Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Stay at home in 3 days


__ADS_3

"Cari laki laki ini, suruh dia bertanggung jawab! Jelaskan semuanya ke publik." Terang Caca dengan lugas.


Luna menggeleng perlahan sambil menundukkan kepalanya.


" A.... aku..!" Luna mulai terbata bata mengutarakan isi pikirannya.


" Kamu apa Lun? Ga usah bikin aku mikir berat deh. Tau kan kalau aku mikir berat bakalan mimisan." Oceh Caca yang kesal.


"Aku tidak punya kontak dia." Jawab Luna dengan lirih sambil menunduk.


"Astaga! Terus kalian di foto ini terlihat sangat dekat. Elu seolah menyambut pacar dengan senyuman lebar gini." Gerutu Caca mengomentari foto hasil jepretan netizen.


"Ya kan gue cuma nyambut biasa aja. Lagian kita juga tidak seperti apa yang di tulis di berita itu." Celetuk Luna dengan polosnya.


"Tapi, di sini terlihat kalau kalian sengaja mengadakan janji dan hanya berdua di resto yang sudah tutup melayani pengunjung. Berarti kalian di dalam hanya berdua doang dong. Kalau tidak ada hubungan lebih lalu ngapain harus nunggu resto tutup coba?" Caca menilai dengan asumsinya sendiri.


"Ya, itukan karena gue lupa tentang ketentuan dalam perjanjian kerja. Terus dia minta gue ganttin, Terus gue berfikir buat ngasih masakan sesuatu yang simple. Tapi dia minta di masakin ayam. Karena dia selama tiga hari ga akan minta kopi karena ada kerjaan di luar kota, jadi ya udah gue masakin dia ayam panggang keju." Jawab Luna menjelaskan dengan gamblang.


Caca melongo mendengar kata AYAM PANGGANG KEJU " Apa? ga terima gue. Gue aja udah berapa abad, ga pernah lu masakin itu menu. Ini malah sama orang baru kenal langsung di bikinin gitu aja." Gerutu Caca kesal.


"Ya ga Taulah gue juga, semuanya terjadi begitu aja."Sambung Luna kemudian.


"Gue juga ga tau, kenapa kerasa nyaman aja kalau Deket dia. Apa apa kerasa enak, kerasa enteng. Lu tau, waktu Deri keciduk polisi?" Luna memulai ceritanya.


Caca menggeleng dengan tatapan dungu.


"Waktu itu Deri ngatain gue, tapi gue berani bentak terus lawan dia hanya karena ada si Agus berdiri di depan gue. Ga tau gue kalau gue bakalan bisa sekuat itu buat buka mulut di hadapan Deri." Luna mengulas kejadian tempo hari.


"Eh, jangan jangan dia jodoh elu." Celetuk Caca tiba tiba.


" Apa mungkin dia pangeran gue?" Sahut Luna dengan antusias.


"Lun, lun!" Veni berlari masuk kemudian memeluk Luna.


"Akhirnya, lu bakalan nikah. Wah, sumpah gue kaget banget baca berita ini." Veni menunjukkan berita dari layar ponselnya.

__ADS_1


Luna dan Caca hanya berekspresi datar menatap Veni yang tertinggal informasi. Mereka duduk bersama sambil menikmati es krim dan memikirkan cara untuk mendapatkan nomor handphon Agus tanpa menyebabkan berita miring lagi. Veni yang mulai lelah berfikir tetapi tidak mendapatkan solusi kemudian mulai mencari sesuatu dengan laptopnya.


Beberapa saat kemudian, " Oke! Dapet gue alamatnya." Ucap Veni dengan lantang sampai mengejutkan kedua sahabatnya.


"Apasih lu, ngagetin aja!"Caca berdecak kesal.


"Gue udah dapet alamatnya, tapi eh tunggu." Veni menyipitkan matanya untuk menajamkan penglihatan.


" Lah, ini kan. Apartemen ini, unit depan kan. Pintunya juga malah saling berhadapan." Kata Veni tidak percaya dan kembali memeriksa alamat yang tertera.


"Oke, kita minta nomor ponselnya dari pak pengurus apartemen aja." Celetuk Luna dengan ide bagusnya.


"Gitu cerdas!" Sahut Caca yang mulai geram.


" Kayaknya elu biasa aja tahu alamat dia ada di depan pintu elu?" Veni curiga.


"Hehehe, iya. Udah lama gue taunya, tapi gue malu mau minta nomor ponselnya ke Pak Naziman." Luna nyengir kuda dengan wajah bodohnya.


"Astaga!" Ucap Caca dan Veni bersamaan.


****


" Eh, kamu. Ada apa? Dapat nomorku dari mana?" Agus langsung menuju ke inti pembicaraan.


"Hem, dari pak Naziman."Jawab Luna dengan gugup. Takut kalau Agus akan kesal karena panggilannya.


"Ada apa?" Tanya Agus lagi.


"Kamu sudah baca berita?"Luna sedikit ragu untuk menyampaikan.


"Berita? berita apa?" Tentu Agus tidak membaca berita yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Yang sering di pantainya adalah berita politik dan seputar dunia bisnis ekonomi.


"Coba buka, cari di internet. CEO Agus Dermawan Raharsya terkini." Jawab Luna dengan tatapan sendu.


Agus mulai mengetik sesuatu di laptopnya, Agus melongo seketika dan kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut. Agus kemudian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sembari melonggarkan dasinya.

__ADS_1


"Oh, ini?" Agus sedikit berdecak tanpa ekspresi wajah yang berarti.


"Aku harus gimana?" Luna kembali bertanya dengan wajah polosnya.


Agus mengulum senyum melihat wajah Luna yang polos. " Ya udah, kamu stay at home aja selama 3 hari ini." Celetuk Agus yang sengaja mengerjai Luna.


"Terus Bisnisku gimana? cafe dan resto?"Luna mengeluhkan ucapan Agus.


" Em kamu kan bisa bekerja dari rumah. Bawahan dulu yang suruh handle. Maaf karena kau kamu jadi terseret dalam gosip seperti ini."


"Aku juga tidak bisa pulang dalam 3 hari kedepan. Kesialan apa saja yang sudah menimpamu?" Tanya Agus yang seolah tau apa yang terjadi dengan Luna.


"Belum banyak, baru di cipratin air comberan doang!" Celetuk Caca dengan tiba-tiba dengan wajah sinisnya.


"Aku temannya Luna. Ah bukan, aku sahabatnya. Kenapa berita ini bergulir begitu cepat, dan juga kenapa harus ada hatters? Pokoknya sebagai sahabatnya gue ga rela kalau dia kenapa kenapa. Gue mau elu, selesaikan ini semua!" Ucap Caca dengan tegas.


" Kalau elu nyuruh dia untuk stay at home 3 hari, apa elu mau gantiin kerugian dia?" Ucap Veni ngawur.


"Gampang! Semua bakalan gue urus kalau gue pulang nanti. Untuk kalian, tolong jaga wibawa gue. Gue lebih tua daripada kalian semua. Panggil gue Kakak, atau pak." Ketus Agus dengan nada yang terkesan mengejek Luna dan teman temannya yang melupakan usia Agus.


"Cih, sombongnya!"Gumam Caca.


"Gue denger!" Ucap Agus dengan santainya.


Caca dan Veni sekektika pergi dan mengakhiri panggilan video call tanpa salam.


"Kok di matiin? Kan gue belum pamit."Luna kecewa karena belum sempat mengucap salam dan berpamitan.


****


" Senyumnya sama dengan wanita yang ada di dalam mimpiku. Apakah dia wanita itu?" Gumam Agus sembari menggambar sketsa wajah seorang wanita dengan senyum manis tanpa mata dan hidung.


Agus mencium sketsa wajah wanita tersebut dan kemudian mengusapnya penuh kasih, seolah benar benar merindukan kekasih. Terpancar rasa sayang yang amat dalam dari setiap goresan pensil pada kertas putih. Agus terus saja memandangi sketsa wajah wanita itu. Deburan ombak menemani lamunan Agus, hatinya seolah baru menyadari sesuatu ketika melihat sebuah batu karang yang tinggi menjulang yang tidak asing baginya. Perasaan sangat nyaman dan sering mengunjungi tempat itu membuat Agus mengingat sesuatu lebih jauh lagi.


"Karang itu, mimpiku, pantai ini? Semuanya?" Ucap Agus dengan heran.

__ADS_1


~ Bersambung ~


__ADS_2