Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Jangan dengarkan mereka.


__ADS_3

5 Bulan sudah usia kandungan Luna. Janin di dalam perutnya sudah mulai aktif bergerak. Agus juga sudah tidak merasakan mual-mual lagi. Agus sudah mulai beraktivitas lagi. Dia sudah kembali masuk ke kantor meski dengan bantuan tongkat.


" Mas, hari ini jadwal kita untuk periksa kandungan." Kata Luna pelan, Luna masih bersandar di dada Agus.


" Iya. Aku sudah meminta Desta untuk mengaturnya. Jam 9 kita berangkat. Aku sudah tidak sabar untuk melihat dia." Ucap Agus sambil tersenyum bahagia dan mengelus perlahan perut Luna.


" Hem, Iya. Gantengnya suamiku. Tayang .. tayang..." Kata Luna dengan manjanya memainkan dagu Agus.


" By, ah." Desis Agus kegelian karena dagunya menjadi tempat favorit jari Luna bermain.


" Kenapa sih, gemesh tau By. Aku maunya nanti anak kita mirip kamu. Bibirnya, hidungnya, kulitnya, rambutnya."Kata Luna mulai berandai-andai.


" Terus kamu mirip apanya?"


" Aku?"


" Iya."


" Emm, aku ingin dia matanya mirip aku By." Jawab Luna sembari tersenyum senang membayangkan rupa bayi mungilnya.


" Hahahaha, iya." Ucap Agus terkekeh senang lalu mencubit gemas pipi tembem Luna.


" By, apa Romy masih sering menemuimu?" Tanya Agus dengan tiba-tiba membuat Luna tergelak tak percaya. Pasalnya semenjak kembali membaik Agus tidak lagi bersungut-sungut ketika bertemu Romy. Malah keduanya terlihat akrab dengan Romy yang sering datang berkunjung.


Perlahan fakta tentang persahabatan masa remaja mereka terkuak. Romy dan Agus sama-sama ingin kembali menjalin hubungan baik. Hanya saja, satu bulan ini Romy tidak datang berkunjung karena sedang dinas keluar kota menangani sebuah konflik yang terjadi di perbatasan daerah yang masih bersengketa.


" Tidak. Dia kalau main kesini juga yang di cari kamu kan? bukan aku. Tumben kamu menanyakan temanmu itu." Jawab Luna.


" Aku pikir, di belakangku kalian masih sering bertemu By."


" Ih, enak saja. Dia kalau ke cafe ya kita hanya sebatas ngobrol biasa saja. Aku harus bisa bersikap baik dan ramah kan kepada seseorang yang sudah baik berusaha menemukan suamiku?" Jawab Luna dengan terus mengusap lembut rahang Agus.


" Iya. Hanya saja..." Agus menggumam dan menghentikan perkataannya.


" By, aku tau kemana arah bicaramu. Jangan pernah beranggapan jika aku dan Romy melakukan apapun di belakangmu. Aku bukan Nina, dan aku tau pasti siapa priorotasku. Kamu dan dan dia yang harus aku prioritaskan,bukan yang lain." Ucap Luna meyakinkan Agus sambil mengusap perutnya, berkata hanya Agus dan janin yang dikandungnya yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya kini.


" By... Jika aku tidak bisa sembuh dan selamanya seperti ini, apa kamu mau selamanya bersama orang yang cacat? Kamu akan malu By. Dan jika, jika aku cacat... selamanya. Aku tidak bisa banyak membantumu By. Aku..... aku...." Lirih Agus yang menyesali kondisinya yang belum juga pulih.


" Hustt...!!Diamlah. Jangan meragukanmu lagi. Aku tulus mencintaimu By, bukan karena fisikmu. Dan aku yakin kamu akan sembuh. Kamu pasti sembuh By, dan kita akan bersama-sama membesarkan anak dan cucu kita. Oke..., Percayalah By."Kata Luna menguatkan Agus yang sedang rapuh.


Setiap harinya, jauh di dalam jiwa Agus Dermawan. Dia terperosok kedalam sisi jiwanya yang rapuh. Banyak cibiran dari karyawan dan juga lingkungannya membicarakan kondisinya saat ini.


Inilah negara kita, dan inilah manusia dimana semuanya menuntut untuk tampil sempurna. Mata mereka terlalu jeli untuk menghakimi keadaan orang lain daripada menyadari kekurangan diri sendiri.


Tak akan pernah cukup seseorang, dalam memuaskan matanya jika hatinya selalu tertutup. Tak akan pernah cukup hidup seseorang jika selalu mendengarkan mulut asing yang banyak menuntut. Cukup jadilah dirimu sendiri, bahagiakan dirimu, tersenyumlah dan tutup telingamu.


*


*


*


Luna tiba di klinik bersalin untuk memeriksakan kehamilannya bersama Agus. Banyak pasang mata yang melihat mereka, dan tak sedikit pula yang mencibir kondisi fisik Agus.


Tidak secara langsung suara mereka terdengar, tetapi pandangan mereka seolah menghujam tajam. Melihat kondisi fisik Agus yang berjalan pincang dengan bantuan tongkat.

__ADS_1


Agus hanyalah manusia biasa, tentu saja dia dengan mudah dapat memahami kekurangannya saat ini yang bagi sebagian orang sangatlah menjijikkan. Hal itu juga yang menjadi momok menautkan bagi dirinya.


Mereka bahagia bersama saat melihat sendiri proses dan juga hasil dari USG.


"Semuanya bagus dan sehat Pak. Aktif sekali anaknya. tapi sayang, jenis kelaminnya belum terlihat. Sepertinya dia malu." Kata dokter menerangkan.


*


*


*


Selesai memeriksakan kandungan, Agus dan Luna sengaja mampir ke resto untuk memasak ayam panggang spesial buatan Luna. Sudah sangat lama Agus menginginkannya hanya saja saat memakannya Agus merasakan mual yang amat sangat.


" Yakin hari ini mau makan itu Mas?" Tanya Luna yang tidak percaya Agus kembali meminta menu yang membuatnya merasa mual.


"Iya By. Aku mau itu."Jawab Agus yang kemudian masuk ke belakang, ke kamar berukuran kecil tempat Luna dahulu melarikan diri.


" Aku tunggu di belakang ya. Masaklah yang enak." Ucap Agus yang kemudian pergi.


Luna mulai memasak tanpa ada gangguan. Saat kemudian Romy datang. Luna yang mendengar suara Romy, menyambutnya. Bagaimanapun, karena Romy, Agus bisa di ketemukan. Luna tidak ingin menjadi kacang yang lupa kulitnya.


" Vi, Romy datang itu." Ucap Luna yang menyenggol lengan Evi yang sedang melamun di meja kasir.


"Biarkan saja Mbak. Aku malas." Jawab Evi cuek.


" Ih, kenapa gitu? Kalian ribut?"


" Apa yang harus di ributkan sih mbak. Aku cuma malas saja."


Gumam Evi dalam hatinya.


" Hai Luna!" Sapa Romy dengan ramahnya.


" Oh, hai!" Sahut Luna.


" Dimana suamimu?" Tanya Romy dengan kepala yang clingukan mencari keberadaan Agus.


Terang saja Romy mencari Agus. Karena Romy datang juga atas permintaan Agus. Agus sengaja mengirimkan pesan supaya Romy datang menemuinya di belakang resto.


" Oh, dia di belakang. Apa dia yang memintamu datang?" Tanya Luna yang menaikkan sebelah alisnya.


" Iya, aku buru-buru. Katanya ada yang mau di bicarakan. Penting." Tutur Romy dengan jujur. Wajahnya pun menunjukkan rasa penasaran.


Ada apa Mas ya?


Biasanya dia kalau ada apa-apa selalu bilang. Tapi ini?


Punya rahasia apa mereka? Masalah bisnis atau.....?


Ah, tidak. Suamiku lelaki yang setia. Tidak mungkin dia.....


Batin Luna menjadi tidak menentu setelah mendengar keterangan dari Romy.


" Mau kopi atau teh, untuk teman ngobrol?" Tanya Luna kepada Romy.

__ADS_1


" Mau kamu aja." Ucap Romy ngawur.


"Ish! Dasar ya mulutnya kebiasaan godain cewek. Ibu-ibu hamil juga masih tetep aja di godain. Evi aja itu, yang masih kosong slotnya."


" Udah, diamah pasang harga tinggi.Atau mungkin kena pengaruh buruk dari kamu smapai dia sok jual mahal sama aku? Kamu kasih makan apa dia Samapi cara kerja otaknya selalu menganggap aku ini buaya?" Tanya Romy penuh selidik.


" Aku juga mikir-mikir kali. Kalau sama kamu cuma karena suatu hal yang nantinya mengecewakan mending ga usah sama sekali." Kata Evi yang dengan kesalnya mencibirkan mulutnya. Evi menyindir Romy.


Bibirnya mengerucut kesal dan dengan sengaja Evi berjalan menyerempet bahu Romy dan meliriknya tajam.


Wihh....!!


Galaknya, yang galak begini yang bisa tahan banting dengan sikap Papa.


Aku suka..., jahilin lagi ah.... Batin Romy tertawa senang.


Sisi ketus dan galak Evi yang menurutnya bisa tahan mental dalam menghadapi sikap keras sang Papa.


Romy belum sadar jika dari candaan kecil seperti inilah yang membuat kedekatan antara dirinya dan Evi terjalin alami dan erat.


" Hai!"


" Bro! kemarilah duduk." Jawab Agus yang sudah duduk di bangku yang berada di bawah pohon.


" Ada apa?" Tanya Romy setelah duduk.


" Gimana kabarmu sehat?" Tanya Agus.


" Sehat lah. Kamu? Apa kata dokter?" Tanya Romy yang kemudian menepuk paha Agus yang sakit.


" Hem!"Agus berdehem.


" Sepertinya aku akan selamanya seperti ini sampai sisa hidupku." Jawab Agus yang putus asa.


" Eh, jangan patah semangat dong. Dokter bilang kemungkinan sembuh masih ada kan? Kamu hanya butuh waktu untuk menunggu jaringan ototmu kembali pulih."


" Jangan menghiburku." Ucap Agus patah arang.


" Aku hanya tidak ingin melihat sahabat lamaku menjadi lembek begini."


" Kamu sudah punya pacar?"Tanya Agus tiba-tiba.


" Belum." Romy menggeleng.


" Jika Luna sendiri, apa kamu bersedia...."


" Hentikan Gus! Jangan memulai hancurnya persahabatan kita lagi. Dia istrimu." Tolak Romy yang kecewa juga kesal dengan perkataan Agus.


" aku cacat Rom. Aku tidak mau anakku menanggung malu memiliki Ayah yang cacat seperti aku."Kata Agus mengungkapkan isi hatinya.


" Itu hanya ketakutanmu yang berlebihan. Mau bagaimanapun keadaanmu. Anakmu akan lebih bahagia jika berkumpul bersama Ayah dan ibu kandungnya. Aku tidak suka kamu berbicara seperti ini." Kata Romy menasehati Agus.


"Berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah berbicara seperti itu lagi." Kata Romy yang tersenyum manis menguatkan sahabatnya.


" Jangan dengarkan apa kata mereka. Tapi dengarkan nasihat dari kami yang menyayangimu. Aku, orang tuamu, istrimu, dan juga anakmu. Kami akan tetap menyayangimu apa adanya kamu. Ingat itu" Kata Romy sambil memeluk Agus.

__ADS_1


__ADS_2