Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Bongkar saja, hancurkan bila perlu.


__ADS_3

Mama Elena sibuk memasak di dapur. Hatinya bahagia saat ini setelah mendengarkan suara aneh dari pintu kamar putranya pagi tadi. Keadaan Rosa juga sudah mulai normal meski belum sadarkan diri tetapi detak jantungnya sudah membaik. Itu menandakan bahwa keadaanya perlahan juga mengalami perubahan yang baik.


" Auh.... Ah.... ah....!" Teriak Luna dengan kuat.


" Woah... woah... bagaimana ini?" Ujar Agus tak kalah panik dan lantang.


Bukan sedang saling menunggangi, tetapi saat kritis dimana rambut Luna tersedot kedalam hairdryer karena kecerobohan suaminya. Agus seketika panik dan bingung kala hidungnya juga mencium bau terbakar yang keluar dari hairdryer.


" Cepetan cabut ah... ah... cabut by!" Seru Luna lagi mengingatkan Sabil dengan panik memukul mukul lengan Agus untuk segera mencabut kabel hairdryer dari terminalnya.


" I... iya iya. Jangan pukul pukul dong By sakit!" Balas Agus yang malah lebih sewot dari Luna.


Di dapur.


Alhamdulillah, senangnya aku. Sebentar lagi jadi nenek. Jadi nenek! Aku harus kasih tau Papa ini. Pikir Mama Elena dengan sangat bahagia kemudian mulai memencet benda pipihnya.


Belum sempat tersambung dan kegaduhan sudah mulai semakin mendekat. Datang Agus sambil menarik Luna yang berjalan sedikit terpincang-pincang.


" Mama....! Mama! Tolong bantuin Ma. Tolong lepaskan rambut Luna dari hairdryer." Kata Agus dengan tergesa-gesa berlari menghampiri Elena.


"What!! kok bisa? Kamu apakan istrimu huh? Huh?" Mama Elena terkejut dan memukuli lengan Agus kerena geregetan.


" Jangan Di pukul Ma, Dia tidak sengaja." Ucap Luna yang masih membela Agus yang kini adalah suaminya.


" Tuh kan ma dengar kata Luna. Agus tidak sengaja Ma. Tadi itu kesedot begitu aja. Terus bau kebakar gitu." Cerita Agus dengan sangat persis dengan kecerobohan yang sudah dilakukannya yang berhasil merusak rambut Luna.

__ADS_1


" Bagaimana ini? Sudah bawa saja ke salon sekarang. Tempat langganan Mama. Ayo Mama antarkan. Kamu juga Gus!" Ucap Mama Elena dengan paniknya.


" Tapi Ma, Agus mau kerja." Kata Agus dengan wajah lesu.


" Ma, Luna juga mau ke resto. Em, aku ada ide." Kata Luna yang segera berjalan mendekati leci di kitchen set.


Agus dan Mama Elena saling melempar pandangan dan tidak begitu paham dengan rencana Luna. Dengan berjalan sedikit pincang, dan rambut yang masih terjebak di dalam hairdryer, Luna mengambil gunting dan hendak memangkas pendek rambutnya.


" Eits! Eits! No, no, no! Tidak boleh di potong. Apa apaan kamu, mau main potong saja!" Celetuk Agus dengan bersungut-sungut, tatapannya sudah menegaskan kalau tidak ada persetujuannya maka tidak ada yang terjadi selanjutnya.


" Tapi by, ini sudah agak siang. Tidak ada waktu untuk ke salon. Dan juga Ma, seumpama di potong juga nanti akan panjang lagi. Ya Kan?" Luna mencari pembelaan dari Mama mertuanya demi menghemat waktu yang semakin siang.


" Tidak! Sekali tidak tetap tidak!" Kata Agus lantang.


" Aku tidak suka Istriku berambut pendek, aku suka rambut panjangmu by. Kamu tunggu sebentar, biar aku panggilkan Desta kesini dengan orang salon." Kata Agus penuh dengan ketegasan dan penekanan kata ISTRIKU.


Tidak ada waktu bagi Luna untuk menyela ataupun menjawab ucapan demi ucapan dari Agus. Suaminya kini berubah menjadi lelaki yang protektif dan lebay menurut Luna. Di sudut lain Mama Elena justru tengah menikmati suasana seperti ini yang mengingatkannya pada masa mudanya bersama Papa Pandu.


Apa apaan dia, apa apa ISTRIKU. Sebentar sebentar ISTRIKU. Apa dia sungguh sungguh atau hanya sekedar akting di hadapan Mama? Batin Luna menelisik dalam mengingat Agus pernah berkata sampai dia menemukan wanitanya.


" Sabar Na. Sikapnya sama persis dengan Papa mertuamu dulu. Dia akan sangat excited dan sangat menjaga orang yang di kasihinya. Tetapi dia akan sangat dingin kepada orang lain." Kata Mama Elena yang seolah tau persis masalah dan beban Luna tentang perubahan sikap Agus.


" Hem, iya Ma." Jawab Luna singkat dengan senyum simpul di bibir manisnya.


Setengah jam menunggu, akhirnya Desta datang dengan membawa dua orang yang bekerja di salon milik Mama Elena.

__ADS_1


" Ada apa Nyonya? sepertinya sangat gawat?" Tanya salah satu hair stylist.


" Ini, rambut menantuku. Tangani sebaik mungkin dengan hati hati jangan sampai berkurang panjangnya. Kalau tidak, Agus akan memindahkan kalian di cabang yang baru." Kata Mama Elena mewanti wanti.


Di cabang yang baru? itu artinya kami harus berjuang dari nol untuk merintis? Oh tidak, kenapa tadi sekertaris Desta tidak menceritakan hal ini dari awal. Atau dia sengaja menjebak kami? Batin hairstylist dengan tatapan mata yang penuh tanya.


" Tapi kalau kepepet tidak bisa, ya potong saja tidak apa apa kok Kak." Kata Luna dengan ramahnya.


Luna tidak tahu apa yang di hadapinya saat ini dengan sikap ramahnya kepada hairstylist laki laki itu kini. Dengan sikap ramahnya, bisa jadi kedua hairstylist itu malah mendapatkan surat pemecatan langsung dari Agus Dermawan.


Apa? Sungguh ironi. Berbanding terbalik dengan sikap dingin tuan Agus. Istrinya lebih baik dan ramah. Puji salah satu hairstylist di dalam hatinya. tentu saja mereka hanya mampu memuji dalam hati. Karena jika pujian itu terlontar dan terdengar di telinga Agus Dermawan, maka akan menjadi sebuah bencana bagi mereka berdua.


" Apa!" Seru Agus yang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa mendengar kata potong.


"Tidak ada kata potong potong lagi. Kalaupun ada yang akan di potong, itu adalah gaji kalian. Dengar!" Seru Agus dengan lantangnya.


Aku sangat bingung dengan perubahan sikapnya. Sejak kapan dia jadi sangat memperdulikanku? Rasanya semalam aku masih sangat ingat saat dia menjatuhkan tubuhku dengan sengaja ke lantai. Tapi pagi ini, Kenapa dia menjadi seperti ini? Batin Luna yang memang tidak paham dengan apa yang terjadi dengan sikap suaminya.


" Desta, tunda rapat kita sampai ISTRIKU selesai dengan ini." Titah Agus dengan suara datar dan mulai duduk di sebelah Luna.


Kedua hairstylist sedang mengakali hairdryer yang membelit rambut Luna. Keduanya terlihat bingung dan membolak-balik hairdryer. Agus melirik tajam dan mulai meragukan kinerja kedua hairstylist itu. Tatapan Agus sungguh mengerikan. Kedua hairstylist itu sampai-sampai menjadi tidak fokus karena seperti mendapat pengawasan dari malaikat maut.


" Bisa tidak kalian? Pokoknya saya tidak mau tahu apapun itu caranya rambut istri saya harus tetap panjang dan utuh tanpa terpotong sedikit pun!" Titah Agus dengan tatapan tajam dan nada datar yang semakin menambah negeri suasana. Sementara Luna terlihat pasrah menerima segala tindakan meskipun rambutnya akan di plontos atau botak sekalipun.


" Tuan, satu satunya cara. Kita harus membongkar hairdryer ini." Kata stylish dengan gugup.

__ADS_1


" Bongkar saja, hancurkan bila perlu. Yang penting rambut istri saya tetap utuh." Kata Agus dengan berkacak pinggang mengawasi keduanya.


Hemmh... aneh. Bukannya dia penyebab rambutku bisa tersedot kedalam hairdryer ini? Tapi kenapa sikapnya seolah olah dia tidak bersalah dan malah kedua hairstylist itu seperti pelaku kejahatan yang sedang mendapat tindakan tegas? Luna menghela nafas dan memutar bola matanya malas menanggapi sikap berlebihan Agus.


__ADS_2