Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Keputusan Mama Elena


__ADS_3

Setelah kejadian malam yang tragis, Levan tidak pulang kerumah mertuanya ataupun ke apartemen Luna selama beberapa Minggu. Ponselnya juga tidak bisa di hubungi. Entah kemana perginya anak itu, semua mencarinya termasuk Agus sebagai kakak iparnya.


" Gus, sudah kau temukan adik iparmu?" Tanya Mama Elena.


" Belum Ma. Entah kemana si tikus curut itu pergi." Agus menggeleng kesal.


" Sabarlah Gus, Mama kasihan dengan adik iparmu itu. Banyak beban di pundaknya saat ini. Dia hancur sendirian. Rosa melupakan semua ingatan bersamanya. Pasti dia sedang terpuruk sendirian saat ini." Mama Elena menitikan air mata.


Agus dan Mama Elena baru saja pulang dari agen WO untuk mempersiapkan pernikahan Agus dan Luna yang akan di gelar secara besar-besaran.


" Ma. Bisakah kita berterus terang saja kepada Rosa jika dia sudah menikah dengan Levan?"


" Tidak! Rosa pasti tidak akan percaya. Kamu ingat Gus, kita tidak punya bukti kuat saat akad berlangsung. Rosa tergeletak di ruang ICU saat itu dan hanya ayahmu yang mewalikan. Mama yakin Rosa akan sangat menampik semua ini."


Agus terdiam mencerna ucapan Mamanya dan mengangguk pertanda dia membenarkan ucapanya.


" Bawa Levan pulang. Mama ingin bicara dengannya." Kata Mama Elena dengan sebuah rencana yang sudah tersusun di kepalanya.


*


*


*


*


" Aku senang akhirnya Kak Agus akan menikah Kak. Dia sangat beruntung akhirnya bisa menemukanmu gadis kecil kesayangannya." Kata Rosa dengan berbinar-binar.


" Gadis kecil? Maksudnya?" Luna meminta kejelasan lebih lanjut.


Luna dan Rosa sedang duduk dan menikmati minuman dingin yang ada di tangannya saat ini. Mereka sedang menonton drama Turki di kamar Rosa dengan pelayanan spa yang di pesan oleh Mama Elena langsung dari salon miliknya.


" Iya, dulu kalian sudah sangat dekat. Sedari kecil Kakak sudah sangat menempel dengan Kak Agus."


" Memang kamu tahu darimana?" Luna tidak percaya begitu saja.


" Dari Mama. Mama selalu bercerita kepadaku kalau nanti jika anak Tante Wulan sudah besar harus menjadi menantunya. Itu janji Mama kepada Tante Wulan semasa Tante Wulan masih hidup." Kata Rosa tanpa beban.


Luna tergelak ada rasa senang tapi juga kecewa mengapa Agus sama sekali tidak pernah mengatakan perihal perjodohan itu.

__ADS_1


" Kak, Maaf ya. Untuk pestamu besok aku tidak akan hadir." Kata Rosa dengan sedih.


" Tidak apa-apa Sayang. Kakak paham dengan keadaanmu saat ini." Kata Luna dengan lembut mengusap tangan Rosa.


" Keluargmu semua hadir kan kak?" Tanya Rosa.


" Keluargaku hanya tinggal Levan. Kamu ingat Levan?" Tanya Rosa.


" Siapa Levan? apa dia sepupumu?"


Luna menggelengkan kepalanya. " Bukan, dia adalah adikku. Kamu sungguh-sungguh tidak mengingatnya?" Tanya Luna lagi.


Rosa menggeleng lagi. " Tidak Kak, Apa dia tampan?"


Luna mengangguk. " Iya, dia sangat tampan Rosa. Mengalahkan ketampanan Kakakmu."


" Ehem!!" Agus berdehem berdiri di ambang pintu.


" Siapa yang lebih tampan dariku By?" Agus mendelik kesal dan melipat tangannya ke dada dan bersandar di pintu dengan tatapan mata yang tajam.


Habislah aku, sejak kapan dia berdiri di sana. Oh tidak, tidak seharusnya aku ketakutan tidak ada yang salah dari ucapanku. Memang fakta jika Levan lebih tampan darinya. Bela Luna dalam hatinya.


" Levan." Jawab Luna enteng tanpa melihat Agus.


" Hahahaha! Kumat dia cemburunya Kak. Ho ho nanti malam akan ada yang kelelahan." Ledek Rosa dengan tawa renyahnya.


Ish, bodoh harusnya aku menyebut namanya dan bukan nama Levan. Luna merutuki ucapanya.


*


*


*


Waktu makan malam sudah tiba. Semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Hanya levan saja yang tidak ada.


" Na, layani suamimu dengan baik."Ucap Mama Elena sebelum memulai acara makan sedang dia sendiri masih melayani Papa Pandu.


" Iya Ma." Jawab Luna dengan sopan.

__ADS_1


" Dia istri yang baik dan penurut Ma. Sudah pasti dia akan melayaniku dengan sangat baik. Iyakan sayang?" Ucap Agus dengan mengedipkan sebelah matanya kepada Luna.


" Tentu sayang." jawab Luna dengan manisnya sambil mengusap lembut pipi Agus.


" Bisa tidak, romantisnya di kamar saja. Jiwa jombloku meronta-ronta." Ucap Rosa mental iri Agus dan Luna yang duduk bersandingan.


" Rosa!" Ucap Mama Elena dengan mendelik menatapnya.


" iya Ma." Jawab Rosa layu.


" Agus sudah kamu temukan di mana dia?"


"Uhuk-uhuk!" Agus tersedak.


Apa maksud Mama ingin membahas Levan di hadapan Rosa sekarang? Apakah Mama sudah menyusun taktik sendiri?


"Gus!" Lagi panggil Mama Elena.


" Em, iya Ma. Besok aku akan menjemputnya. Sepertinya disini ada sekutunya yang sengaja menyembunyikannya." Sindir Agus kepada Luna yang sama sekali tidak di respon oleh Luna.


" Bagus, segera ya." Titah Mama Elena yang menjadi ratu di kediaman Papa Pandu.


" Rosa mulai besok kamu akan mendapat pengawalan dari sopir pribadi yang meragkap sebagai asisten pribadimu." Ucap Mama Elena membuat Rosa membeku seketika.


" Tidak mau Ma. Aku kan hanya di rumah dan tidak pergi kemanapun. Jadi untuk apa?" Tolak Rosa.


" Tidak ada penolakan. Mama ingin kamu aman. Mama tidak ingin kamu terlalu lelah dalam masa pemulihan. Mama tidak bisa menjaga kamu terus. Mama juga harus menyiapkan untuk acara pernikahan kakakmu. Kamu sudah memutuskan untuk tidak hadir dan mama paham. Jadi sekarang terima keputusan Mama." Kata Mama Elena yang tidak mendengar bantahan lagi.


" Dan untuk wajahmu, Papa dan Mama sepakat untuk mengantarmu menjalani operasi di Korea. Untuk itu kami memberikan satu asisten pribadi untuk menemani sekaligus menjagamu sayang." Papa pandu memberi penjelasan.


Rosa terdiam seperti memikirkan sesuatu. Tidak mungkin baginya untuk menolak bentuk perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya. Rosa sangat paham jika Papa dan Mama sangat mencemaskan keadaannya.


" Iya Pa Ma. Apapun yang kalian inginkan. Tapi Pa Ma. Aku tidak ingin merubah bentuk asli wajahku. Aku tidak ingin operasi plastik." Ucap Rosa.


" Tidak sayang kami paham itu. Kami hanya akan meminta mereka untuk menghilangkan bekas-bekas lukamu itu. Kami ingin putri kami kembali cantik seperti semula." Kata Pandu jujur dengan sorot mata teduhnya memandang sang putri.


" Baiklah Pa." Ucap Rosa pasrah.


Setelah itu, makan malam kembali berlangsung dan hanya denting sendok dan garpu yang saling beradu berbenturan dengan piring yang mengeluarkan bunyi khasnya. Semua sudah kembali ke kamarnya masing-masing.

__ADS_1


Luna dan Agus menaiki anak tangga bersama dengan Agus yang berada di belakang Luna. Sesampainya di kamar raut wajah Agus sangat dingin seperti menyimpan kemarahan terhadap Luna istrinya. Luna yang melihat jelas perubahan wajah Agus menjadi mengkerut dan tidak berani bertanya. Luna hanya sibuk memikirkan dan menebak kesalahan apa yang sudah di perbuatannya kali ini hingga Agus mendiamkannya sedari selesai makan malam.


Mas Agus, kamu kenapa lagi?


__ADS_2