Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Bagus


__ADS_3

Rosa terdiam menatap wajah Levan yang masih terlelap. Ingin sekali rasanya Rosa membelai setiap Mili dari garis wajah manusia yang tampan itu, tetapi, lagi-lagi Rosa masih bertahan pada keras hatinya yang ingin menguji perasaan Levan.


Rosa tidak percaya begitu saja jika dia dan Levan sudah menjadi pasangan suami istri.


Kapan menikahnya? Tentu Rosa tidak ingat. Bahkan dia tidak tahu karena prosesinya berjalan saat dirinya sedang terluka parah dan terbaring koma.


Andai saja dia tahu, sudah tentu dia tidak akan tega mempermainkan dan menguji tulus kasih Suaminya sendiri. Levan mengabaikan banyak kemungkinan buruk yang mungkin bisa saja terjadi ketika Rosa yang sudah menjadi istrinya tersadar nanti. Mungkin saja Rosa bisa menjadi cacat, lumpuh, atau saja yang terburuk adalah meninggal dunia.


Semua itu di abaikan oleh Levan karena memang tulus dari dalam hatinya sebenarnya dia sangat mencintai Rosa.


Tergoda dengan ketampanan levan yang sejak dulu di kaguminya membuat tangan Rosa menolak perintah dari otaknya untuk sekedar diam dan tenang. Tangannya justru mulai meraba perlahan alis Levan hingga membuat si empunya terbangun.


" Ehem!" Levan berdehem dengan sengaja, dia berharap ketika dia bangun Rosa sudah kembali mengingat kenangan mereka.


" Kenapa menatap wajahku seperti itu?Aku tampan ya?" Kata levan dengan berbangga hati menyombongkan dirinya.


" Cih, apanya. Aku tuh cuma mau nepuk nyamuk yang tadi hinggap di alis kamu karena kamu bangun ya, terbang lagi deh nyamuknya." Jawab Rosa berkilah yang sebenarnya dia sudah sangat malu sampai menahan merah pipinya yang mulai merona


" Ayo bangun, kita Makan. Aku sudah pesan makanan. Dan juga akan ada tamu nanti. Kamu mau ganti baju atau apa?"Tanya Rosa yang terdengar perhatian. Tetapi sesungguhnya ada sesuatu yang sudah ia rencanakan matang-matang di balik semua kebaikannya.


" Aku mau mandi. Tapi," Ucap Levan terhenti dan kemudian dia duduk bersandar di headboard.


" Tapi apa? Ini bajunya aku taruh sini ya." Ucap Rosa yang sudah sibuk mengambilkan baju ganti untuk Levan.


" Bantu aku menggosok punggungku." Pinta Levan dengan malu-malu.


Dia sungguh tak enak hati untuk merepotkan Rosa sejauh ini. Tapi apa boleh buat? Levan berhari-hari hanya mandi asal basah saja karena kakinya tidak boleh terkena air. Sementara punggungnya sudah mulai menunjukkan reaksi ketidak nyamanan. Punggung levan sudah mulai iritasi karena kurangnya kebersihan.


" Apa!"Rosa memekik keras. Tentunya dia hanya berpura-pura kaget dan hendak menolak dan berharap Levan akan merengek memohon bantuannya.


Hhhhhhhh! baiklah dia memang belum ingat siapa aku.


Dia juga tidak tahu kalau kami sudah suami istri. Aku harus lebih bersabar sampai ingatannya kembali. Batin Levan sedih setelah melihat reaksi keterkejutan Rosa.


" Baiklah, maaf aku yang salah. Aku yang lancang karena telah meminta bantuan manusia suci sepertimu yang akan ternoda ketika menyentuh tubuhku. Meski karena aku yang beginilah kamu masih bisa bernafas dan bergerak bebas." Kata Levan yang merendah sebelum meroket dan menghentakkan Rosa kesasar tanah setelah mengungkit kebaikannya. Sungguh otak levan diatas rata-rata dalam memanipulasi kata.


" Cih, apa itu meminta maaf lalu mengungkit kebaikan. Huh, tak kusangka." Kata Rosa berdecih kesal karena levan mengungkit pengorbanannya.


Rosa kemudian mendekat seperti orang yang terpaksa melakukan sesuatu. " Sini cepatlah aku bantu." Kata Rosa dengan raut wajah terpaksa.


Hahaha, rasakan kamu Levan. Batin Rosa bersorak gembira. Entah apalagi yang di rencanakannya.


Rosa membawa Levan menuju ke kamar mandi dengan menaiki kursi roda.

__ADS_1


" Ayo buka bajunya." Kata Rosa memerintah sedang dia sendiri tengah mempersiapkan handuk untuk menggosok punggung Levan.


Levan perlahan membuka bajunya dan nampak luka lecet yang banyak membekas di punggungnya. Rosa melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Rupanya sudah beberapa hari yang lalu Levan menahan gatal di punggung dan tak enak hati untuk merepotkan Rosa.


" Astaga! Levan. Sejak kapan kamu merasa gatal-gatal?" Rosa mulai menggosok punggung levan perlahan dengan handuk yang membungkus tangannya.


" Sudah dari 4 hari yang lalu. Aku tidak enak untuk menyuruhmu. Aku takut kamu salah mengartikan kemauanku. Tapi sungguh aku tidak ada niat lain aku benar-benar kegatalan."


" Em, maksudku gatal gatal. Kamu jangan salah paham ya." Levan berbicara pelan tapi terdengar jelas dan membuat Rosa menitikkan air matanya.


Kalau benar hubungan kami sudah suami istri maka berdosalah aku.


Malaikat pasti sedang melaknatku. Sebagai istri aku malah menyia-nyiakan suamiku sendiri setelah dia berkorban nyawa untuk menyelamatkan aku.


Tapi, aku mau tau kesungguhannya. Tak apa Levan jika semua kata katamu itu jujur dan benar adanya, maka aku akan bertekuk lutut, tunduk, dan patuh terhadapmu.


Tapi jika kamu bohong, maka aku akan membuat perhitungan denganmu.


" Iya. Aku tidak akan salah paham jika penjelasanmu detail dan rinci juga di sertai bukti." Balas Rosa yang kemudian mulai memakaikan baju atasan kepada Levan.


" Lalu, mana lagi yang gatal?" Tanya Rosa.


"Bawah, pahaku juga gatal." Keluh levan jujur.


" Tidak, aku tidak minta kamu menggaruknya aku hanya ingin kamu membantuku berdiri. Aku akan membersihkannya sendiri. Aku masih belum bisa berdiri sebegitu lama sayang. Lihat, kakiku masih di gips." Kata levan beralasan.


"Sayang, Sayang! Gundulmu!!" Ketus Rosa terlihat tak suka dan memprotes keras ucapan Levan.


Lama mereka bergulat di kamar mandi. Tetapi tetap saja Rosa sesekali melirik aset berharga milik Levan. Otaknya sungguh tidak bisa di kendalikan. Ada hasrat nakal yang mulai menggeliat dalam diri Rosa ketika melihat ada sesuatu yang tersimpan diantara ************ Levan yang hanya bertutupkan boxer.


" Ayo aku keringkan rambutmu." Rosa mendorong kursi roda levan dan berhenti di depan meja rias.


"Kalau boleh tau, siapa tamu yang akan datang?" Tanya Levan penasaran dan mendongak melihat wajah Rosa yang berada di belakangnya masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


" Bagus yang akan datang, itu loh anak Tante Mira sahabat mamaku. Yang aku pernah ceritakan. Dia yang berbakat dan tampan. Yang waktu itu kamu suruh aku Pepet dia terus. Aku rasa idemu sangat baik, wahhh apa begini rasanya jatuh cinta? Hatiku cenat cenut!Aaaawwww pangeranku akan datang." Seloroh Rosa antusias membayangkan kedatangan Bagus.


Sebaliknya Levan terbakar cemburu dan begini ekspresinya.



Bagus, Bagus, apanya yang bagus? Bagusan juga aku kemana mana.


Hei istriku yang menyebalkan, ingat saja waktu ini, jika ingatanmu sudah pulih akan aku getok kepalamu karena membayangkan pria lain dan akan aku lahap habis bibirmu karena banyak memuji pria jelek itu. Batin Levan yang geram.

__ADS_1


Kenapa tidak bereaksi sih. Cemburu kek atau apa gitu.


Banting banting apa gitu biar rame. Malah santai aja.


Atau jangan-jangan dia bohong sama ucapannya.


Ohhh, kok aku jadi banyak berharap gini sih. Kesel deh!!


" Udah rambutnya. Ayok kita makan, sebentar lagi pangeranku akan datang." Ucap Rosa sengaja mengagungkan Bagus agar Levan bereaksi.


" Makanlah dengannya, aku lelah ingin istirahat. Awas aku mau tidur." Levan menjalankan kursi rodanya dan berbaring di ranjang.


" Hai, ayolah temani aku. Bukankah tidak baik jika hanya aku dan dia, katanya yang ketiga bisa hadir setan kalau lelaki dan perempuan berduaan. Ayolah!" Rosa membujuk Levan dengan harapan levan akan terprovokasi dan kemudian terbakar api cemburu setelah melihat kedekatan Rosa dan Bagus, lalu dia akan meledak-ledak terbakar api cemburu lalu mengungkapkan semuanya dan berterus terang.


"Kamu sajalah."


" Evi ei ei, atau kamu cemburu ya? Atau kamu diam diam suka aku?"


Pletak!!


Levan menyentil kuat kening Rosa yang menggodanya tepat di hadapannya.


"Auh, sakit tau!" Rosa mendengus kesal dan menatap tajam Levan.


" Aku rasa kamu tuli. Bukankah aku sudah bilang kalau aku mencintaimu, aku ini suamimu, harus bagaimana lagi sih?"


" Cemburu ya jelas lah aku cemburu, sebagai suami memang wajib mencemburui istri yang memiliki kedekatan dengan lelaki lain kan? Apalagi istriku gila seperti kamu. Seharusnya aku membelenggu kakimu dengan tantai!" Ucap Levan bersungut-sungut terbakar emosi yang malah mengungkapkan semuanya secara gamblang.


" Kalau kamu tidak percaya, silahkan hubungi Mama. Tanyakan semuanya, aku tidak bisa melihat istriku selalu saja mengagungkan lelaki lain di depan mataku." Kata Levan tegas



Rosa memanyunkan bibirnya seperti ini dan menatap levan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


" Apa? kenapa manyun manyun gitu?" Levan masih sangat kesal.


" Cie yang ngambek,"Rosa semakin menggoda Levan.


Ting- tong!


Bell berbunyi dan Rosa pergi begitu saja meninggalkan Levan yang kesal sendirian. Levan meninju bantal dan menggigitnya berkali-kali meluapkan amarahnya.


Awas saja kamu Bernai macam-macam! Sungut Levan kesal dan menghajar bantal.

__ADS_1


__ADS_2