
"Sumpah aku tidak menyangka jika nasib baik akan hinggap padaku. Anak cantik, anak manis, Hehehehe...! Senangnya hatiku!" Luna terkekeh menulis poin kerjasama dengan Agus.
Sedangkan Agus tengah berdiri santai menautkan jari jemarinya yang saling menggenggam untuk mengurangi kegelisahan. Sungguh ekspresi wajah Luna sulit untuk di artikan. Sebentar dia tertawa dan sebentar dia mulai mengerutkan dahinya. Agus kehabisan cara untuk mengetahui apa yang di tulis Luna dalam surat kerjasama itu.
Dimana sebelumnya Luna mengatan setuju, mau bahkan sangat mau sampai mengangguk heboh. Agus tidak mengerti apa yang ada di pikiran Luna saat ini.
" Ini!" Luna memberikan secarik kertas.
Tulisan Luna sangat rapi dan bagus, Agus mengagumi tulisan tangan Luna dan melihat ke arah Luna sesekali seperti tidak yakin jika itu adalah hasil goresan tangan Luna. Agus mengerutkan keningnya sembari membaca poin poin yang tercantum.
"1. Harus pindah rumah." Kata Agus heran dengan tangan yang masih berada di dalam saku celana Agus mendekati Luna dan duduk di tepi ranjang.
"Memang apartemen kenapa?" Agus menatap Luna meminta penjelasan.
"karena para media online sudah mengetahui alamat apartemen ku, jadi aku tidak bisa bergerak leluasa. Aku ingin alamat yang baru agar tidak menggangu mobilitasku." Ucap Luna beralasan yang sebenarnya Luna hanya ingin memanfaatkan keadaan. Apartemen yang di tempatinya tergolong kecil untuk tiga orang. Yang mana Caca sekarang juga tinggal satu atap dengan luna karena pindah kantor. Caca memutuskan untuk menetap di apartment Luna agar lebih dekat ke kantor.
"Oke, bolehlah. Sshhh!" Agus mengangguk.
Mudah sekali dia di akali. Batin Luna dengan akal liciknya.
"2. Harus ada kandang kucing besar dan satu pengurus kucing." Agus membaca poin yang di buat Luna.
" Em, oke!" Agus segera setuju perihal kucing, sebab Agus juga punya kucing sebagai peliharaan.
"3. Setiap sarapan dan makan malam harus makan bersama." Agus menatap Luna heran dan penuh tanda tanya.
" Kalau aku kerja?" Tanya Agus.
" Kalau tidak bisa, harus ada ijin sehari sebelumnya." Terang Luna menegaskan.
" Hemh! Sudah mirip seperti suami yang mematuhi istrinya." Dengus Agus menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"4. Skin ship yang di sengaja atau tidak di sengaja semuanya di kenakan denda sebesar 100. 000. Skin ship yang lebih dalam dari sekedar bersentuhan denda di lipat gandakan sebanyak 10 x lipat." Baca Agus sampai mimik wajahnya berubah menjadi aneh.
" Iya, kita harus berjaga jaga. Siapa tau malam malam kamu mabuk dan mendatangiku lalu kita Em...!" Kata Luna.
" Itu hanya imajinasimu saja, tidak akan mungkin." Agus menepiskan kemungkinan yang bisa terjadi.
" Kalau terjadi?" Luna berandai-andai.
"Kalau aku yang sentuh kamu aku harus bayar, begitukan maksudmu? Lalu kalau kamu yang menyentuh tubuhku yang tampan dan berharga ini, Kamu mampu bayar berapa?" Celetuk Agus merendahkan Luna yang seakan tidak mampu membayar barang sepeserpun.
__ADS_1
" Poin ini tidak aku terima demi keuntungan mu, Tapi, jika kamu memaksa ya tidak apa apa, Kemungkinan besar, kamu pulang tanpa hasil." Agus menegaskan dan mematahkan harapan Luna.
" Baiklah kita hapuskan poin itu." Ucap Luna mengalah.
" 5. Tidak boleh ada teriakan atau bentakan. Harus saling lemah lembut dan sopan serta menghargai satu sama lain." Baca Agus sambil mengangguk beberapa kali.
"6. Selalu bersikap baik di muka umum." Baca Agus yang kemudian menatap Luna seperti meminta penjelasan.
" Ya, Harus sopan maksudku." Kata Luna dengan gugup.
" Maksudmu romantis?" Tanya Agus memastikan.
" Tidak, sopan saja sudah cukup." Luna menegaskan.
" Seharusnya poin ini aku yang mengusulkan. Di poin ini, aku ingin kita selalu bersikap manis dan romantis di hadapan umum dan media." Agus mencoret lalu mengganti isi poin.
*****
Tiga hari sejak hari terakhir mereka bersama di rumah sakit, Agus jarang menemui Luna mereka hanya bertegur sapa melalui sambungan telepon.
Hari ini adalah hari dimana Agus mengajak Luna untuk pindah Rumah. Luna beranggapan hanya dia yang akan menempati rumah baru itu bersama Katty. Angan angan Luna nampaknya teramat tinggi. Pasalnya Agus juga masih waras sehingga masih menghitung untung dan rugi.
" Ehem, Na!" Agus memanggil Luna dengan tiba-tiba.
" Astaga!" Luna terkejut hingga mencoret pipinya sendiri dengan lipstik.
" Ah, kamu!" Luna berdecak kesal.
" Hahahaha! kenapa, Terpesona ya?" Agus memuji dirinya sendiri dengan senyum yang mengembang.
Memang tampilan Agus saat ini akan sangat membuat para wanita terpesona.
"Siapa bilang?" Luna mengelak.
" Ih, iya itu sampai ileran! " Agus menggoda Luna yang terlihat salah tingkah. Entah mengapa tetapi Agus sangat suka jika melihat Luna sedang canggung atau salah tingkah.
" Eh tunggu sebentar." Agus tiba tiba mengambil tisu yang berada di sebelah Luna dan menyeka coretan lipstik dari pipi Luna.
Kini wajah mereka saling berhadapan dan sangat dekat hingga hanya tersisa beberapa centi saja. Deru nafas Agus menerpa leher Luna yang membuat jantung Luna berdetak kencang. Luna semakin gugup dan tidak berani menatap wajah Agus.
__ADS_1
Dan tiba-tiba Luna menarik wajah Agus hingga kini pipi Agus berada tepat di samping bibir Luna. " Diamlah, kumohon diam. Bantu aku ya." Kata Luna dengan tubuh yang gemetaran seperti melihat hantu.
Agus hanya menurut dan patuh akan apa yang dilakukan Luna kepadanya. Agus tau jika Luna sedang bersembunyi dari seseorang. Siapa orang tersebut hingga membuat Luna menggigil ketakutan?
" Cih! dasar anak muda jaman Sekarang. Semakin tidak tau malu saja, masih di basement sudah seperti itu. Apa mereka tidak mampu menyewa hotel?" Kata wanita separuh baya yang pergi berlalu melewati Luna dan Agus.
" Ma... maaf Pak." Luna kemudian melepaskan Agus setelah dirasanya wanita tadi semakin menjauh.
" Siapa dia? kenapa kamu sampai ketakutan?" Tanya Agus penasaran.
"Tidak, tidak usah kita bahas. " Jawab Luna dengan wajah yang sedikit panik.
" Ayo!" Agus mengulurkan tangannya untuk menggandeng Luna.
Luna menatap tangan Agus sesaat dan mengerutkan keningnya.
" Kan kita tidak akan menyebrang." Ucap Luna dengan polosnya.
" Hey! apa kamu sudah lupa poin perjanjian kita yang terakhir? BERSIKAP MANIS DAN ROMANTIS. Aku yakin sedari tadi sudah ada yang memotret kita dengan adegan yang terlihat seperti ciuman bibir. " Kata Agus dengan santainya.
" Apa?" Luna melongok dan menengok ke kanan dan kiri memperhatikan keadaan sekitar.
Agus mengulum senyum karena mampu mengerjai Luna lagi menjadi panik dan kebingungan.
" Hahahaha! mudah sekali membohongimu?" Agus mengetuk kepala Luna dengan topinya.
" Ih, sakit tau pak." Luna mendengus kesal.
" Jangan panggil aku pak. Tugasmu sekarang adalah, pikirkan satu panggilan sayang untukku. Dan, pakai ini juga." Agus memberikan masker hitam.
" Ini juga." Topi hitam Agus kini berpindah di kepala Luna.
Kalau dia terlalu manis seperti ini. Bisa bisa aku terjebak dalam perjanjian ini. Tuhan, sadarkan aku. Batin Luna dengan doanya.
Apakah Luna akan benar benar jatuh cinta kepada Agus Dermawan?
Tidak ada yang bisa menduga darimana arah datangnya jodoh kita. Begitupun mereka berdua.
~ Bersambung ~
Jangan lupa like dan coment ya!
__ADS_1