
"Rima, sekarang bagaimana kabar putriku?" Tanya Heru sambil duduk di kursi roda dan menatap dalam sebuah foto yang di pegangnya.
Rima menacabik kesal dan menghempaskan badannya ke sofa tepat di hadapan Heru. Matanya menatap tajam dan sinis seperti tatapan memebenci sesuatu.
"Lihat, apa dia peduli padamu? datang kemari saja dia sudah tidak sudi. Dia sudah tidak menghiraukan hidup dan matimu lagi suamiku. pahamilah itu." Rima mengadu domba Ayah dan anak ini terus menerus.
Rima adalah ibu sambung Luna. 5 tahun yang lalu Ayah dan Bunda Luna terlibat kecelakaan mobil yang menyebabkan Bunda Luna meninggal dunia dan sang Ayah yang menjadi lumpuh.
Di saat tersulit dalam hidup Luna, datanglah Rima sebagai sosok penolong pada awal mulanya. Rima adalah seorang perawat yang bekerja di rumah sakit. Kelumpuhan yang di derita Heru dinyatakan bisa kembali pulih jika rutin melakukan teraphy.
Tapi, sampai saat ini pun sudah bertahun tahun berlalu, Ayah Luna tetap saja masih terduduk di kursi roda.
Awalnya semua berjalan lancar. Rima dengan telaten merawat Heru dan Luna melanjutkan kuliahnya. Hingga pada akhirnya Heru dan Rima memutuskan untuk menikah. Semuanya mulai menjadi kacau balau.
Ketamakan akan harta Heru membuat Rima menjadi wanita keji dan tega melakukan berbagai macam cara untuk mengadu domba Heru dengan anak anaknya yaitu Luna dan Levan.
Levan adalah adik laki-laki Luna yang kini masih kuliah di salah satu universitas ternama dengan beasiswa. Levan tergolong anak yang berprestasi sehingga tidak sulit baginya untuk mendapat beasiswa.
Luna mengalah demi pendidikan adiknya dan lebih memilih melanjutkan usaha mendiang Bundanya yaitu mengelola cafe dan resto. Demi biaya bulanan yang wajib Luna kirimkan untuk sang adik, Luna rela berhenti dari pendidikannya. Levan tau benar bagaimana pengorbanan yang di lakukan oleh Luna.
Hari ini Levan mengambil cuti dari kuliah, Levan ingin istirahat selama satu bulan untuk membantu Luna sekaligus ingin melihat keadaan sang Ayah. Levan berencana akan menginap di rumah sang Ayah.
Suara bell terus berbunyi, Rima beranjak dari duduknya dan membukakan pintu. Levan tersenyum dan hendak menjabat tangan Rima tetapi Rima menepisnya dan memasang wajah masam.
"Kenapa kamu pulang?" Kata pertama yang di lontarkan Rima ketika melihat wajah Levan.
__ADS_1
Levan yang tadinya berseri dan antusias ingin bertemu sang Ayah, sekarang tertunduk lesu. Levan paham benar akan sifat ibu tirinya ini. Butuh ketegaran yang sangat banyak untuk menghadapi Rima. Levan sebenarnya ingin mengungkapkan semuanya di hadapan Ayahnya. Tapi, karena nasehat Luna, Levan mengurungkan niatnya.
Kalau tidak karena Luna, yang selalu saja melarang Levan untuk membahas tentang kelicikan Rima. Mungkin Levan sudah menjebloskan Rima ke penjara. Rima pernah sekali tertangkap basah saat ingin menjatuhkan Heru dari atas tangga. Luna berhasil mencegahnya dan menyelamatkan Ayahnya.
Namun, siapa sangka karena kelicikan Rima, justru Luna yang mendapat fitnah dan dituduh ingin menjelekan Rima di hadapan Heru. Keributan terjadi hingga Heru yang sudah terhasut menampar dan mengusir Luna.
Luna memilih pergi dari rumah karena sudah tidak kuat dengan drama yang selalu disajikan oleh ibu tirinya itu. Luna sempat depresi karena tekanan dan masalah selalu datang bertubi tubi. Tetapi Levan selalu menguatkannya dan selalu menemani Luna.
Mengetahui Luna pergi dari rumah, Levan memilih untuk tetap tinggal di rumah itu untuk mengawasi dan memantau keadaan sang Ayah. Levan harus berkorban perasaan dan harus teguh dalam mengahadapi situasi pelik di rumah itu.
Semenjak menikah dengan Rima, Rima terus saja mempengaruhi Heru untuk melnjual aset aset berharganya dan membeli aset yang baru. Luna juga sudah mengetahui rencana busuk Rima yang berniat ingin melakukan pencucian harta Gono gini. Berkali-kali Luna menasehati sang Ayah, tetapi nihil. Heru justru ikut membenci Luna yang dinilainya terlalu ikut campur urusan rumah tangganya dengan Rima.
"Malam Bu, mana Ayah?" Tanya Levan yang cenderung cuek dengan sikap sinis Rima.
Rima diam tidak menjawab dan melengos begitu saja tanpa mengajak Levan untuk masuk.
"Oh, ini Yah. Putra kita yang tampan sudah datang. Mari Levan temui Ayahmu dulu." Kata Rima yang berpura-pura baik di hadapan suaminya.
Levan tersenyum simpul dan mengacuhkan Rima yang kini mencoba menggandeng lengan dengan senyum palsunya.
"Yeay, Kak Levan pulang!" Sambut Sisil, gadis kecil yang melonjak kegirangan menyambut kedatangan Levan.
Sisil adalah adik Levan, anak dari Heru dan Rima. Sisil baru berusia 6 tahun saat ini. Walaupun Levan tidak menyukai Rima, tetapi Levan tidak pernah sekalipun membenci Sisil. Levan tetap menganggap Sisil adalah adik kandungnya juga walaupun beda ibu.
"Levan, bagaimana kabarmu nak?" Tanya Heru yang duduk di kursi roda dan bergerak menghampiri Levan.
__ADS_1
"Levan baik Ayah." Jawab Levan sambil tersenyum dan memeluk ayahnya.
"Ayah, baik baik saja? Bagaimana perkembangan teraphy ayah?" Tanya Levan yang terdengar mengkhawatirkan keadaan Ayahnya.
"Ayah baik. Tapi sepertinya kaki ayah memang sudah tidak bisa berfungsi secara normal lagi." Jawab Heru.
"Kamu mengambil cuti lagi?"
"Iya yah. Aku kangen dengan Ayah dan Kak Luna." Jawab Levan antusias.
"Buat apa kamu ambil cuti terus, kuliahmu nanti tidak selesai selesai. Ayah sudah mengeluarkan banyak uang untuk itu. Tapi kamu apa, malah bermalas - malasan." Kata Heru dengan wajah kesalnya.
Apa, bayar kuliah? *Dasar wanita ular! Pasti dia meminta uang dan mengatasnamakan kebutuhanku dan Kak Luna. Kalau tidak karena aku takut ayah akan drop dan jatuh sakit karena jantungnya. Akan aku bunuh sekarang juga kau Rima.
Selama ini, semua kebutuhanku Kak Luna yang menanggungnya. Fitnah dan hasutan apalagi yang kau berikan selama aku pergi*? Batin Levan yang kini berdiri dan menatap tajam Rima tanpa bersuara.
"Apa boleh buat Ayah? Rasa cinta dan rinduku lebih besar terhadap Ayah." Jawab Levan sambil tersenyum manis.
"Tidak apalah, setidaknya kau tidak melupakan Ayah. Tidak seperti Kakakmu yang kurang ajar dan tidak tahu balas Budi itu." Umpat Heru saat mengingat Luna.
"Sudahlah suamiku, Maafkan saja. Maklumlah Luna masih berada di usia muda. Pemikirannya belum sematang kita." Kata Rima yang mencari muka di hadapan suaminya.
"Dengarkan ibumu ini, ibumu ini selalu baik terhadap kalian dan juga Ayah. Tetapi Ayah tidak habis pikir kenapa Luna selalu saja mencari masalah dengannya." Kata Heru dengan kesal.
Terus saja jilat Ayahku. Lihat saja apa yang akan kulakukan kepadamu malam ini. Batin levan yang melirik ke arah Rima.
__ADS_1
Entah apa yang merasuki levan, kepulangannya kali ini sepertinya mebawa misi untuk melakukan sesuatu.