Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Sopir Baru


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Luna mengunjungi makam Bundanya untuk meminta restu atas pernikahan mereka yang sesungguhnya. Sejak Mama Elena memutuskan untuk menggelar pesta, Luna dan Agus tidur di kamar yang terpisah. Luna tidur bersama dengan Rosa. Sementara Agus?


" Mama, kenapa kejam sekali harus memingit kami. Bukannya sudah sangat terlambat. Aku bahkan sudah menjamah setiap centi tubuh istriku, lalu mengapa aku harus menjalani ini. Ha...! Aku harus menyelinap masuk kedalam kamarnya Rosa. Aku harus menyogoknya." Gumam Agus yang mempunyai ide cemerlang di kepalanya.


Berhari-hari Agus susah tidur. Seperti kehilangan candunya, Agus hanya sibuk berbalas pesan setiap malam dengan istrinya seolah mereka terpisah jarak yang sangat amat jauh. Dengan ide cemerlangnya, Agus melangkahkan kakinya keluar jendela. Dia berjalan mengendap-endap dan mengetuk jendela kamar Rosa.


" Tok!"


"Tok!"


"Tok!"


" Sa.., Rosa!" Desis Agus lirih.


Sungguh Dewi Fortuna sedang menghinggapinya. Pucuk dicinta ulampun tiba. Luna ternyata masih terjaga dan membuka tirai, terlihat Agus melambai dengan menunjukkan gummy smilenya. Tidak munafik, nampaknya Luna juga sudah sangat merindukan pangerannya itu. Luna kegirangan dan hampir saja melonjak dan berteriak kegirangan.


" Ssttt!" Agus meletakkan jarinya di bibirnya pertanda bagi Luna untuk diam dan tenang.


" Aku pikir kau sudah tidur by?" Kata Agus sambil tersenyum manis.


" Emmm..!" Luna menggeleng.


Luna terlihat membulatkan matanya dan sudah berkaca-kaca. Tangannya sudah merentang mengharapakan pelukan hangat dari Suaminya. Luna juga rindu tidur bersama Agus. Sejak Rosa kembali kerumahnya dan Mama Elena telah memutuskan tanggal pernikahan, hidup mereka kembali seperti saat belum mengucapkan ijab Qabul.


" Kangen🥺!" Ucap Luna lirih. Sungguh ucapan. Luna seperti memberi kehangatan dan jutaan kupu-kupu di dalam dada Agus. Kata-kata yang selalu di harapkan keluar dari mulut wanitanya akhirnya di dengarnya juga.


" Buka." Desis Agus lagi meminta untuk Luna segera membuka jendela.


Perlahan dan sangat hati-hati, Luna membuka jendela. Ketika jendela terbuka, Agus dengan segera menarik tangan Luna dan menggendongnya melompati jendela sehingga Luna juga sekarang berada di luar kamar.


Rupanya tak semulus dugaan mereka Rosa belum sepenuhnya tertidur pulas. Rosa sebagai orang kepercayaan dan tangan kanan dari Mama Elena dengan segera mengabadikan momen tersebut entah apa tujuannya. Namum, Rosa juga tidak melarang atau mengingatkan keduanya. Dia malah berpura-pura tidak tahu dan mengulum senyumnya dan kemudian kembali tidur.


" Kangen 🥺." Kata Luna lagi yang di sambut hangat pelukan dan senyum Gummy dari Agus.


" Kangen? Sini peluk." Agus menepuk-nepuk punggung Luna dengan hangat.


Agus melepaskan pelukannya dan menarik tangan Luna untuk masuk kedalam kamarnya. Luna berhenti saat tepat berada di depan jendela kamar Agus. Dia merasa bersalah jika harus melanggar peraturan dari Mama mertuanya. Tetapi di sisi lain, dia juga sudah sangat merindukan belaian lembut dari Suaminya.


Otaknya ingat akan larangan tetapi hatinya terus merayunya untuk menerobos masuk kedalam kamar mereka. Agus mengulum senyumnya saat melihat mimik wajah Luna yang seolah berpikir keras.


" Kamu ngapain?"


" Takut di marahin Mama?" Tanya Agus menahan tawanya.


" Iya By." Jawab Luna polos.


" Jadi kamu ga mau masuk ke kamar kita?"


" Iya." Jawab Luna tidak sinkron mulutnya bilang iya tapi kepalanya menggeleng. Lidahnya menolak tapi matanya berharap.


" Kamu manis sekali by." Agus mencium kening istrinya.


Luna takut tapi juga ingin. Kini yang bisa di lakukannya hanyalah memeluk erat tubuh suaminya mencoba melepaskan kerinduan yang lama tertahan berminggu-minggu. Agus tertawa senang dengan situasi saat ini. Luna menatap bingung wajah Agus.


" Sudahlah, kembali ke kamarmu." Ucap Luna melepaskan pelukannya.


" Yakin?" Tanya Agus menggoda.


"..." Luna mengangguk tidak yakin.


" Ya sudah, padahal aku berharap malam ini aku bisa tidur nyenyak sambil mencium dan memeluk istriku. Tapi apalah dayaku, istriku lebih memilih takut kepada Mamaku daripada menurutiku. Apakah seperti itu istri soleha? Hemm... aku tidak percaya ini." Agus menggumam lirih dan masih sagat jelas di telinga Luna.

__ADS_1


Agus mulai berjalan meninggalkan Luna dan dengan cepatnya Luna berlari kecil kemudian menarik ujung baju Agus dari belakang hingga Agus berhenti dan tersenyum senang. " Kemarilah chubyku, aku sangat merindukanmu."


Cinta mengalahkan segalanya. Akhirnya kini pasangan pengantin baru itu tidur di ranjang yang sama. Mereka saling tatap dengan nafas yang menderu menerpa dan membelai wajah satu sama lain.


" Tidurlah Sayang." Kata Agus lembut dengan tangan yang sedari tadi sudah menyelinap masuk dan berhenti di dada sintal Luna.


" Bagaimana aku bisa tidur jika yang kamu belai bagian itu?"


" Haruskah turun kebawah?" Goda Agus.


" Ih, Mesum!" Sungut Luna.


" Tidak, gadis kecilku. Aku tidak akan melakukannya malam ini. Besok kita banyak acara dan juga aku tidak mau Mama curiga. Aku sudah menyalakan alarm. Jadi cepatlah tidur." Ucap Agus membelai lembut dan hangat Surai Luna.


" Cup!" Luna mencium sekilas bibir Agus.


" Selamat malam Suamiku. Love you!" Ucap Luna dengan manisnya.


" Love you too." Jawab Agus di iringi dengan balasan kecupan mesra di bibirnya.


*


*


*


Pagi harinya.


Alarm berbunyi pukul 4 dini hari. Agus mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk menyilaukannya. Lampu kamar sudah menyala dengan terangnya dan Luna sudah tak berada lagi di sampingnya. Agus tersenyum simpul melihat ruang kosong di sebelahnya, tangannya mengusap lembut seperti mencoba merasakan kembali kehangatan dari istrinya.


" Baru saja beberapa hari kita bersama, bahkan belum dalam hitungan bulan. Tapi aku sudah sangat kecanduan dengan semua yang melekat pada dirinya." Agus berdecak dan menggeleng tidak percaya, menahan senyum dengan banyak kupu-kupu yang menggelitik hatinya.


Luna menyelinap kembali ke kamar Rosa dan berpura-pura tertidur pulas saat Rosa membuka mata, Luna berada di sampingnya. Rosa hanya mengulum senyum melihat akting Kakak iparnya yang tak seberapa. Luna memang berpura-pura tertidur tapi dia melupakan sesuatu. Yang dibawanya masuk kedalam kamar Rosa adalah sandal rumah milik suaminya.


" Emh? hoamz aku masih mengantuk." Jawab Luna berpura-pura.


" Bukankah semalam tidurmu sangat nyenyak?" Sindir Rosa.


" Tidak terlalu." Jawab Luna malas.


" Kenapa? apa pelukan dan belaian Agus Dermawan sudah tidak hangat lagi?" Goda Rosa yang semakin berani.


" Husssttt!! Diamlah, jangan keras-keras nanti Mama dengar. Kumohon." Pinta Luna sambil menggabungkan kedua tangannya.


" Baiklah, tapi ada harga yang harus di tabus."


" Cih, kau materialistis sekali!" Desis Luna kesal.


" Hei, suamimu kan kaya raya?" Ujar Rosa dengan entengnya dan menyunggingkan senyum tipis.


" Tak ku sangka dirimu Rosa." Luna menggeleng.


" Baiklah, nanti ikutlah ke makam bersama kami supaya kamu bisa bernegosiasi." Kata Luna malas.


" Ouh.... huhu! Aku harus memikirkan dari Sekarang. Barang mahal apa yang akan ku minta." Rosa mencibir senang dan berjoget sambil meninggalkan kamarnya.


Sarapan pagi telah usai. Kini Agus, Luna dan Rosa berada dalam satu mobil. Rosa beralasan kepada Mama Elena bahwa dia hanya akan menebeng untuk sampai di butik miliknya karena belum punya sopir pribadi. Tentu saja di bolehkan oleh Papa dan Mamanya.


" Katakan apa yang kau inginkan!" Kata Agus datar.


" Humm, apa ya?" Rosa mengetuk-ngetuk dagunya seperti sedang berfikir keras.

__ADS_1


" Jangan terlalu mahal, kami juga butuh uang untuk bulan madu." Kata Agus malas menanggapi kebiasaan adiknya.


" Ouh... perhitungan sekali!" Rosa cemberut.


" Katakan saja apa?" Ucap Luna yang membujuk Rosa.


" Keponakan. Aku mau keponakan yang imut." Kata Rosa yang memasang wajah gemas terhadap sesuatu.


Agus tergelak mendengar jawaban Rosa dia hanya bisa menelan ludahnya kadar lalu menatap wajah Luna. Luna hanya tersipu malu dan membuang pandangan ke jalanan kota.


" Kalau itu tanyalah pada Kakak iparmu dia sanggup secepatnya atau tidak. Kalau aku sih, bibit kecebong sudah siap tebar." Ujar Agus seenak hatinya.


Luna hanya menghela nafas dan memutar bola matanya malas. Sudah tentu itu yang Agus harapkan. Tapi secepatnya, apa Luna bisa? Memangnya seperti membeli barang di toko. Sekali minta langsung ada. Tidakkah dia tahu kalau setidaknya harus indent dahulu sebelum mendapatkan anak?


" Stop!! turunkan aku disini saja." Kata Rosa yang ternyata mobil mereka memang sudah sampai di depan butik.


" Cepatlah, aku akan segera mencetak keponakan untukmu." Kata Agus.


" Apa di mobil? Sekarang?" Tanya Rosa tidak percaya.


" .." Luna hanya mengangguk dan tersenyum tipis sambil menaikkan kedua alisnya.


" Argghh! Sepertinya kalian sudah tidak waras." Rosa keluar dari mobil dengan segera sambil bergidik ngeri.


*


*


*


" Bunda, aku datang." Kata Luna sesampainya di makam ibundanya.


" Bun, aku datang bersama menantumu. Kami sudah menikah, tapi kami akan menikah lagi. Dia anak Tante Elena. Apa Bunda masih ingat janji kalian? Tante Elena oh bukan Mama Elena sudah menceritakan semuanya. Dia sangat senang bisa menikahkan aku dan juga Levan dengan anak anaknya. Apa Bunda senang?" Kata Luna yang tentu saja disertai dengan Isak tangis dan Agus menenangkannya dengan membelai lembut punggung istrinya.


" Hai Bunda. Ingat aku? Aku Agus Dermawan anak Elena sahabat Bunda. Bun, sekarang janjiku sudah lunas. Aku dulu yang tidak sengaja menjatuhkannya dari tangga sampai dia terluka di bagian ginjalnya. Aku pernah berjanji untuk menikahinya saat aku dewasa. Sungguh Bun, itu semua aku lakukan bukan karena kecelakaan itu. Tapi, gadis kecilku ini juga selalu menghantuiku lewat mimpi. Dalam tidurku aku sering memimpikan wajahnya. Dan, aku tidak pernah menyangka kalau kami akan berjodoh seperti ini." Kata Agus panjang lebar.


Luna terdiam mendengar ucapan Agus dimana Agus berkata Luna sering hadir dalam mimpinya.


Apa maksudnya? Apa dia juga mengalami hal yang sama senganku? Apa selama ini kita?


Ternyata apa yang aku takutkan justru sebaliknya, aku takut di sangka gila atau berhalusinasi tapi ternyata dia juga.


Sungguh ini merupakan rahasiaku Tuhan aku menemui jodohku dengan alur indahmu.


Batin Luna terdiam.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang mengawasi. Berpakaian serba hitam dan sembunyi di balik pohon. Agus bukan orang bodoh, sejak beberapa hari dia sudah merasa di awasi oleh seseorang. Agus meminta beberapa pengawal untuk menyamar dan melindunginya dari kejauhan dan disinilah penyergapan itu terjadi.


Terjadi kejar-kejaran antara lelaki berjaket hitam dengan pengawal Agus. Baku hantam terjadi dan pengawal berhasil menangkap lelaki itu. Mereka membawanya ke hadapan Agus.


" Ada apa? Kenapa di mobil kita ada Ribut-ribut?" Ucap Luna heran.


" Levan!" Luna kaget dan terhentak kala melihat Levan adiknya di pegangi oleh dua orang yang kekar dan berotot lagi menyeramkan.


" By, itu Levan. Kamu tolong dia By." Ucap Luna memohon dengan wajah iba.


" Tidak, biarkan. Aku sengaja menangkapnya. Bawa dia masuk ke mobil!" Perintah Agus dengan wajah datar kepada orang suruhannya.


" By, dia adikku." Ucap Luna menegaskan.


" Tidak! Dia hanya sopir sekarang. Dia sopir baru Rosa." Jawab Agus santai dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


" Apa?!" Luna tergelak dan menelan ludahnya kasar.


__ADS_2