
Lie Yuan menunggu Lili di sebuah ruangan VVIP sebuah rumah sakit karena hari ini adalah jadwal Lili memeriksakan ke hamilannya dan mereka berencana menentukan tanggal persalinan yang akan dilakukam secara cesar. Sudah hampir dua jam menunggu beberapa kali dia melirik jam di pergelangan tangannya.
"Mengapa dia lama sekali sampai". Ucap Tuan Lie Yuan dalam hati. Ponsel Lili tidak aktif sehingga membuatnya kesulitan menghubunginya, sementara dia menelpon ke Mension dan jawaban dari sana mengatakan bahwa nona Lili sudah dari jam 11 siang tadi pergi dari Mension.
"Bibi apakah dia mengatakan akan pergi kemana?" tanya Lie Yuan sebab tidak mungkin dia melupakan janji pada sore ini memeriksa buah hati mereka di rumah sakit dr. Jhonathan atau biasa di panggil Nathan.
Merasa sumpek di dalam sendirian, Lie Yuan berjalan menuju taman di rooftop dan duduk di sana diatas kursi taman.
Jessy melihat Lie Yuan duduk sendirian di taman dan menghampirinya.
"Kak Yuan, apakah kau sedang menunggu istrimu?" tanya Jessy.
"Apakah ada yang sakit dan ingin cek up?"
"Tidak , hanya ingin periksa kandungan saja" Lie Yuan menjawab acuh tak acuh dan masih mencoba menghubungi ponsel Lili tetapi masih saja tidak aktif dan di luar jangkauan.
Sebenarnya dia kemana?
"Kamu kenapa bisa ada di sini" Lie Yuan bertanya pada Jessy sambil masih menatap layar ponselnya.
"Hanya Cek Up biasa" jawab Jessy.
"Apa kau sudah mencoba menghubungi istrimu kak ?" tanya Jessy sambil duduk di sebelah Lie Yuan di bangku taman rooftop.
"Ponselnya tidak aktif" jawab Lie Yuan.
Beberapa kali Lie Yuan mencoba menghubungi Lili dan selalu mesin yang menjawab, ponsel tidak aktif.
Hujan gerimis nampaknya akan segera turun " Kak Yuan sebaiknya kita menunggu disana" ucap Jessy sambil menunjuk kursi di depan tanaman bunga gantung. Hari sudah semakin sore dan entah mengapa hati Lie Yuan terasa berdebar gelisah , mungkin karena menunggu dan tidak bisa memperoleh kabar Lili. Telpon supir yang biasa mengantar Lili juga tidak aktif.
"Aku masuk saja" Lie yuan menjawab sambil berjalan menuruni tangga rooftop.
Sekarang sudah hampir 3 jam lebih namun Lili tidak kunjung tiba datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, di hubungi juga tidak bisa sekarang Lie Yuan benar-benar panik dan khuatir hanya saja dia masih terlihat tenang.
"Kakak aku akan menemani kamu menunggu" Jessy masih selalu membuntuti Lie Yuan.
"Tidak perlu sebaiknya kamu pulang, dan aku juga akan kembali ke rumah" Ucap Lie Yuan seraya melangkah keruangan Nathan.
"Dimana kakak ipar?" tanya Nathan melihat hanya Lie Yuan saja yang masuk.
"Sepertinya hari ini pemeriksaan kandungan ditunda" Lie Yuan melangkah keluar dari ruang Nathan, lalu berjalan terburu-buru menuju lift dan turun kebawah.
Sampai diparkiran Lion sudah menunggu dan membukakan pintu. Lie Yuan masuk dan berbicara pada Lion.
"Lion, Lili tidak datang dan ponsel tidak aktif , dia sudah pergi dari Mension sejak jam 11 siang, coba cek" Perintah Lie Yuan dengan raut wajah datar.
"Baik Tuan" Lion menghubungi rekannya yang bertugas menjaga gerbang menanyakan apakah benar nyonya sudah pergi sejak pagi tadi.
Beberapa saat kemudian Lion masuk dan memberitahukan bahwa betul nyonya Lili sudah keluar sejak jam 11 pagi ini.
"Coba cek ponselnya dia pergi kemana dan apa ada orang yang menghubunginya sebelum pergi" perintah tuan Lie supaya mengecek pangilan dan juga pesan dari ppnsel istrinya.
Kemudian Lion menghubungi bagian IT perusahanan untuk menghack ponsel Lili. "Sambil menunggu kita pergi kemana Tuan?" tanya Lion.
"Kembali ke Mension," Jawab Lie Yuan dengan perasaan tidak menentu.
"Apa yang terjadi padanya mengapa perasaan ini tidak enak" batin Lie Yuan.
Sesamapai di mension mereka langsung menuju ruang kerja. Selang beberapa lama kemudian ada pemberitahuan di ponsel Lion bahwa orang yang terakhir mengirim surel adalah Lie Yuan dan mengatakan ingin mengajak makan siang di restoran pinggir pantai selatan daerah ini.
"Apa! aku tidak pernah mengirim pesan dan mengajak istriku makan di restoran pinggir pantai apa lagi pantai yang jauh, siapa yang membocor kan id surel ku?" Lie Yuan namapak panik sudah pasti sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada istrinya.
__ADS_1
"Kirim orang-orang untuk menyelidiki ke sana, ucap Lie Yuan sambil bergegas menuruni tangga. Sekarang hatinya benar-benar sangat panik.
****
Sebelumnya di Mension keluarga Lie.
Lili sedang mengemas beberapa pakaian bayi kedalam tas kecil, semua perlengkapan bayi dimasukan kedalam tas kecil, masing-masing dua pasang karena dia akan melahirkan bayi kembar maka semua perlengkapan bayi dibuat dua pasang.
"Lelahnya " ucap Lili seraya bersandar di sofa kamar sambil memijet punggung dan kakinya yang sudah membengkak.
Sang buah hati di dalam perut Lili pun sedang aktif bergerak kesana kemari membuatnya meringis.
"Hei...apa kalian sudah ingin keluar dari perut bunda?" ucapnya sambil jarinya membelai lembut perutnya yang menonjol akibat pergerakan bayinya ini dan seakan mengerti mereka bergerak lagi berirama.
Tiba-tiba ponselnya berdering terlihat notifikasi pesan masuk dari suaminya.
"Sayang kita makan siang di restoran king tam sambil melihat pemandangan laut aku tunggu kamu sekarang" isi pesan dari suaminya.
"aiss...apa katanya mau kerumah sakit,.periksa kandungan kok malah ngajak makan sih" gerutu Lili membalas pesan suaminya.
"nanti kita langsung berangkat dari sana bawa semua perlengkapan bayi dan juga perlengkapan kamu ya". balas suaminya.
"Ia sudah di siapkan semua" balas Lili.
Lili menyiapakan beberapa pakaian gantinya memasukan dompet dan beberapa perlengkapan pribadinya.
"Kamu turun bersama supir sekarang dia sudah berada di depan memsion untuk menjemputmu" isi pesan dari suaminya.
Sesampai di bawah Lili berpapasan dengan bibi Lin. Non Lili mau kemana kenapa bawa tas dan banyak barang" ucap bibi Lin menegur Lili dan mengambil alih barang-barang yang ada di tanggan nya.
"Mau makan siang bersama tuan muda dan sore kerumah sakit bersama suamiku bi, aku di minta bawa keperluan bayi , nanti saat dipriksa jika sudah waktunya aku akan menjalani operasi cesar" ucap Lili sambil melangkah keluar mension.
Sopir membukakan pintu tanpa bicara dan wajahnya pun tertutup topi, dia membuka kan pintu mempersilakan Lili masuk tanpa bicara.
"Kenapa pak sopir hari ini kelihatan beda ya agak pendiam" Gumam Lili dalam hati ada sedikit perasaan tidak nyaman entah apa dia pun tidak tahu hanya ada rasa berdebar-debar.
Sudah hampir setengah jam perjalanan mobil belum juga sampai dan ponsel tidak ada sinyal, perjalanan mobil melaju di pesisir pantai yang nampak sepi, sebenarnya ini menuju kemana kok jauh sekali.
"Pak apa perjalanan ini masih jauh" tanya Lili pada sopir, namun sang sopir tidak menjawabnya.
Tiba-tiba mobil berhenti di pingir jalan dekat pantai yang sepi.
nampak seorang wanita yang wajahnya tertutup masker , keluar dari dalam mobil lain yang singgah di depan mobil yang ditumpangi Lili, dia keluar dan membuka pintu mobil yang di tumpangi Lili, dia berjongkok dan mencubit dagu Lili.
"Kamu juga jangan berpikir bahwa suamimu akan datang untuk menyelamatkanmu. Dia tidak akan datang, untuk menyelamatkanmu, hal ini dia sendiri yang sudah merencanakannya dan diam-diam menhabiskanmu seolah-olah sebuah kecalakaan" ucap wanita itu, dia menunjuk kearah lautan di luar jendela mobil.
"Ini akan menjadi tempat pemakamanmu" Ucapnya sambil membanting pintu mobil.
"Lakukan tanpa jejak, lemparkan mayatnya ke laut bersama mobil ini" perintahnya pada sopir itu.
"Baik nona" ucapnya sambil menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Dan mobil wanita itu juga melaju ke arah yang berlawanan.
"Tidak tahu apa yang dilakukan gadis itu sampai membuat Lie Yuan menyukainya sekarang akan ku buat kau mati . " gumam gadis itu sambil melaju pergi.
Seolah terbangun dari tidur dan mimpi aneh , barulah Lili menyadari ternyata dirinya berada dalam bahaya.
"Pak sebenarnya apa yang ingin dilakukan padaku?" apa salah ku, pak tolong jangan bunuh aku," mohon Lili sambil menangis sekarang dia benar-benar takut, sementara mobil terus melaju kencang dan sekarang benar-benar menuju tempat yang sepi dan tidak berpenghuni, Lili terus berdoa dan mencoba menghiba meminta belas kasihan supaya melepaskannya, namun tidak sepatah katapun terucap balasan dari mulut sopir yang terus melaju memacu mobil.
Hingga sampai pada ujung jalan nampaknya seperti dermaga yang sudah tidak dipakai lagi, mobil tiba-tiba berhenti dan sang sopir memmbuka pintu dan menarik Lili untuk keluar.
"Tuan, tolong jangan bunuh aku dan bayiku, aku akan sangat berterima kasih bila tuan mau menyelamatkan aku aku akan pergi dan tidak akan mrngatakan apapun" Ucap Lili sambil berlutut.
__ADS_1
Sekarang kamu boleh lari dan bersembunyi, biar keberuntunganlah yang akan bisa menyelamatkanmu, istriku juga sedang hamil dan aku tidak tega membunuhmu, tapi berjanjilah padaku kamu jangan sampai muncul lagi dihadapanku dan bosku, karena kalau sampai kamu muncul maka kita berdua akan dihabisi" Ucap sang sopir sambil berjongkok di hadapan Lili.
"Baik tuan terima Kasih" ucap Lili sambil mengatupkan tangan didepan dada, dan berdiri hendak pergi, sebelum sempat pergi sang sopir menepuk pundaknya ,seketika Lili.merasa badannya lemas tak bertenaga, dia terduduk kembali ditanah.
Kemudia sang sopir masuk kemobil dan menghidupkan mesin mobil , mengambil tas tangan Lili, membuang ponselnya kedalam mobil dan menabrakan mobil ke tiang dermaga, setelah mobil hampir hancur dibagian depannya dia keluar dan mendorong mobil beserta barang-barang pribadi Lili kedalam laut hingga tengelam.
"Nyonya, semoga keberuntungan datang padamu, semoga ada orang yang akan menolongmu, aku tidak bisa membantumu lagi" ucap sopir itu lalu pergi menjauh menuju sepeda motor yang di sembunuikan di sekitar daerah itu, dan melaju pergi meninggalkan Lili yang setengah pingsan.
Setengah mati Lili berusaha menahan agar dirinya terus sadar dan berusaha melawan rasa lemas, tangan satunya betumpu pada tanah dan tangan satunya mengelus perutnya.
"Sayang kalian bantu mommy agar kita bisa lari dan terhindar dari bahaya sebelum para penjahat itu datang kita harus sudah lari dari sini" Dengan sekuat tenaga Lili berlutut dan bangun, kedua tangannya bertumpu menekan tanah untuk bangun, akhirnya dia bangun dan berjalan, dia meraih tas tangan yang tadi di lempar penjahat didepannya, dia berjalan dan pergi menjauh dari dermaga.
Sekarang hari sudah sore, Lili terus berjalan meyusuri pantai dia tidak tahu arah dan juga tujuannya.
Rasa lelah ,haus dan juga lapar, kakinya pun sudah gemetar karena Lelah, namun dia terus berjalan , dia harus pergi jauh dari tempat ini jangan sampai penjahat itu menemukannya.
Beberapa kali dia hampir terjatuh namun dia tetap bangun kembali, hingga pandangan matanya menjadi gelap dan kabur tidak bisa melihat dia pingsan! hari hujan gerimis sepertinya badai akan datang dan Lili sudah pingsan terbaring di pingir pantai.
Di pantai huan jing nampak seorang pemuda menjinjing tas rangsel dipunggungnya sedang berjalan menyusuri pantai.
"Hendro aku sekarang ada di pantai huan jing, jemput aku kena deportasi, paspor dan juga visa ku hilang sekarang aku didevortasi sebagai pendatang ilegal, jemput aku ya. aku akan ikut kapal nelayan untuk pulang" ucapnya di telpon sambil berjalan menuju bibir pantai.
Tiba-tiba kaki nya tersandung dan dia hampir terjatuh, saat dia melihat benda apa yang membuat dia tersandung, matanya terbelalak melihat sesosok perumpuan dengan perut buncit tergeletak di bibir pantai.
"Astaga ada mayat di sini" Ucapnya ketakutan dan ingin lari menghindari, seketika dia merinding dia berlari menjauhi sosok yang tergeletak itu.
Selang beberapa langkah dia lari tiba-tiba dia mendengar suara seperti meminta tolong dari sosok itu, suara lemah ,pemuda itu memberanikan diri untuk menoleh kebelakan dan dia melihat tangan perempuan itu melambai-lambai kearahnya sambil berusaha bangun dengan kepayahan.
"Siapapun itu tolong aku dan bayiku bawa aku pergi dari sini" ucap Lili dengan suara lemah.
"Siapa kamu, apa kamu hantu?" tanya pemuda itu takut-takut sambil mengambil ancang-ancang untuk pergi, namun hati nuraninya tidak tega.
"Aku bukan hantu, tolong aku, bawa aku pergi dari sini, ada yang ingin membunuhku dan bayiku" ucao Lili sambil berusaha duduk.
"Baiklah" ucap pemuda itu sambil terus waspada namun dia sudah berjalan menghampiri Lili.
"Apa kamu punya air atau makanan?" tanya Lili ketika melihat pemuda itu berjalan menghampirinya namun tetap seperti takut, Lili berusaha tersenyum melihat tampang lucu pemuda itu.
"Sepertinya kamu bukan orang sini, ucap Lili mengunakan bahasa Indonesia, sebab Lili melihat wajah pemuda itu seperti orang Indonesia.
"Hai, kakak juga orang Indonesiakah?" tanya pemuda itu sambil cepat berjalan menghampiri Lili dan memberikan sebotol air mineral kepada Lili, sekarang dia sudah tidak takut lagi, dia yakin orang ini bukan hantu.
"Apa yang terjadi padamu kak?" kenapa kamu bisa ada di sini?" ucapnya.
Lili tidak menjawab segera dia meminum air mineral dan beranjak berdiri. "Sekarang bukan waktunya untuk bercerita yang penting ayo kita pergi dulu ucap Lili sambil menarik tangan pemuda itu.
"Baik kak kita pulang kampung halaman, sebentar lagi perahu temanku akan menjemput kita, aku juga kabur dari kejaran polisi yang ingin menangkap dan mendevortasiku akibat dianggap pendatang ilegal" pemuda itu menjawab Lili, sambil tangannya menarik Lili menuju pantai saat dia melihat lampu kapal mendekat.
"Itu mereka kak, ayo kita pergi" ucap pemuda itu sambil melambaikan kain ke arah kapal nelayan itu.
Kapalpun merapat, ternyata kapal kecil, sebenarnya sangat bahaya naik kapal kecil disuasana badai seperti ini, tapi mau bagaimana lagi dari pada mati di tangan penjahat batin Lili.
"Kami di sini" ucap pemuda itu sambil berteriak melambai.
"Seno, siapa yang kamu bawa itu, kapal kita tidak muat" ucap orang yang ada didalam kapal kecil itu.
"Buang barang yang tidak penting, kita tidak bisa meninggalkannya sendiri di sini ucap pemuda itu yang ternyata bernama Seno.
"Astaga baiklah, mereka terpaksa membuang beberapa karung makanan dan pakaian, hingga kapal muat mengangkut mereka menuju kapal induk yang akan memnawa mereka meninggalkan negara itu.
Bersambung.
__ADS_1