
Seperti biasanya, pagi ini Luna dengan santainya bangun siang dan duduk melamun menatap keluar jendela. Rambutnya acak-acakan dan baju kemeja yang besar yang tidak terkancing sempurna di bagian atas membuatnya terbuka dan terlihat seksi.
"Hoamz!" Jelita kembali merebah dan berguling guling di kasur dengan rasa malas yang masih menggelayutinya.
Sedangkan di tempat lain.
Seorang lelaki yang sudah bangun sedari pagi kini tengah sibuk mengerjakan beberapa dokumen penting yang mengantri di atas meja kerjanya.
"Desta! Mana kopi saya?" Seru Agus dari panggilan telepon seluler memerintah asisten untuk membawakan kopi.
"Iya Pak, segera." Jawab Desta sambil setengah berlari menuju ke cafe depan kantor.
Desta berlari tergesa-gesa dengan membawa cup kopi di tangannya. Desta tau benar akan terkena masalah besar pagi ini karena rasa kopi yang mungkin di akan dirasa berbeda oleh Bossnya.
"Mbak, Luna kenapa belum berangkat sih pagi ini. Pasti rasanya beda deh." Gerutu Desta sambil terus berjalan memasuki kantor.
Di tempat lain.
"Hua.....! Hua....! Tega banget kamu sama aku Mas. Tega kalian!" Tangis Luna dengan mulut yang terus mengoceh sambil melihat foto yang ada di ponselnya.
Semalam Luna baru saja menangkap basah pacarnya berselingkuh dengan temannya sendiri. Hal itu membuat Luna menjadi kacau, sedih, dan terbuang.
"Udah deh Na, Ga usah di tangisin lagi. Laki laki ga cuma Deri doang." Kata Veni yang sibuk bersiap untuk berangkat kerja.
"Hua, kamu enak bisa bilang seperti itu karena sebentar lagi akan menikah. Rio sangat baik dan setia. Lalu aku?"
"Aku sudah gagal berkali kali Ven. Kamu tau ga sih aku rapuh, aku hancur, aku sedih. Hua....!" Tangis Luna menggema memenuhi ruangan kamarnya.
"Oke oke. Terusin aja nangisnya, terserah kamu. Aku mau berangkat dulu. Sarapannya sudah aku siapkan." Veni berangkat kerja dan meninggalkan Luna sendiri hanya dengan Katty.
Katty adalah kucing mereka, Luna sangat menyukai kucing. Luna dan Veni tinggal di apartemen bersama ya tentunya untuk mencari keringanan. Luna menyewakan unit apartemennya kepada sahabatnya yaitu Veni. Veni hanya membayar separuh harga sewa karena Luna juga masih menempatinya.
__ADS_1
Luna benar benar butuh uang karena Dua tahun yang lalu, pacarnya menipunya dengan menjual mobil Luna yang masih memiliki cicilan dengan nama Luna sebagai peminjam. Luna benar benar sial selama menjalin hubungan percintaan.
Luna selalu gagal, dan menderita. Tapi keyakinan di dalam hatinya yang selalu bisa membuatnya untuk bangkit dan menjadi gadis tangguh. Meski berkali kali gagal, Luna tidak pernah jera untuk mencari kekasih. Semua berawal "dari mimpinya.
Luna sering sekali bermimpi berjalan bersama seorang pria tampan yang menggandeng tangannya dan berjalan bersama di tepi pantai dengan senyum yang menghiasi wajah keduanya.
"Tuhan! Kapan kau pertemukan aku dengan laki laki yang ada di dalam mimpiku. Siapa dia?" Teriak Luna sambil menarik handuk dan berteriak di balkon.
"Air, oh air. Kenapa kamu bersikap dingin. Apa salahku padamu huh? Apa dosaku padamu? Hua...!" Luna berbicara dengan shower sambil menangis.
Terdengar pintu terbuka, dengan langkah kaki yang mengiringi. Luna mendengarkan dengan seksama mendengarkan derap langkah kaki. Luna merasa sedikit takut dengan detak jantung yang mulai berlari maraton.
"Lun, Luna!" Teriak Caca dari luar kamar mandi.
Luna mengelus dadanya dan bernafas lega mengenali suara yang sangat familiar.Ternyata derap langkah kaki itu adalah Caca sahabat baiknya.
"Iya, Ca. Nanti aku masih mandi." Sahut Luna dan kembali melanjutkan mandinya.
Kenapakah dia ini pagi pagi kesini. Batin Luna sambil menggosok tubuhnya di bawah guyuran shower. Luna berjalan keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk setinggi lutut dan handuk yang masih membalut kepalanya.
Luna tau benar akan watak sahabatnya ini. Caca akan sekuat mungkin menjaga sahabat shabatnya dari hal hal buruk. Peranannya sudah seperti satpam dalam ruang lingkup pertemanan mereka.
"Ngapain, ga penting lah Ca. Ini juga kali pertqma kan gue selalu gagal disakitin, dihianatin atau bahkan di tipu."
"Jadi ya, udahlah. Selow aja Ca." Ucap Luna dengan santainya.
Caca terdiam sambil menatap tajam Luna yang kini mulai memakai baju. Caca juga paham benar Luna berkali kali selalu mendapatkan lelaki yang salah di dalam hidupnya.
"Memang kamu nge Gap di mana mereka?" Tanya Caca penasaran.
"Di hotel." Jawab Luna singkat.
__ADS_1
"Hotel? Wah kebangetan tuh anak. Eh tapi, lu juga ngapain di hotel?" Tanya Luna lagi.
"Jadi gini. Kebetulan malam itu, lu tau kan kantor gede yang ada di depan Cafe and Resto gue?"
"Iya" Caca mengangguk.
"Nah, dia ada acara tuh. Merayakan apa gitu dapet tender. Terus mereka order dari resto gue. Acara mereka tuh kayak undian menginap di hotel gitu loh dor prisenya." Jeda Luna mengambil nafas.
"Nah pas gue lagi kasihin orderan mereka. Gue liat si Risna sama si Deri lagi reservasi kamar." Kata Luna.
"Lu lantak dong pasti, lu Jambak Jambak dong?" Kata Caca berharap Luna bertindak tegas.
Luna menggeleng dan mulai menangis keras lagi.
" Gue ga lakuin apa apa Ca. Gue diem aja terus pergi. Buat apa gue marah marah disaat Tuhan nunjukkin sesuatu yang ternyata sedari dulu itu Deri cuma manfaatin gue. Harusnya gue tersenyum dan bilang makasih dong. Ya kan Ca?" Ucap Luna sambil menangis sesenggukan.
"Yeh, Lu mah Na. Selalu begitu. Kalau gue udah gue Jambak tu perempuan gue seret dari tanah Abang Sampek Kemayoran pake motor kuenceng ga karuan." Gereget Caca mendengar cerita Luna.
Caca terdiam sejenak lalu mulai menyadari akan situasi Luna. Luna begitu rapuh dan lemah jika sudah menyangkut marah memarahi orang lain.
Luna memilih menangis sendirian dari pada harus membuat orang lain menangis atau tersakiti.
Di cafe dan resto milik Luna.
"Mbak, saya minta tolong ya mbak ya. Tolong banget, mbak Luna ya di hubungi. Ga papa mbak saya nunggu lama disini juga ga apa apa." Ucap Desta memohon kepada pelayan cafe.
"Mas, masalahnya. Ibu boss kami hari ini tidak akan masuk. Lagi kurang enak badan. Atau gini aja, kita hubungi Bossnya si mas aja. Biar kita bisa kasih tau kalau mbak Luna memang tidak masuk hari ini." Kata Evi salah satu pelayan cafe.
"Tidak bisa mbak, Boss saya itu orangnya super ganas. Kalau saya tidak dapat kopi yang asli buatan mbak Luna. Bisa bisa saya di pecat hari ini juga Mbak. Jadi tolong ya mbak." Kata Desta mengiba sambil menangkupkan tangannya. 🙏
"Ada apa ini?" Tanya seseorang yang baru saja datang.
__ADS_1
Berkunjung kemari juga ya😉.