Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Burik


__ADS_3

Bukankah hal yang sulit atau masalah besar bagi seorang Agus Dermawan untuk mengangkat tubuh mungil istrinya. Malam ini jadilah Luna seperti sebuah karung beras yang padat berisi. Dengan memanggul tubuh Luna layaknya sekarung beras dengan kepala yang menjuntai ke bawah, Luna terus meronta dan memprotes tindakan Agus.


" Ko, lepaskan aku!" Teriak Luna meronta pada laki laki sipit itu.


" Kau mau diam atau ku jatuhkan lagi πŸ˜’?" Ucap Agus dengan malas meladeni pemberontakan istrinya.


Luna mengkerut seketika saat Agus berkata akan menjatuhkannya. Agus tidak main-main, seperti saat terakhir dimana Agus dengan mudahnya begitu saja menjatuhkan tubuh Luna ke lantai hingga pinggangnya sakit.


Kalau aku melawan kemungkinan dia akan melemparkan aku keluar planet. Manusia aneh ini, kenapa bisa menjadi suamiku? Dan aku, kenapa bisa menjatuhkan hatiku padanya? Mimpiku juga kenapa mengarahkan kepada wajahnya sih? Kenapa aku tidak mencintai dan menemui pria lain yang lebih sederhana hidup dan prilakunya? πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί. Sedih Luna dalam hati.


" Sini, duduk. Diam dan patuh. Nurut sama suami. Jangan banyak protes." Pesan Agus sembari memasangkan sabuk pengaman Luna dengan kencangnya.


Luna pasrah dan mengalah. Dia tidak mau membuat keributan dan memicu opini publik tentang hubungan mereka. Tetapi terlambat. Sedari tadi Agus memanggil tubuh Luna, sudah ada beberapa kamera dari gedung sebelah yang mengabadikan kejadian itu.


Agus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak ada percakapan antar keduanya. Luna hanya terdiam menatap kejendela luar. Sedang Agus fokus mengemudi tanpa menghiraukan Luna.


30 menit Agus berkendara, dan akhirnya sampai ke rumahnya. Saat mobil berhenti, Luna masih saja terdiam mematung dan sesekali mengusap air matanya. Yang ada di kepalanya adalah mempercayai mimpi bodohnya selama ini dan menerima kerjasama yang tak masuk akal dengan Agus Dermawan.


Satu yang sangat dia takutkan adalah kehamilan di tengah prahara pernikahan mereka yang sama sekali belum mendapat kejelasan. Agus terdiam dan melepas sabuk pengaman lalu menghembuskan nafas kasar.


" Kamu mau turun atau menginap di sini chubbyπŸ˜’?" Tanya Agus asal tanpa melihat wajah istrinya yang sudah basah dengan air mata.


"...." Tanpa menjawab Agus, Luna turun begitu saja.


" Baguslah, aku tidak perlu repot-repot membukakan pintu 😏" Kata Agus dengan smirknya.


Sadarlah Luna, sedari awal dia hanya memanfaatkan mu. Mudah saja bagi dia untuk memperalat kamu. Kamu malah dengan mudahnya menyerahkan kesucian iuntuk dia. Cih! BODOH!!! 😀. Umpat Luna dalam pikirannya.


Suasana saat kaku, dimana Luna memasuki rumah dan sudah ada Papa pandu dan Mama Elena yang menunggunya. Luna hanya bisa menelan ludah kasar.


Kenapa mereka belum tidur di jam segini? Ada apa? apakah ada yang terjadi dengan rosa? Atau....


" Sayang, Mama senang kamu kembali. Agus sudah menceritakan semuanya kepadaku. Kamu jangan salah sangka. Tidak ada dari kami yang ingin membodohi kamu." Kata Mama Elena dengan memeluk Luna.


Luna hanya terdiam mencerna dan menyikapi sebaik mungkin apa yang kedua orang tua itu sampaikan.

__ADS_1


" Kamu tenanglah dan baik baik dengan suamimu. Papa sudah memberi dia pelajaran." Kata Papa Pandu dengan suara khasnya yang menggema memenuhi ruangan.


" Iya percayalah Nak. Itu tidak seperti yang kamu lihat. Nina itu memang terlalu terobsesi pada Agus. Tapi kamu harus percaya jika suamimu itu adalah tipe lelaki setia." Kata elena yang meyakinkan Luna sekaligus membanggakan kesetiaan putranya.


Luna hanya berfikir, berdiri terdiam, dan mencerna situasi yang sedang terjadi.


" Bagaimana Gus? Mau Nambah lagi?" Seru Papa Pandu dengan mengepalkan tangannya dan melempar tatapan mematikan untuk Agus yang sedari tadi berdiri dan menyaksikan semuanya.


" Tidak Pa, terimakasih! Aku sudah kenyang. Aku akan ke kamar dulu." Agus berpamitan dan mulai ingin melangkah.


" Berhenti!" Panggil Papa Pandu.


Agus menoleh dengan malas " Ada apa lagi pa? menantumu sudah ku bawa pulang dengan utuh dan selamat πŸ˜’." Jawab Agus malas.


" Bawa menantu Papa untuk beristirahat."


"Kita lanjut saja besok Ma. Biarkan Luna beristirahat." Pandu lebih mengerti keadaan Luna saat ini di bandingkan dengan sang istri yang masih ingn berbicara panjang lebar.


" Tapi Pa!" Protes mama Elena.


" Kalian istirahat sana. Mama mau pergi untuk menjaga Rosa." Kata Mama Elena dengan senyum tulus di sudut bibirnya.


Agus berjalan malas menuju ke kamarnya. Dengan langkah gontai Agus membukakan pintu untuk Luna. Luna yang melihat reaksi Agus sungguh berbeda dari cara dia memohon untuk Luna segera pulang saat di resto tadi sungguh berbeda. Sebenarnya apa yang membuatnya menjadi seperti ini?


" Buka bajumu!" Kata Agus tiba tiba setelah mengunci pintu.


Tidak! Apakah sekarang, lagi? Apakah secepat ini? Dia menginginkan itu. Batin Luna yang memikirkan arah perbincangan Agus sebagai pemberian jatah suami istri. Luna merasa tidak nyaman, apalagi dirinya baru saja di ajak pulang secara paksa oleh Agus.


" U... untuk apa 😯? Luna gugup.


" Hhh, untuk apa katamu?" Ucap Agus seraya berjalan mendekat dan melempar jasnya ke sembarang arah.


Luna sudah memejamkan mata. Dia takut kalau Agus tiba-tiba mendekat dan melakukan sesuatu kepadanya.


" Mikir apa kamu? Mikir jorok ya?" Ledek Agus kesal.

__ADS_1


"Eh, tidak.... tidak!" Luna menggeleng berkali-kali. Dia benar-benar malu saat ini. Apa yang di bayangkannya tidak sejalan dengan kenyataan.


" Ini, obati alergimu!" Agus memberikan salep yang di ambilnya dari laci nakas.


" Oh, kirain dia mau anu." Gumam Luna tapi sangat jelas di telinga Agus.


" Kamu kira aku mau melakukan dengan orang yang sedang burikan seperti kamu sekarang ini?πŸ™„" Kata Agus jujur.


Jleb!


Seperti tertusuk ribuan anak panah. Nafas Luna sesak seketika dan emosinya mulai mengepul di atas kepalanya 🀯. " Dia bilang aku burik? yang benar saja, kalau tidak karena kelakuannya aku juga tidak akan menjadi seperti ini." Gerutu Luna dengan bibir mengerucut.


" Ahhh.. hoamz!Obati lukamu dan tidurlah. Aku juga sangat lelah." Agus menguap dan mulai berjalan menuju ke walk in closet dan melepas bajunya.


Dasar mulutnya setajam belati. Nyantet orang dosanya besar. Coba kalau menyantet itu dosanya bisa di negosiasikan. Sudah ku santet kamu Gus Agus. Pikir Luna dan tertawa kecil sambil terus mengobati ruam dan bintik merah di tubuhnya.


Luna menunggu Agus di samping pintu kamar mandi. Tubuh Luna juga sedang tidak fit. Akhir akhir ini dia sering merasakan seperti lemas dan lunglai.


" Cepatlah, aku mau cuci muka!" Seru Luna dengan tangannya yang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


" Auh! iya sabar." Sahut Agus setelah sebelumnya memekik kesakitan tetapi entah karena apa.


" Sudah. cepatlah!" Kata Agus yang dengan cueknya berjalan melewati Luna dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


Beberapa saat Luna berada di dalam kamar mandi untuk mengobati ruamnya yang cukup parah. Berbekal cermin yang besar yang berada di dalam kamar mandi, Luna mengoleskan salep sekenanya. Tidak semua bisa terjangkau dengan tangannya. Saat Luna kembali Agus sudah tertidur pulas.


Luna berdiri sesaat dan menatap wajah Agus.


" Dia sangat tampan kalau sedang tertidur." Tak sadar Luna memuji paras suaminya.


" Tapi kamu sangat menyebalkan saat membuka mata dan berucap apapun semaumu." Nilai Luna dengan kebiasaan gaya bicara Agus yang ceplas-ceplos.


" Baiklah, aku akan tidur di sofa. Aku tahu kamu akan jijik tidur berdekatan dengan aku yang burik ini." Gumam Luna yang kemudian tidur di sofa dengan memakai selimut yang tersimpan rapi di closet.


...🍊 Bersambung 🍊...

__ADS_1


__ADS_2