
" Iya. Aku merasa jika landasan kita untuk bersama adalah salah. Maka jika sudah salah di awal akan seterusnya salah sampai akhir." Kata Luna dengan pemikiran sempitnya.
" 😏 Sok tau kamu! Disini aku kepala keluarganya, aku yang memimpin dan aku yang menentukan. Terserah aku mau ku bawa bersandar di mana bahteraku ini. Yang jelas aku terus akan berjuang untuk mempertahankan apa yang kumiliki." Ketus Agus berbicara dengan tangan menunjuk-nunjuk meja.
Masih di bawah pohon di belakang resto. Mereka berdua duduk dan berbicara serius dengan sorot mata tajam menghardik dari Agus Dermawan. Sedang Luna hanya bisa tertunduk dan terisak.
^^^Ah, aku ingin sekali memeluknya dan membawanya pulang. Tapi mengapa dia keras kepala sekali. ^^^
Tantu saja Agus hanya berani membatin. Dirinya sendiri masih sangat bingung bagaimana menjelaskan jika Luna adalah gadis kecil yang sudah mengikat janji bersamanya dulu. Namun mungkin Luna lupa karena masih terlalu kecil kala itu.
" A.... aku.... Aku Wanita. Aku ingin pengakuan dan kejelasan atas hubungan kita ini. Apalagi kemarin kita sudah..." Niat hati Luna ingin menuntut banyak tetapi dia ingat jika Agus sudah membayarnya.
" Ah sudahlah, aku tidak punya hak untuk itu." Lanjut Luna yang semakin dalam dengan tangisnya.
" Katakanlah, Kamu punya hak. Karena kamu ISTRIKU. Berapa kali aku berucap kamu adalah ISTRIKU. Tetapi sepertinya hanya aku disini yang menganggap kamu sebagai ISTRIKU sedangkan kamu tidak menganggapku sebagai SUAMIMU?" Tegas Agus menekankan kata SUAMIMU.
^^^Satu hal yang selalu membuatku ragu. Kamu tidak pernah sama sekali mengungkapkan bagaimana perasaanmu, bagaimana bisa kamu ingin mempertahankan suatu hubungan jika tidak ada cinta? ^^^
^^^Sedang aku, apa aku harus berucap sekarang tentang mimpi itu? ^^^
Luna jauh menimbang di dalam hatinya.
" Aku menganggapmu sebagai suamiku. Hanya saja aku tidak paham dengan caramu yang memperlakukan aku dengan dingin setelah kita pulang. Bahkan kamu menghinaku yang sedang alergi." Ucap Luna dengan susah payah karena tercekat menahan Isak tangisnya.
" Oh, itu. Aku hanya merasa sedikit kesal karena Papa sudah menghajarku karena membelamu. Seolah aku ini bukan anaknya." Agus berdecih menunjukkan kekesalannya mengingat hal itu.
" Tapi hatiku sakit saat kamu seperti itu. Aku sendiri tidak tau mengapa aku bisa selemah ini hanya dengan sikap cuekmu itu. Hiks.... hiks.... hiks....!"
"Tidakkah kamu tahu, jika aku sangat ingin kita bersama? Tetapi aku juga tidak boleh egois memaksakan keadaan. Jika kamu tidak mencintaiku dan hanya takut di marahi oleh orang tuamu. Maka sebaiknya kita jalani hidup masing-masing. Hiks...., hiks...., hiks....!"
" Tidak! Aku ingin kita tetap bersama." Ujar Agus tegas.
" Hem?" Luna mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Suaminya yang ada di sampingnya.
" Aku ingin kita mulai semuanya dari awal. Aku tidak ingin lagi ada keraguan."
" Aku ingin kamu selamanya di sisiku." Kata Agus dengan serius.
" Tapi, bukankah kamu pernah bilang tentang sosok wanita yang kamu cari waktu itu? Adanya aku hanyalah sampai kamu menemukannya?" Kata Luna dengan segenap keberanian yang tersisa.
" Aku sudah menemukannya" Jawab Agus santai.
" Pasti dia wanita yang bermesraan dengan kamu di sofa waktu itu kan? Lalu untuk apa aku? Jangan-jangan kamu akan menjadikanku sebagai istri cadangan sedang kamu akan bercinta dengan wanitamu di luaran? Hiks... hiks... hiks...." Luna merasa sesak dan ingin menyelesaikan semua yang mengganjal saat ini juga.
" Pletak!" Agus menyentil dahi Luna.
" Auh... sakit!" Pekik Luna.
" Di otakmu terlalu banyak sinetron dan drama. Apa tidak ada alur cerita yang lain? CEO kaya menikahi gadis miskin, pernikahan kontrak, Benci jadi cinta dan bla.... bla.... bla...." Ucap Agus dengan nada bicara yang ketus.
__ADS_1
" Wanita itu kamu. Anak Tante Wulandari Raharsya. Kamu juga ternyata yang selalu hadir dalam mimpiku. Aku tau ini tidak bisa di cerna nalar. Tapi aku serius, bertahun-tahun lamanya aku mencari sosok wanita dalam mimpiku. Dan juga Mama yabg selalu Keukeh ingin menjodohkan aku dengan anak teman baiknya. Ini semua bukan kebetulan, tapi memang sudah jalannya kamu terlahir sebagai jodohku." Kata Agus dengan yakin.
" Kamu tahu nama Bundaku?" Luna terdiam dari tangisnya.
Alih-alih menjawabnya, Agus justru mengalihkan pembicaraan.
" Tau lah. Ingatanku ini sangat tajam. Sudahlah jangan buat drama lagi, Ayo kita pulang. Kita rencanakan pernikahan kita." Kata Agus sambil beranjak dari tempat duduknya.
Luna masih terdiam mencerna semua yang Agus katakan.
" Cih! tidak romantis sekali, begitu caramu membujuk wanita?" Teriak Luna saat Agus meninggalkannya.
Agus kembali lagi setelah mendengar protes keras dari Luna. Tanpa di duga, Agus mengecup bibir Luna.
" Cup!" bibir
"Cup!" pipi
" Cup!" Kening.
" Apakah harus seperti ini? Atau lebih?" Ucap Agus dengan entengnya.
" Hiya...., aku malu sumpah. Ini siang bolong. Di tempat terbuka." Luna bergumam sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya. Wajahnya saat ini sudah sama dengan buah tomat.
" Cepat! aku belum mandi!" Teriak Agus yang rupanya sudah meninggalkannya sejak Luna menutup wajahnya.
" Cih, sedari tadi rupanya aku bicara sendiri." Gerutu Luna.
" Aku harus bicara jujur padanya, jika dia juga selalu hadir dalam mimpiku selama ini."
"Tapi, aku sangat malu!" Gumam Luna sembari berjalan dan mengipas wajahnya yang terasa panas dengan kedua tangannya.
Di Rumah Agus.
" Hhhhhhhh, Mama sebenarnya sangat kasihan dengan Levan Pa." Ucap Mama Elena yang meragukan tubuhnya di sofa.
" Biarlah Ma. Itu semua sudah menjadi keputusannya. Papa rasa dia anak yang bijak yang pandai menyikapi masalah. Dia pasti akan bertahan dan mampu membuat Rosa tersadar lagi." Kata Pandu yang lebih bersikap optimis.
Hari ini, Rosa terbangun dari komanya. Untuk itulah Agus segera mengajak Luna untuk pulang dan bersiap menuju ke rumah sakit.
Flashback on.
" Ma, Pa? Aku dimana?" Tanya Rosa dengan lirih dan wajah yang pucat.
" Kamu masih di rumah sakit sayang. Jangan banyak bergerak." Ucap Papa Pandu yang setia berada di sisi Rosa.
" Mengapa aku disini Pa?"
"Kamu kemarin kecelakaan sayang."
__ADS_1
" Tapi kamu sekarang sudah kembali pulih. Kamu hanya perlu beristirahat beberapa Minggu lagi." Mama Elena menjelaskan tentu saja dengan kebahagiaan dan air mata yang terus bercucuran.
Senang, dan juga sedih kala melihat Rosa dengan beberapa jahitan dan luka yang ada di wajahnya. Wajah cantiknya tidak seperti dulu. Hari pandu dan Elena sangat hancur dan tersayat sayat. Mereka tidak tau reaksi seperti apa yang akan di tunjukkan oleh Luna saat melihat wajahnya yang rusak.
" Kenapa kalian menangis?"
" Apa ada yang salah dengan wajahku?"
" Tidak sayang, kamu tetap putri kamu yang tercantik." Jawab Elena mencoba menepis pemikiran negatif dari Rosa.
Tangan Rosa perlahan bergerak dan meraba wajahnya, terasa sakit dan sedikit menyangkut di luka yang terjahit dan masih juga ada yang berbalut perban di area kening.
" Cermin Ma, cermin! Aku ingin melihat wajahku!" Teriak Rosa mulai histeris.
" Tenanglah sayang, jangan banyak bergerak. Banyak alat yang menempel, nanti akan menyakitimu." Pandu bingung, dia ingin memeluk putrinya tetapi tentunya tidak bisa. Papa pandu sangat takut jika salah sentuh justru akan membuat Rosa kesakitan mengingat, beberapa tulang rusuk Rosa ada yang retak.
" Panggil Levan Ma. Suruh dia cepat datang. Mungkin Rosa bisa sedikit lebih tenang jika berada dekat dengan Levan." Kata Papa Pandu menyuruh Mama Elena.
"Iya pa."
Mama Elena segera keluar dari ruang rawat dan menghubungi Levan denagn harapan Rosa bisa tenang.
" Hallo, Levan. Kamu kesini sekarang ya. Istrimu sudah sadar. Rosa sudah bangun." Ucap Mama Elena penuh haru.
" Benarkah Ma? Baik levan akan segera tiba. 5 menit lagi ma." Ucap levan yang menguap air mata yang mulai membulir di ujung mata dan kemudian segera berlari menuju ke ruang rawat Rosa.
Rosa masih menangis menunduk meratapi keadaannya. Rambutnya botak plontos dan perban yang membebat dahinya, juga beberapa jahitan di wajahnya membuatnya semakin merasa terpuruk dan sedih.
" Sa!" Seru levan saat baru memasuki ruang rawat Rosa.
" Siapa kamu?" Ucap Rosa etelah mengamati wajah Levan.
" Siapa dia Ma? aku tidak mau ada orang lain Wang melihat wajahku yang buruk ini!" Teriak Rosa menagis histeris dan kemudian menutup tubuhnya dengan selimut hingga selang infusnya tertarik dan lepas, membuat darah mengucur dari pembuluh nadinya.
" Pa, panggil dokter!" Panik Mama Elena setelah melihat darah yang keluar dari jarum infus yang melekat di tangan Rosa.
" Iya Ma. Van, nak kamu keluar dulu ikut Papa." Kata pandu seraya bergegas mencari dokter.
Beberapa saat kemudian setelah pemeriksaan. Dokter menyatakan Rosa terkena Amnesia. Ini terjadi karena adanya benturan keras ke kepala. Jenis amnesia ini umumnya bersifat sementara, namun tergantung pada seberapa parah cedera yang terjadi.
Rosa yang tersadar tak langsung bisa mengingat semuanya. Dia dinyatakan hilang ingatan karena benturan keras.
Ingatannya yang masih terpatri hanyalah sampai di saat dia masih SMA. Dimana dia belum bertemu Levan. Levan hanya bisa pasrah dan termenung memikirkan apa yang harus di lakukannya, sedang secara agama dia sudah sah menjadi suaminya. Ini merupakan babak baru bagi Levan untuk membuka lagi lembar demi lembar cinta mereka.
" Anak kami masih bisa sembuhkan dok?" Tanya Elena penuh harap.
" Bisa ibu. Dia hanya butuh ketenangan dan juga dukungan psikologis dari orang orang di sekitarnya. Juga Jagan terlalu di paksakan. Umumnya ini hanya terjadi beberapa saat saja. Tapi kami juga tidak bisa menentukan tenggat waktunya." Kata dokter dengan bijak memberikan wawasan.
" Terimakasih Dok." Ucap Papa Pandu.
__ADS_1
Sementara itu levan hanya bisa mendengarkan semuanya dari balik pintu dan menatap hampa tubuh Rosa yang kembali tertidur setelah mendapat suntikan obat penenang dari dokter.
" Aku hanya ingin membahagiakan kamu sahabatku, ISTRIKU." Gumam Levan dengan mata yang berkaca-kaca.