Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
(Romy) KTP sebagai jaminan.


__ADS_3

" Jangan!" Teriak seorang pria dengan seragam kerjanya.


Luna menoleh seketika dan memicingkan matanya untuk mempertajam penglihatan. Laki laki berseragam polisi itu berlari menghampiri Luna yang hanya terdiam berdiri di tepi jembatan.


" Jangan! jangan bunuh diri di sini." Ucap pria itu dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


" Eh, siapa juga yang mau bunuh diri? Aku hanya menikmati pemandangan di sini pak." Kata Luna dengan santai menjelaskan apa yang terjadi.


" Oh, maaf. Aku kira kamu gadis yang berputus asa dan akan loncat kedalam sungai." Jawab polisi itu.


Luna fokus melihat tag nama di ata saku baju polisi itu. Tertulis nama ROMY MAHENDRA.


" Ya, sudah kalau begitu saya akan lanjut berpatroli lagi. Pesan saya, kamu jangan segan meminta pertolongan dari kami. Karena kami adalah pengayom masyarakat. Tugas kami adalah melindungi dan mengayomi masyarakat." Kata Romy panjang lebar menjelaskan tugasnya sebagai aparat hukum.


" Iya Pak." Jawab Luna yang hanya meng iyakan semua ucapan Romy.


" Bagus! ingat, jangan bunuh diri. Karena itu dosa dan juga merepotkan kami." Ucap Romi kembali.


" Tadi, Bapak bilang tugas bapak adalah mengayomi dan melindungi kami. Jadi boleh saya minta tolong pak?" Ucap Luna dengan malu malu tapi dia juga sangat butuh.


" Iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Romy dengan menerka nerka apa yang sedang di butuhkan oleh wanita cantik yang berdiri di hadapannya itu.


" Em, Bapak bisa antarkan saya pulang? Tadi saya kesini berjalan kaki karena sedang ada masalah hingga saya lupa membawa uang dan ponsel saya." Ucap Luna dengan jujur dan malu.


" Hemh, ayo mari saya antar anda pulang. Sebelumnya perkenalkan nama saya Romy Mahendra." Kata Romy sambil mengulurkan tangannya.


" Hehehe, saya sudah tau Pak." Celetuk Luna sambil nyengir kuda.


" Wah, anda ini indigo ya?" Sahut Romy yang lupa jika tag namanya begitu jelas terpampang di dadanya dengan huruf kapital.


" Huh? bukan," Luna menggoyangkan tangannya yang menunjukkan jika dia bukanlah seorang indigo.


" Kan itu saya masih bisa baca tulisan nama Bapak. Hehehe." Kata Luna masih dengan tertawa garing.


" Oh, saya kira." Gumam Tomy sambil ikut melihat tag nama di dadanya sendiri.


" Saya Luna Pak, jadi bapak bisa memberi saya tumpangan?" Tanya Luna lagi dengan penuh harap.


" Iya, mari. Sekalian saya berpatroli." Kata Romy mengijinkan.


Mereka berjalan berdua dan beriringan. Sungguh badan polisi itu sangat atletis dan tegap. Tingginya kira kira sekitar 184. Luna yang hanya memiliki tinggi tubuh 155 nampak seperti seorang adik yang berjalan mengekori kakak tertuanya.

__ADS_1


Bukan ke rumah, melainkan ke kafe Luna minta di antarkan. Romy mengamati sekeliling kafe yang sudah terlihat sepi karena memang sudah tutup. Dirinya tidak yakin akan tujuan Luna. Mengapa tidak ke rumah malah ke kafe yang sudah tutup.


Jangan jangan modus nih orang mau melakukan kejahatan. Mau maling nih jangan jangan. Batin Romy yang melihat Jelita aneh.


" Pak, boleh minta tolong lagi?" Jelita mendekati Romy.


" Ada apa?" Tanya Romy dengan wajah yang mulai memasang kecurigaan.


" Pinjam ponselnya Pak, saya akan menghubungi karyawan saya yang memegang kunci kafe." Kata Luna dengan wajah sedikit gugup.


" Ini." Romy memberikannya begitu saja.


Hanya sebentar dan Luna mengembalikannya lagi kepada Romy.


" Cepat sekali?" Tanya Romy yang sedari tadi juga belum mendengar Luna berbicara dengan siapapun.


" He, ponsel Bapak tidak ada pulsanya." Kata Luna jujur Sabil mengembalikan ponsel Romy.


" Lupa, maaf tanggal tua." Kekeh Romy yang menutupi rasa malunya.


" Ya sudah kalau begitu, saya antarkan anda ke rumah karyawan anda yang memegang kunci saja. Ini sudah malam, hampir tengah malam malah." Kata Romy yang melihat jam tangannya.


"Blebeg beg beg beg." Motor Romy mogok.


Duh, kenapa lagi sih ini? Udah pulsa abis, jangan bilang kalau sekarang bensin juga abis. Sumpah malu maluin banget sih. Mana lagi sama cewek lagi. Tuhan, inikah azab tanggal tua? Romy menggerutu kesal dalam hatinya.


" Kok berhenti, kenapa?" Luna kebingungan.


" Bensinnya habis sepertinya." Ucap Romy yang kini bergantian nyengir kuda kepada Luna.


" Yah, Bapak." Gumam Luna yang hanya bisa turun dan ikut mendorong motor milik Romy.


Lama mereka berjalan tetapi belum menemukan kios penjual bensin. Luna yang kelelahan akhirnya berhenti sebentar dan memikirkan kesialan yang menimpanya sambil menepuk-nepuk keningnya merutuki kebodohannya sendiri.


Coba kalau mau minggat itu persiapannya yang mateng gitu. Ini apa semua ketinggalan. Sukur jalan sambil melamun akhirnya seperti ini kan? Batin Luna kesal akan kebodohannya sendiri.


Sorot lampu mobil menerangi mereka dan berjalan mepet dengan mereka. Luna hanya berharap itu adalah mobil Suaminya dan akan membawanya pulang.


" Cie cie romantisnya, jalan dorong motor berdua." Ledek seseorang dari dalam mobil yang membuka kaca mobilnya.


" Cie cie! Romantis apaan? kehabisan bensin ini." Keluh Romy membalas ledekan teman temannya yang sedang berpatroli dengan mobil polisi.

__ADS_1


" Eh, tolongin dong antarkan..." Kata Romy ingin meminta bantuan temannya.


" Oh, tidak bisa sahabatku. Kami sedang bertugas dan membawa tersangka" yang baru terciduk. Kamu nikmati saja ya keromantisan kalian ini." Kata pria yang juga berbaju seragam polisi itu sambil mengedipkan satu matanya seperti meledek Romy.


" Ya! ini bukan romantis. Dan dia juga bulan pacarku!" Seru Romy mendengus kesal.


" Bye bye Romy!" Kata mereka serempak kecuali kedua tersangka yang duduk di belakang dengan tangan terborgol.


" Yang udah jadian, besok traktir ya!" Seru mereka lagi dengan serempak.


Sepertinya malam ini adalah malam sepesial untuk mempermalukan Romy. Romy menepuk jidatnya dan kembali melajukan motornya dengan menuntunnya perlahan.


" Enak ya, temennya pada kompak gitu Pak." Kata Luna mengawali perbincangan.


" Iya, tapi banyak ngeselin ya sih." Jawab Romy jujur.


" Pak, kita jalan udah lama, tapi tidak menemukan kios bensin ya?" Tanya Luna yang sudah sangat lelah.


" Semangat! sebentar lagi. Kamu lihat yang di depan itu?" Romy menunjuk ke sebuah kini market.


" Pak, itu mini market. Dia mana ada jual bensin?" Ucap Luna yang pesimis.


" Tenang, ayo dorong! sedikit lagi." Romy justru terus menyemangati Luna yang terlihat lunglai.


Sampai di mini market, Luna hanya menunggu di depan karena uang sepeserpun dia tak membawa. Romy keluar membawa roti dan juga minuman dan juga kontak motor lain.


" Ini Makan dulu, kamu kelihatan lemas, pasti lapar ya?" Romy menebak dengan asal.


" Iya Pak." Jawab Luna dengan segera melahap makanan pemberian Romy.


Mereka pun menikmati makanan hingga habis dan kemudian Romy segera berdiri dan menaiki motor matic yang terparkir di depan mini market.


" Eh, kan motor bapak yang itu?" Tunjuk Luna pada motor ninja 4 tak milik Romy.


" Tenang, sudah cepat naik. Aku pinjam motor ini untuk mengantarkanmu dulu. Aku tinggal KTP ku di sini sebagai jaminan meminjam motor ini. Sudah cepatlah jangan berisik." Perintah Romy yang terdengar tegas bagi Luna layaknya komando di Medan pelatihan.


" Iya Pak, siap laksanakan!" Jawab Luna dengan wajah kaku dan segera menaiki jok belakang Romy.


Sampai pada tujuan setelah sebelumnya Luna mengambil kunci di kosan Evi. Romy mampir sebentar untuk menikmati kopi buatan Luna sebagai ucapan terimakasih telah membantunya. Dan tanpa sadar mereka menjadi semakin akrab di malam itu.


...~ Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2