
Luna masih terjebak di dalam kamar mandi. Dia masih bingung memikirkan cara untuk keluar dari masalah yang sebenarnya sangat besar bagi Agus saat ini.
" Ini pakai handukku dulu. Nanti kamu kedinginan." Agus mengetuk pintu kamar mandi dan Luna membukanya sedikit untuk mengulurkan tangannya. Dengan ointu yang sedikit terbuka Agus memasukkan tangannya dan mengulurkan handuk putihnya.
Handuk mandi macam apa ini? Kenapa pendek sekali. Hanya bisa menutupi area terpenting saja, selebihnya. Auh, aku tidak bisa keluar dengan seperti ini. Luna berputar-putar di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi. Otaknya masih berpikir keras untuk mencari cara keluar dari kamar mandi.
" Em, Pak bisa minta tolong?"
" Apa?" Agus menjawab pertanyaan dengan cepat dan masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
" Baju bajuku kan masih ada di kamar tamu. Bisa anda ambilkan? Aku tidak bisa keluar dengan keadaan seperti ini. Handukku terlalu pendek." Kata Luna dengan lirih.
Ah iya, handukku memang pendek hanya sebatas dari pinggang hingga ke pahaku. Jika dia yang memakai maka.... Agus memikirkan hal yang seharusnya tidak di pikirkannya.
Kini Agus yang berjalan mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Melipat tangan ke dada, dengan memainkan bibirnya , Agus mengerutkan keningnya seperti sedang mencari cara jitu untuk mengalihkan perhatian sang Mama.
" Hei, Luna. Aku akan memanggil Mama untuk keluar dan kamu bisa segera mengambil baju Yanga da di kamar tamu. Oke!" Kata Agus dengan ide cemerlang.
Ide Agus terbilang cukup bagus. Setidaknya dengan cara itu, dia akan melewatkan pemandangan yang mungkin akan membuatnya hilang kendali. Agus mulai menyalakan panggilan ke nomor Luna.
" Ini ponselmu Na. Selama aku beraksi, tolong terus dengarkan ya jangan di matikan. Supaya kamu tahu waktu yang pas untuk kembali masuk ke kamar ini." Agus mewanti-wanti Luna agar tidak mematikan panggilan yang sudah terhubung dengan Agus.
__ADS_1
" Iya." Dengan patuh Luna menjawab.
Agus mulai melancarkan aksinya dan berhasil mengajak Mama Elena untuk keluar ke taman belakang.
" Ma, sini deh. Aku ada yang ingin aku tanyakan sama Mama." Agus beralasan.
" Ada apa sih, dari tadi tarik tarik Mama. Mama mau tidur siang tahu." Ketus Mama Elena yang kesal tidur siangnya terganggu.
" Ma, aku malu. Tapi, aku butuh informasi ini." Kata Agus dengan gugup, Matanya selalu mencuri pandang melihat ke arah kamar tamu.
Terlihat Luna yang berjalan dengan berjinjit memasuki kamar tamu. Bukan soal berjinjit ya yang mendapat sorotan utama Agus. Tetapi tampilan Luna dengan rambut yang tergerai basah dan kulit yang terlihat segar sehabis mandi juga handuk yang hanya berada menutupi pangkal paha. Saat Luna sedikit menunduk untuk membuka pintu dengan sangat hati-hati, maka terlihatlah pangkal bokong bawahnya. Mata Agus seketika membulat dengan menelan ludahnya.
" Mau tanya apa, kok mukanya Sampek kaku gitu?" Mama Elena mengamati wajah Agus dan menepuk pundak Agus meruntuhkan semua khayalan Agus yang mulai berkelana.
Mama Elena sempat curiga dan hendak menoleh kebelakang tetapi dengan segera Agus membalikan badan Mama Elena untuk kembali menghadapnya. Aneh sekali anak ini. Batin Mama Elena mengerutkan dahinya dan menatap Agus dengan seksama.
" Jawab Ma!" Desak Agus untuk mengalihkan perhatian Mama Elena.
" Ya jelas perhatian dari suaminya. Terkadang usia pernikahan itu boleh lama dan menua tetapi perhatian terhadap pasangan haruslah menjadi yang utama. Sebab banyak wanita yang meminta perpisahan bukan karena perubahan fisik pasangannya. Tetapi perubahan sikap pasangan yang menjadi penyebab utamanya." Kata Mama Elena dengan lembut.
" Ini Nasihat untuk kamu Nak. Tiru sikap manis Ayahmu. Walaupun dia dingin, tetapi dia manis. Dia tau cara untuk memuji dan memberikan kejutan spesial untuk Mama. Bukan mahal dan mewahnya yang mama sukai, tapi bentuk perhatiannya." Jawab mama Elena panjang lebar dengan harapan tinggi putranya akan mendengarkan nasihatnya.
__ADS_1
Tatapi apa boleh buat, otak Agus masih sangat fokus mendalami lekuk tubuh seseorang yang sekarang sudah mulai berjalan kembali menuju ke kamar mereka dengan kesusahan mengangkat koper agar tidak berbunyi. sementara satu tangan yang lain menahan handuk agar tidak terjatuh. Handuk yang Agus berikan sangat minim sekali dan tidak bisa memberi kenyamanan untuk dililitkan pada tubuh Luna.
"Ah, sudah tanyakan selebihnya kepada Papamu. Mama lelah ingin beristirahat dulu." Elena sebenarnya kecewa karena raut wajah Agus menunjukkan ketidak puasan mendengar jawaban mamanya.
" Sekarang kamu juga masuk, temani istrimu dan hibur dia. Mama tidak mau tahu!" Kata Elena dengan menarik tangan Agus dan memasukkan Agus begitu saja kedalam kamar.
Ketika Agus masuk kedalam kamar tidak nampak Luna. Tetapi ketika Mama Elena menutup pintu, barulah ada Luna yang berdiri di belakang pintu dengan panik membenarkan handuknya yang hampir terjatuh. Mata Agus yang suci mulai ternodai. Pemandangan yang indah dan wajib di syukuri itu kini berada tepat di hadapannya.
Seketika Agus gugup dan berbalik menghadap ke arah kamar mandi. Tepat di sampingnya ada TV yang mengahadap ke ranjang,
" Cepatlah ganti pakaian mu, aku tidak akan melihat. Aku akan berbalik badan sampai kamu selesai." Kata Agus yang menunduk dan belum menyadari jika ada layar TV yang bisa menjadi sebuah proyeksi yang lumayan bagus meski tidak setajam gambar aslinya.
" Benar?" Luna memastikan dengan tatapan mata tajam mengawasi gerak kepala Agus kalau kalau dia berbalik dengan tiba-tiba.
" Hem!" Agus hanya berdehem malas menjawab dan mulai memainkan kakinya sembari menunggu Luna berganti pakaian. Lelah dan lama menunggu akhirnya Agus sedikit mengangkat kepalanya dan mendapati ada pantulan gambar yang sungguh membuatnya ingin menyalurkan sesuatu pada tempatnya.
" Awas saja kalau kamu melihat." Ancaman Luna sudah terlambat. Agus sudah asik menyaksikan lekuk tubuh Luna meski berdasar warna hitam putih.
" Hem!" Agus berdehem lagi dengan santainya.
Astaga! Ke... kenapa bisa seindah itu? A... aku. Di... dia.. dia milikku kan? Sudah Hallal kan? Apa lagi yang aku tunggu? Jika hubungan kami selayaknya pernikahan yang normal maka sudah dapat di pastikan aku akan membuatnya susah untuk berjalan dan hanya mendesah nikmat setiap malam. Tetapi, apalah hubungan kami? Tanpa cinta, tanpa sayang, tanpa pengenalan lebih jauh. Jangankan untuk menyentuh semua yang ada pada dirinya, untuk menatapnya pun aku harus berusaha keras. Aah...., Luna. Apakah kamu akan percaya jika aku mengatakan aku mulai memiliki rasa padamu karena kamulah wanita yang selama ini kucari? Ataukah kamu justru akan menganggap aku hanya modus dan mencari keuntungan dari perjanjian kita?
__ADS_1
...~ Bersambung ~...