
Pagi hari, Evi sudah mendapat mandat untuk menjaga dan bertanggung jawab atas resto juga cafe. Kepala Evi serasa kembali berdenyut setelah sebelumnya dia bisa duduk santai berleha-leha menikmati waktu santai di balik meja kasir dan kini dia harus kembali berkutat menjadi tangan kanan Luna.
Evi mendapat kabar dari Luna yang menceritakan semuanya. Membuat Evi bersimpatik dan tak bisa berkutik untuk menolaknya.
" Hemmhh, baiklah. Itung itung latihan menjadi Bu Boss. Hehehe!" Evi tertawa kecil sembari berjalan menunduk dan tak sengaja menabrak bahu kekar yang ada di depannya.
" Aduh!" Keluh Evi memegangi keningnya yang serasa sedikit terantuk benda yang berotot.
" Eh, eh. Maaf." Ujar Romy.
" Kamu? Pagi pagi kenapa kemari? Resto kami belum buka."
" Tidak, aku kemari karena ingin anu..." Ucap Romy yang tiba tiba menjadi salah tingkah di hadapan Evi.
Ya, semenjak adegan pura pura menjadi kekasihnya kemarin. Setelah Romy mengecup kening Evi, malam harinya membuat Romy tak bisa tidur karena terus saja terbayang akan sosok Evi.
Kenapa jadi gagu seperti ini sih?
Lagian kan ngapain juga aku harus pamitan sama dia. Sebenarnya aku tidak pamit pun dia tidak akan mencariku.
Kami kan, tidak punya hubungan khusus. Batin Romy yang malah melamun di hadapan Evi.
" Anu apa? Ini nih, kalau sudah ada anu pasti jadi nganu nganu, yakan?" Celetuk Evi sambil mengelape meja yang berada di depan cafe.
" Nganu apa?" Tanya Romy yang penasaran.
" Ya, pokoknya nganulah, entar juga kamu nganu sendiri." Sahut Evi lagi.
" Eh, kenapa kita jadi nganu nganu sih? Sini deh aku mau ngomong." Romy menarik perlahan tangan Evi dan mendudukkannya tepat di hadapannya.
" Hahahaha, iya si anu bikin kita anu ya?"
" Udah, Udah nanti tidak jadi bicara lagi aku." Potong Romy dengan wajah serius.
" Aku mau pamit." Ucap Romy cepat.
Deg!
Mendengar kata pamit, wajah ceria Evi langsung layu. Jika Romy pamit berarti dia akan pergi jauh dan Dia tidak akan bisa bertemu lagi.
Mengapa aku jadi ingin berkata tidak mengijinkan? Tapi, siapa aku?
Aku tidak ada hak untuk itu?
__ADS_1
Dan dia mengapa harus berpamitan sih? mau pergi ya pergi saja. Sumpah perbuatan kecilmu membuatku baper...!
Aku merasa jika aku sedang kamu anggap penting sampai kamu berpamitan saat akan kemanapun. Tuhanku, tolonglah hambamu... Batin Evi memikirkan ucapan Romy.
" Kemana?" Tanya Evi dengan wajah serius.
" Aku akan di tugaskan untuk membantu para korban di kota xxxxx." Jawab Romy.
" Eh, kota yang di guncang gempa semalam?"
" Iya." Jawab Romy singkat.
" Itukan kota tempat suami mbak Luna mengerjakan proyek. Belum ada kabar dari beliau." Ucap Evi menjelaskan.
" Benarkah? Agus ada di sana?" Tanya Romy yang kini air mukanya terlihat sangat khawatir dan cemas.
" Iya, dan Mbak Luna langsung drop setelah mendengar kabar itu. Dan juga, aku sangat kasihan pada Mbak Luna, dia sedang hamil muda, tetapi Suaminya malah tertimpa musibah seperti ini." Ucap Evi dengan nada sedih.
" Jam berapa kamu berangkat?" Sambung Evi lagi.
" Jam sembilan." Jawab Romy.
" Tunggulah sebentar aku akan buatkan sarapan. Ini gratis karena ini hari Jumat. Mungkin sebentar lagi sudah matang, koki sedang masaknya." Ucap Evi dengan senyum manisnya.
Tak lama, Nasi goreng telah siap. Romy adalah pelanggan pertama yang datang berkunjung dan pekerjaan Evi menata bangku sudah selesai di bantu oleh pelayan yang lain.
" Silahkan dinikmati." Ucap Evi mempersilahkan.
" Duduklah sebentar, temani aku makan." Ucap Romy tiba-tiba dengan wajah yang penuh harap.
" Oh, oke. Hanya sebentar." Evi kemudian menarik bangku dan duduk.
" Em, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Romy di sela sela saat dia makan.
" Iya, tanyalah. Aku banyak berhutang Budi kepadamu untuk masalah kemarin."
" Tidak, kita impas. Kamu sudah merawatku sampai aku sembuh. Kalau tidak ada kamu, maka... Entahlah." Romy menggidikkan bahunya.
" Hemm." Evi mengangguk.
" Kenapa Beno seperti itu kepadamu?"
" Hhhh, baiklah nampaknya kamu harus tau." Ucap Evi yang malas untuk menceritakan kisah pahitnya.
" Jadi dulu, aku dan dia kami berpacaran. Dari SMA kami selalu bersama. Kami punya mimpi yang sama yaitu ingin menapakkan kaki di kota besar dan meraih mimpi bersama. Kami mendapat beasiswa. Awalnya semua berjalan baik. Lalu, suatu ketika ibunya sudah tidak bisa lagi menyokong segala kebutuhan pribadinya." Evi menghela nafasnya berat.
__ADS_1
" Untuk uang makan, selalu telat dan aku. Yang bodoh memanglah aku. Aku berfikir dia sangat setia dan mencintaiku. Jadi aku bekerja paruh waktu untuk kebutuhan kami bersama. Hingga suatu hari, aku mendapat pemberitahuan pemberhentian dana beasiswa karena prestasiku yang merosot. Aku terlalu lelah bekerja hingga tak memperhatikan mata kuliahku."
" Aku mendapat teguran dan akhirnya aku di keluarkan karena tak mampu membayar uang semester. Aku mengorbankan diriku untuk laki laki sialan itu. Dia berjanji setelah lulus kuliah dan dia bekerja, maka dia kan menikahiku dan menguliahkan ku lagi. Tapi semuanya bohong." Evi mulai menitikan air matanya.
" Aku memergoki dia bersama wanita di dalam kamar kosnya. Dia melakukan hubungan haram itu. Sedangkan denganku tak pernah sekalipun dia mau menggenggam tanganku. Dia beralasan ingin menjagaku sampai kami Halal."
" Hahahaha, bodoh sekali aku ya?" Evi menertawai kebodohannya sendiri.
Jadi seperti itu.
Dia wanita yang polos dan baik hati. Tega sekali di Beno memanfaatkan wanita berhati malaikat ini. Pikir Romy setelah mendengar penuturan Evi.
" Dia yang bodoh karena menelantarkan kebaikan hatimu." Sahut Romy yang telah selesai dengan sarapanya.
" Apa kamu punya pacar?" Tanya Romy.
" Hahaha, kamu tidak dengar bagaimana dia mencemoohku kemarin. Siapa yang mau dengan gadis dungu dan bodoh sepertiku?" Sahut Evi.
" Jadi...., bisakah kepura-puraan kita lanjutkan?" Ucap Romy yang membuat Evi tersedak ludahnya sendiri.
" Jangan bercanda. Dia sudah tidak mungkin kembali kemari lagi. Ayahmu pasti sudah memecatnya kan?"
" Iya, tapi dia juga mengadukanku dan juga hubungan kita. Ayahku mulai mendesakmu dan ingin kita lebih serius. Bagaimana?" Tanya Romy meminta pendapat Evi.
" Kamu serius?" Evi tak percaya.
" Iya, untuk itu aku mengambil tugas untuk membantu di tempat yang tertimpa bencana ini. Menurutmu untuk apa? Aku ingin mengulur waktu." Ucap Romy jujur.
" Hhhh, masalah apa lagi ini? Pak polisi dengar ya. Jelek Jelek begini aku tidak mau menjalin hubungan di atas kepura-puraan. Kontraklah, atau sewalah, apapun itu. Aku ingin hubungan yang nyata. Dan, jika menikahpun aku hanya ingin sekali seumur hidupku. Ini urusan hati Boss, tidak main main." Ucap Evi menceramahi tindakan Romy.
" Walaupun ada ini?"Romy mengeluarkan amplop coklat yang terlihat gendut.
" Apa itu?" Evi melirik amplop coklat yang di bawa Romy.
"..."Romy mecibirkan bibirnya dan menggidikkan bahunya. Perintah untuk Evi membukanya.
" Oh.... Waow.....! Kau mencoba menyuapku pak polisi?" Tandas Evi.
" Baiklah kalau tidak mau." Romy beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi tapi Evi seketika meraih tangan Romy.
" Jangan marah, begitu saja marah."
Romy kembali duduk.
" Jadi kamu terima?"
__ADS_1
" Emmm...... Let me think about this first."