Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
HADIRNYA


__ADS_3

Tangan Luna masih setia menjambak kuat rambut Agus. Tiada yang mampu Agus lakukan kini, Dia bersimpuh di lantai dengan satu tangannya menjaga pinggang istrinya agar tak terjatuh ke lantai dan satunya lagi sibuk mengamankan rambutnya yang mungkin saja sudah rontok sebagian karena kuatnya cengkraman tangan Luna.


" Sakit By... !" Luna mengerang kesakitan dengan sesekali dia mengatur nafasnya seperti yang di ajarkan dalam kelas ibu hamil.


" Arghh!"( Agus mengerang)


Dengan sekuat tenaga tanpa di sadarinya Agus seketika berdiri dan menggendong Luna lalu membawanya menuju ke rumah sakit.


Mereka berdua masih belum sadar akan keajaiban apa yang sedang terjadi.Masih dengan tangan yang menempel erat di rambut sang suami sepertinya Luna berniat menyiksa Agus kali ini. Layaknya sedang menyimpan dendam karena beberapa bulan terakhir Agus senagaja menghindari Luna, bahkan untuk memilih alat perlengkapan bayi pun Agus tak ada waktu dan beralasan sibuk bekerja.


Alih-alih Agus menemani, malah Agus menyuruh Romy untuk menggantikannya. Ya, bisa di bilang Agus sudah sinting. Dimana dia justru mencalonkan lelaki lain untuk anak dan istrinya sebagai pengganti dirinya.


Tapi Romy tidaklah seseorang yang serakah. Romy sangatlah mengerti akan maksud Agus yang sengaja ingin mendekatkan dirinya dengan Luna. Dalam setiap acara mereka bersama Romy selalu mengajak Evi. Karena hal itu pula lah, kedekatan antara Romy dan Evi terjalin secara alami.


" Lepas dulu By. Gimana aku nyetirnya kalau kamu Jambak terus?" Agus meringis kesakitan sambil meregangkan tangan Luna yang kian erat menarik helai perhelai rambutnya.


" Cepat!" Seru Luna yang segera melepaskan rambut Agus. Luna sudah tidak sabar lagi menahan rasa sakitnya. Perutnya sungguh mulas,dan teramat nyeri.


" Huft....! Huft....!" (Luna mengatur nafasnya).Agus juga ikut panik dan melajukan mobilnya sambil terus menanyai Luna.


" Masih sakit By?" Tanya Agus yang sebenarnya sangat bingung sekaligus khawatir terhadap kondisi kedua orang yang di cintainya.


Agus menatap nyeri Luna sampai-sampai Agus ikut menarik nafas dan membuangnya kasar berkali-kali. Agus yang tak tega kemudian mengusap perut buncit Luna yang terlihat semakin membulat dan besar


" Sayang, sabar ya . Sebentar lagi kita sampai nak." Agus mengusap lembut perut Luna seolah si jabang bayi sudah bisa menyahuti pembicaraan Ayahnya.


" Huft!" ( Luna menghela nafas lega) Luna sedikit beringsut dan membenarkan posisi duduknya nyeri yang dirasakan sebentar menghilang kala Agus mengusapnya.


" Kenapa By, apa yang kamu rasakan?" Tanya Agus dengan kekhawatiran.


" Sakitnya mereda By. Aku rasa dia mendengarkanmu." Ucap Luna yang masih takjub akan reaksi si jabang bayi saat sang Ayah mengajaknya berkomunikasi.

__ADS_1


" Kenapa kamu mendengarkan Papa? Apa kamu merindukanya?" Luna menunduk dan melihat perutnya yang sudah tak sekeras tadi.


Luna melirik tajam Agus lalu memulai lagi ceramahnya " Kamu lihatkan By, dia aja kangen sama kamu. Kamu nyadar ga sih By, selama ini kamu selalu cuek sama aku dan dia? Mau kamu apa sih By? Mentang-mentang aku udah ga cantik dan ga seksi lagi, kamu gitu aja jauhin aku? Iya!"Luna mengomel memuntahkan segala uneg-unegnya yang lama terpendam.


" Sayang, bukan begitu. Aku minta maaf, aku salah selama ini selalu menarik diri dan menjauh dari kalian aku pikir aku sudah tidak bisa sembuh lagi." Kata Agus yang membela dirinya sendiri. Agus sama sekali belum sadar jika dia saat ini sudah kembali normal seperti sediakala dimana saat ini dirinya sudah bisa berjalan, mengemudi bahkan menggendong tubuh Luna saat memasuki mobil tadi.


Luna masih bertahan dengan kekesalannya, sorot matanya tajam dan bibirnya mengerucut Bahakan bisa di kuncir karet dua saat ini.


"Lalu ini apa? Kamu sudah bisa menggendongku dan menyetir mobil. Bukankah artinya kamu sudah kembali normal?" Celetuk Luna yang juga belum sadar akan omelannya.


Sesaat keduanya terdiam dan saling melempar pandangan dan Agus menepikan mobilnya. Wajahnya menjadi pucat pasi dan mulutnya serasa tergagap saat ingin mengucap sesuatu.


"A... aku sembuh By?" Agus berbicara dengan terbata-bata. Matanya seketika memandang Luna dengan teduhnya seolah mencari jawaban dan kepastian disana.


Luna mengangguk dan menatap sendu Agus. Kebahagiaan yang berlipat terjadi dalam satu waktu. Luna mengangguk mengiyakan dengan bulir air mata kebahagiaan yang sudah jatuh mendahului gerak tangan yang ingin memeluk sang suami untuk merayakan kebehagiaan ini.


Saat mereka hendak berpelukan, lagi-lagi perut Luna merasakan kontraksi yang dahsyat. Agus sudah tersenyum dalam tangis bahagianya, tangannya merentang mengharapkan pelukan hangat dari sang istri.


" Aduh.... aduh.... sakit By. Iya iya kita jalan ayo segera ke rumah sakit." Agus meringis kesakitan kala Luna kembali meremas pergelangan tangannya kuat-kuat sampai kukunya menancap.


Luna mengerang lagi." Eung....." ( Seperti mengejan)


" Sayang, jangan disini nak. Lihat kita sudah sampai. Papa tidak tahu harus berbuat apalagi." Keluh Agus frustasi kala melihat Luna menahan sakit yang amat sangat sampai keringat dingin menyembul dan mukanya memerah, bibirnya bergetar menahan sakit yang luar biasa.


Agus menepi dan kemudian para tim medis datang membawa Luna untuk segera ditangani. Luna mendapatkan penanganan darurat. Tidak memakan waktu lama, 15 menit berjuang dan putri cantik mereka lahir.


Berlimpah kebahagiaan Agus berkali kali menciumi wajah sang istri dan si buah hati tidak perduli dengan orang-orang yang masih berada di ruang bersalin.


" By aku malu." Bisik Luna saat Agus lagi-lagi menciumnya penuh kasih.


" Aku tidak." Jawab Agus dengan cueknya lalu berdiri kembali dan menggendong bayinya.

__ADS_1


" Cantiknya Papa. Muach...!" Lagi dan lagi Agus terus menciumi wajah mungil bayinya.


" Lihat sayang, matanya mirip kamu." Kata Agus dengan wajah yang berbinar penuh dengan kebahagiaan mengamati setiap centi bentuk wajah dari putrinya.


" Kulitnya?" Tanya Luna yang masih berbaring mendapat beberapa jahitan setelah melalui proses persalinan secara normal.


" Sepertinya aku." Jawab Agus yang selesai mengamati putrinya yang kemudian di minta kembali oleh suster untuk di bawa ke ruang bayi.


" Baguslah, sesuai permintaanku setiap malam." Jawab Luna yang kemudian tersenyum lega.


" Terimakasih ya sayang, kamu tidak membiarkanku menyerah di saat jiwaku merasa lemah.Terimakasih telah memberiku putri yang cantik. Terimakasih karena kamu selalu hadir di dalam mimpi indah ku. Terimakasih kamu selalu setia kepadaku." Kata Agus yang kemudian di susul dengan ciuman yang lagi-lagi bertubi-tubi mendarat di wajah Luna.


" Ehem!"( Dokter berdehem.)


" Maaf Pak, Bu ibunya sudah selesai mari kita pindahkan ke ruang rawat inap." Kata Dokter yang sudah selesai menangani Luna.


" Memangnya harus menginap ya Dok?" Tanya Agus dengan polosnya.


" Iya tidak juga Pak. Kita lihat dan tunggu perkembangan keadaan si ibu. Kalau ibunya semuanya normal. Ya, kita bisa pulangkan dalam waktu 6-8 jam kedepan" Jawab sang Dokter memberikan penjelasan.


" Huft..., Oke Dok." Agus mendengus lega dan kemudian kembali mengusap lembut pucuk kepala Luna.


*


*


*


Caca, Veni, Levan, Rosa, Papa Pandu, Mama Elena, Evi, dan Romy semua datang silih berganti menjenguk Luna dan mereka sangat penasaran untuk melihat bayi cantik yang belum bernama itu.


Mereka semua larut dalam kebahagiaan, hingga seseorang datang tanpa di undang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


" Senangnya, Lupa sama aku?" Ketus seorang yang berdiri di depan pintu yang melipat tangannya ke dada.


__ADS_2