
Rosa memandang iba Levan yang terbaring di atas ranjang. Mereka membatalkan acara jalan-jalan mereka malam ini. Kaki levan benar benar sakit selain patah tulang juga ada luka robek di sekitar lutut yang membuatnya susah untuk melakukan aktivitas di kamar mandi.
" Sa, kita pulang saja ya. Jangan di rumah sakit. Aku tidak mau menginap di sini." Rengek Levan memelas memperlihatkan wajah sedihnya berharap Rosa akan menyetujui permintaannya.
" Tidak bisa Van, kata dokternya kamu belum boleh pulang. Tiga hari kita di sini." Jawab Rosa menjelaskan ucapan dokter yang sebenarnya panjang kali lebar dan susah di pahaminya lantaran kendala bahasa.
" Ya sudah, kamu tahu arah pulang kan? Kamu pulang saja dan tidurlah di rumah biar aku di sini saja." Ucap levan yang lebih mencemaskan istrinya jika berada di dalam rumah sakit, tapi yang di cemaskan sama sekali tidak merasa.
" Udah deh ga usah rewel. Kalau kamu ada apa apa siapa yang mau jagain kalau aku pulang?"
" Nurut aja kenapa sih? Aku bisa kok kalau cuma jagain manusia rewel kayak kamu ini. Oh iya, untuk yang tadi makasih." Ucap Rosa sambil terus bercicit mengoceh menasehati Levan.
" Rosa, apa kamu sama sekali belum mengingat siapa aku?" Tanya levan yang kini sudah mulai termenung menatap langit-langit .
" Ingat, kamu adik ipar Kakakku kan? Kenapa memangnya?"
" Tidak lupakan." Ucap levan yang berpura-pura menutup matanya padahal dia tidak tidur sama sekali.
" Hhhh, si bawel, si rewel. Coba kalau dia tidak memaksakan untuk berjalan sendiri. Pasti kita ga harus balik lagi ke rumah sakit ini kan? Kalau begini siapa yang salah?"
" Kenapa dia selalu bertanya apa aku mengingat dia? Jelas aku ingat kan dia adik ipar kak Agus. Dasar lelaki aneh!" Gumam Rosa bermonolog tetapi jelas sekali di telinga Levan.
Hhhhh, aku harus bersabar dengan semua ini. Batin levan dalam mata yang terpejam.
*
*
*
" Sa, Sa. Rosa." Panggil Levan pada Rosa dengan suara yang merintih.
" Heum ada apa? Kamu mau apa? Haus atau lapar?" Tanya Rosa cemas.
" Bisa kamu keluar sebentar Sa? Aku kebelet pipis." Ucap levan menahan rasa ingin kencing.
" Kenapa kamu malu? Udah sih biasa aja. Kan sudah terpasang juga selang dan kantungnya." Ucap Rosa cuek.
" Tapi aku malu Sa." Levan sudah berusaha menahan kencingnya.
__ADS_1
" Aku ga mau keluar ya. Lorong rumah sakit menyeramkan. Aku pakai ini, dan kamu pipislah." Rosa kemudian menyumpal telinganya dengan earphone dan berhadap membelakangi Levan.
Selalu seperti itu selama tiga hari saat levan di rawat. Rosa dengan sigap tapi tetap ketus melayani Levan.
" Hari ini sudah boleh pulang. Mari kita pulang!!" Seru Rosa bersorak gembira sambil memapah Levan untuk berjalan meninggalkan rumah sakit.
Tidak ada percakapan selama dalam perjalanan. Levan duduk di depan di sebelah supir sedang Rosa duduk di belakang. Rosa sedikit heran mengapa sikap levan menjadi pendiam dan lebih diam dari biasanya.
Sampai di rumah yang mereka sewa, Rosa merapikan semua barang barang bawaan mereka lalu membersihkan diri. Tanpa sengaja saat selesai mandi, Rosa tergelincir di kamar mandi dan kepalanya terantuk wastafel. Rosa jatuh pingsan dan Levan segera ingin membantu Rosa dengan susah payah.
Rosa belum memakai bajunya, hanya handuk kimono yang di pakainya. Itupun terbuka di bagian paha mulusnya saat dia terjatuh. Ada yang berdesir hebat dan menggelitik hati Levan. Ada yang tegak di bawah sana tapi bukan keadilan. Levan mengusap kasar wajahnya, bisa bisanya di tengah kepanikan seperti ini Kris empu Rowo Ireng miliknya malah bertambah besar dan perkasa.
" Sa, bangun sa!" Levan mengguncang pipi Rosa dengan setelah sebelumnya dia bersusah payah untuk duduk berselanjar di samping Rosa.
" Kamu kenapa? Apa tidak apa apa dengan kepalamu?"
"Bagun sa!" Teriak Levan yang kini sudah memeluk sebagian tubuh Rosa dalam dekapannya.
Rosa sudah sadar sebenarnya tetapi dia masih sangat berat untuk membuka mata, terlebih lagi Levan selau mengguncang dan mendekap erat tubuhnya. Rosa kembali terpejam, dia ingin tahu bagaimana bentuk kekhawatiran levan terhadapnya.
Kilasan kilasan ingatan secuil demi secuil kini terkumpul dengan lengkap dan sempurna. Rosa kini ingat terakhir kali dia mengalami kecelakaan dengan levan yang memangkunya dengan posisi yang sama seperti saat ini.
Sayang, dia panggil aku sayang? Mah, hatiku kung kang kung kang Mah. Batin Rosa gembira.
" Sayang bangun, jangan tinggalkan aku. Bangunlah, kamu belum mengingat aku, tidak tahukah kamu jika kamu sudah menjadi istriku? Kita sudah menikah Sa! Kita sudah menikah sayang!" Teriak levan emosional sambil menciumi wajah Rosa.
Eh, aku di cium. Apa katanya tadi?
Kita sudah menikah?
Aku istrinya?
Dia panggil aku sayang lagi? Apa aku mimpi jangan jangan. Tapi dia sampai sesedih ini melihat aku pingsan. Apa semua ini nyata?
Rósa tetap memejamkan matanya dan dia masih ingin mengetahui lebih dalam perasaan Levan terhadapnya.
"Bangunlah Sa, aku mencintaimu. Sudah sangat lama aku mencintaimu. Dari pertama kita duduk di bangku SMA aku sudah jatuh cinta padamu. Tapi aku sadar sa, aku ini hanya anak broken home. Aku tidak pantas ada di sisimu. Karena itulah aku selalu menghindar dan menjauhimu. Maafkan aku sa. Maafkan aku sayang. Bangunlah"
"Bangun!" Levan menangis histeris dan terus memeluk dan menciumi wajah Rosa.
__ADS_1
Hahahahaha, entah harus bagaimana aku.
Haruskah aku bersyukur atas kecelakaan ini?
Semahal inikah pengakuan cintamu Levan? yang mengharuskan aku kecelakaan dan hilang ingatan dan kamu yang patah tulang?
Levan aku sangat bahagia mendengar pengakuan hatimu.
Tapi tidak semudah itu, aku akan membalas perbuatanmu. Bertahun-tahun kamu mengabaikan dan menghindar dari cintaku.
Kamu juga harus tahu rasanya.
" Ambulance, hospital, I will call them."Ucap levan bermonolog lalu merogoh kantong celananya.
Jangan No!!
jangan rumah sakit lagi, aku takut jarum suntik. Jangan tidak!
Aku harus pura-pura sadar sekarang.
" Auh...., kepalaku sakit." Ucap Rosa sambil memegangi kepalanya.
" Sa, kamu sudah sadar?" Ucap levan yang kembali berbinar dan memeluk Rosa.
" Ih, lepaskan, berani beraninya ya kamu peluk-peluk aku! Aku adukan ke Mama." Ancam Rosa dengan bersungut-sungut yang tentu saja hanya kepura-puraan.
" Adukan saja aku tidak perduli. Kamu halal bagiku Sa. Kita suami istri!" Ucap levan bahagia sambil terus memeluk dan menciumi wajah Rosa.
" Stop!!!"
Ah, kerjain ah. Rosa terkekeh senang dalam hatinya.
" Stop don't do it again, or I will call the police now!" Ancam Rosa dengan serius. Lalu berdiri dan meninggalkan levan yang masih terbengong-bengong di depan pintu kamar mandi.
" Bukannya bantuin aku bangun, malah ninggalin gitu aja." Levan menggerutu kesal dan bersusah payah untuk bangun.
Rosa tertawa senang sambil mengintip dari celah pintu kamarnya.
Kini apa yang di lakukan Rosa? Dia merayakan kemenangannya dan menari dengan tak karuan tanpa suara. Hanya mulutnya saja yang cuap cuap tanpa ada suara seperti ikan mencari oksigen.
__ADS_1
" Lihat saja levan, hari esok bakal lebih seru. hohoh!!!" Gumam Rosa bahagia.