Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Kabar Baik


__ADS_3

Nit....!


Nit...!


Nit...!


Suara dari Alat monitor hemodinamik dan saturasi yang terletak di dekat Agus semuanya terlihat stabil. Gelombang denyut jantung, tekanan darah, oksigen yang diserap tubuh, temperatur, frekuensi pernapasan. semuanya stabil. Perlahan Agus mulai bisa kembali berinteraksi walau dengan suara yang lemah.


Luna dengan setia selalu berada di samping Agus. Kini dia benar-benar tidak ingin jauh-jauh dari suaminya. Luna benar-benar takut kehilangan. Di genggamnya erat tangan yang putih pucat itu, lalu di ciuminya.


Pipi Luna sudah basah dengan air mata. Mama Elena juga tak bisa mencegah Luna untuk berbuat demikian meski sesungguhnya ada rasa khawatir di hati Mama Elena mengingat kehamilan Luna yang juga masih dalam keadaan rawan di usia hamil muda.


" By, bangunlah sayang. Buka matamu." Kata Luna dengan suara yang sendu mengharu biru.


" Sayang, tenanglah. Biarlah suamimu beristirahat. Biar dia lekas pulih." Ucap Mama Elena dengan sabarnya.


" Ma, kenapa dia lama sekali membuka matanya. Apa dia tidak mendengar kita lagi?" Tanya Luna yang sedih juga cemas akan keadaan Agus.


"Husstt! Tenanglah. Dia mendengar semua ucapan kita saat ini hanya saja dia belum bisa membuka matanya." Jawab Mama Elena yang yakin jika saat ini indera pendengaran Agus sudah membaik. Hal itu di tunjukkan dengan gerakan kecil di jari telunjuknya.


Tak lama kunjungan dari dokter dan perawat sebagai asisten dokter memasuki ruangan Agus.


" Bagaimana Dok?" Tanya Luna.


" Sabar Bu. Suami anda sudah banyak menunjukkan perubahan yang baik. Kondisi tubuh dan kinerja organ tubuhnya juga stabil. Dia baik-baik saja hanya butuh istirahat yang lebih lama."Kata dokter.


" Kapan dia akan tersadar Dok?" Tanya Luna lagi.


" Hemh, Maaf Bu. Untuk itu saya belum bisa menjawab secara pasti. Tapi, kami selaku tim medis selalu berupaya memberikan pelayanan dan usaha terbaik kami." Jawab Dokter.


" Dan, maaf untuk yang menunggu hanya di perbolehkan satu orang saja ya, mengingat kita juga harus mematuhi prosedur kesehatan yang berlaku di masa pandemi ini." Kata Dokter sambil tersenyum ramah.


"Baik Dok, kami mengerti." Jawab Mama Elena. dengan menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, saya permisi."Pamit sang dokter setelah kunjungannya usai.


Setelah kunjungan Dokter, Mama Elena memutuskan untuk pulang dan bergantian esok harinya. Semalaman Luna menjaga Agus. Luna tidur di sofa dengan tubuh yang meringkuk.


Tepat tengah malam, Agus mulai tersadar. Perlahan Agus membuka matanya. Perlahan-lahan juga dia mengenali setiap centi ruangan yang berbau khas rumah sakit. Agus melihat dirinya yang masih terhubung dengan banyak alat medis pemantau saturasi dan detak jantungnya juga infus yang masih menggantung di tiang penyangga.


Matanya berhenti pada satu sosok yang selama ini di rindukannya.


" Sayang, kamu disini? Aku bahagia kita bisa bersama lagi." Gumam Agus lirih sambil tersenyum kala melihat tubuh Luna yang berbalut selimut tertidur lelap di sofa.


Agus kembali terlelap dan mengarungi mimpinya.



Di sebuah taman,


Hijau rerumputan dan juga harum semerbak wangi bunga tersaji di depan mata. Agus mengucek matanya berkali-kali. Dia disana berdiri melihat dua buah bangku taman berwarna putih.


Agus duduk sendiri dan tersenyum menikmati indahnya ciptaan sang maha kuasa.


Terulur sebuah jari jamari lentik melingkar di lehernya. Meraba dengan lembut garis rahang Agus dan kemudian menciumi pipinya.


Agus tersenyum senang saat dia menyadari siapa pemilik jari lentik dan bibir lembut itu. Hatinya berdebar-debar senang menerima perlakuan hangat dari wanita pemilik hatinya.


Tiada percakapan hanya ada perasaan tenang dan damai yang menyelimuti mereka berdua.

__ADS_1


Bertengger seekor burung cantik berwarna putih di dekat Luna.


Luna meraihnya dengan mudahnya lalu tersenyum bahagia menatap Agus dan burung itu secara bergantian.


Agus mengecup kening Luna dan kemudian ikut mengusap lembut si burung dara berwarna putih cantik itu.


Luna kembali mengusap lembut rahang dan pipi Agus sambil mengecupnya berkali-kali.


" Sayang kamu kangen Daddy kan? Daddy sudah disini sayang." Desis Luna lirih sambil satu tangannya mengusap lembut perutnya sedang satu tangannya mengusap lembut rahang dan pipi Agus lalu menggerakkan perlahan ibu jarinya.


Agus mendengar ucapan Luna. Dia sudah sadar tetapi masih enggan membuka matanya. Agus ingin mendengarkan sesuatu yang lebih dari bibir istrinya.


Tentang kerinduan yang mendalam, juga rasa tulus kasih cinta Luna.


Namun ada satu kata yang membuat Agus menjadi tidak sabar untuk melanjutkan aksinya. Kata DADDY, mampu membuat Agus seketika merasakan kebahagiaan yang menyeruak dalam dadanya.


DADDY?


benarkah dia berkata DADDY?


Aku menjadi seorang DADDY? Batin Agus senang dan kemudian membuka matanya.


Luna terponjak kaget juga sekaligus senang kala melihat suaminya kini sudah tersadar. Apa yang Agus rasakan di dalam mimpinya, sentuhan Luna mengusap lembut rahangnya nyatanya benar terjadi.


" By, kamu bangun?" Ucap Luna dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Menahan haru bahagia atas pulihnya kesadaran Suaminya.


"....."Agus hanya mengedipkan matanya dan tersenyum manis dengan wajah pucatnya.


" Ah, syukurlah kamu bangun. Sayang aku rindu. Aku cemas, Aku khawatir dengan keadaanmu. Aku bahagia kamu selamat. Terimakasih Tuhan!!" Kata Luna meluapkan kebahagiannya.


" Aku... a..., aku..." Kata Luna tertahan kala Agus meletakkan telunjuknya di bibir Luna.


" Iya Aku juga bahagia." Kata Agus dengan suaranya yang lemah.


" Auh... auh... sakit By." Keluh Agus kesakitan dengan Luna yang memeluknya. Luna lupa jika dari kejadian itu juga menyisakan banyak luka di tubuh Agus.


" Maaf sayang. Maafkan aku ya." Luna kemudian mengecup kening Agus, tapi Agus malah memonyongkan bibirnya.


Luna yang melihat itu lantas terkekeh senang. Alih alih mencium bibir yang luka itu, Luna justru hanya tertawa bahagia.


" Kenapa?" Tanya Agus yang heran melihat Luna tertawa.


" Aku senang ternyata benturan di tubuhmu tidak mempengaruhi otak mesummu By." Celetuk Luna asal.


" Tunggulah sebentar biar aku panggilkan Dokter untuk memeriksa keadaanmu. Kamu tunggu sebentar."


" Tidak, jangan pergi. Kamu lupa apa fungsi tombol di atas ranjang ku ini?" Kata Agus Dingin.


" Terimakasih Ya Tuhan. Ternyata sikap dingin suamiku tetap sama. Dia tetap suamiku yang dulu" Luna kembali tertawa sambil mengatupkan kedua tangannya seperti tanda bersyukur.


" His!" Gumam Agus kesal.


Namun Luna lantas membalasnya dengan,


Cup!


Cup!


Cup!

__ADS_1


Cup!


Luna mencium semua bagian wajah juga tangan Suaminya.


" Kamu tau mengapa aku sangat manja?"


" Tidak" Jawab Agus datar.


" Karena aku sedang ngidam sayang. Aku ngidam." Kata Luna mengulang kata NGIDAM dengan wajah berbinar.


" Benarkah? kamu hamil?" Tanya Agus tak kalah antusias.


" Iya. Kamu akan menjadi DADDY." seru Luna bahagia.


Lagi lagi Luna hendak menghambur memeluk suaminya tapi Agus segera berkata.


" No! badanku masih sakit semua." Ketus Agus yang kesal dengan keadaannya sendiri.


*


*


*


Dokter telah selesai memeriksa keadaan Agus. Agus kini tengah menatap langit-langit rumah sakit dengan tatapan kosong.


Dari sudut matanya mulai berair dan terus bergulir.


Mama Elena, Rosa, Levan dan juga Papa Pandu ikut datang melihat keadaan Agus.


Belum selesai memulihkan lukanya, kini Agus kembali harus terluka. Dimana dokter memvonis Agus menderita kelumpuhan sesaat akibat dari luka serius di pahanya yang mengakibatkan lemahnya otot kakinya sebelah kiri sehingga tidak bisa menopang beban berat tubuh.


Dokter berkata butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Tidak bisa di prediksi kapan atau yang lebih parah Agus bisa menderita lumpuh permanen.


" Kak, jangan bersedih. Apapun yang terjadi kami akan selalu mencintaimu. Kamu adalah Kakak terbaik di dunia ini." Kata Rosa yang kini duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut kening Agus.


" Sa, kalau Aku lumpuh. Apakah aku masih pantas bersanding dengan Luna. Anakku nantinya pasti akan malu memiliki Daddy yang lumpuh seperti aku." Kata Agus yang sedang dalam masa terendah dalam kepercayaan dirinya.


" Kak, Cinta dan ketulusan tidak memandang fisik. Mau bagaimanapun kamu. Kamu tetap sempurna di matanya. Aku yakin dia sangat mencintaimu." Ucap Rosa menguatkan Agus.


" Cih kamu hanya sekedar menghiburku." Ketus Agus yang semata-mata tak percaya.


Jika aku lumpuh, Maka...


Ah, anakku akan malu memiliki Daddy yang lumpuh.


Luna, kamu tidak seharusnya bersanding dengan lelaki lumpuh sepertiku.


Aku tidak berguna lagi.


Membayi diriku saja aku tidak bisa. Apalagi jika aku harus mengurusi anak dan istriku.


Aku tidak berguna!!!! Teriak Agus di dalam hatinya.


" Keluarlah, aku ingin sendiri." Gumam Agus lirih namun jelas di telinga Rosa.


Rosa keluar dan menangis di pelukan Levan setibanya di ruang tunggu.


" Bagaimana Sa?" Tanya Luna.

__ADS_1


"...." Rosa menggeleng.


" Ada apa? kenapa dia?" Tanya Luna lagi dengan wajah sedihnya.


__ADS_2