
Luna ingin beranjak dari duduknya, tetapi entah mengapa tangan dan kakinya masih saja gemetaran. Luna memang memiliki kelemahan kalau soal menghadapi keributan, nyalinya menciut dan keringat dingin bercucuran serta tangan dan kakinya akan gemetaran.
Entah mengapa tapi hal seperti itu selalu terjadi, tapi ini juga kali pertama Luna berani membalas ucapan Deri. Selama dua tahun lamanya mereka pernah berpacaran, Luna selalu saja menuruti setiap perkataan Deri. Entah benar atau salah, Luna malas beradu argumen dan lebih memilih jalur aman yaitu diam dan menurut.
Tapi hari ini, entah energi dari mana, mulut Luna lancar sekali berbicara Bahakan membentak Deri dengan lantang. Meskipun setelahnya kakinya lemas tidak karuan dan jantungnya berdebar keras. Sungguh sesuatu yang aneh, Luna masih menelisik dan meraba apa yang baru saja di lakukannya. Luna sendiri bahkan tidak percaya jika dirinya mampu melakukan hal hebat seperti itu.
"Kamu sudah baikan?" Tanya Agus yang nampak khawatir dan duduk di hadapan Luna.
"Aku baik, hanya saja masih gemetaran. Entah apa yang aku takutkan tapi aku selalu begini jika menghadapi perkelahian atau pertikaian." Ucap Luna dengan polosnya.
Agus tersenyum tipis melihat wajah Luna yang saat ini pucat pasi seperti habis melihat hantu.
"Kamu kenapa tertawa seperti itu?" Tanya Luna yang mendapati gelagat aneh dari Agus.
"Hahahaha ada manusia seperti kamu ini. Kamu yang di salahi, kamu yang jadi korban, tapi kamu juga yang takut untuk membalaskan." Agus menggeleng karena tidak habis pikir dengan Luna.
"Ya, Gus. Aku ini wanita yang lemah lembut, seumur hidup. Ini kali pertama aku berkelahi dengan orang lain. Aku butuh banyak latihan untuk memarahi orang lain." Terang Luna dengan jujur.
"Berbeda dengan aku, memarahi orang lain bahkan tanpa berteriak pun. Aku sanggup membuat nyali mereka menciut." Balas Agus menyombongkan dirinya sendiri.
"Hemm, iya iya paham. Desta sering bilang. Eh maaf ya, harusnya aku panggil kamu pak ya. Aku lihat sepertinya usia kita terpaut jauh." Celetuk Luna sambil mengamati wajah Agus.
"Ya, kamu harus panggil aku Pak, atau tuan. Sebab aku CEO. Kalau tidak, bisa hancur martabat dan wibawaku." Jawab Agus dengan suara lembut.
Meski tanpa berbicara dengan lantang, tapi gaya bicara Agus terbilang sangat membanggakan diri sendiri. Semua itu bukan tanpa sebab, penampilan dan jabatan mendukung visualisasi Agus yang nampak lebih berwibawa dari orang kebanyakan. Dari cara bicara dan gaya berjalannya sangat berbeda. Entah kharisma apa yang dimilikinya.
"Sudah malam, karena kita searah. Mari aku antar kamu pulang." Agus menawarkan bantuan.
"Baik." Jawab Luna yang mencoba berdiri tapi lagi lagi terhuyung dan hampir jatuh.
Dengan sigap Agus menangkapnya " Hati hati, perhatikan langkahmu." Agus terlihat sangat perhatian.
"Cepat bangun, ayo ku bantu berjalan. Maaf aku tidak mau menggendongmu. Aku tidak mau ada salah paham antara kamu dan pacarmu." Kata Agus sembari memapah Luna berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Pacar? Siapa pacarku? Tadi itu dia mantanku, dan aku tidak punya pacar saat ini." Ucap Luna sembari terkekeh.
"Pria muda yang waktu itu?" Agus mengingat pertemuannya dengan Levan dan Luna di depan pintu unit apartemen.
__ADS_1
"Kena kamu Tuan Agus!" Pekik Luna dengan wajah yang berbinar menahan tawa.
Agus heran kenapa Luna malah tertawa riang. Bukankah seharusnya dia menjaga jarak dan menolak bantuannya jika memang sudah memiliki pasangan.
"Astaga! Dia itu Levan. Adik laki-lakiku, kami beda 7 tahun. Tapi ya tubuhnya sangat besar jika di bandingkan dengan aku." Jawab Luna masih dengan terkekeh geli.
"Tidak mungkin, seorang adik berani beraninya memanggil kakaknya dengan sebutan CANTIK." Agus menekankan kata cantik sebagai tanda ketidak percayaan terhadap ucapan Luna.
"Karena memang namaku Luna Cantika. Dia seperti itu sengaja, agar tidak di kejar kejar wanita. Dia menjadikanku tameng." Jawab Luna jujur.
Mendengar jawaban Luna sontak Agus teringat adiknya, Rosa yang terkesan menggilai sosok Levan. Agus ingat bagaimana sikap Rosa yang genit dan manja terhadap Levan tetapi levan cenderung menghindarinya. Agus tertunduk lesu mendapati kenyataan itu.
"Eh, maaf ya. Aku terlalu banyak bertanya tentang kehidupan pribadimu." Ucap Agus yang sadar jika perbincangan mereka terlalu jauh untuk kali pertama bersua.
"Tidak apa apa. Aku juga heran kenapa aku mau menjawab semua pertanyaan anehmu itu." Jawab Luna spontan.
Tidak terasa, langkah mereka terhenti karena telah sampai di parkiran. Keduanya terhenti dan saling tatap satu sama lain. Mereka bingung harus memakai mobil siapa, kedua mobil mereka terparkir rapi dan bersandingan.
"Pakai mobilku saja, besok kita bisa berangkat bersama lagi jika kamu tidak keberatan." Ucap Agus tiba tiba.
"Silahkan, apa kakimu masih lemas?" Tanya Agus yang melihat Luna canggung untuk menaiki mobil Agus.
"Oh, tidak. Hanya saja ini sedikit lebih tinggi dari mobilku." Ucap Luna jujur.
Memang mobil Luna dan Agus sangat berbeda tipe. Mobil Agus lebih sporty dan gagah, sedang mobil Luna hanya sedan kecil dan tua, mobil bekas yang dia belinya dari pelelangan taksi.
"Kamu, sudah lama tinggal di apartemen itu?" Tanya Agus yang lebih dominan banyak bicara sedari mereka berkenalan.
"Baru, mungkin baru 2 tahun." Jawab Luna mengais ingatannya akan pertama kali menempati apartemen.
"Dua tahun, lumayan lama. Tapi kita sama sekali tidak pernah bertemu ya." Tanya Agus yang mengingat memang tidak pernah menjumpai batang hidung Luna barang sekalipun.
"Iya." Jawab Luna dengan canggung dan malu.
Suasana menjadi hening sejenak dan kemudian terlihat gurat kecemasan di wajah Luna. Agus menyadari ada yang berbeda dari situasi yang di rasakannya saat ini. Tetapi Agus hanya mencoba untuk mengabaikan dan tetap fokus mengemudi.
Jangan sekarang, tolong jangan Sekarang! Ya Allah, tolong jangan sekarang. Aku malu, harus bagaimana aku menyiasati ini. Kenapa maju banyak sekali. Masih kurang 4 hari lagi. Kenapa harus malam ini? Gumam Luna dengan kalut dan cemas.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Agus yang mulai memasuki area basement.
Luna menggeleng menahan malu. Haidnya hadir terlalu cepat dan maju 4 hari dari tanggal yang seharusnya. Luna benar benar bingung dan malu saat ini, bagaimana caranya dia bisa turun dari mobil tanpa memperlihatkan noda darah kepada Agus. Ini pertemuan pertama mereka, tetapi Luna sudah banyak merepotkan Agus bahkan mempermalukan dirinya sendiri.
"Sampai." Kata Agus yang kini sudah mematikan mesin mobilnya dan turun terlebih dahulu.
Luna masih duduk di dalam mobil karena malu. Luna tidak tahu lagi caranya untuk bisa keluar dari mobil tanpa meninggalkan bekas dan terlihat oleh Agus.
"Ayo turun." Agus membukakan pintu mobil untuk Luna.
"Em, aku..." Ucap Luna dengan gugup, takut dan malu.
"Kenapa? kakimu lemas?" Tanya Agus menebak.
"Tidak, a... aku." Luna semakin gugup dengan keringat dingin di keningnya.
"Kamu kenapa? apa perlu aku gendong?" Agus semakin cemas melihat wajah Luna yang mengeluarkan keringat dingin.
"Tidak tidak usah di gendong. aku bisa jalan, hanya saja aku mau pinjam Jasmi boleh?" Tanya Luna.
"Jas? boleh." Agus yang sedari tadi hanya menenteng jas dengan begitu saja memberikannya kepada Luna tanpa banyak bertanya.
"Ini." Agus mengulurkan jasnya.
" Dan ini kunci mobilnya, Jangan lupa kunci mobilnya ketika kamu sudah selesai. Aku duluan." Kata Agus yang kemudian berjalan terlebih dahulu memasuki lift.
Luna dengan cepat mengambil tissue basah dan mengelap bersih tempat duduknya. Bangku yang berwarna hitam itu tidak begitu sulit di bersihkan dari noda darah haid. Luna sampai menggunakan senter untuk menambah penentangan dan memastikan jika semuanya bersih tanpa noda.
Dengan mengikatkan jas di pinggangnya, Luna kemudian berjalan memasuki lift dan menuju ke lantai apartemennya. Terlihat pintu apartemen Agus sudah tertutup rapat, Luna mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu apartemen Agus dan berniat untuk mengembalikannya besok pagi.
****
"Hahaha, aku tau dia sedang bocor dan kebingungan serta malu. Itu hal biasa bagi wanita. Sudah tidak asing lagi bagiku." Gumam Agus sambil menggeleng sendiri di depan cermin.
"Dia gadis yang polos dan lugu. Kepribadiannya baik." Tanpa sadar Agus memuji Luna di dalam hatinya.
~ Bersambung ~
__ADS_1