
Sejenak Agus memperhatikan leher istrinya. Tanda merah itu sangat banyak jika harus di katakan sebagai hasil perbuatan orang lain. Jika memang seperti itu adanya tentu Luna tidak akan membuat tanda merah sembarangan sebab dengan Agus pun dia melarangnya. Bagaimanapun statusnya masih belum resmi dan itu akan memicu penilaian buruk dari orang lain.
Dengan tiba-tiba Agus melepas plester yang menutup luka di leher Luna. Seketika Luna memekik kesakitan dan juga terkejut. Matanya sampai membelalak lebar menatap Agus.
" Auh....!! Sakit!" Kata Luna yang kemudian memegangi lehernya.
Mendengar suara pekikan Luna yang mengaduh kesakitan membuat Agus kembali berjalan masuk dan menghidupkan lampu resto. Agus kembali mendekati Luna yang masih berdiri menangis dan memegangi lehernya. Agus membuka paksa tangan Luna dari lehernya, dia sungguh ingin melihat apa yang terjadi dengan Luna saat ini.
" Jangan di lihat! Pergilah, ini menjijikkan." Pekik Luna saat Agus hendak mendekat dengan tangan yang sudah terulur dekat.
" Ada apa? Kamu kenapa? bilang!" Seru Agus yang bertambah kesal karena Luna masih saja menjaga jarak dan cenderung ingin menjauhinya.
" Pergilah, kembalilah pada wanitamu dan jangan pedulikan aku lagi." Kata Luna dengan terbata-bata dan Isak tangis yang tertahan.
Aku sangat tidak suka kamu mengusirku dan menjauhiku seperti ini. Aku adalah suamimu. Semua yang melekat padamu adalah milikku. Dan leher itu, kenapa? Hanya plester yang melekat tapi begitu sakitnya? Batin Agus yang tidak serta-merta pergi setelah Luna mengusirnya.
" Luna Cantika Raharsya!! Kamu istriku aku punya hak seratus persen akan tubuhmu. Aku nyatakan aku tidak memiliki hubungan dengan wanita lain. Dan untuk wanita yang saat itu, aku akan menunjukkan sebuah bukti padamu sekarang!" Ucap Agus dengan suara yang tidak terlalu tinggi. Agus tidak suka berdebat dengan suara tinggi ataupun membentak orang lain. Baginya berteriak atau tidak, yang terpenting adalah isi pembicaraannya.
" Tidak, kamu pasti berbohong. Pasti kalian sudah bekerja sama membuat bukti aneh dan sengaja untuk membodohiku." Luna bersikeras menolak meski sekarang di tangannya sudah terlihat darah yang keluar dari sela-sela jarinya. Luka lecet yang tertutup plester, menganga lagi saat Agus menariknya tadi dan itu membuat darah kembali keluar.
Sudah tiga hari semenjak Luna pindah ke kamar kecil yang ada di dalam restonya. Udara yang kotor dan juga debu yang menempel di kasur dan bantal membuat alergi Luna tidak terkendali. Alergi terhadap udara kotor dan debu membuat tubuh Luna bereaksi. Sekujur tubuhnya mengalami ruam dan bintik merah. Saat tidur tanpa sadar Luna menggaruknya sampai lecet dan berdarah.
" Jangan keras kepala!" Ucap Agus datar tetapi tangannya menggebrak meja tepat di hadapan Luna.
Agus menarik tangan Luna kasar dan mendudukkannya. Tatapannya tajam dan mematikan. Tanpa banyak bicara Agus menyibakkan rambut Luna yang menutupi lehernya juga lengan bajunya. Kini terlihat ruam-ruam merah dan juga bintik-bintiknya merah dan ada juga luka lecet di beberapa tempat termasuk di leher.
" Kamu kenapa seperti ini?" Tanya Agus yang sudah mulai stabil dengan emosinya. Setelah melihat luka Luna hatinya menjadi lebih tenang. Setidaknya istrinya tidak berbohong dan tidak melakukan hubungan dengan laki-laki lain.
__ADS_1
" Alergi." Jawab Luna singkat sambil menunduk.
" Maaf ya By!" Agus menghela nafas dan kemudian memeluk erat tubuh istrinya.
" Lepas!" Luna menolak dan memberontak. Di kepalanya masih sangat ingat tentang kejadian di kantor sang suami dimana ada wanita lain yang menaiki tubuh suaminya.
" Tidak! Diamlah aku merindukanmu sayang." Kata Agus dengan suara vibratonya.
Cih! rindu apanya? pasti kamu bermain dengan wanita itu sampai kelelahan dan
baru mencari ku setelah Mama Elena memarahimu dan menyuruhmu untuk mencariku kan? Luna berdecih dalam hatinya.
" Lepaskan!" pekik Luna sambil mendorong Agus kuat namun sia-sia.
Tenaga Luna kalah telak dengan suaminya. Agus tetap memeluk Luna dan melepaskan kerinduannya, kegelisahannya dan juga kecemasannya.
" Kamu tidak tahu, betapa aku mencemaskanmu. Betapa aku merindukanmu, aku merasakan kehilangan saat kamu pergi tanpa pesan. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dimana kamu tidur, dengan siapa, apa yang kamu makan. Semua itu selalu ada di dalam kepalaku." Kata Agus setengah berbisik di telinga Luna dan mampu meluluhkan hati wanita yang sedang mengamuk itu.
" Aku sebel sama kamu. Bisa bisanya kamu melakukan itu dengan wanita lain. Kamu anggap apa aku? Kamu menyuruh sekretaris mu untuk memanggilku untuk apa? untuk menyaksikan permainan panas kalian? Hua....! Kamu jahat!" Seru Luna memekik menumpahkan isi hatinya.
" Tidak Na tidak. Aku bisa jelaskan semuanya. Aku hanya butuh kepercayaan darimu. Jangan lagi kamu seperti ini ya? hum...," Agus menyeka air mata Luna dan menangkup wajah Luna. Kedua manik itu bertemu dalam titik yang sama, teduh dan sendu.
" Lepaskan aku, tubuhku gatal-gatal. Nanti kamu tertular." Kata Luna dengan sengaja yang ingin segera lepas dari cengkraman Agus.
" Biarkan, aku bisa ke dokter setelah ini. Eum, tidak. Kita berdua." Jawab Agus dengan sikap masa bodohnya.
" Tapi ini menjijikkan. Nanti bajumu terkena darah ini." Luna mencari alasan lain.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, aku bisa mencucinya"
" Awas, aku susah bernafas. Kamu ingin menyalurkan kerinduanmu? atau ingin membunuhku?" Kata Luna dengan harapan agar Agus segera melepaskannya.
" Kerinduanku belum terobati, aku belum menghisap maduku. Dimana maduku?" Agus menatap lekat Luna yang nampak kebingungan.
" Madu? madu apa?" Luna bertanya dengan wajah polosnya.
" Bibirmu tidak alergi terhadap madu kan?" Tanya Agus yang semakin membuat Luna tidak mengerti.
Agus seketika me****t bibir ranum istrinya. Dirinya mencoba untuk melepaskan kerinduan yang terpendam. Tiga hari Luna menghilang membuatnya kehilangan semangat. Sikap acuh dan swagnya kembali saat Luna tidak ada di sisinya.
Luna memberontak dan ingin melepaskan, tetapi satu sisi di dalam jiwanya sangat merindukan sentuhan dan jamahan dari tangan suaminya. Perlahan, Luna juga mulai menikmati hingga ciuman semakin dalam dan membuat mereka kehabisan nafas. Keduanya terdiam sejenak saat pagutan itu lepas.
" Kita pulang ya." Pinta Agus penuh harap.
" Tidak!" Jawab Luna tegas.
Agus tidak mengerti mengapa Luna menjadi keras kepala dan berani membantah. Padahal dulu seingatnya untuk menghadapi Deri saja Luna bersembunyi di balik tubuhnya tapi sekarang? Luna justru lebih galak kepadanya tanpa memiliki rasa takut di matanya.
" Pulang atau aku paksa?" Agus mulai geram.
Paksa saja jika kamu bisa. Aku masih sangat kesal sama kamu. Aku tidak mau pulang. Walaupun kamu sudah berbicara dengan panjang lebar. Tetapi aku belum yakin dengan keseriusan hatimu. Luna terdiam masih dengan satu tangannya menutup luka di lehernya.
" Oke! kamu yang memilih. Jangan salahkan aku ya." Kata Agus dengan smirk di bibirnya.
Baginya saat ini Luna hanya merajuk saja. Terbukti dari tadi bagaimana Luna menerima ciuman yang di lakukannya.
__ADS_1
" Oke chubby! kita pulang!" Seru Agus sebelum melakukan rencananya.
...~ Bersambung ~...