Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Lemon tea.


__ADS_3

Brak!


Pintu terbuka dengan kerasnya dan Agus sudah berdiri menatap tajam keduanya. Luna yang terdiam duduk di meja kerjanya, dan Desta yang tengah mematung memegang cangkir teh di tangannya.


" Oh, jadi begini!!" Seru Agus masih berdiri di ambang pintu kantor Luna.


Tentu saja tindakan Agus membuat Luna spontan berteriak kaget dan tak sengaja menyenggol cangkir teh hingga semua isinya tumpah mengenai keyboard laptop miliknya dan layar monitor mati seketika. Tak kalah terkejutnya, Desta sampai tersiram 5eh yang masih hangat suam suam kuku itu.


" Allahuakbar!" Seru Luna yang meloncat kaget.


" Wedus gembel!" Seru Desta yang nampak ingin marah dan sudah menggertakkan giginya.


Kalaulah itu adalah orang lain, sudah tentu Desta akan segera menghajarnya dengan memamerkan kekuatan otot lengannya. Tapi semua itu di urungkannya setelah melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.


" Siapa yang wedus hah? Aku? Kamu berani? Berani kamu ya! Mau potong gaji?" Ucap Agus tanpa membentak tetapi dengan tangan yang menunjuk muka Desta.


" Eh, Pak Boss."Sahut Desta yang cengengesan.


Mampus aku mampus. Pasti potong gaji lagi. Batin Desta menyesali kata kata yang menjerumuskan dirinya sendiri.


" Mana informasi yang aku minta? Kamu bukanya kerja malah enak enakan disini minum teh hangat sama istri saya." Agus memarahi Desta yang hanya duduk diam dengan wajah yang menunduk.


" Mas, sudahlah. Kasihan dia tadi kedinginan, hujan hujanan. Makanya aku kasih dia teh hangat. Mas jangan galak galak lah." Ucap Luna menenangkan Agus yang masih meluapkan amarahnya terhadap Desta.


Agus duduk di sofa dan menatap tajam Desta lalu menjentikkan jarinya menyuruh Desta keluar dari ruangan Luna. Luna yang jengah hanya bisa memutar bola matanya malas dan menghela nafas panjang dan duduk di sebelah suaminya yang juga sudah basah kuyup.


" Kamu kenapa sih Mas? marah marah?" Luna mengusap sisa sisa air hujan dari wajah dan rambut suaminya.


" Siapa yang marah?"


" Kamulah, siapa lagi?"


" Aku tidak marah, aku hanya bersikap tegas dan profesional. Desta itu bawahanku sudah seharusnya dia bekerja sesuai perintahku. Bukannya kerja malah enak enakan disini minum teh sama kamu." Ucap Agus dengan jelas dan lancar tanpa jeda di depan Luna yang entah mengapa justru membuat Luna menjadi gemas dan ingin mengerjainya.


" Oh, tidak marah?" Luna menyeringai licik.


" Ya sudah aku susul Desta dulu ya. Kasihan dia kalau hujan hujanan. Aku hantarkan payung untuk Desta ya?" Ucap Luna menggoda, menguji kesabaran Agus yang sudah terlihat memerah telinganya.


" Ya, bagus! urus saja laki laki lain. Abaikan saja suamimu yang kedinginan di sini. Besarkan saja sekalian Ac-nya. Biar aku membeku di sini. Hachu...!!" Agus mulai bersin bersin.


" Hahahahaha! Gitu bilangnya ga marah. Itu apa barusan? Sayang kamu itu kalau marah marah jelek tau." Luna kembali duduk di samping Agus.


" Sini buka dulu Jasnya!" Kata Luna tiba tiba-tiba. Luna memajukan tangannya tepat di dada bidang Agus.

__ADS_1


Wah, beneran mau maen maen nih istriku. Eits tapi ga biasanya,


jangan jangan dia cuma merayu saja.


Ada maunya ini pasti,


Aku mencium bau bau penjilat kelas berat.


" Kamu kenapa sih by?" Agus menekuk alisnya.


" Ya sudah, sini buka celananya!" Tangan Luna mulai turun ke pinggang dan berhenti tepat di resleting celana Agus.


Pasti dia udah mikir yang aneh, aneh.


Pasti otak mesumnya sudah mulai mengembara.


Ah, aku kerjain ah...Luna tertawa dalam hati.


" By ah, stop! Don't do that! Kita di kantor!" Agus seketika berdiri dan memegang bahu Luna lalu memundurkan dirinya beberapa langkah.


" Hahahahaha!! Emang mau ngapain by?"


" Ini, ini kamu ganti baju di kamar mandi dulu." Luna memberikan baju milik Levan yang memang sering menginap di resto ya tentunya sebelum dia menikah dengan Rosa.


" Itu baju Levan By! Ga usah mikir negatif melulu kenapa?" Ucap Luna yang merasa jengah dengan tingkat kecemburuan Agus yang semakin naik level setiap harinya.


Agus menyambar baju Levan dan kemudian duduk kembali di sofa. Luna hanya terduduk diam di meja kerjanya dan menatap lurus layar laptopnya.


" Kamu kenapa By? Ga usah melamun terus ga baik. Atau kamu sedang melamunkan polisi itu?" Celetuk Agus yang rupanya masih mencemburui Romy.


" By, kamu mau teh?"


"Mau, yang hangat ya!"Jawab Agus yang sekarang moodnya sudah lebih baik saat bersama Luna.


" Tambah lemon kalau ada By." Ucap Agus yang kini sudah mulai fokus melihat ponselnya.


Luna kembali membawa sebuah cangkir kosong dan meletakkannya di hadapan Agus.


Agus langsung menyambarnya dan menyeruputnya.


Sruutt!!


" By, kosong mana tehnya?" Agus melongok kebingungan melihat cangkir Teh yang kosong sampai membalikkannya. Dia tidak mengerti apa maksud Luna menyajikan secangkir teh kosong kepada dirinya.

__ADS_1


" Ini tehnya hubby gummy ku!" Luna menuangkan sisa teh yang tertumpah di laptopnya kedalam cangkir Agus.


"Perhatikan tehnya menetes By, satu tetes, dua tetes, tiga tetes." Luna menyindir keras perbuatan Agus barusan yang mengakibatkan teh tertumpah di laptopnya.


" Apasih By? ga lucu ah! aku mau Leon tea By. Lemon tea hangat. Bukan seperti ini."


" Kamu lihat, tadi wallpaper layar laptopku adalah gambar lemon. Dan kamu datang mendobrak pintu mengagetkan aku, sampai aku menumpahkan teh ke laptop kesayanganku ini. Jadi cobalah kamu cicip siapa tahu rasanya sudah sama dengan Lemon tea sayang." Ucap Luna dengan tersenyum simpul yang mengartikan ketidak ikhlasan.


" Beli baru." Hanya itu jawaban Agus datar, singkat, padat, dan jelas dan sedingin es.


DI RUMAH ROMY.


" Mam, aku pulang!" Seru Romy yang memasuki rumah.


" Wah, anak Mami sudah pulang. Makan dulu sayang." Mami Eri merangkul dan menyambut putra kesayangannya.


"Tidak Mam, Terimakasih. Tadi Romy sudah makan di resto sama teman." Jawab Romy dengan membalas pelukan hangat Mami Eri.


" Aku pulang Pa." Ucap Romy menyapa Papanya yang mengacuhkan kedatangannya seolah tidak ada apapun yang sedang terjadi.


" Untuk apa kamu pulang? Kembalilah kerimbanu sana! Bukankah kamu sudah tidak mau menganggap aku sebagai orang tuamu lagi?" Celetuk Papa Romy yang sangat menyesakkan dada menyambut kedatangan putranya.


" Pa, sudahlah. Dia anak kandung kita. Dia lelah Pa. Jangan di ajak ribut terus. Baru kemarin kalian bertengkar, sekarang mau bertengkar lagi?" Mami Eri memijat keningnya.


" Mam kenapa Mam?" Romy terlihat khawatir dan memapah Mami Eri untuk duduk di sofa.


" Tidak sayang Mami hanya pusing. Antarkan Mami ke kamarmu Ya. Mami ingin lebih lama bersama mu."


Mami Eri dan Romy masuk kedalam kamar Romy. Kamar yang sangat mewah dan luas. Semuanya dari furniture sampai desain ruangan terlihat sangat dinamis.



" Mungkin darah tinggi Mami kumat lagi." Mami Eri memijit pelipisnya.


" Sini Mami tiduran dulu." Romy menata bantal di belakang punggung mami Eri yang mulai duduk bersandar.


" Bagaimana kabar calon mantu Mama?"


" Dia baik baik saja Mam." Jawab Romy yang sudah malas membahas mengenai perjodohan.


" Mam, ini sedikit gaji Romy untuk Mami." Romy mengalihkan pembicaraan dan merogoh saku jaketnya dan memberikan amplop coklat kepada Maminya.


"Simpan untukmu saja Sayang, Mami masih punya tabungan. " Mami Eri menagis haru antara bahagia dan sedih menangisi keadaan keluarganya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2