
Seperti perangko atau materai atau bisa juga cicak. Luna masih saja menempel pada Agus dan tak ingin lepas.
"By, sudah jam satu. Aku harus pergi ke bandara sekarang." Bujuk Agus sambil mengusap lembut punggung Luna yang berada di dalam dekapannya.
" Tidak, aku ikut." Luna menggeleng cepat.
" Tidak bisa sayang, di sana masih sangat pelosok. Aku tidak mau kamu berada di tempat yang belum kamu kenal dan juga semua serba susah." Agus menghela nafas berat dan menangkup kedua pipi Luna yang sudah basah karena air mata. Dia heran mengapa istrinya menjadi semakin rewel akhir akhir ini.
Perlahan Agus membelai lembut pucuk kepala Luna dan memeluknya erat " Percayalah, tidak akan lama hanya satu Minggu sayang. Satu Minggu." Agus mencoba untuk meyakinkan Luna.
" Eum...." Luna mengangguk tapi masih dengan ketidak relaan. Dimana hatinya menolak tapi kepalanya mengangguk.
Kenapa aku jadi semanja ini pada suamiku? Padahal dia hanya akan pergi bekerja bukan untuk mencari istri baru.
Kenapa aku selalu ingin berada di dekatnya. Beginikah rasanya jatuh cinta?
Beginikah suami rasa pacar?
Ga mau jauh jauh!! Luna berkeluh di dalam hatinya.
" Nah, begitu dong. itu baru istriku yang cantik." Kata Agus memuji dengan niatan ingin memperbaiki suasana hati Luna.
" Hua.... jadi menurut kamu sedari tadi aku nempel begini jelek?" Luna kembali menangis.
Entah apa yang ada di dalam hati dan kepalanya saat ini, namun yang jelas Luna seringkali berubah-ubah moodnya. Agus hanya bisa menghela nafas berat lagi. Sepertinya harus memulai dari awal untuk membujuk Luna.
Krik!
Krik!
Krik!
" Pak,maaf kita jadi berangkat atau tidak? Ini sudah pukul 13:30. Kita bisa tertinggal pesawat." Kata Desta yang sedari tadi melihat pemandangan yang menggoda imannya.
Ahhh,mataku yang suci, Kamu harus ternoda saat ini.
__ADS_1
Apa apaan Nyonya muda. Sangat manja sekali bucin sekali dia. Batin Desta yang rupanya sedari tadi melihat real drama di depan matanya.
Sambil menggandeng Luna berjalan keluar kantor, Agus terus saja merangkul pinggang Luna. Para karyawan yang melihat hanya bisa mengulum senyumnya melihat betapa manjanya istri Bossnya saat ini dan tidak seperti biasanya. Jika biasanya Luna selalu menepis tangan Agus jika menggerayanginya di tempat umum maka kali ini dia yang masih memeluk erat pinggang sang suami yang terlihat posesif.
Ga akan lepas juga kali Bu itu pak Agusnya. Ga ada juga yang bisa ngalahin ibu buat jadi pawangnya Bapak. Gumam Lena yang melihat kemesraan sepasang suami istri tersebut.
" Makanya Nikah, ga ngebatin melulu." Desis Desta di telinga Lena saat dia melewatinya.
Sial! Kayak dia udah punya pasangan aja! Sadar diri Desta! Geram Luna dalam hatinya dengan tangan yang mengepal.
Agus dan Luna berlalu menuju ke bandara. Selama dalam perjalanan Luna sama sekali tak ingin lepas dari Agus selalu menempel erat seperti permen karet yang terjebak diantara rambut.
Agus tersenyum manis seperti gummy bears dan melihat Luna yang perlahan dengan berat hati mau ditinggal olehnya. "Bye,sayang chubby." Agus melambai.
Kira kira begini ya ekspresi Agus setelah melambai. Namun lagi lagi Luna salah mengartikan dan kini dia termenung saat Desta sudah mengajaknya kembali ke Resto.
" Lebar banget senyumnya saat mau pergi. Kayaknya seneng gitu dia jauh dari aku. Ya kan?"Oceh Luna yang kesal tanpa sebab. Dan kini sasarannya siapa lagi kalau bukan Desta.
" Ya kan?" Desak Luna lagi sambil menaikkan satu oktav suaranya guna meminta jawaban dari Desta.
" Em, tidak Bu. Bapak memang senyumnya manis seperti itu kan?"
"Ah, tidak. Dia seperti itu pasti karena merasa senang jauh dari aku kan?"
" Bu, Bapak bukan **** boy. Selama saya bekerja dengan beliau, tidak pernah sekalipun saya mengurusi atau memergoki beliau bersama wanita. Bapak itu orangnya lurus dan setia. Hanya ibu saja yang sanggup jadi pawangnya." Kata Desta jujur.
" Kamu jujur atau hanya sekedar menjalankan misi saja dari Bapak?" Desak Luna lagi.
"Saya jujur Bu. Sumpah deh!"Desta mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
" Lalu, Nina itu?" Tanya Luna yang sebenarnya sedari dulu masih belum bisa memahami Nina yang sepertinya sangat terobsesi pada Agus.
"Jadi begini Bu. Saya akan bercerita tentang Nina yang sejujurnya. Tapi Ibu janji akan memegang rahasia ini." Kata Desta yang akan memulai kejujurannya.
__ADS_1
Aku rasa ini waktu yang pas. Setelah ini aku harap Nyonya muda tidak akan meragukan Bos lagi. Batin Desta yang matanya terus fokus mengemudi.
" Ceritakan." Pinta Luna dengan antusias. Tidak ada yang mengupas secara dalam bagaimana seorang Nina bisa sangat terobsesi dan ingin memiliki suaminya yang jelas-jelas dimana Agus selalu menolaknya. Seperti tidak memiliki harga diri Nina di hadapan Agus. Luna memikirkan hal itu.
Sudah lama Luna ingin mengetahuinya hanya saja, dia tidak tahu sumber mana yang akan di kupasnya. Jika bertanya dengan ibu mertuanya itu sangatlah tidak mungkin, rasanya tidak sopan sekali. Jika bertanya langsung pada suaminya, Agus seolah ingin mengubur nama Nina dalam dalam dari hidupnya. Jangankan untuk mengorek masa lalu, untuk mengungkapkan perasaannya saja pun, Agus terkesan sulit.
" Jadi begini.
Nina dahulu adalah sahabat Bapak. Mereka lama menjalin persahabatan dan di mulai dari semenjak SMA. Tapi, Bapak tidak pernah tahu apa maksud Nina yang selalu ingin di dekatnya. Nina sangat terobsesi kepada bapak. Dan Nyonya muda tau sendiri kan bagaimana Nina mencelakai Mbak rosa?"
" Ya, seperti itulah Nina. Caranya untuk selalu dekat dengan Agus sangatlah ekstrim. Kemarin setelah dia tertangkap, barulah muncul beberapa laporan baru, jika sudah banyak korban atas tindakan anehnya itu. Jadi dia sudah banyak mencelakai wanita yang ingin dekat dengan Bapak meskipun itu hanya sekedar teman atau rekan."Kata Desta yang tehenti sebentar untuk mengambil nafas panjang.
" Pasti ada alasannya ya kan kenapa sampai dia seperti itu?" Tanya Luna yang jiwa keingin tahuannya semakin menjadi.
" Anda benar, ada alasan di balik semua tindakannya. Hasil penyidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian membuahkan hasil Nyonya, saat pemeriksaan setelah penangkapannya kemarin. Jadi dia melakukan semua itu karena tidak ingin kehilangan orang yang di cintainya untuk kedua kalinya." Terang Desta.
Luna mengkerutkan alisnya tak mengerti " Apa maksudnya?"
" Nina, dia di jodohkan dengan anak dari teman ayahnya. Dan lelaki itu sangat mirip dengan Tuan Boss. mereka dekat dan berhubungan baik. Tetapi, takdir berkata lain. Pria itu meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dengan keluarganya. Tidak ada yang bersisa. Nina yang sudah jatuh hati, Eum... lebih tepatnya pria itu adalah cinta pertamanya."
" Jadi ya, seperti itulah."
"Tapi Nyonya harus tenang dan percaya jika Tuan hanya mencintai Nyonya saja. Saya sangat lega setelah dia menemukan anda. Kalau tidak, mungkin saya menjadi gila." Celetuk Desta yang kini mencurahkan isi hatinya yang lama terpendam.
"Kenapa gitu?" Luna tak mengerti.
" Jelas Nyonya saya akan gila. Selama saya mendampingi beliau, beliau hanya mengejar satu wanita di dalam mimpinya. Saya tidak masalah jika apa yang di gambarkan oleh tuan itu jelas dan nyata. Tapi itu hanya mimpi dengan gambar abstraknya. Nyonya tentu tahu kan bagaimana keahlian Tuan dalam menggambar?" Kata Desta yang melihat wajah Nyonya mudanya dari spion dalam mobil.
" Hahaha, iya. Dia jika menggambar sangatlah buruk. Eh, tapi suamiku pandai bermain gitar." Ucap Luna yang terkesan tak ingin jika suaminya di ejek.
Syukurlah moodnya sudah bagus. Tidak jadi kena semprot magic gue. Batin Desta tenang.
" Hhhh, ceritamu membuat aku jadi semakin merindukan Suamiku Des."Celetuk Luna yang mengulum senyumnya.
Hhhhhhhh...., Kumat lagi bucinya baru juga 20 menit berpisah. Batin Desta yang melirik spion dalam.
__ADS_1