Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Aldilla


__ADS_3

" Hai sob!" Sapa Agus kepada tamu yang tak di duga akan datang itu.


" Selamat ya!" Ucap Leo memberikan selamat kepada Agus yang telah memiliki putri yang cantik.


" Kamu tau darimana aku ada di rumah sakit ini?" Tanya Agus yang terheran juga sedikit terkejut akan kedatangan Leo.


Leo tersenyum hangat lalu menepuk pundak Agus " Aku melihat dari foto anakmu yang kamu posting barusan. Lengkap dengan nama rumah sakitnya dan kebetulan aku sedang memeriksakan Leon."


" Sakit apa anakmu?" Tanya Agus yang juga sedikit mengkhawatirkan keadaan Leon. Anak itu terbilang sangat hati hati dalam segala sesuatu.


" Biasalah, si kembar suka bercandaan. Adine ngerjain kakaknya yang lagi tidur. Leon yang masih setengah sadar lari kalang kabut karena Adine mengerjainya berdandan seperti hantu. Jadilah pelipis Leon bocor terantuk kusen pintu." Jawab Leo yang terdengar kecewa dengan tingkah polah anaknya.


" Lalu Jelita?" Tanya Agus.


" Jangan sebut dia, hatiku masih sulit dan selalu terisi namanya. Aku Belu.mengabarinya. Jika dia tau bisa-bisa aku tidak boleh bertemu anakku selama satu bulan Gus. Dia teramat sayang dengan anak-anaknya." Jawab Leo yang tersenyum getir.


" Sabarlah. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kalian." Agus menepuk pundak Leo yang kemudian di sambut pelukan hangat dari sang sahabat.


" Aku kembali ya. Sepertinya Leon sudah selesai. Oh ya, siapa nama anakmu?" Tanya Leo penasaran.


" Ini perdana dan kamu orang pertama yang tau. Namanya Aldilla."Bisik Agus lirih di telinga Leo.


" Lun, selamat ya. Maaf aku ga bisa lama-lama.Nanti untuk hadiahnya aku paketkan saja ya." Ucap Leo dengan gaya bicaranya yang santai dan di selingi tawa renyah dari bibir plumnya.


" Iya Kak. Makasih ya sebelumnya. Makasih sudah meluangkan waktu untuk membesuk ku." Ucap Luna yang masih menimang si kecil Dilla.


" Iya, tidak apa-apa seperti sama siapa aja. Cantik ya anakmu." Leo memuji setelah melihat wajah mungil di kecil Dilla.


"Iya dong, seperti Mamanya." Kata Agus yang kemudian duduk di samping Luna.


" Bagaimana kalau kita jodohkan?" Celetuk Leo.


Luna sedikit terperanjat saat Leo berbicara seperti itu. Ini sudah jaman apa? kenapa masih saja membahas perjodohan? sungguh aneh!


" Boleh, tapi Leon harus menjaga ketampanan dan juga hartanya khusus untuk putriku ya." Agus menyahuti dengan entengnya.


" By..." ucap Luna lirih menhan suaranya dari matanya terpancar penolakan.


" Tenang, kita hanya bercanda. Kalau jadi serius ya ga tau juga." Leo terkekeh seneng setelah berhasil menjahili Luna.


" By, jangan terlalu serius ah." Agus kemudian mengecup kening Luna yang terlihat sedikit risau.


*

__ADS_1


*


*


Tiga bulan setelah Luna melahirkan.


" By, nifas sudah selesai kan?" Tanya Agus yang sudah bergelayut manja di punggung Luna yang terbuka separuh karena sedang menyusui Aldilla.


" Ehem." Luna mengangguk pelan. Luna tau maksud Daria rah pembicaraan suaminya yang merindukan sesuatu bersamanya.


" Berarti bisa dong, kita..." Ucap Agus lirih di telinga Luna yang takut membangunkan si kecil Dilla dan rencananya akan gagal semua.


Tangan Agus antara jari telunjuk dan jari tengahnya keduanya berbentuk seperti kaki dan merayap di paha Luna. Bolak balik naik turun seperti mencari tempat pemberhentian yang pas." Ya, bisa kan?" Tanya Agus lagi dengan nada manjanya.


" Bisa by." Sahut Luna dengan perlahan dan lembut seolah sengaja memancing Agus karena bagi Agus suara Luna yang rendah lebih mirip seperti desahan yang disengajakan.


Masih dengan Luna yang memangku putri kecilnya dan menyusuinya satu tangannya menangkup wajah Agus yang bertengger di ceruk lehernya menyesap kulit leher Luna memberikan sensasi rangsangan yang membuat Luna juga menikmatinya.


" Nanti sayang, tunggu dia selsai *****." Kata Luna yang menahan bibir Agus yang terus saja bergerak lembut layaknya ikan yang mencari oksigen.


" Oh, ok!" Agus tersenyum dan menghentikan aksinya.


" Jangan di habiskan ya sayang. Sisakan untuk Papa." Kata Agus yang kemudian tersenyum jahil melirik Luna yang lalu mencubit paha Suaminya.


" Ih, By. Kan sekalian mandi susu." Kata Agus lagi yang sukses membuat Luna melotot kearah Agus.


" Hahahaha...! Iya iya bercanda sayang." Agus tertawa dan kemudian mencium kening Luna dan beranjak dari sisi Luna.


" Habiskan saja ya nak. Sumber ASI punyamu ini sangat berlimpah. Jika kamu tidak menghabiskannya maka dapat di pastikan Papa akan hilang hanyut terbawa arus derasnya air kehidupanmu ini." kata Agus yang kemudian berlari kecil meninggalkan Luna dan menuju ke kamar mandi.


Memang ASI Luna sangatlah banyak, sampai sampai setiap dua jam sekali Luna harus memompanya dan menyimpannya kedalam lemari pendingin. Agus juga sampai geleng geleng kepala melihatnya sudah satu kulkas penuh tetapi Luna tidak mau menyumbangkannya.


Luna tidak mau menyumbangkannya karena memikirkan masa depan dari anaknya. Jika dia menyumbangkannya dan tidak tau ASI itu di berikan kepada siapa, jika saat besar nanti mereka berjodoh maka mereka adalah saudara sepersusuan dan itu bisa membuat rumit keadaan. Makanya Luna menolak itu. Dia memompanya hanya semata-mata ingin dadanya terasa ringan dan lega.


" Sayang!" Panggil Luna kepada Agus dengan nada suara yang menggoda.


" Sudah? sudah kamu kuras?" Tanya Agus bersemangat yang kemudian melepas kacamata bacanya dan melipat buku yang usai di bacanya.


Luna mengangguk dan kemudian semakin mendekat dan melepaskan pengait bra miliknya. Agus dengan seketika menerkam si mangsa setelah 3 bulan lamanya dia berpuasa karena Luna masih takut akan luka jahit yang di dapatnya setelah melahirkan.


Di ranjang, di kamar mandi, di bathtub, di lantai, gaya berdiri dan semua gaya di pakainya. Inilah luapan nafsu yang lama terpendam. Agus mengecup bibir Luna berkali-kali bahkan setelah Luna terpejam karena lelahnya.


" Aku tidak pernah menyangka jika kamu yang hanya dari mimpiku bisa menjadi nyata. Terimakasih untuk semua cinta dan ketulusan yang kau berikan sayang. Terimakasih." Agus mencium bibir Luna lagi lalu perlahan dia mulai terpejam.

__ADS_1


*


*


*


Pagi menjelang. Kicau burung yang mulai beterbangan mencari makanan untuk sekedar menyambung kehidupan. Terbang kesana-kemari menambah hangat suasana romantis di pagi hari.


" Kamu belum bangun?" Luna mencium bibir Agus dengan hangatnya.


Pancaran mata Luna mengisyaratkan banyak makna cinta yang tertuang di dalamnya. Siratan penuh kasih dan sayang, siratan cinta yang membara.


" Terimakasih untuk kamu yang terlihat dingin tetapi sangat hangat di dalam hatiku." Luna mengusap rambut Agus penuh kasih.


" Terimakasih untuk cinta yang terus terjaga dan selalu sama."Luna mengusap rahang dan pipi Agus.


" Aku tidak pernah menyangka jika jodohku adalah kamu. Lelaki yang dulu sangat aku benci karena membuatku cidera. Lelaki yang aku anggap sebagai oomku." Luna cekikikan saat menyebut kata oom. Lucu baginya karena usia mereka terpaut lumayan jauh.


" Terimakasih, kamu telah keluar dari mimpi dan menemuiku. Mengubah mimpiku menjadi kenyataan tidak pernah aku duga jika cinta kita kan seindah mimpi.Hihihi.... aku puitis sekali." Luna bergumam sambil memuji dirinya sendiri dengan tangannya yang terus bergerak mengusap perlahan alis sang suami.


" Serius geh By ini aku lagi dengerin." Protes Agus yang ternyata sedari tadi menyimak pernyataan istrinya.


" Ops!" Luna menutup mulutnya karena malu. Belum pernah selama pernikahannya Luna mengutarakan banyak terimakasih kepada sang suami.


" Cie malu." Agus menggoda Luna dengan sengaja lalu menggesekkan dagunya yang mulai tumbuh jenggot tipis ke pipi Luna.


" By ah geli. Cukur dulu kenapa?" Protes Luna dengan jenggot tipis sang suami.


" Ayo, kaunyang cukurin ya. sekalian..." Agus menghentikan perkataannya dan mengangkat kedua alisnya.


" Ini udah pagi jangan aneh aneh. Dilla sebentar Agi kesini." Rengek Luna menolak keinginan Agus. Sebenarnya karena Luna malu semua ucapan terimakasihnya di dengar suami.


" Dilla sudah aman sama Oma Opanya. Susu cadanganmu cukup untuk dia bertahan seminggu." Jawab Agus yang tersenyum senang.


" Ih, apa maksudnya?" Luna berlagak bego dan kemudian tertawa saat Agus sudah memulai kembali aksinya.


Sungguh ini sudah lama di nantikan oleh keduanya dimana mereka saling merindukan sentuhan dan belaian satu sama lain.


" Jadiin ya. Buat adik untuk Dilla?" Ucap Agus saat akan mencapai puncaknya.


" No!" Tolak Luna dengan wajahnya yang serius.


" Yah..., yah..., Ah..., kelepasan By." Agus melengkuh melepaskan nikmat.

__ADS_1


...END....


__ADS_2