidak akan sakit, apa kamu meragukan ke profesionalitas seorang dokter" ucap Nathan jengkel melihat ke posesifan sahabatnya ini.


Mendengar ribut-ribut Lili tersadar dan membuka perlahan kelopak matanya, begitu tersadar dia mengendus-endus hidung nya dan melirik kearah Nathan dan Tuan muda begitu melihat ke arah Lie Yuan seketika isi dalam perutnya ingin keluar dan dia ingin berlari kedalam kamar mandi ingin muntah tetapi sudah tidak tertahan lagi hingga dia muntah di bahu Lie Yuan.


Saat suaminya ingin memapah dia ke kamar mandi, perutnya bergolak mencium aroma suaminya.


Seketika Lili merasa tidak enak , "maaf ucapnya" sambil menutup mulut dan hidung nya.


Tapi Tuan Muda tidak merasa jijik sedikitpun justru tatapannya begitu khawatir melihat keadaan Lili yang pucat pasi.


Ketika Lili sampai di kamar mandi segera dia memuntahkan isi perutnya, Setelah selesai dia bermaksud keluar ketika di lihatnya sang suami sedang menganti pakaian dan mencuci tangan di wastafel ada perasaan bersalah dihatinya tapi ketika suaminya selesai dan berbalik ingin menghampirinya seketika itu juga perutnya bergolak dan ingin muntah lagi.


Cepat-cepat Lili keluar kamar dan duduk di sofa dihadapan dokter Nathan.


"Pagi kakak Ipar, apa yang sakit kenapa kakak ipar sepucat ini?"


"Ah ...tidak tahu hanya saja aku merasa pusing dan mual ingin muntah terus, tidak nafsu makan juga" keluh Lili.


Tiba-tiba Lie Yuan yang sudah rapi duduk di sebelah Lili merangkul bahu nya, merasakan ada aroma tubuh suaminya seketika itu juga ingin muntah.


"Maaf tolong menjauh dari ku, aku tidak kuat mencium aromamu rasa mau muntah" Ucap Lili sambil melepas pelukan suaminya dan pindah duduk ketempat tidur sambil menutup hidung.


Melihat sikap Lili , Lie Yuan seakan murka muka nya memerah dan berdiri dari duduknya.


"Apa maksudmu mengatakan itu" ucapnya gusar.


"maaf semuanya, kakak ipar ayo saya ambil darah dulu untuk diperiksa apakah mungkin sikap kakak ipar begini akibat bawa hamil" Nathan berdiri sambil mengambil jarum suntik dan mendekati Lili.


"Kapan terakhir haidnya?" tanya Natahan sambil mengambil darah Lili dengan jarum suntik.


Lili termenung, oh iya sudah hampir satu bulan ini sudah telat haid "apa aku hamil" gumamnya.

__ADS_1


"Sudah hampir satu bulan aku telat" jawab Lili.


"Oh kalau begitu kemungkinan kakak ipar hamil " jawab Nathan sambil melihat ke arah Lie Yuan yang sekarang sedang duduk di sofa seperti termenung.


"Nah sudah selesai kakak ipar banyak istirahat ya nanti saya resepkan obatnya" Nathan beranjak dan menghampiri Lie Yuan.


"Kemungkinan kakak ipar hamil mengingat riwayat haid nya yang sekarang sudah telat" ucap Nathan sambil menaruh sampel darah kedalam tas kerjanya.


"Ayo ikut aku ada yang ingin aku katakan padamu" Nathan melirik sekilas ke arah Lie Yuan yang masih termenung, bergegas keluar pintu kamar, diikuti oleh Lie Yuan yang juga melirik sekilas ke arah Lili pandangan mereka berdua bertemu ada rasa bersalah di hati Lili, sedangkan di hati Lie Yuan terlihat rasa penasaran yang tidak mengerti dengan sikap Lili padanya.


Nathan masuk ke ruang kerja Lie Yuan dan duduk di sofa.


"Sepertinya kakak ipar hamil, apa kamu tidak senang dengan berita ini?" tanya Nathan jengkel melihat sikap Lie Yuan yang masih saja datar-datar saja.


"Apa bukan anak mu, kenapa kamu seperti tidak bahagia?" tanya Nathan sedikit berteriak jengkel sudah hatinya.


"Apa, kamu bilang!!! enak saja ya pasti anakku lah kamu pikir anak siapa lagi" jawab Lie Yuan juga berteriak.


"Aku sangat bahagia tapi mengapa sikapnya padaku berubah ?, dia tidak bisa dekat denganku bilang aku bau" ucapnya sedih.


"Hahaha..." tawa Nathan pecah, Mungkin kamu dahulu sering menyiksa perasaan kakak ipar sehingga anakmu yang sekarang membalasnya, hahahaha..."


"Sialan kamu malah tertawa" Lie Yuan melempar bantal kursi kearah dokter Nathan.


"Apa tidak bahaya muntah terus seperti itu dan tidak mau makan lagi" tanya Lie Yuan.


" Kalau muntah terus-terusan bisa berakibat lemah dan kekurangan cairan harus di pasang infus, tapi di resep ini aku sudah tuliskan juga obat anti mual" Nathan memberikan selembar kertas resep .


Bisa jadi muntah - muntah kakak ipar karena reaksi psikis , mungkin ada keinginan yang selama ini dipendamnya yang tidak terungkap, sebaiknya kalian saling terbuka, dan jangan marah kalau kakak ipar jujur" ucap Nathan serius diakhir kata-katanya.


"Aku tahu, pergi sana dasar cerewet" Jawab Lie Yuan gusar sambil meremas rambutnya prustasi.


Pelayan yang membersihkan kamar dan membantu Lili membersihkan diri dan juga sarapan baru saja melangkah keluar dan menutup pintu dengan pelan.


Lie Yuan masuk kedalam kamar mengintip sejenak di lihatnya Lili sedang tertidur mungkin kelelahan, dilihatnya mangkuk bubur dan juga sop sarang burung yang di letak diatas nakas sudah berkurang setengah, itu artinya Lili sudah makan dan sekarang dia tertidur setelah minum obat yang di resepkan Nathan, dengan berjinjit Lie Yuan masuk kedalam kamar menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia mandi dengan sabun dan juga shampo yang disukai Lili, berharap Lili menyukai aromanya. Sekitar setengah jam dia berendam air hangat.


Selesai mandi Lelaki itu sudah berganti pakaian, dengan pakaian yang lebih santai, rambutnya juga tampak masih basah.


Lili memandagi Lie Yuan perasaan bersalah langsung memenuhi relung hatinya, tadi saat dirinya muntah pakaian Lie Yuan basah terkena muntahan, tetapi yang membuat Lili kagum adalah, lelaki itu sangat telaten mengurusinya walaupun dia marah dan bilang dia bau tetapi dia tetap telaten memperlakukannya, membantunya sampai selesai muntah dengan cekatan tanpa sedikitpun ada rasa jijik terlintas di wajahnya.


Ketika Lie Yuan menarik kursi ke dekat ranjang dan duduk disana, Lili langsung memusatkan perhatiannya pada wajah Lie Yuan , dengan niat baik hendak meminta maaf. Tapi dia kemudian terkejut ketika mendapati ekspresi Lie Yuan yang sangat muram. Seolah-olah mendung meliputi jiwa lelaki itu dan tidak ada cahaya dimatanya.


Lili langsung menduga-duga pikiran berputar liar mencari jawaban.


Kenapa tiba-tiba Lie Yuan menjadi begitu muram? apa karena penolakannya saat muntah tadi dan saat mengatakan kata bau, bukankah tadi saat keluar meninggalkan nya bersama dokter Natahan ekspresi wajahnya tampak baik-baik saja. Jangan-jangan dia marah di bilang bau dan marah karena Lili tidak ingin didekatinya.


"Apakah kau benci dan jijik pada ku Lili?"


Pertanyaan itu sekonyong- konyong saja keluar dari bibir Lie Yuan tanpa diduga sebelumnya, membuat Lili tertegun dengan mulut terbuka, otaknya kesulitan mencerna arti pertanyaan itu meskipun telinganya jelas mendengar.


"A...apa?" Lili tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri, karena itulah dia membalas pertanyaan dengan pertanyaan .

__ADS_1


Lie Yuan menghela napas sebelum berucap.


Nathan bilang kalau muntah-muntahmu ...bukan karena masalah fisik, tapi karena masalah psikologis atau psikis..." sejenak Lie Yuan menghentikan kalimatnya dan menatap tajam. Kau hanya muntah-muntah ketika kau bersama denganku, sementara ketika aku sedang tidak ada disekitarmu, kau baik-baik saja..." Lie Yuan mengacak rambutnya seolah frustasi. "Jadi aku pikir...akulah penyebab kau muntah...yah mungkin kau masih menyimpan. rasa jijik dan kebencian kepada ku dari awal pertemuan kita?"


Lili terpana mendengar penjelasan Lie Yuan. Entah bagaimana lelaki itu bisa mengambil kesimpulan tersebut. seolah-olah lelaki itu tidak percaya diri...


Dimata Lili , Lie Yuan adalah sosok yang selalu tampak dominan yang kuat dan penuh percaya diri, tidak pernah mau mendengar penolakan apapaun , saat pertama kali mendengar dia bahkan terlihat arogan dan seperti ingin menindasnya, berjiwa keji menyembunyikannya dari dunia mengangapnya sudah mati dan mengantikannya dengan nama dan identitas baru. Tanpa mau mendengar permintaannya untuk pulang ke tanah airnya. Dirinya sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk melihat sosok Lie Yuan yang seperti ini, sosok yang tak yakin...dan menunjukan kerapuhannya yang Lili pikir tak pernah ada dalam diri lelaki itu.


Lalu, benarkah semua itu karena dirinya? karena Lie Yuan benar-benar mencintainya peduli padanya? bolehkah aku berharap akan kembali berkumpul dengan keluarga ku nanti. tapi aku harus mampu menyakinkan bahwa persaan ku padanya tidak akan berpaling meski aku bertemu dengan keluargaku, mereka memiliki.porsi masing-masing yang tak akan saling mengantikan.


Sepertinya Lili harus mencoba untuk memgatakan sejujurnya apa yang paling menjadi keinginanya dari dahulu hingga sekarang.


Tergiang perkataan Akhira sehari sebelum pernikahannya dengan Lie Yuan .Bahwa dia harus menekan semua perasaan rendah dirinya, dia harus yakin bawa dirinya pantas dicintai oleh Lie Yuan, dan bahwa Lie Yuan benar-benar mincintainya, jadi berterus teranglah dengan apa yang menjadi keinginan terpendam. Saat itu Akhira sudah menyelidiki bahwa Lili sebenarnya bukanlah orang Korea bahwa identitas Lili semua sudah diganti oleh kakak sepupunya. Akhira juga yakin bahwa kakaknya mencintai Lili melebihi nyawanya.


"Aku tidak jijik, dan membencimu", dengan terbata, Lili mengumpulkan keberanian untuk mengaku, aku..aku...cuma merindukan tanah airku...merindukan keluargaku...merindukan kuliner khas asal negaraku...


Lie Yuan mendongak seketika, matanya melebar oleh binar keterkejutan yang nyata.


"Merindukan tanah air dan keluarga?" ulangnya tak percaya.


Lili berjuang keras untuk melontarkan secara jujur dengan keinginan hatinya yang menjadi perwakilan hatinya. Saat ini Lili memutuskan untuk jujur dengan isi hatinya. Dia pasrah, akan tanggapan Lie Yuan berikutnya.


"Sebenarnya ...aku...selau mual dan muntah ketika mengingat perkataan mu yang mengatakan bahwa aku sudah mati...eksitensiku di dunia ini sudah tidak ada...akta kematianku juga mengingatkannya...aku sedih..aku sungguh merindukan...kehidupanku yang dulu...", ujar Lili pelan sambil menyusutkan air mata yang mulai mengaliri pipinya, suaranya hampir tak terdengar dia menundukan kepalanya, tak berani menatap langsung ke arah mata Lie Yuan.


Keheningan membentang diantara mereka. Lie Yuan sendiri tanpak membeku dengan ekspresi syok nyata yang nyaris menggilas napasnya sehingga dadanya terasa sesak.


Sementara itu, ketika tidak ada suara, gerakan, atau tanggapan apapun dari Lie Yuan, Lili akhirnya mendongakan kepala dan menatap Lie Yuan takut- takut.


"Kau...kau...tidak marah padakukan...?" tanya nya Lirih.


Lie Yuan tergagap, matanya yang semula kosong langsung beralih kembali kearah Lili, menatap tajam seolah ingin masuk dan menelusup kekedalaman jiwa Lili untuk mengetahui isinya


"Kau...kau...merindukan keluargamu? jawabnya terbata seolah ada beban berat di tenggorokannya sehingga suaranya tercekat terlihat tatapan bersalah di matanya


Reaksi Lie Yuan sungguh diluar dugaan . Semula Lili mengira kalau dengan pengakuan dirinya, lelaki itu akan marah besar atau akan menghukumnya tapi Lie Yuan yang berada dihadapannya sekarang , sedang mengacak rambutnya sendiri seolah merasa bersalah dengan tindakannya selama ini, tak menyangka bawa tindakannya selama ini menyakiti perasaan Lili.


Tiba-tiba Lie Yuan seketika beranjak dari duduknya dan naik ke atas ranjang, Lelaki itu berada dekat sekali dengan Lili, lengannya bergerak melingkari tubuh Lili, memeluknya kuat hingga wajah Lili menempel didadanya. Lie Yuan menyembunyikan wajahnya di rambut Lili, bibirnya mengecup di sana dan berucap dengan penuh perasaan.


"Maafkan aku", Ujarnya parau.


Kembali Lili mengerutkan keningnya, dia tidak merasa mual lagi menghirup aroma suaminya, apa karena sudah mengucapkan ke inginannya yang terpendam? Reaksi Lie Yuan sungguh diluar dugaan. Dia mencoba mendongakan kepala, tapi karena pelukan Lie Yuan terlalu kuat dia hanya bisa menempelkan pipinya rapat didada suaminya.


"Apakah kau mau mengijinkan aku pergi mengunjungi negaraku dan bertemu dengan kelurgaku?" tanya Lili penuh harap.


Lie Yuan melonggarkan sedikit pelukannya, tangannya bergerak menagkup pipi Lili, menegadahkan wajah perempuan itu kearahnya, lalu mencium bibirnya dengan begitu lembut. Jika sebelumnya Lie Yuan selalu menyelipkan hasrat membara dan nafsu dalam pangutan bibirnya, tapi kali ini ciuman lelaki ini terasa berbeda. Sebuah ciuman lembut yang sarat dengan kasih sayang yang seolah-olah meluap dari jiwa lelaki itu.


Apakah Lie Yuan akan mengijinkan Lili untuk pulang ke indonesia?..


Tunggu kelanjutannya di part berikutnya.


.....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2