
Sepanjang malam pria itu selalu memeluk istrinya, seolah takut akan terpisahkan lagi.
"Lili, setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik, aku takut tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, aku bangun berlutut dan berdoa mengadu semua perasaan yang aku rasakan selama kehilangan mu pada Tuhan" Lie Yuan beranjak dari tempat tidur dan mengambil sebuah buku diary kecil dari dalam tas nya dan menyerahkan pada Lili.
Dengan perasaan binggung sekaligus penasaran Lili mulai membuka buku tersebut, matanya terbelalak saat melihat lembaran kertas yang bertuliskan namanya dan juga banyak kata-kata puitis tergores dengan rapi menggunakan tinta emas.
Pada lembaran pertama terpampang foto saat Lili kecil dan di bawah foto tersebut bertuliskan kata-kata indah.
"Liliana Kim, kau adalah hatiku, jantungku, nafasmu adalah jiwaku, aku adalah takdirmu dahulu maupun sekarang, jangan menyerah, jangan berhenti untuk mencintaiku, tetaplah berdetak untuk ku, tetaplah terjaga untuk anak-anak kita"
dengan tangan gemetar Lili terus membuka lembar demi lembar tulisan indah yang tergores di buku diary suaminya, tak terasa air matanya menetes ternyata selama ini bukan hanya dirinya yang merasakan kerinduan dan juga penderitaan.
Begitu banyak harapan dan doa yang dipanjatkan sang suami, dan pada halaman terakhir bertuliskan kata-kata yang sedikit putus asa.
"Jika aku tidak bisa menemukanmu dalam dunia ini, ingatlah bahwa aku akan bersamamu selamanya, ingatlah bahwa aku akan selalu mengawasimu, cintaku akan selalu hidup, abadi dalam dirimu meskipun kau sudah tiada" dan di lembaran diary terakhir sedikit kusam seperti terkena air, tak terasa tangan Lili meraba bekas air yang membuat kusam lembaran kertas itu.
"Bagian ini aku seakan kehilangan jiwaku sehingga aku menggeluarkan air mata" ucap Lie Yuan dengan masih memeluk erat tubuh istrinya.
Peria itu memeluk istrinya, menyandarkan kepalanya di bahu sang istri, matanya menerawang melihat langit-langit kamar lalau dia berucap.
"Setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik, orang melihat aku adalah pria yang arogan, dingin dan tanpa belas kasihan, tidak ada yang tahu bahwa aku sangat takut tidak bisa bertemu denganmu lagi dan tidak akan pernah melihat anak-anak kita. Aku menuliskan semua perasaanku di buku diary, karena aku tidak mungkin mrngatakan pada orang lain tidak ada orang yang benar-benar aku percaya kecuali kakek dan juga Lion"
"Sayang, dirimu adalah segalanya untuk ku, jika memang aku tidak bisa menemukanmu maka kertas-kertas ini akan aku bakar agar dia datang memberitahumu bahwa aku hidup dalam detak jantungmu, cinta ini tidak akan pernah sirna"
"Sungguhkah itu?" tanya Lili
__ADS_1
"aku akan hidup kesepian seumur hidupku , tidak akan ada yang bisa mengantikanmu dihatiku" ucap Lie Yuan semakin memeluk erat sang istri dan mencium pucuk kepalanya, menengelamkan wajahnya di antara rambut dan leher sang istri sambil berbisik ditelinga Lili " aku mencintaimu melebihi apapun didunia ini"
"Mengapa kau tega tidak memberi kabar padaku" tanya Lie Yuan dengan mata yang berkabut.
"Maafkan aku, aku trauma hampir mati ditengelamkan di laut, aku takut memberitahumu sebab nomor yang mengirim pesan itu adalah nomormu" ucap Lili juga terisak.
"Bodoh,! apa kamu tidak percaya pada suamimu, apa mungkin aku melakukan hal yang akan menyakitimu" tanya Lie Yuan menguncang bahu Lili dan menghapus air mata yang menetes di kedua matanya.
"Berhentilah menangis, sekarang kita sudah berkumpul kembali, aku berjanji padamu dan anak-anak bahwa kedepannya akan menyiapkan sistem pengamanan berlapis agar tidak akan ada musuh yang bisa menyelinap" Lie Yuan membelai lembut pipi mulus sang istri.
"Saat mereka kembali berciuman, tidak disadari suara perut Lili berbunyi " Kriyukk..." tanda lapar sebab dari siang mereka berdua di kamra sampai malam menunjukan jam delapan malam jadi wajarlah perut lapar apalagi aktifitas yang merekalakukan dikamar cukup mengguras tenaga dan juga emosi.
"Apa kau lapar?' tanya Lie Yuan menghentikan aksinya mencium Lili sekketika mendengar bunyi perut nya.
"Ia aku lapar dari siang makan hanya sedikit" Lili menjawab malu.
Lili lanjut membaca tulisan di diarry sang suami.
" Tidak ada yang bisa menggantikanmu, kau adalah segalannya untukku, hari ini, esok dan selamanya adalah milikmu, tolang kembalilah sayang".
"Bidadariku, Ratuku, kalian adalah belahan jiwaku, kenanganku, kenang aku dan peluk Tuhan sebagai gantinya. Ingat aku bersama-Nya" Lili termenung membaca kalimat ini, sepertinya sang suami sudah mulai putus asa.
Kemudian dia membalik kertas lagi ``````````berikutnya, nampak lagi tulisan berbunyi :
"Hari ini adalah peringatan kepergianmu, aku menolak mengatakan bahwa kau sudah tiada, aku pergi ke Kapel tua yang ada di gunung aku berpuasa dan berdoa masih mengharapkan muzisat nyata, setelah hari ini aku akan menerima sekenario yang sudah diatur sang pencipta jika memang tidak ada petunjuk lagi, aku akan merelakan kepergianmu selamanya"
__ADS_1
Kemudian Lili lanjut lagi membuka lembaran berikutnya, masih nampak tulisan tangan sang suami.
"Hari ini aku menatap langit, dan aku ingin melihat tempat disana, apakah kau ada diatas sana menatap padaku?"
"astaga, suamiku sangat menderita saat kehilanganku, sungguh berdosa selama ini aku menyembunyikan diri darinya" gumam Lili.
Saat ini dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang masih tersisa ini, segera dia membuka pintu kamar dan menerobos ke dapur melihat sang suami lagi menyiapkan makanan untuknya, segera dia berlari dan memeluk sang suami.
"Maafkan aku sayang, selama ini aku telah salah menilaimu" ucap Lili terisak, "aku kira kau bersekongkal dengan Jessy untuk menyingkirkanku"
"Sssssttt....Kita nikmati momen pertemuan ini, berterima kasihlah pada Tuhan Dia sungguh baik sudah mempertemukan kita sekarang, kita nikmati dengan kesenangan, jangan bersedih lagi" Lie Yuan memeluk dan ******* bibir sang istri dengan penuh kelembutan.
Dengan penuh kelembutan Lie Yuan mendudukan sang istri di kursi, menyupinya dengan makanan, "Sekarang makan yang banyak, karena setelah ini akan ada pekerjaan besar yang akan kita lakukan" Lie Yuan terus menyuapi sang istri dengan stick yang dia masak.
"Pekerjaan apa lagi, ini sudah malam " jawab Lili cemberut.
"Hai...,nyonya makan saja dulu, jangan banyak tanya" Lie Yuan terus menyuapkan makanan ke Lili dan juga menyuapi dirinya, mereka makan sepiring berdua.
Setelah selesai makan, Lili berjalan ke tempat cuci piring, tapi belum sempat dia mencuci piring tiba- tiba Lie Yuan mengendongnya ala Bridal Style menuju ke kamar dan membaringkannya di ranjang, lalu menindihnya.
"Tuan Muda, apa yang ingin kau lakukan" Tanya Lili dengan wajah bersemu merah, saat ditatap sang suami.
"Kita akan berkerja sama untuk memberikan Kenzie dan Kenie adik" Lie Yuan mulai melancarkan aksinya untuk mencumbu sang istri, dan pekerjan berat yang menguras tenaga sampai keringat bercucuran mereka laku kan lagi di kamar tidur mereka, mereka melupakan sejenak masalah yang akan menanti mereka di Korea, pertemuan ini benar-benar mereka manfaatkan untuk saling melepas rindu.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komentar dan juga Vote .
Terima Kasih.