
Di pagi hari Lili terbangun dengan tubuh yang merasa sungguh kelelahan, sebab semalaman sang suami.sedikit pun tidak mau melepaskan diri darinya, nempel terus seperti pacat.
Saat dia membuka mata ternyata Lie Yuan tengah memandanginya dalam-dalam seolah ingin mengukir wajah sang istri dalam ingatan.
Lili merasa kikuk segera dia memalingkan wajahnya ke samping menantap jendela yang sudah terang di tembus sinar sang surya.
"Apa kau tidak merindukan ku selama ini?" ucap Lie Yuan sambil tangannya menarik wajah sang istri sehingga sekarang wajah mereka berhadapan dengan posisi Lili terlentang dan Lie Yuan terlungkup di sisi Lili sebelah tangan nya memeluk pinggang Lili dan menghadihkan sebuah kecupan singkat di bibir sang istri.
"Aku juga sangat....,sangat merindukan dan sangat mencintai mu Tuan muda Lie" Ucap Lili dan menbalas pelukan sang suami.
"Kedepannya jangan pernah meninggalkan ku lagi, apapun yang terjadi, percayalah padaku jangan menggambil keputusan sendiri" Lie Yuan membenamkan wajahnya diantara ceruk Leher sang istri.
Tangan Lili terangkat membelai pungung dan juga rambut sang suami.
"iya, aku tidak akan pergi, tapi berjanjilah padaku untuk selalu memberitahuku apapun yang terjadi". ucap Lili.
Lie Yuan menghujani Lili dengan banyak ciuman dan kehangatan kemabali terjadi dikamar Lili, bukan hanya sekali namun berkali-kali sampai mereka benar-benar merasa kelelahan barulah Lie Yuan melepaskan diri dari tubuh sang istri.
Sedetik kemudian ponsel Lie Yuan berdering, Lie Yuan bangun dan melihat dilayar ada nama sekretaris Lion buru-buru dia mengangkatnya, pasti ada sesuatu yang sangat penting sampai Lion menelpon disaat begitu pribadi bagi Lie Yuan.
"Halo Lion, apa ada hal sangat penting?" tanya Lie Yuan di telpon.
"Maaf Tuan muda, sesuatu terjadi di Perusahanan kita harus kembali ke Korea segera" ucao Lion.
"Baik, bawa pulang anak-anak dari rumah nenek angkatnya, kita segera kembali" Lie yuan bangun dan melilit tubuh bagian bawahnya dengan handuk dia segera masuk ke dalam kamar mandi.
Lili mengerjapkan matanya, dia sempat tertidur setelah, melakukan aktivitas berat bersama sang suami, matanya menatap ke samping tempat tidur dimana suaminya berbaring, ternyata sudah kosong.
"Dia ternyata sudah bangun" batin Lili, segera dia bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya, dia mengikat rambutnya keatas kepala.
Pintu kamar mandi terbuka nampak Lie Yuan sedang keluar dan handuk melilit di pinggangnya butiran air masih berjatuhan dari rambutnya yang basah, membuatnya semakin tampan.
"Apa yang terjadi?" tanya Lili.
"Sepertinya kita harus bergegas kembali ke Korea" jawab Lie Yuan sambil mengenakan pakaian, handuk kecil di sampirkan di bahunya.
"Apa ada yang terjadi dengan kakek? ucap Lili cemas.
"Lion melaporkan ada masalah yang terjadi pada perusahaan, tapi kau jangan khawatir aku akan bisa menyelesaikannya". ucap Lie Yuan.
"Kau bersiaplah kita akan pulang segera". ucap Lie Yuan sambil keluar dari kamar.
Kenzie ,Kenie dan Lion sudah bangun pagi-pagi dan sudah menyiapkan makanan pagi untuk Mommy dan Daddy nya, makanan mereka bawa dari rumah paman Seno, nenek nya membungkuskan makanan untuk mereka semua karena mereka tadi tidak sempat makan.
Mommy ayo makan, nenek sudah membuatkan makanan untuk kita semua, ayo kita makan, masakan nenek juga lezat seperti masakan mommy" ucap Kenie.
Lili merasa sedikit canggung dan kaget melihat mereka bertiga sudah menata makanan diatas meja sementara dia baru baru bangun tidur dengan kelelahan yang mendera seluruh dirinya.
Dia duduk di kursi dan segera mengambilkan makanan untuk kedua anaknya.
"Makan yang banyak ya" ucap Lie Yuan seraya mengecup pipi kedua anak kembarnya.
"Baik daddy" ucap keduanya kompak.
"Lion ayo ikut aku sebentar" Ajak Lie Yuan, Lion mengikuti ke luar, mereka berdua nampak berbicara dengan sangat serius di ruang tamu.
"Mommy, paman Lion bilang kita akan segera pulang ke negara Korea". Ucap Kenzie.
Lili mengangguk, sambil memeluk kedua anaknya. Kenzie melihat raut khawatir dari wajah mommynya.
Kenie melihat, daddynya masuk, segera dia melepaskan diri dari pelukan mommy.
__ADS_1
"Daddy apakah kita akan membeli tiket pesawat untuk pulang ke Korea?" tanya Kenie dengan wajah imut yang mengemaskan.
Lie Yuan mengelus kepala putrinya dengan sayang. " Daddy ada pesawat peribadi, pagi ini kita pergi dari sini dan malam nanti kita langsung bisa berangkat, tidak perlu memesan tiket pesawat".
"Wow...Daddy sungguh luar biasa sekali, kedua bocah kecil ini mendengar daddy nya punya pesawat pribadi, keduanya benaran merasa sangat memujanya.
Lie Yuan merasa begitu dipuja oleh anak sendiri benaran merasakan perasaan yang sangat bahagia.
Dahulu Lie Yuan tidak merasa dirinya punya pesawat pribadi adalah hal yang membangakan, tidak perlu dipamerkan, tapi saat ini dia malah merasakan, pamer bisa membawakan kesenangan dan kenikmatan untuk anak-anak, juga merupakan sebuah hal yang bagus, dia merasa kebahagiaan memenuhi rongga dadanya bermekaran seperti bunga.
"Daddy , apa di Korea ada es krim seperti yang ada di toko mommy" tanya si kecil Kenie.
Kenzie menghadapi adiknya yang sangat hobby makan, melirik sekilas ke arah Kenie sedikit tidak suka.
"Kenie kamu jangan hanya hobby makan nanti badanmu bulat seperti karung goni" ucap Kenzie .
Kenie menyemberutkan bibirnya , seketika air matanya mulai keluar dia memeluk leher daddy nya dan mengadu.
"Daddy, kak Kenzie sudah menindasku" suaranya serak menahan tangis.
"Ih...ih...ih...dasar Kenie, selalu cengeng" ucap Kenzie tidak mau kalah.
Lie Yuan gemas melihat kedua anaknya, sudah pasti suasana rumah akan selalu ramai dengan kehadiran kedua buah hatinya ini, dia memeluk dan menenangkan Kenie dan menegur Kenzie.
"Tentu saja di sana banyak makanan, kamu bisa meminta para koki untuk membuatkan banyak makanan untuk mu, sekarang jangan menangis mari bersiap sebentar lagi kita berangkat.
Sementara itu, Lili saat mendengar pesawat pribadi, sekilas teringat kejadian dahulu saat dirinya lolos dari maut dan tersesat masuk kedalam pesawat pribadi milik tuan muda Lie Yuan, yang membuat dirinya terpisah sampai kini dengan keluarganya, seketika wajahnya menjadi mendung, mengingat kejadian itu dia tidak tahu apakah harus merasa bahagia atau kecewa.
Lie Yuan melirik ke arah Lili melihat rupa wanita yang sudah melahirkan kedua malaikat kecil untuknya, mendidik kedua anak ini menjadi pintar dan mengemaskan seketika hatinya menghangat membayangkan mereka akan bersama selamanya membesarkan anak-anak, dalam hatinya berjanji apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan mereka, kehadiran mereka membuat semangat hidup bangkit kembali setelah enam tahun terasa suram.
"Apakah kau sudah siap, kita akan kembali tidak usah membawakan apapun untuk dirimu dan anak-anak semua keperluan kalian sudah tersedia, bawa yang penting saja" Ucap Lie Yuan.
"baik, aku akan ke rumah Seno untuk menyerahkan pengelolan toko , kebun dan juga kolam ikan arwana" Ucap Lili.
Lili mengambil ponselnya dan menghubungi Seno, memintanya untuk datang ke rumah, saat Seno datang Lie Yuan sengaja tidak ingin ikut campur Lili dalam menyerahkan aset miliknya pada Seno.
Lie Yuan masih di sibukan menjawab pertanyaan kedua anaknya tentang pesawat Pribadi.
"Daddy pesawat peribadi, Deddy belikah?" tanya Kenzie dengan mata berbinar sebab dia paling suka dengan pesawat, dia paling jago mengendalikan pesawat mainan remot kontrol, belum ada temannya yang mampu mengalahkannya saat balapan pesawat mainan pakai remot.
"Omong kosong apa ini, apa ada barang yang tidak di beli?" ucap Kenie mendelik ke arah Kenzie marah, kemudia wajahnya jadi manis saat menatap daddynya dan bertanya: "Apakah Daddy bisa menerbangkan pesawat?"
"Daddy tidak bisa menerbangkan pesawat?" ucap Lie Yuan sambil mencium pipi tembem Kenie.
"Ya daddy, tidak bisa menerbangkan pesawat, suara gadis kecil ini menjadi sedih seketika dia kelilangan kegembiaraannya tadi, melihat ini Lie Yuan merasa serba salah dan tertekan, ternyata menghadapi anak kecil lebih sulit dari menghadapi klien ataupun karyawannya.
"Lalu daddy biasa apa, kalau menerbangkan pesawat tidak bisa?" Kenzie juga bertanya dengan wajah yang kehilangan minat, sebab dipikirannya sang Daddy sangat keren bila menerbangkan pesawat.
"Daddy bisa menembak" Jawab Lie Yuan asal.
"Menembak pesawat ?, daddy tembaknya pakai meriamkanh?, atau peluru kendali, daddy benaran hebat, saya kedepannya apakah bisa belajar denganmu, saya juga ingin belajarbagaimana cara menembak pesawat". Kenzie saat ini benar-benar merasa image daddy di matanya seketika menjadi tinggi besar, berlipat, oleh sebab itu dia bertanya dengan semangat dan senang.
Ekspresi Lie Yuan menjadi kaku sejenak, kemudian dia terpaksa menganggukkan kepala dengan serius. "tentu saja daddy akan mengajarimu tunggu kamu sudah besar".
"hore...hore...hore saya akan bisa sehebat dirimu daddy". Si kecil Kenzie melompat-lompat sambil membelalakan matanya kegirangan.
Ya ampun didalam hati Lie Yuan sungguh kwalahan menghadapi kelakuan dan juga pertanyaan dari kedua buah hatinya, takut salah menjawab dan akan berakibat salah pengertian dari kedua anaknya, dalam hati Lie Yuan sangat memuja seorang ibu yang begitu sabar dalam mendidik dan juga merawat anak-anak.
"Sudah, jangan banyak tanya lagi, sekarang mari kita bersiap-siap sebentar lagi akan berangkat" Lie Yuan ingin menyudahi pertanyaan kedua anaknya.
"Tapi daddy, saya bertanya satu lagi pertanyaan ya, apa di atas pesawat pribadimu, apakah pernah membawa wanita lain, pergi main?" Kenzie memandang langsung ke mata Daddy nya dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Haiya...putraku ini mewarisi watak siapa? dalam hati tersenyum penuh perhitungan dan juga cerdik sungguh cerminan diriku".
"Tentu saja tidak ada, mommymu yang peryama, daddy jamin.
"Tapi bukankan kita baru bertemu bagaimana bisa mommy yanh pertama menaiki pesawat peribadimu daddy". Kenzie masih bertanya penasaran.
Nah saat ini Lie Yuan benaran tidak bisa menjawab pertanyaan putranya, tidak mungkinkan dia bilang bahwa, dia menyandra mommynya saat salah masuk pesat, tidak mungkin juga mengatakan bahwa mommynya adalah target cintanya, yang sudah ditargetkan dari sejak dahulu, takutnya otak kecil putranya belum bisa mencerna.
Baru pertama kali dalam hidupnya merasa kalah, dan tidak bisa menjawab pertanyaan orang, Lie Yuan masih terdiam tanpa kata, saat dia terdesak.
Sementara itu di luar ruangan Lili mendengar percakapan terakhir dari putranya, dia tersenyum pahit, sebenarnya dirinya juga ingin mengatakan dan mendatangi orang tuanya, mengatakan bahwa dia masih hidup, tapi mungkin waktunya belum tepat.
Sebelum masuk keruangan tempat suami dan anaknya, dia menguatkan hatinya dan tersenyum pada mereka.
"Kenzie, Kenie apa kalian sudah menyiapkan barang yang ingin kalian bawa?" Pertanyaan Lili, seketika mengalihkan kedua anak itu dan menghambur kekamarnya.
"Bawa yang menurutmu paling penting saja" lanjut Lili.
"Baik Mom", ucap keduanya kompak.
"Apakah sudah selesai mengurus segala sesuatunya di sini" tanya Lie Yuan sedikit cangung dia masih merasa bersalah, merasa tersentil dengan pertanyaan putrannya tadi.
"Sudah, tadi Seno dan Lion sudah pergi ke sekolah anak-anak untuk menyelesaiakan dan juga pamit pada guru - guru memberitahukan Kenzie dan Kenie tidak bersekolah di sana lagi, dan aku juga sudah menyerahkan asetku di sini untuk di kelola Seno"
"Baguslah sekarang kita bersiap" ucap Lie Yuan.
"Seno, Ibu dan juga metha, terima kasih ya kalian sudah merawat dan menerima kami di sini selama ini, kali ini suamiku sudah menjemputku dan kami akan kembali bersamanya malam ini, ucap Lili berpamitan pada keluarga yang sudah menolongnya , keluarga yang sudah seperti keluarga kandung.
"Kenzie, Kenie, kalian model cilik toko onlineku, kalian akan meninggalkan bibi, sangat sedih ucap Metha istri Seno, penuh kecewa sambil tertawa memeluk kedua nya.
"Kalian baik-baiklah di sana tetap berhubungan dengan kami di sini, ucap Seno" sambil memeluk dan mencium kedua anak kembar kesayangannya ini, mereka sudah seperti keponakan sendiri.
Paman seno, nenek dan bibi Metha kami pasti akan berkunjung lagi kesini, kami pasti mengunjungi kalian lagi" Janji Kenzie dan Kenie kompak.
"Oh ya ampun kalian memang selalu jadi kesayangan bibi" ucap Metha sambil memeluk dan mencium keduanya.
"Terima kasih, sudah menyelamatkan nyawa istri dan kedua anakku" Lie Yuan mengulurkan tanganya menyalami Seno.
Lion maju memberika selembar cek pada Seno.
"Terima lah ini sebagai ucapan terima kasih dari Tuan muda " ucap Lion.
Seno melihat, nominal pada cek yang diberikan Lion terpana melihat angka yang begitu fantastis.
"Maaf tuan kami tidak bisa menerinanya, selama ini kehidupan kami sudah cukup terbantu oleh kak Lili, lagi pula Tuhan sudah mengirimi kami seseoeang sebagai keluarga, bagi kami itu sudah cukup lebih bernilai dari materi" ucap Seno dan mengembalikan cek itu pada Lion.
"Tapi", ucap Lion sambil melirik tuan muda.
Melihat suasana cangung, Lili maju dan menyerahkan lagi cek iru pada Seno. " Terimalah anggap aku memohon sebagai gajimu mengelola asetku yang ada di sini" ucap Lili sambil menjejalkan cek itu ke tangan Seno.
"Baiklah kakak, terima kasih " ucap Seno masih merasa sesikit sungkan.
Setelah selesai berpamitan rombongan Lie Yuan pergi meninggalan kota temoat kelahiran Kenzie dan Kenie menuju ke temapt pesawat pribadi Lie Yuan dan malamnya mereka akan menuju Korea.
Semoga mereka bisa menyelesaikan masalah yang ada di Korea.
Kira -kira masalah apa ya yang menunggu mereka di sana.
Jangan lupa dukung Author dengan Like komentar dan juga vote.
semoga kalian suka dengan cerita ini.
__ADS_1
Bersambung.