
Awal hari, matahari mulai menyingsing menyingkap perlahan gelap yang menyelimuti bumi. Cahayanya terang dan menghangatkan, suasana tenang tercipta dari kesendirian dan kesunyian. Luna masih berada di atas ranjang sambil memainkan kerah bajunya, matanya menatap sayu kearah jendela. Katty kucing kecil manisnya kini sedang asik bermanja menggosok gosokkan tubuhnya ke kaki Luna. Sambil mengeong lirih mengajak Luna untuk segera bangun dan menikmati harinya.
"Meow!"
"Meow!" Katty menjilati jari kaki Luna.
Luna mulai menggeliat kegelian dan duduk bersila melipat kakinya. Luna lantas membelai bulu bulu halus mahluk gendut berbulu itu. Luna sangat menyayangi Katty.
"Kenapa, mau ngajak keluar? bosen di dalem rumah terus?" Luna berbicara pada Katty.
"Meow!" Katty menjilati pipi Luna.
"Iya nanti ya, Buna mandi dulu." Kata Luna yang kini mulai beranjak merapikan tempat tidur.
Dalam beberapa saat kemudian, Luna sudah selesai mandi dengan setelan baju yang casual dan hanya memakai sandal jepit Luna berjalan sambil menggendong Katty tanpa harnes. Luna menyusuri trotoar yang berpayungkan pepohonan nan rindang. Sungguh suasana pagi yang menentramkan.
Disisi lain.
Agus sudah berada di taman bermain dengan Suga, keduanya saling bermain lempar tangkap dan bermain tali. Suga berlarian menyergap tali yang sengaja Agus gerakan. Seperti berburu, Suga menyergap tali hingga berguling guling. Keduanya sangat menikmati kebersamaan.
Luna menurunkan Katty karena hendak membeli bubur ayam. Satu kali di tengok, Katty masih ada. Dua kali, Katty masih bermain di sekitaran dan ketika Luna tengah asik menikmati makanannya. Luna lupa akan keberadaan Katty.
Agus yang bermain dengan Suga, memberhentikan permainannya karena tengah menerima panggilan telepon. Agus kali ini benar benar lengah. Suga pergi entah kemana. Seperti orang gila Agus mulai memanggil manggil Suga seperti memanggil anak kecil. Agus mencari ke sekitaran taman tetapi tidak di temukannya kucing kesayangannya itu.
Dering ponsel berbunyi, terlihat nama Desta di layar. Agus mengabaikan panggilan Desta dan tetap fokus mencari Suga. Terlihat ekor binatang berbulu berwarna putih mengibas di semak semak bunga dengan segera Agus mengejarnya. Lagi ponselnya berdering untuk kesekian kalinya, kali ini Agus mengangkatnya karena mungkin Desta ada kepentingan.
"Hallo!" Jawab Agus ketus.
"Selamat pagi pak, Maaf menganggu." kata Desta.
"Ya, ada apa?"
"Pak, beberapa produk kita mendapat kendala. Beberapa audit mengeluhkan adanya produk broken dalam pengemasan."
"Huft! apa lagi ini." Agus mendengus kesal.
"Baik, saya akan segera ke kantor. Kamu segera ke taman xxx Cari suga sampai dapat!"
Tut! Agus mengakhiri panggilan tanpa penutup. Desta hanya bisa memggeleng, memang kebiasaan Agus selalu seperti itu.
Tengah hari, matahari mulai terik Luna masih saja mencari Katty di sekitar taman. Matanya menatap jam tangan yang di kenakannya berkali kali, Luna sungguh khawatir akan keadaan Katty. Merasa lelah dan akan menyerah, pandangan Luna tertuju kepada dua kucing yang berjalan bersamaan. Keduanya berwarna sama dan jenis yang sama. Entah semua kebetulan atau bukan tapi kalung mereka juga sama.
__ADS_1
Dengan segera Luna menghampiri kedua kucing itu, dan ternyata bukan hanya dia seorang yang sedang kehilangan kucing. Nampak Desta terlebih dulu meraih lalu menggendong salah satu kucing berwarna putih polos tersebut.
"Kamu di sini? Rupanya cari pacar ya,pintar juga kamu cari pacar. Kucing tadi bagus juga." Luna terkekeh sambil membelai dan menggendong kucing.
"Ah, Desta tadi juga sedang mencari kucing. Ternyata kita memiliki kucing yang sama." Gumam Luna sambil terus berjalan.
*****
"Whuaa.....!Apa itu. Ih jijik!" Teriak Rima sembari membanting pintu lemari bajunya.
Rima berteriak histeris setelah mendapati ada kecoa dan juga bangkai cicak di dalam lemari bajunya. Para pembantu yang bertugas membersihkan kamar Rima kini tengah berkumpul dan mendapatkan inspeksi dadakan sekaligus peringatan. Rima sangat marah kepada semua ART nya kali ini. Para ART hanya diam menunduk dan tak berani menatap majikan yang terbilang galak itu.
Sementara itu, disisi lain. Levan tertawa puas setelah mengerjai ibu tirinya. Levan benar benar senang sampai memegang perutnya.
"Rasakan, ini belum seberapa. Akan ku balas apa yang sudah kamu lakukan kepada keluargaku." Gumam Levan dengan pancaran mata penuh dendam.
"Selama ini, bertahun tahun kamu sudah meracuni Papa. Sekarang aku pun akan melakukan hal yang sama padamu Ja***g!" Pikir Levan di dalam lamunan.
"Bang Levan, Kak Luna. kenapa belum datang?" Tanya Evi membubarkan lamunan Levan.
"Em? mungkin dia sedang banyak urusan. Sudah, nanti sore kamu bilang sama Kak Luna ya. Aku tidak bisa membantu, aku hanya setengah hari saja. Nanti sore ada bisnis sama teman." Ucap Levan berpesan kepada Evi.
"Baik Bang, nanti saya sampaikan. Tapi kenapa tidak menelfon saja?"
Evi mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedikit alasan bodoh sudah mampu membuat Evi diam dan tidak lagi banyak bertanya.
****
Malam hari.
"Huft! lelah sekali. Hari ini aku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengurusi mu katty!" Ujar Luna sambil mengusap kepala hewan peliharaanya.
"Eh, kok pergi. Biasanya kamu nempel nempel terus di kakiku. Ini kenapa malah pergi? Aneh!" Gumam Luna bermonolog.
"Katty!" Seru Veni memanggil Katty tetapi kucing itu malah tidak menghiraukan sama sekali panggilan Veni.
"Si Katty lagi PMS ya Na. Sombong banget dia, biasanya kalau di panggil langsung nyamperin. Kenapa sekarang melengos gitu aja." Keluh Veni tentang sikap kucing putih pesek itu.
"Ga tau Ven. Mungkin lagi banyak pikiran kali." Jawab Luna dengan asal.
"Elu, yang banyak pikiran! Udah malem gini masih aja gambar sketsa muka si pangeran lu itu." Sindir Veni kepada Luna yang mulai melanjutkan sketsa wajah seseorang.
__ADS_1
"Di mimpiku yang kemarin, aku mampu mengingat lekuk alisnya. Ini sudah banyak kemajuan dari dugaanku." Luna mengulas kembali jalan mimpinya.
"Terserah kamu lah Na. Aku ngantuk!" Veni berjalan malas meninggalakan Luna di ruang tamu.
"Pangeranku, aku yakin kau juga akan bisa menemui dan melihat wajahku sepenuhnya. Seperti aku saat ini, aku harap semua ini bisa menjadi nyata." Ucap Luna sembari mengusap lembut hasil sketsanya dengan penuh harap.
*****
"Ayo, ayo. Waktunya tidur." Agus melemparkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba memejamkan matanya.
"Meow!"
"Meow!"
Kucing mulai bersuara di depan pintu kamar Agus. Agus beranjak dari tidurnya, karena tidak seperti biasanya Suga mengeong dan menunggunya di depan pintu kamarnya. Suga adalah kucing yang tidak begitu suka di Elus atau bermanja-manja kepada majikannya.
"Eh, kenapa anak itu tiba tiba mengeong di depan pintu?" Agus mengernyitkan alisnya.
Agus membuka pintu dan Suga langsung memutari kakinya sambil mengusap usapkan kepalanya seperti sedang ingin di usap dan di manja. Agus yang tidak mau ambil pusing hanya menuruti kemauan kucing yang di sangkarnya Suga itu. Agus sangat senang dengan perubahan Suga kali ini, sejak Agus membeli Suga jarang sekali Suga bersikap manis layaknya kucing kebanyakan. Suga lebih individualis dan tidak mau banyak mendapatkan sentuhan.
"Minta di elus? ayo sini, kita tidur." Agus menggendong Suga dan mengajaknya tidur bersama.
****
Suasana tenang, damai dan hangat. Tertiup lembut angin pantai dengan aroma khas air laut. Luna kembali berada di dalam mimpinya, dengan balutan dress berwarna putih dan rambut yang tergerai senyum manis menghiasi bibirnya. Samar samar terlihat sosok pria yang di nantikan ya dengan balutan baju berwarna senada. Pria itu tinggi dan gagah dengan balutan baju berwarna putih, terlihat samar-samar bentuk bibirnya yang mengembangkan senyum manis.
Luna enggan berkedip untuk melewatkan masa-masa indah itu. Luna yang merasa bahagia terus saja memperhatikan wajah dari pria yang ada di hadapannya. Mereka berjalan bersama menyusuri tepi pantai sambil bergandengan tangan menyaksikan matahari terbit. Sungguh suasana yang indah, hingga membuat Luna enggan untuk bangun dari tidurnya.
Tiba tiba, tidak nampak suatu hal yang aneh tetapi kaki Luna seperti terjerembab kedalam sebuah lubang dan membuatnya susah untuk bergerak. Pria yang berada di sampingnya seketika ikut panik dan membantu Luna untuk menarik kakinya agar terbebas dari jeratan yang tak kasat mata itu.
Namun nihil, Luna seperti terhisap kedalam pasir dan menghilang. Pria itu seorang diri berteriak histeris mencari cari sambil terus mengais pasir.
"Aah!" Teriak Luna dengan keras saat Levan menarik kakinya untuk membangunnya.
"Levan! Sial!" Teriak Luna dengan kesal.
Merasa tindakannya berhasil, Levan justru terkekeh dan berlalu pergi tanpa banyak berbicara. Luna melemparkan bantal kearah Levan guna meluapkan kekesalannya. "Sialan! Gangguin mimpi orang aja!" Ucap Luna dengan amarahnya.
***
"Hilang, huh. Hilang kemana dia?" Gumam Agus seketika ia terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
~ Bersambung ~